Sambutan Presiden Joko Widodo pada Zikir dan Doa untuk Bangsa, 1 Agustus 2018, di Halaman Depan Istana Merdeka, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 1 Agustus 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 3.925 Kali

Logo-Pidato2Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para ulama, para habaib, para kiai, para ustaz yang pada malam hari ini hadir, wabil khusus KH. Maimun Zubair, KH. Ma’ruf Amin, KH. Buya Muhtadi, beserta para kiai-kiai sepuh yang hadir,
Yang saya hormati Wakil Presiden Republik Indonesia Bapak H. Muhammad Jusuf Kalla,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung,
Bapak-Ibu sekalian hadirin-hadirat yang saya hormati.

Pertama-tama marilah kita bersyukur kepada Allah SWT karena pada hari ini kita memasuki bulan kemerdekaan, menjelang 73 tahun kita merdeka. Mensyukuri rahmat Allah yang diberikan kepada kita yaitu rahmat kemerdekaan, karena kita sering lupa mensyukuri ini, bahwa kita beratus tahun dijajah, perang, kemudian atas rahmat Allah kepada bangsa Indonesia kita sekarang sudah merdeka kurang lebih 73 tahun.

Yang kedua, saya juga ingin mengingatkan kepada kita semuanya bahwa negara kita ini negara besar yang berbeda-beda, yang beragam, yang bermacam-macam, yang berwarna-warni. Berbeda-beda suku, berbeda-beda bahasa daerah, berbeda adat, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda agama. Inilah yang sering kita lupa bahwa bangsa kita ini adalah bangsa besar, berbeda-beda, majemuk, bermacam-macam, dan itu semuanya adalah anugerah yang diberikan Allah kepada kita, bangsa Indonesia, yang juga patut kita syukuri bersama-sama.

Saya sering mengingatkan kepada kita semuanya dan membandingkan dengan negara lain. Penduduk kita sekarang 263 juta, tetangga kita Malaysia sekarang kurang lebih 31 juta, kita 263 juta. Papua Nugini misalnya 8 juta, kita 263 juta. Sebagai pembanding supaya kita sadar bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar, yang rakyatnya hidup di 17 ribu pulau yang berbeda-beda. Sukunya saja ada 714 suku. Ini selalu saya ulang-ulang supaya kita semuanya sadar dan tahu bahwa bangsa ini adalah bangsa yang besar. 714 suku. Bandingkan lagi dengan yang di dekat kita. Saya tanya kepada Duta Besar Singapura, ada berapa suku di Singapura, 4 suku, Indonesia 714. Saya dari Afghanistan, saya tanya ke Presiden Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan, ada berapa suku di Afghanistan, 7 suku. Di Afghanistan ada 7 suku, Indonesia 714.

Ini yang harus kita sadari bersama-sama bahwa kita memang diberikan anugerah oleh Allah berbeda-beda, bermacam-macam, beraneka ragam, majemuk. Apa yang harus kita tarik dari perbedaan-perbedaan itu? Ini akan menjadi sebuah kekuatan, akan menjadi sebuah potensi apabila kita bersatu, bersatu, karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, adalah kerukunan, adalah persaudaraan. Aset terbesar bangsa kita adalah itu, selain kita dianugerahi oleh Allah sumber daya alam yang melimpah. Oleh sebab itu, saya selalu menyampaikan, marilah kita menjaga persaudaraan kita, menjaga ukhuwah islamiah kita, menjaga ukhuwah wathaniyah kita, karena kita memang besar dan berbeda-beda.

Selalu saya contohkan bahasa daerah. Bahasa daerah kita memiliki 1.100 lebih bahasa daerah. Saya kemarin ke Makassar, belajar bahasa Makassar tapi hanya satu, “apa kabar?” Bahasa Makassarnya, “apa kareba?” Tapi coba kalau kita di Sumut di tempatnya Habib Syech, sehabis salam kita menyampaikan “horas!” betul? Horas, itu di Medan. Begitu masuk ke tengah beda lagi, saya hampir keliru saat itu, beda lagi “mejuah-juah!” Bahasa Karo itu. Begitu masuk ke agak timur beda lagi, bukan “horas!” tapi “juah-juah!” Begitu masuk ke selatan, Sumut bagian selatan beda lagi, buka “horas!” tapi “ya’ahowu!” Itu satu provinsi sudah beda-beda semuanya.

Inilah anugerah yang diberikan Allah kepada kita bangsa Indonesia. Kuncinya adalah hanya satu, aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, kerukunan, persaudaraan. Inilah yang harus terus kita jaga. Jangan sampai karena pilihan bupati, karena pilihan wali kota, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden, kita menjadi tidak rukun, ini keliru, salah besar kita. Karena kita memang bermacam-macam, berbeda-beda. Saya ulang, berbeda-beda agama, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda bahasa daerah, berbeda-beda suku.

Saya mulai menghafalkan bahasa-bahasa daerah yang ada, tapi memang tidak bisa hafal karena terlalu banyaknya. Baru pindah dari Sumut, pindah ke Aceh, masih ingat. Tapi begitu dari Aceh, pindah ke Sulawesi, yang Aceh lupa, yang Sumut lupa lagi. Karena memang banyak, 1.100 lebih bahasa daerah. Inilah, sekali lagi, anugerah yang diberikan Allah kepada bangsa kita Indonesia.

Kembali, jangan sampai karena pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden, kita menjadi retak, kita menjadi tidak saling menyapa antarsaudara kita, kita tidak saling menyapa antartetangga kita, kita tidak saling menyapa antarkampung. Jangan sampai sesama umat muslim saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mencela. Apakah ini benar?

Saya ingin mengingatkan, rahmat Allah yang diberikan kepada bangsa kita, Indonesia, kemerdekaan, diraih atas perjuangan yang sangat panjang. Para pejuang-pejuang kita, para pahlawan kita, para ulama-ulama kita, para santri-santri kita, yang gugur di medan perang. Saya selalu menyampaikan, jangan sampai karena pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden kita menjadi senang su’ud tafahum, gampang curiga, gampang berprasangka tidak baik, gampang mencurigai orang lain. Mestinya kita khusnul tafahum, berfikiran baik, berpikiran positif, berpikiran saling mencintai, berpikiran penuh dengan pengertian sebagai saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air. Kita lupa hanya gara-gara, sekali lagi, pilihan presiden, pilihan gubernur, pilihan bupati, pilihan wali kota, yang setiap 5 tahun itu pasti ada. Pasti ada. Ini adalah proses demokrasi, pesta demokrasi. Jangan sampai, sekali lagi, itu terjadi, dan biaya sosialnya, biaya ekonominya akan sangat besar sekali apabila kita terus-teruskan tidak saling sapa, saling menjelekkan saling mencemooh di antara kita. Karena, sekali lagi, bangsa ini adalah bangsa besar, dan kita harus merasakan hal yang sama sebagai saudara se-Bangsa dan se-Tanah Air.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik. Ini. Semoga dengan zikir dan doa yang kita lakukan pada malam hari ini, dan ini jadi tradisi setiap 1 Agustus, setiap tahun akan terus dilakukan zikir dan doa untuk mengucapkan syukur atas rahmat yang diberikan Allah kepada bangsa kita Indonesia, yaitu kemerdekaan.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Transkrip Pidato Terbaru