Sambutan Presiden Joko Widod0 pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2016, 22 November 2016, di Jakarta Hall Convention Center, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 November 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.037 Kali

Logo-Pidato2Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam, salam sejahtera bagi kita semua.

Yang saya hormati para pimpinan lembaga negara,
Yang saya hormati Gubernur Bank Indonesia beserta seluruh jajaran Dewan Gubernur,
Yang saya hormati Ketua OJK,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja yang hadir,
Para Gubernur, Ketua Parpol, Dirut BUMN, dan seluruh asosiasi perbankan, hadirin yang berbahagia.

Akhir-akhir ini situasi politik sedikit memanas, sedikit. Ini biasa sebetulnya, dalam pilkada tensinya tambah hangat sedikit biasa, sangat biasa. Tetapi karena banyak sekali faktor-faktor yang lain, yang sebetulnya pilkada ini tidak hanya di DKI saja, ada 101 pilihan bupati, wali kota, dan gubernur di seluruh Indonesia, tetapi sekali lagi tetapi, memang di Jakarta ini istimewa, sehingga kejadian yang kemarin itulah yang kita lihat. Tetapi itu hanya sedikit, hangat sedikit lah, tambah hangat sedikit.

Meskipun saya cukup pontang-panting kesana-kesini tetapi sekali lagi itu hal biasa dalam sebuah pilkada, biasa. Saya ingat juga dulu pilgub 2012 juga mirip-mirip, mirip-mirip, karena saya merasakan sendiri di lapangan, mirip-mirip. Dan karena pontang-panting itu saya yang biasanya enggak pernah naik kuda harus naik kuda. Sekali lagi hanya hangat. Jadi di sini ekonom-ekonom jangan ikut memanas-manasi, hangat sudah, hangat. Biasa itu, biasa.

Dan justru orang-orang kita ini memang kadang-kadang lucu. Misalnya saya bertemu dengan Pak Prabowo, mestinya yang ditanyakan kan yang substansi, yang paling penting misalnya dalam masalah politik kebangsaan atau ketatanegaraan kita. Tetapi enggak, yang ditanyakan tadi oleh media, “Pak tadi makannya lauknya apa?” Saya sudah, “apa ini yang mau saya…”. Tanyanya “Pak tadi lauknya apa”. Saya jawab “ikan bakar”. Ketemu tokoh yang lain ditanyakan, “Kemarin kan ikan bakar Pak, yang tadi makan apa Pak?”. “Makan bakmi godhog”. Karena memang yang ditanyakan itu, yang saya jawab itu. Tetapi sebetulnya banyak hal-hal yang sangat substansif yang kita bicarakan pada saat bertemu, baik bertemu Ibu Mega misalnya, bertemu Pak Prabowo, bertemu dengan Pak Surya Paloh tadi pagi-pagi, kemudian siang bertemu dengan Pak Romi, Pak Setya Novanto.

Padahal juga kita biasa makan siang, makan malam dengan beliau-beliau ini, biasa. Hanya ada yang kita buka dan yang kebanyakan yang tertutup, tertutup. Tetapi karena ini perlu kita buka agar masyarakat juga tahu bahwa kita ini sudah berbicara dengan ketua-ketua partai, sudah mengunjungi misalnya markas-markas TNI dan Polri. Ini agar memberikan ketenangan pada kita dalam rangka mengejar ketertinggalan kita, pembangunan kita dengan negara-negara yang lain. Jangan malah kita disibukkan terus dengan tensi politik yang sedikit hangat pada 1-2-3 minggu ini. Sehingga urusan politik kita tinggalkan dulu, tidak usah.

Kita masuk ke hal yang berkaitan dengan ekonomi, dengan pembangunan. Kita lihat pada saat pemilihan Presiden di Amerika. Presiden terpilih Donald Trump dipastikan menang. Semua orang kaget, kalau saya ya biasa saja. Kekagetan itu kata orang, ini kata orang, menyebabkan ketidakpastian. Kalau saya tidak. Banyak orang mengatakan nanti presiden terpilih Donald Trump menjadi proteksionis, bunga bank The Fed fund rate akan melonjak, dilonjakkan sangat tinggi. Saya kira presiden terpilih Donald Trump bukan seperti yang kita bayangkan. Saya kira dia mempunyai penciuman bisnis, penciuman ekonomi yang sangat tajam. Tidak mungkin secara sembrono melakukan hal-hal yang dibayangkan orang-orang seperti yang kita lihat sekarang ini, tidak. Saya masih meyakini bahwa yang akan dilakukan adalah hal-hal yang baik, baik untuk Amerika Serikat sendiri, maupun juga untuk dunia. Tidak mungkinlah kita misalnya melakukan sesuatu yang merugikan semua negara, tidak akan mungkin. Sehingga hal-hal yang lebih realistis itulah yang kita ingin mengajak kepada dunia usaha jangan ditakuti-takuti oleh isu-isu yang sebetulnya itu belum terjadi.

Tetapi faktanya betul seperti tadi disampaikan Pak Gubernur BI, bahwa pertumbuhan ekonomi dunia masih tidak baik, masih jelek. Karena memang volume perdagangan sekarang ini turun dan lebih rendah. Ini fakta. Harga komoditas juga sedikit sudah naik tapi juga masih pada posisi yang belum normal. Tetapi kalau kita lihat sebetulnya pertumbuhan ekonomi di negara kita pada triwulan I misalnya 4,94; kemudian triwulan II 5,18; pada triwulan III 5,02; saya kira kalau kita bandingkan dengan negara-negara yang lain kita masih pada posisi yang sangat baik. Jadi kenapa kita begitu pesimis? Kenapa kita tidak sangat optimis untuk menuju ke depan? Saya kira tidak ada hal yang menyebabkan kita ini pesimis sebetulnya. Tidak ada. Apa? Inflasi juga sangat terjaga. Pada tahun yang lalu 3,53; tahun ini mungkin 3,3. Sangat terjaga sekali. Defisit transaksi berjalan juga masih pada posisi yang bisa dikendalikan dengan baik.

Jadi kalau ada isu-isu, memang kita ini senangnya gosip sama isu. Jadi kalau ada isu-isu yang tidak baik, kecil, itu di-gede-in itu lho. Ini yang menyebabkan kita tidak mempunyai rasa optimis yang tinggi. Meskipun kalau kita lihat survei terakhir, negara mana yang paling optimis di dunia, kita ini pada ranking yang kedua, termasuk negara yang paling optimis setelah Tiongkok. Setelah China, Indonesia. Tapi dalam faktanya kadang-kadang kok kelihatan kita ini pesimis tapi dalam survei ternyata tidak.

Kemudian yang paling penting menurut saya, sekarang maupun kedepan, bagaimana kita bisa meningkatkan daya saing kita. Ini penting sekali. Dalam kemudahan berusaha, dalam ease of doing business misalnya, loncatan dari tahun kemarin di tahun ini saya kira sudah sangat bagus sekali. Dari yang sebelumnya kita pada kondisi 106 sekarang sudah 91. Ada loncatan yang cukup jauh sekali.

Tapi memang problem kita di daya saing, di kemudahan berusaha 3 (tiga) ini yang penting yang harus kita segera kerjakan. Yang pertama adalah urusan yang berkaitan dengan korupsi dan pungli. Yang kedua, yang berkaitan dengan inefisiensi birokrasi kita. Ini masih perlu digarap secara serius. Kemudian yang ketiga, mengejar ketertinggalan kita dalam pembangunan infrastruktur, menyiapkan infrastruktur. Tiga hal ini saya kira yang menjadi pokok yang harus kita kejar terus. Kenapa deregulasi itu kita lakukan, kenapa kita sederhanakan hal-hal yang meruwetkan, karena kita ingin kejar tiga ini. Kita mau fokus di tiga hal ini. Kalau ini bisa diselesaikan saya meyakini kita akan mempunyai sebuah fondasi yang baik untuk tinggal landas menuju ke level yang lebih baik.

Selain daya saing, yang kedua saya kira yang paling penting bagaimana meningkatkan produktivitas kita. Ini penting sekali, produktivitas. Karena di sisi inilah kita sangat, sangat kurang sekali. Apa yang harus kita lakukan di sini? Saya kira banyak sekali. Harus mengubah hal-hal yang dulu konsumtif, masuk ke hal-hal yang produktif.

Saya kira sebulan setelah dilantik kita sudah melakukan potong langsung subsidi BBM, yang pada 2014 saja mencapai hampir Rp300 trilyun, sebuah angka yang besar sekali. Dan itu kita alihkan ke hal-hal yang produktif, baik membangun irigasi, baik untuk pendidikan, baik untuk memperbaiki pelayanan kesehatan. Dan kita harapkan dengan produktivitas itulah kita nantinya bisa berkompetisi, bisa bersaing dengan negara-negara yang lain.

Dan kita bisa membangun infrastruktur kita naik hampir 76 persen. Dan itu kelihatan sekali di lapangan. Yang kita bangun misalnya seperti jalan tol, pelabuhan-pelabuhan besar, bandara-bandara baik terminalnya maupun runway-nya. Karena dengan jalan inilah saya meyakini bahwa nantinya biaya transportasi, biaya logistik itu akan jatuh lebih murah, dan akhirnya harga barang pun akan jatuh lebih murah. Karena apapun inilah yang harus kita kejar. Jalur kereta api, inilah yang harus kita kejar, tidak ada yang lain. Dan saya ingin fokus kesini. Suara apapun yang datang, saya tetap akan fokus di bidang infrastruktur ini, baik yang dikerjakan lewat APBN, lewat BUMN, dan dikerjakan oleh investasi swasta.

Perlu saya tegaskan di sini bahwa prioritas selalu saya sampaikan kepada Menteri, prioritas selalu diberikan kepada sektor swasta terlebih dahulu. Swasta dulu berikan, mau atau tidak mau. Kalau tidak mau karena mungkin internal rate of return-nya kurang, berikan pada BUMN. BUMN enggak mau, baru APBN yang mengerjakan. Karena dalam lima tahun ini perhitungan perkiraan kita akan dibutuhkan dana kurang lebih Rp4.900 trilyun, khusus untuk infrastruktur. Dan negara hanya bisa menyiapkan kira-kira Rp1.500 trilyun. Sisanya darimana? Ya dari swasta. Sisanya darimana? Ya dari investasi. Karena memang tidak mungkin APBN kita bisa mengerjakan ini.

Sehingga meningkatkan investasi, meningkatkan arus uang masuk (capital inflow) untuk masuk ke negara kita merupakan keharusan. Tanpa itu akan sulit kita menyelesaikan infrastruktur-infrastruktur yang ada. Kalau kita menunggu, apalagi hanya menunggu APBN, kita harus mungkin 15-20 tahun baru kita bisa selesaikan ini. Dan alhamdulillah kelihatan sekali peningkatan investasi dari tahun ke tahun. Dan kita harapkan apa yang sudah kita targetkan itu betul-betul bisa kita capai.

Yang terakhir, yang berkaitan dengan pembangunan sumber daya manusia. Tadi disampaikan oleh Bapak Gubernur BI mengenai pentingnya e-commerce. Saya setuju bahwa pasar kita adalah sebuah pasar yang besar bagi pengembangan e-commerce. Karena kalau kita lihat misalnya di Tiongkok, kalau kita lihat lebih spesifik lagi ke Alibaba, mereka betul-betul menyiapkan itu dengan sangat-sangat terencana sekali. Bagaimana logistic platform-nya disiapkan secara baik, retail platform-nya disiapkan dengan baik. Dan betul-betul memberikan manfaat bagi rakyat terutama usaha kecil, usaha mikro sehingga mereka mempunyai, memiliki marketplace untuk menjual barang-barang, menjual produk-produknya secara online.

Saya kira di negara kita juga kita perlukan sebuah platform seperti itu, baik logistic maupun retail. Karena apapun, kita harus sadar kita memiliki 17.000 pulau yang tidak mungkin kita jangkau dengan infrastruktur jalan saja atau infrastruktur airport saja, infrastruktur kereta api saja. Akan lebih cepat kalau infrastruktur IT yang berupa logistic platform dan retail platform itu betul-betul bisa kita siapkan dengan baik dan menjangkau seluruh kabupaten, kota, dan provinsi yang ada di negara kita.

Juga yang berkaitan dengan sekolah vokasi. Kita memiliki sekarang ini SMK, sekolah-sekolah kejuruan, tetapi dalam praktiknya kalau kita lihat lebih detil ke lapangan dan setelah saya tanyakan betul kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan apa yang keliru dari SMK kita, 70-80 persen guru-gurunya adalah guru normatif. Padahal ini SMK, mestinya vocational school itu yang lebih banyak adalah guru-guru yang pelatih. Melatih membuat jendela, melatih mendirikan bangunan, melatih memperbaiki mesin, melatih meng-assemble mesin misalnya. Yang banyak adalah guru-guru normatif, guru fisika, guru kimia, guru PMP, guru apalagi? Matematika. Guru apalagi? Itu namanya guru normatif. Yang melatih-melatih seperti itu kita yang kurang.

Inilah yang ingin kita balikkan sehingga kenapa kita bekerjasama dengan industri, bekerjasama dengan Kadin, bekerjasama dengan HIMPI. Karena kita ingin baik orang-orang teknik yang ada di pabrik, orang-orang teknik yang tahu mengenai permesinan itu bisa kita pinjam untuk memberikan pelatihan di sekolah-sekolah kejuruan kita.

Vocational training juga sama. Kita mempunyai BLK tetapi keluaran setiap tahun yang gede saja, BLK yang gede, keluaran setiap tahun hanya 300-400 orang. Untuk apa? Yang kita butuhkan jutaan, yang bisa mengeluarkan jutaan anak-anak kita sehingga mempunyai skill yang tinggi. Inilah saya kira hal-hal yang memang perlu persiapan yang besar kalau kita ingin keluaran kita besar.

Sekali lagi, saya sangat optimis. Tentu saja dengan dukungan masyarakat dan terutama dunia usaha, optimis bahwa ekonomi kita akan lebih baik di tahun 2017. Meskipun kalau bertemu dengan semua kepala negara semuanya mengeluh dan kelihatan pesimisi, saya tidak. Sesulit apapun kondisi ekonomi dunia kita harus bisa mengambil kesempatan, sekecil apapun kita gunakan agar kita bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi kita. Sekecil apapun kita gunakan.

Saya sudah sampaikan juga ke Menteri Perdagangan, untuk hal-hal yang berkaitan dengan ekspor jangan kita tergantung terus pada pasar-pasar yang tradisional, Amerika, Uni Eropa, ke Tiongkok. Banyak negara-negara dengan penduduk besar yang selama berpuluh tahun tidak pernah kita lihat, enggak pernah kita lirik. Mestinya intelijen ekonomi kita sudah mendata hal-hal itu. Dan saya sudah perintahkan apa sebetulnya yang bisa kita masukkan ke negara-negara itu. Banyak negara dengan penduduk lebih dari 80 juta, 90 juta, 100 juta yang tidak pernah kita lihat, tidak pernah kita lirik sama sekali. Padahal produk-produk kita banyak yang pas untuk menuju ke negara-negara itu.

Hanya dengan optimisme lah kita bisa melalui tantangan dan rintangan-rintangan ke depan.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru