Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Silaturahim Nasional Ulama Rakyat “Doa Untuk Keselamatan Bangsa”, 12 November 2016, di Econvention Ancol, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 November 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.997 Kali

Logo-Pidato2Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirabbil’alamin, washalatu wasalamu ala asrafil ambiyai wamursalin, sayyidina wa habibina wa syafi’ina wamaulana Muhammadin, wa’alaalihi washahbihi ajmain,

Amma ba’du.

Yang saya hormati Ketua Umum PKB beserta seluruh jajaran Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa,
Yang saya hormati yang saya muliakan para ulama, para kyai,
Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja,
Hadirin-hadirat yang berbahagia.

Alhamdulillah sangat berbahagia sekali pada siang hari ini saya bisa bersilaturahmi dalam silatnas yang diadakan oleh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Hadirin-hadirat yang saya hormati,
Sebagai bangsa yang besar kita telah mendapatkan karunia yang sangat banyak dari Allah. Geografis yang sangat strategis antara dua samudera, Hindia dan Pasifik. Sumber daya alam yang melimpah, mulai dari hutan, sumber daya mineral, sumber minyak dan gas. Yang tidak kalah pentingnya adalah sumber daya manusia kita yang jumlahnya kurang lebih 252 juta penduduk Indonesia, kita nomor 4 di dunia.

Kemudian kalau kita menengok sejarah, sejarah kita, bangsa kita adalah bangsa yang besar, negara kita adalah negara yang besar. Betapa sangat besarnya dulu saat zaman Kerajaan Sriwijaya bisa menguasai, Kerajaan Majapahit yang bisa menguasai Nusantara, Kerajaan Samudera Pasai yang juga bisa menguasai banyak wilayah.

Tetapi menurut saya, yang patut kita syukuri kita memiliki pemimpin yang hebat, pemimpin besar Ir. Soekarno yang telah mewariskan ideologi, mewariskan Pancasila kepada kita semuanya. Pancasila ini merupakan kekuatan sebagai alat pemersatu kita. Karena kita harus sadar, negara kita ini beragam, bermacam-macam. Berapa suku kita? Berapa bahasa daerah kita? Suku ada kurang lebih 700-an, bahasa daerah ada 300-an lebih, 340-an, berbeda-beda semuanya. Ini yang harus kita sadari bahwa kita memang dianugerahi oleh Allah sebuah keberagaman, sebuah kemajemukan.

Dan sistem ketatanegaraan kita menghargai, menjamin kemajemukan dan kebhinnekaan itu, yang bermacam-macam itu. Dan tugas kita apa? Tugas kita menjaga. Coba kita lihat yang berkaitan dengan seni budaya, macam-macam. Mungkin lebih dari 4.000 tarian daerah kalau dikumpulkan. Macam-macam, beda-beda semuanya. Inilah yang harus kita sadari. Dan saya tahu betul, karena dari ujung yang barat sebelah utara di pulau Natuna saya datang. Yang paling utara di pulau Miangas, itu  kalau dari kota Manado ke pulau Miangas kalau naik kapal itu 12 jam. Kalau kita ke atas lagi di Papua di Wamena, Yahukimo, di Puncak, semuanya beda-beda. Adatnya beda, bahasanya beda. Inilah sebuah karunia, anugerah yang patut kita syukuri. Dan tugas kita adalah merawat dan menjaga, merawat dan menjaga.

Saya sebagai Presiden, sebagai Kepala Negara, dan kita semuanya tugasnya adalah menjaga agar prinsip-prinsip dalam Pancasila ini tetap utuh. Harus tetap utuh. Kalau tidak, kita tidak bisa membayangkan, karena bermacam-macam suku, bermacam-macam ras, bermacam-macam agama kita ini.

Seperti demo pada tanggal  4 November yang lalu. Umat yang datang ke demo niatnya baik, dengan kesungguhan. Konstitusi kita memang memperbolehkan untuk menyampaikan aspirasi, menyampaikan pendapatnya. Tetapi ada aturan-aturan yang harus kita taati. Ada aturan-aturan hukum, ketentuan-ketentuan hukum yang harus kita ikuti. Oleh sebab itu, dalam kesempatan yang baik ini saya perlu mengingatkan kita semuanya mengenai kebersamaan kita sebagai bangsa. Jangan sampai ada yang ingin merusak kebersamaan ini. Jangan sampai ada yang ingin memecah belah kita.

Karena kalau kita lihat di media sosial pada 1 bulan, 2 minggu, 3 minggu belakangan ini di media sosial isinya saling menghujat, isinya saling mengejek, isinya saling memaki, isinya banyak yang fitnah, isinya adu domba, isinya memprovokasi. Inilah yang harus kita perbaiki. Karena itu bukan karakter bangsa Indonesia, itu bukan karakter bangsa Indonesia. Bukan tata nilai Indonesia, bukan tata nilai umat kita, bukan. Kita tidak mau kita rusak karena infiltrasi dari luar masuk kemudian kita berubah menjadi bangsa yang suka menghujat, mengejek, memaki, memfitnah, mengadu domba, memprovokasi, tidak. Bangsa kita punya budi pekerti yang baik, punya sopan santun yang baik, akhlak akhlakul karimah yang baik. Tapi yang tadi saya sampaikan di media sosial, sekali lagi marilah kita waspadai bersama-sama. Mengingatkan, kalau ada teman kita yang melakukan itu diingatkan itu bukan nilai-nilai bangsa Indonesia, itu bukan nilai-nilai kesantunan Islam. Kalau tidak ada yang mengingatkan, kita akan bergeser ke yang tadi saya sampaikan.

Kemudian yang ketiga, yang berkaitan dengan mayoritas dan minoritas. Mestinya yang mayoritas itu melindungi yang minoritas. Yang minoritas itu juga menghormati yang mayoritas. Mestinya seperti itu, harus dua-duanya jalan, saling menghargai, saling menghormati. Kalau tidak ada itu ya tidak akan sambung. Yang mayoritas melindungi minoritas, yang minoritas juga menghormati yang mayoritas. Kalau itu ada, bangsa Indonesia, kita semuanya, kita semuanya kan selalu ingin menikmati indahnya perdamaian, indahnya persaudaraan di tengah keberagaman kita. Karena ini memang anugerah yang diberikan Allah kepada kita.

Yang keempat, yang berkaitan dengan pembangunan. Saya ingin menyinggung sedikit. Sementara ini memang kita baru konsentrasi fokus pada pembangunan fisik, infrastruktur fisik. Yang kita bangun ini memang baru infrastruktur fisik. Tapi yang penting juga sebetulnya infrastruktur batiniah, infrastruktur batin juga perlu. Benar ndak?

Saya mau cerita yang infrastruktur fisik dulu, misalnya yang telah kita bangun jalan tol dari Lampung nanti menuju ke Aceh. Yang dari Lampung ada? Sudah dimulai belum? Sudah. Kalau dibilang belum nyatanya ada. Sudah dimulai 2 tahun, sudah hampir sampai ke Terbangi Besar. Ini perlu dilakukan, tidak hanya di Jawa tapi di luar Jawa. Di Balikpapan menuju ke Samarinda, di Manado menuju ke Bitung alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik, tinggal menunggu selesainya. Pelabuhan-pelabuhan yang besar misalnya di Kuala Tanjung di Sumatera Utara, kemudian Makassar yang baru Makassar New Port. Memang baru selesai Kuala Tanjung 60-an persen, Makassar New Port baru dimulai mungkin 20-an persen, semuanya baru dimulai. Tanjung Priuk yang baru juga. Kenapa ini dibangun? Kemudian airport-airport di kabupaten-kabupaten yang kecil. Misalnya Airport Rembele di Bener Meriah di Aceh, kemudian airport di Wamena Papua, di Yahukimo, di Miangas pulau yang sangat kecil yang penduduknya hanya 800 orang tapi juga airport-nya dibangun. Untuk apa ini? Untuk mempersatukan kita. Yang kedua juga yang paling penting, infrastruktur fisik itu memang untuk nantinya kalau ini jadi, ongkos transportasi insya Allah akan lebih mudah, ongkos logistik untuk membawa bahan baku sembako juga akan bisa jatuhnya lebih murah dan akhirnya harga-harga akan bisa jatuhnya lebih murah. Tapi ini belum jadi, belum selesai. Inilah perlunya infrastruktur fisik.

Tetapi yang paling penting ini juga tidak kalah pentingnya adalah infrastruktur batin, infrastruktur batiniah. Saya senang sekali bahwa PKB telah melaksanakan “Nusantara Mengaji”, di mana-mana juga shalawat nariyah, shalawat nariyah juga. Ini infrastruktur batin yang juga harus diisi, tidak hanya yang fisik-fisik saja. Tetapi memang pemerintah sekarang ini masih fokus di dalam infrastruktur fisik. Tapi nanti kalau sudah masuk ke infrastruktur batiniah bisik-bisiknya dengan Cak Imin. Sekarang belum. Ya memang saya sampaikan apa adanya, memang belum. Jadi kalau disinggung-singgung ya saya jawab apa adanya, memang belum. Tadi kan tanya, “kapan senangnya”. Saya kalau sudah disinggung itu saya juga punya perasaan kok. Ya nanti berbicara berdua saja, tidak usah saya ungkap di sini lah. Ribuan jamaah yang hadir nanti tahu. Nanti memberi tahu biar Pak Muhaimin Iskandar saja.

Terakhir yang ingin saya sampaikan masalah yang berkaitan dengan Jakarta. Sudah sejak awal saya sampaikan saya tidak mau mengintervensi urusan hukum. Serahkan saja pada proses hukum. Ini kan sudah diproses. Sebenarnya sebelum demo itu juga sudah diproses. Saksi-saksi sudah ditanya, saksi ahli sudah didatangkan. Tapi namanya proses itu kan juga memerlukan waktu. Kok enggak pada sabaran? Tapi itu bukan PKB, saya tahu. Jadi mari kita tunggu nanti hasil proses hukum itu seperti apa. Jangan aparat hukum kita, kita paksa-paksa, enggak. Itu aturannya sudah ada kok, ketentuan-ketentuan hukumnya juga sudah ada.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, saya menghaturkan ucapan terima kasih kepada Pak Ketua Umum PKB yang sudah mengundang saya pada siang hari ini. Semoga kerja sama pemerintah dengan Partai Kebangkitan Bangsa terus dapat kita jalin dengan baik. Kalau ada hal-hal yang kurang saya diingatkan, kalau ada hal-hal yang perlu diperbaiki saya dibisiki. Karena saya hanya manusia yang penuh dengan kekurangan, yang perlu diingatkan, yang perlu dibisiki kalau ada hal-hal yang kurang.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan,
Terima kasih,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru