Sambutan Presiden Joko Widodo pada Pesparawi Nasional ke-11 di Ambon, Maluku, 6 Oktober 2015

Oleh Alfurkon Setiawan
Dipublikasikan pada 6 Oktober 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 9.926 Kali

Logo PidatoAssalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam, salam damai sejahtera untuk kita semuanya.

Syaloom.

Yang saya hormati para tokoh agama,

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja,

Yang saya hormati Gubernur Maluku beserta jajaran dan seluruh gubernur, bupati, walikota yang hadir,

Yang saya hormati para peserta kontingen Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi),

Hadirin tamu undangan yang saya muliakan,

Seluruh masyarakat, rakyat Maluku, Ambon yang saya cintai.

Saya menyambut baik penyelenggaraan Pesparawi Nasional ke-11 di Kota Ambon tahun ini. Karena acara ini bukan semata-mata pesta paduan suara rohani tapi acara ini adalah momentum untuk menegaskan kembali seruan bersama kepada seluruh anak bangsa, bahwa dalam hidup berbangsa dan bernegara, hidup kita harus berbuah. Hidup kita harus seperti pohon yang menghasilkan buah yang berbiji. Buah tersebut adalah komitmen dan kesadaran religius kita untuk selalu ingat jati diri kita sebagai bangsa yang bhinneka tunggal ika. Dengan kesadaran itu, kita akan selalu ingat bahwa kita adalah bersaudara, bahwa kita lahir dari rahim ibu pertiwi Indonesia.

Kita harus berguna bagi sesama warga bangsa dan umat manusia di muka bumi. Oleh sebab itu, saya sangat gembira ketika mendengar bahwa banyak peserta Pesparawi tinggal di rumah-rumah penduduk yang berbeda agama. Itulah contoh langsung, contoh hidup dari tema Pesparawi ke-11 kali ini, yaitu ‘Sungguh Alangkah Baik dan Indahnya Hidup dalam Persaudaraan yang Rukun’.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Saya percaya bahwa keragaman kita sebagai bangsa, baik keragaman suku, keragaman agama, maupun keragaman budaya, melekat nilai-nilai untuk saling menghargai dan menghormati. Dalam keragaman itu ada kesatuan, dalam keragaman itu melekat nilai-nilai basodara. Itulah makna dari bhinneka tunggal ika.

Hidup berbhinneka tunggal ika, sama halnya dengan paduan suara, ada yang bass, ada yang tenor, ada yang sopran, ada yang alto. Walaupun berbeda-beda tapi ketika semuanya menyanyi lagu yang sama, hasilnya adalah harmoni. Keindahan bukan karena  menyanyikan dengan nada yang sama tapi keindahan justru tercipta dari keragaman dalam harmoni.  Ketika keragaman menjadi harmoni dan kesatuan, hasilnya adalah kekuatan yang tanpa batas. Oleh sebab itu, apabila kita bersatu, segala persoalan kebangsaan yang sedang dan akan kita hadapi seperti perlambatan ekonomi global yang terjadi sekarang ini, pasti optimis dapat kita atasi.

Kita harus optimis menghadapi masa depan. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Ibarat kapal besar, Indonesia harus mengarungi samudera, melewati ombak, melewati badai. Tapi karena semua bersatu, bergerak bersama maka semua rintangan itu akan bisa dilalui dan akhirnya kita akan bisa mencapai tujuan yang kita inginkan bersama.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,

Saya mendapat laporan bahwa peserta Pesparawi Nasional ke-11 mencapai 7.000 orang dan datang dari 34 provinsi. Saya berharap pemerintah dan masyarakat Kota Ambon dapat menjadi tuan rumah yang baik. Tunjukkan bahwa Ambon adalah paduan suara yang hidup dalam harmoni. Tunjukkan bahwa di Ambon bhinneka tunggal ika adalah nafas hidup bersama. Tunjukkan bahwa Ambon manise.

Akhir kata, saya ucapkan selamat kepada seluruh peserta Pesparawi. Kehadiran Saudara-saudara semuanya bukan semata-mata, bukan untuk bernyanyi dalam pesta paduan suara rohani kali ini tapi kehadiran anda adalah pesta untuk membawa kabar damai, kabar persaudaraan, dan kabar persatuan Indonesia.

Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pesparawi Nasional ke-11 saya nyatakan resmi dibuka.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat malam. Syaloom.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru