Sambutan Presiden Joko Widodo pada Peringatan HUT ke-44 PDI Perjuangan, 10 Januari 2017, di Jakarta Hall Convention Center, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Januari 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.390 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya.

Yang saya hormati Presiden ke-5 Republik Indonesia Ibu Megawati Soekarno Putri sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang hormati Pimpinan Lembaga Negara,
Yang saya hormati Bapak Try Sutrisno,
Yang saya hormati Ketua-ketua Umum partai yang pada pagi hari ini hadir,
Yang saya hormati para senior, Dewan Pimpinan Pusat dan Daerah PDI Perjuangan, serta kader-kader PDI Perjuangan di manapun berada dari Satgas Anak Ranting, Ranting, PAC, DPC, DPD, DPP.

Hadirin dan undangan yang berbahagia,
Pada hari ini kita sangat berbahagia sekali di ulang tahun PDI Perjuangan yang ke-44. Oleh sebab itu, saya ingin mengajak kita semuanya untuk meneriakkan salam perjuangan empat kali.
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Dan nanti juga akan saya tutup empat kali salam perjuangan kemerdekaan kita.

Ibu Megawati, Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian yang saya hormati,
Hadir di acara HUT PDI Perjuangan yang ke-44 hari ini, saya jadi ingat ketika acara penetapan 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila di Bandung tahun yang lalu. Hari lahir ideologi yang menjadi jiwa bangsa Indonesia. Ideologi yang mempersatukan kita dalam satu rumah kebangsaan Indonesia. Ideologi yang menjadi roh utama pergerakan PDI Perjuangan sebagai partai ideologis seperti yang sering disampaikan dan yang tadi sudah disampaikan oleh Ibu Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Megawati Soekarno Putri.

Ibu Mega, hadirin yang berbahagia,
Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan posisi kita saat ini, kemudian tantangan-tantangan yang ada, kemudian kebijakan-kebijakan yang telah kita ambil, dan nantinya akan kami sampaikan dengan data-data dan angka-angka yang sudah kita peroleh dalam waktu 2 (dua) tahun ini.

Yang pertama, yang berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi. Kita patut berbahagia bahwa pada tahun 2016 pada triwulan II ekonomi kita 5,18. Kemudian triwulan III turun sedikit menjadi 5,02. Dan kita harapkan pada tahun ini ekonomi akan tumbuh paling tidak minimal 5,1%. Tetapi kalau kita bandingkan dengan negara-negara yang lain, angka yang kita peroleh yaitu 5,18 ini adalah angka yang cukup membanggakan kita. Bandingkan misalnya kita dengan India, ya dengan India kita masih di bawah sedikit. Dengan Tiongkok kita juga masih di bawahnya sedikit. Tetapi dibandingkan Malaysia, dibandingkan dengan Jepang, dibandingkan dengan Rusia, dibandingkan dengan Brazil, dengan Meksiko, kita jauh lebih baik dari mereka. Kalau di negara-negara G20 kita pada angka Nomor 3. Saya kira sebuah angka yang patut kita banggakan, karena dalam perlambatan ekonomi dunia yang sangat berat sekarang ini, angka ini adalah sebuah angka yang sangat baik.

Kemudian yang berkaitan dengan tantangan kita. Tantangan terberat kita sekarang ini adalah ketimpangan, adalah kesenjangan. Ketimpangan antara kaya dan miskin, ketimpangan antar wilayah, inilah tantangan terberat kita. Pada beberapa tahun yang lalu, angka gini ratio kita, angka kesenjangan kita, adalah 0,41. Pada 2 (dua) tahun ini bisa diturunkan tapi hanya sedikit menjadi 0,397. Tetapi turun, ini yang patut kita syukuri. Tetapi kalau kita bandingkan dengan negara yang lain, misalnya dengan Tiongkok, dengan India, dengan Filipina, dengan Malaysia, dengan Thailand, angka kita lebih baik di sisi gini ratio. Tetapi juga ini patut kita waspadai, hal yang satu ini, masalah kesenjangan.

Yang kedua, yang berkaitan dengan pengangguran. Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, ada penurunan angka pengangguran yaitu turun 0,31 persen. Meskipun turun sedikit, ini juga adalah sebuah prestasi yang juga perlu kita sampaikan, karena negara-negara yang lain semuanya pada angka yang naik.

Kemudian yang berkaitan dengan kemiskinan. Ini juga menjadi tantangan. Tapi patut kita syukuri juga bahwa angka kemiskinan pada Maret 2016 saat dihitung berada pada angka 10,86. Turun, meskipun juga sedikit, turun 0,36 persen. Ini juga patut kita syukuri.

Kemudian, kebijakan ekonomi apa yang kita ambil dalam posisi-posisi seperti itu. Tantangan pengangguran, tantangan kemiskinan, tantangan kesenjangan dan ketimpangan. Yang sekarang ini baru dalam proses kita siapkan adalah sebuah kebijakan ekonomi Pancasila, sebuah kebijakan ekonomi gotong royong yang sebentar lagi akan kita sampaikan kepada rakyat. Intinya adalah ekonomi yang berkeadilan, intinya adalah ekonomi yang ada pemerataannya. Karena percuma pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi apabila tidak merata dan hanya dinikmati oleh segelintir orang, ini adalah sebuah hal yang sangat percuma.

Oleh sebab itu, kebijakan yang kita ambil membangun dari pinggiran, membangun dari pulau terdepan, membangun dari desa, menurut saya itulah ekonomi Pancasila yang sekarang ini terus kita mulai, agar kesenjangan itu betul-betul bisa kita kurangi sebesar-besarnya di negara kita.

Seperti pembangunan perbatasan di Entikong, di Kalimantan Barat. Dua tahun yang lalu pada bulan Desember saat saya ke Entikong, yang namanya gedung imigrasi, gedung karantina, gedung bea cukai, itu kayak kandang. Betul-betul kayak kandang. Saya enggak menyampaikan kandang apa, tapi kandang. Dan saat itu juga, saya perintahkan kepada Menteri PU-Pera,  seminggu – dua minggu maksimal, gedung harus diruntuhkan. Dan saya beri waktu 2 (dua) tahun untuk membangunnya. Bukan karena masalah kemewahan, bukan karena masalah gedung itu harus bagus, tetapi ini adalah etalase terdepan negara kita, yang menjadi kebanggaan kita, yang menjadi harga diri kita, yang menjadi martabat kita. Dan sebulan yang lalu sudah kita resmikan, fotonya ada di gambar. Nanti kalau saya enggak bawa foto ada yang masih meragukan. Sekarang yang di Entikong silakan kalau Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sekalian ingin membandingkan yang di Entikong, yang di sana dengan yang milik kita, saya jamin lima kali lebih baik dari yang di sana.

Yang di NTT juga sama, yang di Motaain, sebelumnya sama. Dengan kantor kelurahan saja lebih baik kantor kelurahan. Tetapi sekarang bisa kita lihat digambar, dibandingkan dengan negara yang sebelah, saya jamin juga minimal tiga kali lebih baik. Ini penduduk di Kabupaten Belu, di Atambua, dulu sering foto-foto di gedung yang di sana. Sekarang orang-orang yang di sana fotonya di tempat kita. Sekali lagi ini masalah harga diri, ini masalah kebanggaan, ini masalah nasionalisme, ini masalah martabat yang harus kita terus kerjakan. Yang di Motamasin, ini juga masih di NTT, masih di wilayahnya Pak Frans Lebu Raya, ini belum diresmikan, tetapi gambarnya sudah saya ambil waktu saya ke sana. Kalau dibandingkan dengan yang sebelah saya kira juga sama, tiga kali lipat lebih baik.

Kemudian pulau-pulau terdepan, pada tahun yang lalu juga sudah kita resmikan bandara di Pulau Miangas, yang juga sudah saya coba. Saya datang ke Pulau Miangas, di sana ada kurang lebih 200KK, 800 jiwa. Pulaunya kecil, saya muter di sana, dan sekarang ada bandaranya meskipun hanya untuk pesawat kecil, tetapi ada. Dan sekarang rutin seminggu sekali pesawat ke Pulau Miangas, meskipun yang naik mungkin juga hanya sedikit, tetapi ada, dan harus ada. Karena ini adalah pulau terdepan bangsa kita.

Kemudian Pulau Natuna, juga sama. Kita perpanjang runway-nya, kemudian saat ini dalam proses untuk pengembangan industri perikanan, kawasan perikanan, yang sudah kita mulai tahun yang lalu. Mungkin akhir tahun ini atau pertengahan tahun ini akan diselesaikan, sehingga pulau terdepan kita ini juga akan ramai dengan kegiatan-kegiatan ekonomi.

Inilah yang tadi di depan saya sampaikan bahwa pemerataan itu kita mulai dari pulau-pulau terdepan, dari pinggiran, dari desa, karena potensi-potensi yang ada itu memang perlu kita kembangkan.

Kemudian yang berkaitan dengan dana desa. Tahun 2015 anggaran kita Rp20,5 triliun, 2016 Rp47 tiliun, kemudian 2017 Rp60 triliun. Yang dikerjakan memang sekarang ini baru fokus kepada infrastruktur desa, baik jalan di desa, baik irigasi, baik jembatan-jembatan. Setiap saya ke daerah pasti saya selalu mampir untuk mengecek apakah dana desa itu digunakan pada sasaran yang tepat, pada hal-hal yang merupakan keinginan dari masyarakat. Alhamdulillah yang kita lihat penggunaan dana desa ini sangat bagus di lapangan, sehingga kita harapkan tahun ini akan lebih kelihatan karena anggarannya akan mencapai Rp60 triliun.

Kemudian yang berkaitan dengan ketimpangan harga. Saya kira beberapa kali sudah saya sampaikan, bahwa semen misalnya di Jawa harganya hanya Rp70 ribu, di Papua terutama di Puncak, di pegunungan, di Wamena, di Lanny Jaya, di Puncak harganya bisa sampai mencapai Rp800 ribu, sampai Rp2,5 juta. Dan juga masalah yang berkaitan dengan BBM. BBM di Pulau Jawa harganya Rp6.450, saya juga baru mendengar setelah tiga kali ke Papua tahun yang lalu, ternyata harga BBM di Papua ada yang Rp40 ribu, ada yang Rp60 ribu, ada yang Rp70 ribu, dan bahkan pada bulan-bulan tertentu bisa mencapai Rp100 ribu per liter. Tetapi tahun yang lalu, tiga bulan yang lalu, harga BBM di Papua telah kita samakan dengan harga BBM di Jawa, menjadi Rp6.450. Ini bukan masalah harga, ini adalah masalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kita masih mempunyai PR, tadi yang saya sampaikan di depan, masalah semen. Kita akan terus berusaha agar harga nantinya juga sama dengan harga semen di pulau Jawa. Karena tol laut kita juga masih belum rampung 100 persen. Kalau 2016 rutenya masih rute-rute yang sudah tambah tapi belum seramai yang kita inginkan tetapi 2017 ini rutenya akan seramai yang ada di layar. Dengan tambahan trayek rute seperti yang ada di gambar, saya meyakini bahwa harga-harga yang dilalui oleh kapal-kapal kita ini akan menurunkan harga-harga di seluruh tanah air. Tidak hanya di Papua tetapi juga bisa masuk ke NTT, bisa masuk ke Maluku dan Maluku Utara, dan juga di daerah-daerah yang lain.

Kemudian yang berkaitan dengan pemerataan. Juga perlu kami sampaikan bahwa sampai saat ini telah dibagi Kartu Indonesia Sehat sebanyak 88 juta, kemudian Kartu Indonesia Pintar  pada akhir tahun 2016 juga telah dibagi kurang lebih 17 juta. Ini untuk memberikan kepastian bahwa anak-anak kita semuanya bisa belajar dari SD-SMP-SMA. Dan juga rakyat kita, terutama dari keluarga yang belum sejahtera bisa mengakses kepada pelayanan kesehatan, baik di Puskesmas maupun di rumah sakit tanpa dipungut biaya. Tahun ini akan kita tambahkan lagi jumlah, baik Kartu Indonesia Pintar maupun Kartu Indonesia Sehat.

Yang ketiga, yang berkaitan dengan redistribusi aset (land reform). Sudah kita mulai pada bulan Desember, sebulan yang lalu untuk pembagian lahan kepada tanah-tanah adat. Meskipun baru kita bagi kepada 13 tanah adat, tetapi tahun ini insya Allah akan bertambah banyak karena dengan pemberian konsesi kepada tanah-tanah adat, pemberian konsesi kepada rakyat, pemberian konsesi kepada koperasi. Inilah, saya kira di depan tadi yang saya sampaikan, bahwa ekonomi Pancasila, ekonomi gotong royong, benar-benar konsesi itu dinikmati oleh rakyat, bukan hanya dinikmati oleh segelintir masyarakat kita. Sekarang ini telah kita kantongi 12,7 juta hektar yang akan segera kita bagikan kepada rakyat, yang akan segera kita bagikan kepada tanah-tanah adat, yang akan segera kita bagikan kepada koperasi-koperasi yang ada di tanah air.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan untuk menutup sambutan saya pada HUT PDI Perjuangan yang ke-44, sekali lagi dengan mendorong pemerataan kehidupan sosial ekonomi, seluruh rakyat akan merasa berdiri di tanah air yang sama, Indonesia. Seluruh rakyat akan merasa hidup di rumah kebangsaan yang sama, Indonesia. Karena itu saya sangat mengapresiasi, saya sangat menghargai tema HUT ke-44 PDIP-Perjuangan yaitu “Rumah Kebangsaan untuk Indonesia Raya”. Sesuai dengan semangat Bung Karno, bahwa negara Indonesia adalah “Negara Semua Buat Semua”. Saya harap kerja sama pemerintah dengan PDI Perjuangan ke depan akan semakin erat, semakin produktif untuk mewujudkan Indonesia Raya.

Selamat ulang tahun ke-44 PDIP-Perjuangan.
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om shanti shanti shanti om.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru