Sambutan Presiden Joko Widodo pada Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2018, 18 Januari 2018, di Grand Ballroom The Ritz Carlton Pacific Place, SCBD, Jakarta Selatan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 Januari 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.088 Kali

Logo-Pidato2Bismillaahirrahmaanirrahim,
Assalaamu’alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati Ketua dan Pimpinan lembaga negara,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Gubernur Bank Indonesia,
Yang saya hormati Ketua Dewan Komisioner OJK, beserta seluruh jajaran Otoritas Jasa Keuangan,
Yang saya hormati seluruh pimpinan perusahaan, direksi, CEO industri keuangan, para kepala daerah, Gubernur, Bupati, Wali Kota,
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Sudah sering saya sampaikan, kalau kita lihat moneter kita bagus, stabilitas moneter kita bagus. Yang kedua, fiskal kita juga baik, artinya, pengelolaan APBN kita juga baik. Defisit APBN bisa ditekan, terakhir 2,42. Kemudian juga kita lihat Indeks Harga Saham Gabungan juga sangat membaik. Surplus neraca perdagangan juga semakin baik. Cadangan devisa kita juga semakin meningkat, terakhir 130 miliar USD. Kalau kita lihat juga, ease of doing business juga meloncat, dari, saya ingat 2014 dari ranking 120, sekarang masuk ke angka 72. Loncatannya sangat tinggi sekali.

Saya sering mengumpamakan. Jadi kita ini kalau orang ini, kolesterolnya baik, asam urat enggak ada, jantung baik, levernya baik, ginjalnya baik, ya dikit-dikit pernah masuk angin, tapi masuk angin dikit. Tapi kenapa enggak bisa lari cepat? Enggak bisa lari cepat?  Ternyata setelah kita kejar secara detail masih banyak sekali masalah-masalah yang ada di lapangan.

Tadi juga sudah disampaikan juga oleh Pak Ketua OJK, Pak Wimboh, kapasitas penyaluran kredit kita masih punya ruang 640 triliun. Ketersediaan likuiditas juga pada angka 626 trilun. Angka-angkanya semuanya memberikan angka-angka yang baik. Kalau kita lihat juga, lembaga rating, lembaga pemeringkat internasional juga memberikan rating kepada kita juga semakin baik. Kita sudah masuk ke invesment grade dan terakhir, kayak Fitch Ratings juga memberikan predikat sovereign credit rating kita dari BBB- menjadi BBB dengan outlook yang stabil. Inikan sekali lagi, baik, baik, baik.

Tetapi kenapa, sekali lagi saya tanyakan, enggak bisa kita kok lari cepat? Dan justru saya melihat, ini di industri perbankan misalnya, pertumbuhan kredit kita yang targetnya adalah 10-12, tahun 2017 kita mencapai 8,3. Pruden perlu, kehati-hatian perlu. Tapi dengan kondisi-kondisi seperti ini mestinya kita ini harus punya optimisme. Jangan sampai optimisme itu hilang gara-gara isu-isu yang bertebaran banyak di media sosial. Kalah sama isu.

Coba kita lihat harga komoditas naik semuanya. Batu bara, naik, sawit, naik. Artinya apa? Ekonomi Indonesia dinilai sehat. Artinya apa? Lembaga-lembaga dunia tersebut melihat dan yakin dengan masa depan ekonomi Indonesia.  Sekarang tinggal kita, tinggal kita mau bagaimana, apakah dengan ekonomi yang sehat seperti ini kita mau berjalan santai atau ingin cepat ke depannya. Pilihannya hanya itu, kita ingin berjalan santai atau kita ingin berjalan cepat dan lari kencang untuk memacu pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya, agar kita bisa cepat menyerap pengangguran, menekan angka kemiskinan, mengatasi ketimpangan-ketimpangan yang ada.

Tahun ini kita telah memulai Padat Karya Tunai, padat karya cash. Untuk apa? Ya kita melihat pengangguran masih banyak di desa-desa maupun di kota. Saya kemarin sudah mulai melihat di lapangan Padat Karya Tunai, baik di Jawa Barat maupun di Jawa Tengah. Satu desa sekarang bisa bekerja 160 orang- 170 orang. Tapi minta saya kemarin dibayar harian tapi ternyata budaya kita itu dibayar mingguan. Jadi sudah enggak apa-apa lah biar mingguan enggak apa, yang paling penting dibayar, jangan tidak dibayar. Itu saja.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya kira tadi sudah kita dengar dari Bapak Ketua Dewan Komisioner OJK bahwa kondisi industri keuangan Indonesia juga dalam kondisi yang sehat. Angka-angkanya tadi, sudah disampaikan oleh beliau, pada kondisi yang baik. Jadi, industri keuangan kita juga tumbuh baik perbankan, baik asuransi, baik di bursa. Hanya kita tinggal memastikan bahwa tumbuhnya industri keuangan itu ikut mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Contohnya di perbankan, jangan sampai kita asyik mengumpulkan dana pihak ketiga tapi pemberian kreditnya susah.

Saya perlu ingatkan, terutama untuk yang usaha kecil, usaha menengah, usaha mikro, memang harus keluar tenaga yang lebih, membimbing yang kecil-kecil ini untuk bisa menjadi, dari mikro menjadi pengusaha kecil, dari pengusaha kecil bisa naik lagi ke pengusaha menengah. Itu memang-memang membutuhkan lebih banyak tenaga dan pikiran.

Tetapi, itulah memang yang harus kita lakukan. Kenapa sekarang ini Pemerintah dengan OJK juga menyiapkan banyak sekali lokasi nantinya bank wakaf mikro. Saya sampaikan kepada Pak Wimboh, saya ingin buka meskipun kantornya hanya mungkin 5x5m, enggak apa-apa, saya datang.  Waktu di Cirebon saya datang. Nanti setelah ini akan dibuka lagi di lingkungan pesantren, bank wakaf mikro yang akan memberikan kredit kepada usaha-usaha kecil, usaha-usaha mikro yang ada di lingkungan pondok pesantren, yang sudah memiliki komunitas bisnis yang sudah berjalan. Tidak ada bunga, hanya terkena biaya administrasi 3 persen. Itu bukan bunga, biaya administrasi. Karena memang biaya administrasi untuk industri keuangan ini kurang lebih angka segitu. Ini akan terus kita buka, sehingga usaha-usaha mikro, usaha-usaha kecil harus kita perhatikan kalau kita ingin ketimpangan di negara kita ini semakin menyempit.

Sekali lagi, jangan sampai industri perbankan kita asyik mengumpulkan dan pihak ketiga, tapi pemberian kreditnya susah. Atau di atas kertas, pemberian kreditnya bagus di dalam angka pelaporan pemberian kreditnya bagus, tapi hanya ke debitur yang itu-itu saja. Orangnya bisa dihitung, tidak menyebar, tidak merata. Ini yang harus kita mulai kita lakukan, menyebar dan harus merata. Dan kita harus terus mendorong semakin banyak masyarakat kita terhubung dengan perbankan melalui program-program non tunai, seperti bantuan pangan non tunai. Ini sudah kita lakukan tetapi akan kita terus perluas.

Sekarang kita juga menggencarkan program sertifikasi tanah dan perhutanan sosial yang mempermudah masyarakat mengakses perbankan. Tahun 2017, target memberikan sertifikat pada masyarakat yang biasanya setahun itu hanya 500 ribu, target kita tahun kemarin 5 juta sertifikat harus diberikan kepada rakyat. Nyatanya juga bisa kalau kita berikan angka-angka seperti itu. Tapi, prosesnya kita ikuti, lapangannya kita ikuti, lapangannya kita cek. Tahun ini kita akan naikkan lagi menjadi 7 juta sertifikat yang harus dibagikan kepada masyarakat. Saya yakin insya Allah juga enggak ada masalah. Tahun depan 9 juta sertifikat yang harus dibagikan. Saya yakin juga bisa. Tapi dicek, dikontrol, diawasi terus, baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, semuanya. Bisa. Karena angkanya masih sangat jauh sekali.

Dari 126 juta bidang sertifikat yang harus diberikan kepada masyarakat, baru 46 juta di akhir 2015 yang lalu. Artinya masih 80 juta sertifikat yang harus diberikan kepada masyarakat, 80 juta. Dari 126 juta baru diberikan 46 juta, berarti masih ada 80 juta sertifikat yang harus diberikan kepada masyarakat. Kalau setahun hanya 500 ribu, kayak yang dulu-dulu, berarti 160 tahun kita butuh. Apa mau diterus-teruskan? Ndak, saya enggak mau. Saya minta 5 juta, saya minta 7 juta, saya minta 9 juta. Nyatanya juga bisa. Tapi ya terus dikejar, ditelepon, diawasi, diancam-ancam. Kalau enggak saya copot, gitu. Ya kadang-kadang ngancem-ngancem seperti itu. Tapi memang bekerja harus seperti itu, kalau tidak ada target, apa pegangan kita.

Dengan semakin banyaknya masyarakat terhubung dengan perbankan, maka kita harapkan masyarakat bisa memanfaatkan scheme-scheme kredit yang ditawarkan perbankan untuk usaha-usaha yang produktif, sehingga menggerakkan perekonomian di lapisan masyarakat bawah. Ini terus akan saya dorong, akan saya ikuti. Artinya, kalau sertifikat sudah dipegang kepada rakyat, sering saya tanyakan, kalau sudah pegang sertifikat mau dipakai apa? Teriaknya pasti bersama-sama, “disekolahkan, Pak!”. Rakyat itu kalau ngomong kan ya apa adanya. Hanya saya titip mesti kalau mau disekolahkan, dipakai agunan, dipakai untuk jaminan, hati-hati, dikalkulasi. Kalau sudah dapat kredit jangan dipakai untuk beli hal-hal yang memberikan kenikmatan, belikan mobil, belikan sepeda motor, biar gagah.

Sehingga, kalau pelaku industri keuangan itu juga ikut-ikutan wait and see, sering pengusaha itu kalau saya tanya, kok enggak berani ekspansi, enggak berani investasi jawabannya mesti, “Pak, inikan masih tahun politik, kan ada pilkada.” Lha memang setiap tahun di Indonesia ini ada pilkada kok, apa mau nunggu terus? 2015 ada pilkada, 2016 ada pilkada, 2017 ada pilkada, tahun ini ada pilkada di 171 provinsi, kabupaten, dan kota, tahun depan ada pilpres, apa mau nunggu terus? Ya biarin yang pilkada ya pilkada, yang politik ya politik, yang ekonomi ya tetap harus jalan. Ini yang terus saya sampaikan kepada pengusaha-pengusaha. Ekonomi main di ekonomi, politik silakan main di politik.

Oleh sebab itu, sekali lagi, saya mendukung langkah-langkah yang telah dilakukan oleh OJK, agar pertumbuhan industri keuangan ini bisa memberikan manfaat kepada pertumbuhan ekonomi yang berkualitas. Yang pertama, tadi saya kira sudah disampaikan oleh Pak Wimboh, akan saya ulang lagi, untuk memperkuat ekonomi masyarakat di lapisan bawah kita telah mengembangkan KUR Klaster, yaitu penyaluran Kredit Usaha Rakyat yang diiringi dengan pendampingan, dengan pemasaran produk, baik oleh perusahaan swasta sebagai perusahaan inti, maupun oleh BUMN, oleh BUMD, BUMDes.

Yang kedua, kita akan terus membuka bank wakaf mikro. Terus akan kita kuatkan, kita perbanyak, sehingga bisa membantu masyarakat kecil, utamanya pengusaha mikro, pengusaha kecil untuk mengakses kredit.

Yang ketiga, kita akan terus mendorong BUMN, BUMD, perbankan di pusat maupun di daerah untuk mencari model-model pembiayaan alternatif, model-model pembiayaan yang kreatif, terutama dalam pembiayaan infrastruktur. Jangan kita hanya  monoton terus. Banyak scheme-scheme alternatif yang bisa kita pakai.

Saya kira yang di atas sekarang sudah memulai. Sekuritisasi sudah dilakukan, Komodo Bond telah diterbitkan. Ini kita akan mencoba lagi. Negara lain melakukan semuanya. Limited concession scheme dikerjakan. Tidak semuanya tergantung pada yang namanya APBN.

Saya sudah sampaikan kepada Menteri agar anggaran APBN ini lebih masuk pada kepentingan-kepentingan rakyat banyak. Sehingga yang ini bisa dicarikan skema-skema yang lain. BUMN beserta anak perusahaannya perlu memanfaatkan pasar modal dalam memperoleh pendanaan. Karena sekarang pasar modalnya sedang bagus-bagusnya sehingga bisa digunakan dana-dana yang ada.

Daerah juga, karena di sini hadir, Gubernur juga perlu mengoptimalkan, harus berani memulai penerbitan obligasi daerah. Tapi dipakai untuk membangun infrastruktur yang produktif, membangun sektor-sektor yang produktif yang memberikan return sehingga ini bisa dikembalikan setiap bulan dan setiap tahun. Ini merupakan terobosan yang perlu kita kerjakan sebagai alternatif pembiayaan pembangunan infrastruktur di daerah.

Kita juga harus harus hati-hati, terakhir, bahwa kita telah masuk kepada revolusi industri 4.0, hati-hati ini. Basisnya adalah digitalisasi, yang kedua, ilmu komputer dan analisa big data yang perwujudannya, manifestasinya sekarang sudah bisa kita lihat. Artificial intelligence, bioteknologi, teknologi fisik, hati-hati dengan ini. Saya kira industri keuangan juga harus bersiap diri untuk menyongsong revolusi industri keempat ini.

Artificial intelligence misalnya, sekali masuk ke dunia digital, baik main facebook, twitter, instagram di media sosial, jejaknya ini bisa digunakan untuk baik targeting untuk marketing maupun targeting politik. Bioteknologi juga sama, rekayasa di bidang agro. Orang banyak takut nanti tambah penduduk akan kesulitan pangan, tidak, menurut saya tidak. Karena akan ada nanti rekayasa pertanian bertingkat, pupuk yang berbeda, bibit yang sudah digarap dengan biotekonologi, rekayasa lahan, rekayasa tanah. Sehingga, sekali lagi, keluasan lahan itu sudah tidak relevan lagi. Saya sering sampaikan di mana-mana. Contoh sekarang, negara dengan lahan sempit bisa mengeskpor, bisa menjadi sumber pangan kayak Belanda. Ini juga karena apa? Bioteknologi, sumber susu di situ, sumber daging di situ.

Teknologi fisik saya kira juga kita tahu semuanya, hyperloop, Elon Musk juga sudah merancang hal-hal yang memikirkan masa depan. Sehingga memang harus banyak redefinisi lagi, baik mengenai luas lahan, baik mengenai jarak, redefinisi mengenai office, mengenai kantor, mengenai kerja. Karena sekarang sudah berbeda lagi. Kantor nantinya enggak akan diperlukan lagi. Jadi yang punya kantor gede-gede mulai dipikirkan untuk apa kantornya. Karena ke depan yang namanya kantor sudah enggak akan diperlukan, dengan teknologi yang ada. Kerja pun juga bisa di mana-mana sekarang.

Anak saya itu kalau sudah pegang gawai, kalau sudah tengah malam sudah masuk ke jam 1, jam 2 saya suruh tidur, “saya ini bukan main-main lho, Pak, saya kerja lho ini”. Artinya bekerja pun dengan tidur, dengan ndelosor di lantai, itu bekerja kalau sekarang ini. Enggak perlu lagi kantor, sudah bisa menjangkau ke seluruh daerah atau seluruh dunia, seluruh negara. Inilah redefinisi baik mengenai office, kantor, atau tentang kerja.

Sama mengenai redefinisi mengenai aset. Kalau dulu pengusaha kalau punya fix asset yang gede waduh senang, kalau sekarang kan ndak. Karena yang dijual kan brand value, beda lagi, light asset. Saya kira hal-hal seperti ini harus kita mulai sampaikan ke mana-mana agar semuanya bersiap karena ada sebuah transisi industri yang harus kita lihat, transisi teknologi yang kita lihat.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, marilah kita bekerja bersama-sama, bekerja keras untuk membangun negara ini agar ketertinggalan kita dengan negara-negara lain bisa kita kejar.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalaamu’alaikum warrahmatullaahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru