Sambutan Presiden Joko Widodo pada Rapat Kerja Nasional XII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Tahun 2017, di Savana Hotel & Convention, Kota Malang, 20 Juli 2017

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Juli 2017
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.297 Kali

Logo-Pidato2-8Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om swastiastu namo buddhaya, salam kebajikan.

Yang saya hormati menteri, Gubernur Jawa Timur, seluruh wali kota yang hadir,
Yang saya hormati Ketua APEKSI beserta jajaran pengurus dan seluruh kepala dinas,
Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Tadi sudah disampaikan kepada saya oleh ketua APEKSI Bu Airin, ada dua hal yang sudah dibisikkan kepada saya, tapi tidak usah saya sampaikan di sini sudah ngerti.  Nanti saya uruslah, saya urus dua tadi. Tapi jangan ditepuki dulu kalau belum berhasil. Kalau nanti sudah keluar baru tepuk tangan.

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara yang saya hormati, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya, ingin mengingatkan pada kita semuanya, bahwa sekarang ini yang namanya perubahan itu sangat cepat sekali. Jangan sampai ada yang tidak sadar mengenai perubahan-perubahan yang sangat cepat ini. Berbahaya sekali pemimpin-pemimpin kita dari pusat sampai ke daerah tidak menyadari ini.

Coba kita lihat dulu kita baru berbicara masalah internet, belum rampung belajar itu sudah keluar mobile internetMobile internet belum rampung kita pelajari keluar lagi artificial intelligence.

Perubahan-perubahan seperti ini yang akan terus merubah landscape ekonomi, mengubah landscape politik global maupun nasional, maupun di daerah.

Kembali lagi ke artificial intelligence, coba kita lihat, coba buka Google, buka Amazon, Alexa seperti apa. Kita bicara saja dia sudah jawab. Tolong carikan restoran Padang, dia jawab silakan pergi ke alamat ini, di jalan ini. Tolong carikan barang saja, produk, carikan jaket ini, silakan datang ke mall ini. Bayangkan, perubahan-perubahan seperti ini cepat sekali, dan saling mengalahkan.

Ini kalau enggak kita sadari, hati-hati, ditinggal kita oleh zaman, ditinggal kita oleh kota lain, ditinggal kita oleh negara lain. Terus ini akan saya ingatkan. Coba Era Emas, saya sampaikan di mana-mana.

Berbicara masalah Tesla, mobil fantastic masa depan, Hyperloop – bagaimana memindahkan orang dari satu tempat ke tempat yang lain, dengan begitu sangat cepatnya.  Berbicara mengenai SpaceX, berbicara masalah pengelolaan ruang angkasa. Kalau hal-hal seperti ini kita tidak mulai antisipasi, mulai kita sadari, ya kita urusannya akan rutinitas seperti ini terus. Tahu-tahu negara lain sudah meloncat, kita sudah masih tetap di sini.

Oleh sebab itu, jangan senang yang namanya rutinitas, jangan senang yang namanya kejebak hal-hal yang linier, jangan senang yang namanya kejebak kita hal-hal yang monoton, karena dunia berubah sangat cepat sekali.

Dulu ada PayPal, baru saja ada PayPal, orang enggak tahu PayPal itu apa, ini sudah ganti Alipay. Nanti pembayaran tidak dengan cash, membayar tidak dengan kartu kredit, tapi smartphone kita diberikan sudah langsung duit kita di bank, di rekening bank sudah berkurang. Dan ini sudah berjalan, bukan akan, tinggal kapan datangnya ke kota kita, tinggal kapan datangnya itu ke negara kita. Perubahan-perubahan seperti ini yang semuanya harus pikirkan, bukan hanya wali kota, bukan hanya sekda-nya, bukan hanya kepala dinas-nya, semua ini harus memimpin ke arah mengantisipasi perubahan-perubahan ini.

Hati-hati, kita masih banyak berbicara masalah cantrang, masalah kapal troll, negara lain sudah berbicara lain sudah berbicara offshore aquaculture, bagaimana memelihara ikan di tengah laut. Kalau kita enggak sanggup melakukan partner-an, cari benar kota mana yang dekat laut, cari partner. Bisa dari Taiwan, bisa dari Norway, mereka semua sudah punya ini. Jangan kita kejebak. Nelayan kita bawa ke sana, ke arah-arah yang berkaitan dengan teknologi modern, karena itu lebih memberikan nilai tambah yang besar pada rakyat kita, dan saya yakin SDM kita mampu melakukan itu.

Di sana yang mengerjakan nelayan juga, di negara mereka, di sini nelayan kita bisa. Saya meyakini bisa.  Memang mungkin nanti dari 1.000 nelayan yang bisa melakukan ini hanya 100, enggak apa-apa, tapi kita juga bisa melakukan itu.

Jangan sekali-kali kita terjebak pada rutinitas hal-hal yang menoton, hal-hal yang linier. Orang lain sudah meloncat ke mana-mana, negara lain sudah meloncat ke mana-mana, kota yang lain sudah meloncat kemana-mana.

Perlu saya sampaikan kepada Saudara-saudara dulu kalau memenangkan persaingan, entah antar kota, antar negara, entah itu yang namanya produk. Kita hanya ambil dua hal, lebih efisien,  lebih produktif pasti menang.  Sekarang tidak. Dengan dua hal itu tidak cukup, ini hanya cukup untuk menyelamatkan diri, untuk survive tapi tidak untuk memenangkan, tidak untuk memenangkan.

Sekarang ini kita bisa memenangkan kompetisi, bisa memenangkan persaingan kalau kita, satu, ada inovasi-inovasi yang memperbaharui. Tadi yang saya sampaikan contoh-contoh tadi,  Tesla, Hyperloop, SpaceX, offshore aquaculture itu yang akan memenangkan. Inovasi-inovasi yang memperbaharui.

Yang kedua, kreativitas. Masyarakat kita itu berada pada posisi ini, kreatifnya tinggi masyarakat kita ini. Industri kreatif kita ini tinggi nilainya,  Tapi kalau enggak pemerintah, negara, pemerintah kota tidak bisa mengangkat ini, ya kita terjebak tadi pada rutinitas yang tidak kita sadari,  negara yang lain sudah lari kencang kita masih di sini terus.

Yang ketiga entrepreneurship, bawa SDM-SDM kita, anak-anak kita untuk menyiapkan ini. Bisa mengejar inovasi, bisa mengejar kreativitas, bisa ada entrepreneurship-nya. Kalau tiga hal ini tidak kita siapkan, baik lewat kebijakan,  kebijakan wali kota, kebijakan pemerintah kota,  ya sekali lagi enggak akan kita memenangkan persaingan itu.

Tugas negara, tugas pemerintah pusat, tugas pemerintah kota, tugas pemerintah provinsi adalah menyiapkan agar SDM-SDM itu siap menghadapi perubahan-perubahan yang sangat cepat ini.  Di bidang pendidikan juga sama, kita juga harus mempersiapkan itu.

Nanti 5 tahun lagi coba, landscape politik,  landscape ekonomi akan berubah .Percaya saya, 5-10 tahun lagi akan berubah. Partai politik sudah harus menyesuaikan, politisi juga harus menyesuaikan, ekonom harus menyesuaikan, dan pelaku pelaku bisnis juga harus menyesuaikan.

Karena yang namanya generasi Y itu akan sangat mempengaruhi, lima tahun lagi generasi Y itu akan mulai masuk pasar dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.  Mereka nanti yang akan men-drive dan mengemudikan perubahan-perubahan itu. Kalau kita tidak mengantisipasi itu, anak-anak kita tidak kita siapkan, hati-hati, kita akan ditinggal. Dan itu berangkatnya pasti dari pemerintah kota,  pemerintah kabupaten, naik ke pernah provinsi.

Jadi 10 tahun lagi yang namanya generasi Y ini akan menguasai, akan mulai menguasai pasar, dan mempengaruhi pasar.  Menguasai sekaligus mempengaruhi, dengan cara-cara mereka, sudah tidak dengan cara-cara kita sekarang ini.

Ini diam mikir  atau bingung mau apa ya gitu?  Tapi saya tahu wali kota-wali kota itu pintar-pintar kok,  gubernur juga pintar-pintar.  Saya yakin setelah ini akan langsung banyak yang berpikir apa yang harus kita lakukan. Sekali lagi nanti landscape politik akan berubah, cara kampanye akan berubah total, percaya saya. Jadi kalau masih banyak yang menggunakan cara-cara lama, ingat 80 juta itu generasi ini. Jadi, marilah kita bersama-sama mengantisipasi ini.

Dan generasi Y ini sudah tidak baca koran, enggak lihat TV. Mereka punya cara sendiri setiap saat membawa smartphone, mau melihat acara apa, sudah yang dilihat video nanti. Pengen lihat film apa, klik video kayak apa, ke Netflix,  dan itu sudah kejadian di negara lain gitu,  Ini sudah berjalan di sana.

Waktu kita bertemu dengan Presiden, Perdana Menteri di G20, itu mereka sudah berbicara itu dan mereka ingin mengantisipasi itu, supaya transisi ini tidak menimbulkan baik shock ekonomi, maupun shock budaya dan shock-shock yang lainnya. Inilah sekali lagi yang harus kita antisipasi.

Yang kedua, saya ingin berbicara masalah kota, masalah diferensiasi kota, meskipun ini juga bolak-balik sudah saya sampaikan. Diferensiasi kota itu penting sekali, setiap kota itu memang harus ada pembedanya. Bogor, misalnya, dengan Bali, dengan Denpasar, harus beda, dengan Kota Ambon harus beda lagi, dengan Balikpapan harus beda lagi.

Kekuatan-kekuatan itu harusnya setiap kota yang harus merancang dan menyiapkan. Sekali lagi, jangan terjebak pada rutinitas-rutinitas, rutinitas. Kalau sudah kejebak ke arah sana, strategi pembangunan 50-100 tahun kedepan tidak kita siapkan, kota ini mau jadi apa? Ini harus dibicarakan betul.

Saya berikan contoh Sunnylands, ini yang sering saya berikan contoh, itu satu kota di California yang hanya ngurusin golf. Satu kota punya 37 padang golf. Setiap hari ribuan pesawat pribadi itu ke sana, hanya untuk golf. Saya ke sana kok ini isinya hanya resort dan golf, enggak ada yang lain, hotel dan golf, enggak ada yang lain.

Kita Summit di situ juga di dalam padang golf , untungnya satu saja saya ndak bisa golf, dan saya enggak pernah masuk yang namanya padang golf selain di Sunnylands tadi karena di situ ada Summit. Kalau enggak ada Summit ya enggak akan masuk saya. Itu menjadi sebuah ciri khas kota sehingga seluruh orang-orang gede itu kalau golf pasti ke situ. Saya tahu Presiden ini ketemu Presiden ini di padang golf mana, Perdana Menteri ini ketemu dengan Presiden ini ketemu di padang golf mana.  Di situ.

Kota kita ini memiliki kemampuan ke sana sebetulnya, tapi enggak pernah dirancang. Karena apa?  Terjebak rutinitas,  linier.

Coba lihat di North Carolina, di situ ada kota yang namanya High Point,  itu hanya ngurusin satu saja, mebel, yang kebetulan saya tahu, mebel. Hanya di situ ngurusin itu saja, enggak ada yang lain. Orang masuk ke High Point urusannya hanya satu, enggak ada urusan yang lain, mebel.  Setiap tahun pameran terbesar di dunia untuk urusan mebel di situ. Tapi nginep-nya enggak mungkin di kota itu karena penuh sudah, nginep-nya di kota yang lain.

Misalnya di Malang itu nginep-nya di Surabaya, nginep-nya di Batu nginep-nya. Enggak mungkin bisa nginep di situ, hanya urusan satu. Padahal hotelnya banyak sudah tidak bisa nginep karena seluruh orang-orang mebel setiap tahun berkumpul di situ, untuk pameran maupun berbicara masalah tren mebel kedepan seperti apa,  warna mebel kedepan seperti apa.

Kenapa kita tidak bisa melakukan ini?  Misalnya, Kota Ambon, Pak Walikota misalnya, saya enggak nyuruh ini ya. Urusan masalah ikan di situ, tapi menjadi terbaik terbesar dengan semua fasilitas ada di situ, orang mau seminar, orang yang mau bicara masalah ikan, hanya di Ambon.  Orang di seluruh dunia kalau ingin berbicara ikan harus ingat Ambon, misalnya. Tapi dirancang betul.

Kembali lagi, diferensiasi kota sangat penting. Kalau ndak ya kita rutinitas. Mungkin tidak bisa diselesaikan dalam lima tahun, tapi 10 tahun sudah kelihatan sudah.  Brand kota seperti itu diperlukan kalau kita ingin kota kita terkenal. Dan sebetulnya Indonesia ini banyak sekali yang bisa diangkat, yang kota-kota lain enggak punya.

Yang ketiga, yang terakhir yang ingin saya sampaikan anggaran fokus. Mulailah kita merancang sebuah anggaran ini yang fokus, konsentrasi ke satu hal, sudah. Misalnya, ada anggaran, ini anggaran pembangunan, saya enggak bicara anggaran rutin.  Anggaran pembangunan ada, katakanlah 300 milyar misalnya di sebuah kota,  ya arahkan 60-70 persen itu untuk yang kita inginkan, fokus yang kita inginkan apa.

Ingin merancang sebuah tata kota yang baik, ya sudah duit itu gunakan semuanya selama 5 tahun untuk memperbaiki misalnya trotoar.  Trotoar kota yang lain hanya 5 atau hanya 1 meter,  buat 5 meter trotoarnya,  buat 6 meter trotoarnya, bisa. Itu juga menjadi pembeda dengan kota yang lain. Oh, berarti di Bogor ada citywalk-nya,  ini kota.

Jadi percaya saya, kalau fokus, kerja fokus. Tapi kalau kita biarkan anggaran itu diecer-ecer, dinas ini misalnya naik,  anggarannya naik 100 miliar, sudah bagi 5 persen, 5 persen. Dinas ini 5 persen, dinas ini 5 persen, dinas itu 5 persen.  Ya sudah hilang enggak ada baunya. Karena anggaran tidak fokus.

Sama seperti sekarang ini APBN, saya juga hanya ingin fokus saja ke infrastruktur karena ini menjadi hal yang sangat mendasar, hal yang sangat dipentingkan bagi kompetisi, competitiveness sebuah negara. Basic-nya di situ baru nanti rampung menginjak yang lain.  Sumber daya manusia sudah ini. Ini ya berjalan tapi tidak fokus lagi.

Tapi ya tetap, yang 40 persen atau 30 persen oke lah, tetap diberi. Tapi fokus itu akan jadi barang, Saudara-saudara semuanya, akan jadi barang. Percaya saya. Gampang ngecek-nya,  gampang kontrolnya.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini karena diam semuanya, karena saya enggak, sudah apa tadi, didahului oleh Pak Gub yang memang beliau kan orang Jawa Timur kalau komunikasi dengan guyonan itu memang enggak ada yang ngalahin. Jadi saya enggak masuk ke situ, pasti kalah.

Saya kira yang bisa saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini. Dan saya kira Saudara-saudara juga sudah tahu saya dua periode jadi wali kota dan jadi pengurus APEKSI terus, memang tidak jadi ketua, kalau jadi ketua saya pasti enggak jadi Presiden, saya tahu. Saya jadi wakil. Dan ini langsung ditutup. Dengan mengucap alhamdulillahirrabbilalamin Rakernas ke-12 APEKSI tahun 2017 saya nyatakan ditutup.

Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru