Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peringatan Haul Al-Magfurlah Syaikh Nawawi Al-Bantani Ke-124, 21 Juli 2017, di Pondok Pesantren An-Nawawi, Tanara, Serang, Banten

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 27 Juli 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 5.250 Kali

Logo-Pidato2-8Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahi Robbil ‘alamin, washolatu wassalamu ‘ala asrofil ambiya’i wal mursalin sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammadin wa ‘ala alihi wasohbihi ajma’in. Amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para ulama, wabil khusus Bapak Prof. Dr. KH. Ma’ruf Amin, beserta seluruh keluarga besar Pondok Pesantren An-Nawawi di Tanara Kabupaten Serang,

Yang saya hormati para Menteri, Gubernur Banten, Bupati Serang, dan juga tidak lupa tadi sudah disampaikan ada Pak Walikota Bandung yang juga hadir pada malam hari ini,

Yang saya hormati, yang saya cintai para santri, serta Bapak/Ibu sekalian, seluruh masyarakat yang hadir pada malam hari ini.

Saya senang bisa hadir di sini meskipun setelah ini saya harus terbang lagi dari Halim untuk menuju ke Yogyakarta, kemudian besok siang terbang lagi ke Semarang, malamnya terbang lagi ke Riau. Jadi hidupnya di terbaaang terus. Tapi saya sangat berbahagia bisa hadir pada malam ini, hadir untuk Haul Al-Magfurlah Syaikh Nawawi Al-Bantani yang ke-124.

Tadi sudah disampaikan oleh Bapak Kyai Ma’ruf Amin, bahwa almarhum Syaikh Bantani, Syaikh Nawawi, adalah satu-satunya ulama Indonesia yang dimakamkan di samping istri Rasulullah, dan dijuluki sebagai Penghulu Ulama Hijaz. Tadi juga beliau telah menyampaikan bahwa Syaikh Nawawi telah menulis lebih dari 100 buku yang meliputi berbagai disiplin ilmu, dari tafsir, ilmu kalam, tauhid, dan yang lain-lainnya.

Yang kedua, Bapak/Ibu dan Saudara-saudara sekalian, saya ingin mengingatkan mengenai keberagaman negara kita. Kita harus tahu dan kita harus sadar bahwa negara kita ini negara yang besar, memiliki banyak suku. Supaya tahu semuanya bahwa negara kita, Indonesia ini, memiliki 714 suku. Negara-negara yang lain paling memiliki 1, 2, 3, 4, 5, paling banyak 5. Kita ini memiliki 714 suku. Patut kita syukuri Alhamdulillah. Ini adalah anugerah Allah yang diberikan kepada kita, bangsa Indonesia.

Kalau saya cerita seperti itu kepada, waktu Raja Salman ke Indonesia, saya bercerita kepada Raja Salman, “Sri Baginda Raja, Indonesia itu memiliki 17 ribu pulau, memiliki 714 suku, memiliki lebih dari 1.100 bahasa lokal.” Sri Baginda Raja Salman bertanya balik ke saya, “Terus kalau 17 ribu pulau,  apa Pak Presiden Jokowi sudah kunjungi satu persatu?” Saya bilang belum. Kalau provinsi sudah semuanya, kalau 516 kabupaten dan kota saya baru kunjungi kira-kira separuhnya. Masih banyak sekali, karena memang negara kita ini sangat besar sekali.

Waktu datang Presiden Afghanistan Ashraf Gani, saya ceritakan hal yang sama: 714 suku, 1.100 lebih bahasa lokal, 17 ribu pulau. Terkaget-kaget. Waktu saya bertemu dengan Presiden Mesir, Presiden As-Sisi, saya ceritakan hal yang sama. Beliau juga terkaget-kaget. Ternyata banyak Kepala Negara, Presiden, Perdana Menteri, dan Raja yang belum tahu banyak mengenai negara kita, Indonesia. Waktu saya bertemu dengan Syaikh Tamim, pimpinan tertingginya Qatar, saya sampaikan yang sama. Waktu bertemu dengan Syaikh Mohammad, pimpinan tertingginya Uni Emirat Arab, saya ceritakan yang sama.

Sekarang, setiap saya bertemu di konferensi-konferensi internasional selalu saya sampaikan, Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Ini tidak pernah terus-menerus disampaikan, sekarang terus-menerus akan saya sampaikan. Karena inilah sebetulnya kekuatan dan potensi yang kita miliki, yang negara-negara lain tidak punya. Kita ini memiliki hampir 220 juta penduduk kita yang beragama Islam, dari 250 juta penduduk Indonesia. Inilah yang terus akan saya sampaikan di mana-mana, biar semua tahu bahwa negara besar dengan penduduk muslim yang paling banyak di dunia adalah yang namanya Indonesia. Terus akan saya sampaikan.

Dan pada kesempatan yang baik ini, silakan maju kalau ada yang tahu.

(Dialog Presiden dengan Hadirin)

Terakhir tadi ‘kan menyebutkan suku Batak. Saya itu pernah ke Sumatera Utara, biasanya setelah “Assalamualaikum” langsung saya “Horas!” Saya pikir di lain-lain kabupaten juga sama. Hampir keliru, saya dibisiki oleh Bupatinya, “Pak, kalau Sumatera Utara di tengah bukan Horas, Pak, Majua-jua!” nanti ke Selatan beda lagi “Ya Ahuwo!” Inilah kekayaan bahasa daerah, kekayaan budaya kita yang tidak dimiliki oleh negara yang lain selain Indonesia .

Oleh sebab itu, marilah kita jaga bersama-sama persatuan kita, marilah kita jaga bersama-sama keragaman, kebhinekaan ini. Karena memang kita dianugerahi oleh Allah itu memang beragam, itu sudah hukum Allah, sudah kehendak Allah. Berbeda-beda kita ini, tapi jangan saling dipertentangkan nanti menjadi gesekan-gesekan yang tidak memberikan manfaat kepada bangsa kita, Indonesia

Baiklah, Bapak/Ibu dan hadirin yang berbahagia, meneladani sikap hidup dan laku perjuangan Syaikh Nawawi, berarti kita harus optimis, kita harus bahwa membahu dalam membangun bangsa ini. Dan insya Allah negara kita akan menjadi negara yang Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur. Terima kasih, saya tutup.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru