Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peringatan Hari Pangan se-Dunia Tingkat Nasional ke-36 Tahun 2016, 29 Oktober 2016, di Boyolali, Jawa Tengah

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 29 Oktober 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.160 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, para Gubernur, khususnya Gubernur Jawa Tengah,
Yang saya hormati, para Bupati/Wali Kota se-Indonesia yang hadir, jajaran Forkopimda Provinsi Jawa Tengah, para pejabat eselon 1 Kementerian Pertanian, para petani dari Sabang sampai Merauke yang pada siang hari ini hadir, khususnya petani se-Kabupaten Boyolali dan Jawa Tengah,
Undangan dan seluruh masyarakat Boyolali yang berbahagia.

Saya ingin menyampaikan apa adanya, betapa sekarang ini kompetisi antar negara itu betul-betul sangat sengit. Ke depan, ada tiga (3) hal yang diperebutkan, ke depan. Ini rebutan kita nanti karena orang semakin banyak, dan negara semuanya bersaing dengan sengit. Yang pertama, yang berkaitan dengan pangan. Pangan nanti akan jadi rebutan. Yang kedua, yang berkaitan dengan energi, nanti akan rebutan. Yang ketiga, yang berkaitan dengan air.

Inilah tiga (3) hal mulai sekarang harus kita antisipasi, harus diantisipasi dan harus disiapkan, harus direncanakan dengan baik. Negara kita adalah negara besar, 17 ribu pulau, negara yang subur. Tetapi kita harus berbicara apa adanya. Tahun lalu beras kita masih impor, kedelai masih impor, jagung masih impor, buah-buahan masih impor, gula masih impor, dan yang lain-lainnya, yang tidak saya sebutkan satu per satu. Tapi melihat tadi yang ada di lapangan, melihat tadi yang dipamerkan, saya optimis insya Allah kalau semuanya bekerja keras, semuanya bekerja keras, selesai.

Beras sampai bulan Oktober ini, kita tidak impor, dan saya pastikan sampai akhir Desember tidak ada impor. Jagung, impor turun sampai 60 persen. Karena apa? Tahun yang lalu, waktu saya ke Jawa Timur, waktu saya ke Dompu, semuanya petani mengeluh karena harga jagung hanya Rp1.500 per kilo. Saat itu, Menteri Pertanian minta dibuatkan Perpres, ditentukan harganya. Kalau di bawah itu, Bulog harus mengeluarkan jurus. Diberikan harga saat itu Rp2.700 Pak ya? Rp2.700, dari Rp1.500 meloncat ke Rp2.700. Tetapi sekarang ini, saya mendengar harga jagung di lapangan sudah Rp3.100 per kilo, meloncat tinggi sekali. Saya yakin harga pokok produksi paling-paling Rp1.500, Rp1.600, atau Rp1.700. Artinya ada keuntungan besar di situ. Artinya lagi apa? Petani bergairah untuk menanam.

Kuncinya ini adalah di harga akhirnya. Percuma  disubsidi, pupuk disubsidi, benih, kalau harganya juga jatuh, enggak ada artinya. Inilah ke depan, strategi itu yang akan kita kerjakan.

Yang kedua, yang berkaitan dengan air juga sama. Kita memang baru proses membangun waduk 49 waduk di seluruh tanah air, waduk besar. Tahun depan ini, kita akan bangun besar-besaran ribuan yang namanya embung-embung kecil. Mungkin hanya 1 hektar, mungkin hanya 5 ribu meter persegi, tapi sebanyak-banyaknya. Saya belum dapat angkanya berapa ribu yang akan kita bangun. Karena kunci air inilah yang akan mengairi tanaman-tanaman kita.

Energi itu urusannya ESDM. Kita masih juga pusing menyelesaikan bagaimana agar kita ke depan persiapan persaingan itu kita juga bisa memenangkan. Tapi khusus pangan, saya meyakini kalau kerja kita seperti sekarang yang saya lihat, terus-menerus, saya yakin jagung paling lambat 2018 saya yakin sudah enggak akan impor lagi. Yakin, insya Allah.

Yang lain-lain direncanakan, ditata, direncanakan, ditata. Keyakinan ini, saya ingin melihat dari petani.

(Dialog Presiden dengan Masyarakat)

Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati. Kembali lagi ke soal pangan, betul-betul saya harapkan yang hadir di sini, kita semuanya bekerja keras. Yang jagung, urusan jagung. Saya minta ke Menteri Pertanian juga, agar fokus, enggak kayak dulu-dulu lah, seluruh provinsi dibagi-bagi rata jagung, jagung, jagung. Tidak kelihatan mana yang berhasil mana yang tidak. Sekarang fokus saja, urusan jagung, urusan 3 (tiga) atau 4 (empat) provinsi, tidak usah banyak-banyak. Tapi diurus betul, dikerjakan betul, dikontrol betul, dicek betul. Sekarang saja sudah meloncat dimana, di NTB, di Dompu, di Bima, kemudian di Gorontalo, kemarin juga sudah meloncat di NTT, di Jawa Timur. Saya kira sudah, jangan semuanya. Jangan semuanya. Kita kalau enggak fokus seperti itu, ngontrolnya sulit, ngeceknya sulit. Saya pastikan.

Urusan gula juga sama. Kapan ini urusan gulanya akan selesai, kita tidak impar impor gula lagi. Tadi langsung saya todong Pak Menteri, kapan kita bisa enggak impor gula lagi, jawabannya Pak Menteri kalau lahannya siap. Ini hanya urusan lahan terus. Kalau lahannya siap beliau menyanggupi 5-6 tahun selesai. Tapi lahannya ternyata sekarang ini belum siap. Saya kadang-kadang heran, yang untuk kelapa sawit sampai 14 juta hektar. Untuk tebu sekarang berapa, kebutuhan kekurangannya berapa? 3,6 juta. Enggak banyak sebetulnya. Yang ngantri banyak yang ingin bikin pabrik tapi lahannya sampai saat ini, kemarin baru siap 300 ribu hektar, sisanya masih belum tertangani.

Inilah yang selalu saya sampaikan, kerja itu harus detail dan diikuti terus, kalau tidak lepas lagi kita. Karena persoalan kita ini banyak sekali, persaingan antar negara banyak sekali.

(Dialog Presiden dengan Masyarakat)

Baiklah Bapak/Ibu sekalian yang saya hormati, saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya nyatakan peringatan Hari Pangan se-Dunia XXXVI resmi dibuka.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru