Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Peringatan Hari Otonomi Daerah, Di Istana Negara, Jakarta, 28 April 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 28 April 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 40.646 Kali

Logo PidatoBismillahirrahmanirrahim.

Assalamualaikum Wr. Wb.

Selamat sore, salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati para menteri kabinet kerja, para kepala Lembaga Pemerintahan Non Kementerian (LPNK), seluruh gubernur yang hadir, para bupati, para walikota, hadirin yang saya hormati.

Pertama-tama saya ucapkan selamat kepada pemerintah daerah yang meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, yaitu Kabupaten Tuban, Kabupaten Purbalingga, Kota Mojokerto, Kota Madiun, dan saya ucapkan selamat kepada penerima penghargaan Satya Lencana Karya Bhakti Praja Nugraha kepada Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jawa Tengah, Gubernur DI Yogyakarta, serta kepada Bupati Bantul, Bupati Kutai Kertanegara, Bupati Lamongan, Bupati Pinrang, Bupati Sidoarjo, serta Walikota Blitar, Walikota Surabaya, Walikota Cimahi dan Walikota Yogyakarta.

Kita bangga semuanya dengan capaian ini, dan ini menunjukan bahwa otonomi daerah telah menumbuhkan sebuah inovasi dan praktek yang baik, baik dalam pemerintahan maupun dalam pembangunan. Dan jika tidak ada otonomi daerah, saya yakin inovasi di daerah juga akan sangat terbatas. Dan saya juga terkadang membayangkan jika tidak ada otonomi daerah, pasti tidak mungkin seorang walikota, gubernur, bisa jadi presiden. Nanti bisa saja, seorang bupati jadi presiden. Nanti bisa saja diulang lagi, seorang walikota jadi presiden. Gubernur jadi presiden.

Desentralisasi dan otonomi daerah merupakan pilihan sejarah yang memang sudah kita ambil, dan harus kita ambil. Karena otonomi daerah memberikan ruang yang lebih luas untuk merespon kebutuhan dan kehendak rakyat di daerah. Dan otonomi daerah juga mendekatkan pelayanan publik kepada rakyat. Otonomi daerah juga memberikan ruang partisipasi rakyat dan demokratisasi yang lebih luas.

Otonomi juga menjadi sarana kaderisasi calon-calon pemimpin, baik tingkat kota, kabupaten, propinsi, maupun tingkat nasional. Dan otonomi daerah juga mendorong inovasi sesuai dengan karakter sosial, ekonomi, dan budaya di masing-masing daerah. Namun otonomi daerah juga tetap harus diletakan dalam konteks kepentingan nasional.

Saat ini kita masuk dalam dunia yang semakin tergloblasisasi dengan kompetisi yang sangat tinggi, dengan persaingan yang sangat tinggi. Dan kita semuanya, Indonesia harus mampu memenangkan kompetisi itu. Karena itu, sinergi, kerjasama antara pusat, propinsi, kabupaten/kota, harus terus ditingkatkan. Apalagi sebentar lagi, dan ini memang harus disampaikan kepada rakyat supaya mereka bisa paham semuanya, akhir tahun ini telah dibuka Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sebetulnya semua kepala negara/pemerintahan juga tidak bisa mengira-ngira akan terjadi apa. Akan terjadi kontraksi apa, goncangan apa, atau akan terjadi perbaikan apa.

Di negara-negara yang menjadi anggota ASEAN, semua juga masih menduga-duga, apakah terjadi arus migrasi dari Indonesia ke Malaysia atau Singapura secara besar-besaran. Atau terjadi arus investasi dari Indonesia, misalnya ke Brunei atau Thailand, Myanmar, Laos, atau Vietnam, kita juga belum bisa menduga-duga itu. Karena memang sekarang modal arus uang mudah sekali berpindah-pindah. Apalagi dengan dibukanya MEA, semuanya masih menduga-duga.

Berbicara dengan pengusaha banyak yang takut, kita nanti kalah bersaing dengan Singapura, Malaysia, Thailand. Tetapi setelah saya berbicara dengan mereka, dengan kepala negara/pemerintahan, mereka juga takut, jangan-jangan kita nanti dikuasai Indonesia yang GDP-nya sudah, penduduk juga 40 persen lebih dari yang ada di Asia. Artinya, semuanya memang pada posisi khawatir, tidak tahu apa yang akan terjadi.

Oleh sebab itu, saya titip kepada seluruh kepala daerah, pimpinan daerah, agar ini terus disampaikan kepada masyarakat. Kita harus siap. Tapi kalau melihat kondisi yang ada, saya masih meyakini kita masih mampu berkompetisi, bersaing dengan negara-negara di ASEAN ini. Saya masih meyakini.

Tetapi memang harus banyak perbaikan-perbaikan, baik di pusat maupun di daerah. Pelayanan publiknya, pelayanan perizinannya, praktek tata kelola yang belum baik harus kita perbaiki. Kemudian ketimpangan-ketimpangan pembangunan kota dan desa sebelah barat, tengah dan timur, semuanya memang harus dikejar.

Dan otonomi daerah juga harus menjadi bagian untuk membangun Indonesia dari pinggiran, dan konektivitas antar kota, propinsi, dan pulau sangat kita perlukan. Oleh sebab itu pembangunan infrastruktur, jalan, jembatan, pelabuhan, perdagangan ini harus terus kita genjot habis-habisan sehingga daya saing kita dengan negara-negara yan lain bisa kita tingkatkan.

Perlu saya sampaikan, mungkin minggu-minggu ini akan kita mulai lagi pembangunan infrastruktur karena banyak yang bertanya. Pak, ini sudah bulan Mei, proyek-proyek kok belum dimulai. Iya, supaya disampaikan kepada masyarakat bahwa APBN-P kita baru digedok pertengahan bulan Januari dan harus  administrasi, lelang, dan lain-lain baru dikerjakan 2-2,5 bulan baru selesai. Oleh sebab itu, pada minggu-minggu ini akan banyak sekali misalnya KIS, KIP, itu mulai akan dibagi dimana-mana. KIS sebanyak kira-kira 88 juta akan mulai dibagi, KIP 22 juta kemudian yang KIS 88 juta, ini akan terus dibagi ke semua daerah.

Kemudian juga jalan tol Trans Sumatera, mungkin hari Kamis akan di-groundbreaking dari Lampung menuju ke atas nanti sampai di Aceh dan kita harapkan itu juga menjadi sebuah jembatan untuk konektifitas antar provinsi, antar kota kabupaten yang ada di Pulau Sumatera, nanti juga di pulau-pulau besar yang lainnya juga akan segera dimulai. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Solo, Ngawi, Kertosono yang sudah berhenti karena masalah kontraktor yang tidak memiliki kapasitas dana juga langsung kita ambil alih, moga-moga minggu ini juga insya Allah akan segera kita mulai pembangunannya.

Kemudian, kita harapkan juga tahun ini juga kita akan mulai pembangunan kereta api cepat, tapi nggak usah saya sebutkan jalurnya yang mana, akan segera kita mulai karena juga ini masalah konektifitas, high speed train itu diperlukan.

Inilah saya kira hal-hal yang perlu saya sampaikan dan saya optimistis bahwa perubahan sudah dan sedang berlangsung di daerah, semakin banyak daerah yang melakukan inovasi dan terobosan dalam membangun daerah, akan semakin memperkuat perekekonomian kita dan akhirnya akan memberikan kesejahteraan kepada daerah.

Marilah kita peringati Hari Otonomi Daerah ini dengan bukti membangun Indonesia dari daerah, membangun Indonesia dari pinggiran dan  mencapai Indonesia jaya sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila.

Terima kasih.

Wassalamualaikum. Wr.Wb.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru