Sambutan Presiden Jokowi pada Pertemuan dengan Pelaku Industri Jasa Keuangan, di Istana Negara, Jakarta, 15 Januari 2016

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 Januari 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 6.647 Kali

Bismillahirahmanirahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,

Yang saya hormati Gubernur BI beserta seluruh Gubernur yang pada pagi hari ini hadir, Bupati dan Wali kota, serta tuan rumah Ketua OJK beserta seluruh Komisioner OJK,

Bapak, Ibu, hadirin sekalian, seluruh pelaku industri jasa keuangan yang pagi hari ini hadir,

Hadirin yang berbahagia,

Era kompetisi, era persaingan sekarang sudah di depan mata kita, sudah berjalan. Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah masuk kita ke era itu. Kelihatannya kita ini kalau pas ketemu dengan kepala negara, kepala pemerintahan ASEAN, kita ini gandeng-gandengan. Tetapi makna yang harus kita ambil, kita sekarang sudah bersaing dengan mereka. Bergandeng kelihatannya tapi bersaing arti sesungguhnya. Kita baru masuk ke ASEAN Economy Community.

Mau tidak mau blok-blok persaingan yang lain sekarang ini sudah di depan mata kita, mau tidak mau harus masuk kesana. Ada TPP (Trans Pacific Partnership), bloknya Amerika dan kawan-kawan; ada RCEP, bloknya China dan kawan-kawan; ada FTA EU (Uni Eropa), bloknya Amerika dan kawan-kawannya.

Mau tidak mau kita harus memilih, masuk atau tidak masuk. Kalau masuk, plusnya apa. Kalau tidak masuk, minusnya apa. Semuanya harus dihitung. Contoh kita masuk ke TPP, apa keuntungan kita? Keuntungannya tidak barrier, tidak ada tarif kalau kita nge-blok kesana. Kalau ndak, barang kita, produk kita masuk kesana kena pajak 15%, kena pajak 20%. Begitu juga dengan FTA dan RCEP, sama semuanya seperti itu. Pilihan-pilihan itulah yang sekarang ini siap tidak siap harus kita kalkulasi semuanya. Untuk apa? Untuk national interest kita, untuk kepentingan nasional kita. Jangan sampai salah hitung, jangan sampai salah kalkulasi. Industri keuangan juga sama. Kuncinya, menurut saya, adalah efisiensi di semua titik, di semua sektor, baik di pemerintahan, baik di industri swasta, baik di BUMN semuanya.

Bapak, Ibu mungkin ingat tahun 1975-an, yang namanya BRI, yang namanya BNI, yang namanya Mandiri, dulu belum Mandiri, ada Exim, BBD. Ingat, tahun 1975-an saya ingat, karena sering diajak orang tua saya ke bank, ambil duit tapi duitnya kecil yang diambil; jangan berpikir ngambil duit, duitnya gede, duit kecil. Itu jam 1, jam 2 sudah tutup. Mungkin Bapak, Ibu ingat, jam 1, jam 2 tutup kaya birokrasi zaman dulu, jam 1, jam 2 sudah pulang. Itu sama dulu. Tapi begitu diberi pesaing, swasta perbankan banyak, apa yang  terjadi? Mau tidak mau bank-bank ini harus siap, bank-bank BUMN harus siap. Sekarang coba karyawan di perbankan, di bank-bank BUMN, tanya pulangnya jam berapa? Jam 11, jam 10, jam 12 malam, bukan siang.

Orang-orang kita ini, tipikal orang kita kalau diberi pesaing baru bangun. Di hadapan ada persoalan baru bangkit. Dulu batik tidak ada yang pakai, ingat batik tidak ada yang pakai. Tapi begitu ada negara lain yang pakai, wah semua pakai batik. Tapi saya sekarang ganti tenun, tenun NTT karena kemarin saya kesana dua hari. Dan saya juga sedih, terlalu murah itu dijualnya di sana. Saya beli ini Rp400.000. kembali lagi, diberi pesaing, begitu bank-bank itu ada pesaingnya, bangun.

Apa yang terjadi sekarang? Justru bank-bank BUMN menjadi besar dan lebih besar dari swasta. Kita sering ketakutan, waduh nanti dilindas oleh asing, oleh liberalisasi. Ternyata, coba, BRI keuntungan tahun yang lalu Rp24 triliun, paling gede keuntungannya. Mandiri, Rp19 triliun coba. Swasta berapa? Kalah. Bukan saya mengecilkan swastanya. Artinya ini tadi, begitu diberi pesaing justru performanya menjadi lebih baik.

Saya berikan contoh lagi yang kedua, pompa bensin. Ingat tahun tahun 1980-an, pompa-pompa bensin Pertamina, maaf Ibu Menteri BUMN, bukan pas zamannya Ibu Menteri, tahun-tahun 1980-an, coba, pompa bensin kita itu kumuh-kumuh. Ingat, ya kan? Begitu ada diberi pesaing dari Petronas, dari Shell, dari Total, sebelah timur dengan AKR. Diberi pesaing, coba kita lihat, waduh tetangganya lebih baik, ya kan? Total lebih baik, Petronas lebih baik, meskipun sudah ada yang tutup, Shell lebih baik, AKR lebih baik. Mau tidak mau pompa bensin kita menjadi lebih baik, semuanya diperbaiki, semuanya dibenahi. Mau tidak mau, karena tidak akan didatangi kalau dia performanya masih kumuh. Ini tipikal, yang saya lihat, orang-orang kita.

Oleh sebab itu, pada waktu-waktu mendekat ini, kita ingin membuka beberapa Daftar Negatif Investasi yang dulu dipakai untuk memproteksi. Tapi saya juga mau lihat, jangan sampai ini menghantam UKM, UMKM kita, saya juga tidak mau, hitungannya harus benar.

Saya berikan contoh lagi, kereta api. Sudah berapa puluh tahun kereta api kita ini begitu-begitu terus. Yang lain sudah ada kereta api cepat, yang lain kereta apinya sudah kecepetan 200 km/jam, 100 km/jam, kita masih seperti itu terus. Kenapa? Tidak ada pesaingnya. Harus diberi pesaing baru bangun.

Saya berikan contoh lagi, Garuda. Tahun-tahun 1980-an, tahun-tahun 1970-an tidak ada pesaing. Pelayanannya tidak baik, justru malah rugi terus. Loh monopoli kok rugi terus? Begitu dibuka, mungkin sekarang ada 60, 70 maskapai, apa yang terjadi? Semua kabupaten sekarang punya airport-airport perintis, bandara perintis. Pesawat-pesawat kecil semuanya bisa masuk kabupaten dan provinsi, di Timur terutama. Dulu hanya Garuda, Merpati BUMN kita. Begitu diberi pesaing, nyatanya Garuda performanya juga masih sangat baik. Tetapi yang kita, rakyat mendapatkan sesuatu adalah penerbangan di semua provinsi di semua bandara, itu semuanya terlayani dengan baik.

Itu bukan liberalisasi, itu keterbukaan yang memang sebuah pilihan tetapi harus dihitung dan harus dikalkulasi. Oleh sebab itu, yang paling penting menurut saya infrastruktur kita harus disiapkan secara baik. Kesiapan inilah yang akan memberikan kecepatan pembangunan kita.

Dan saya senang tahun kemarin inflasi kita hanya 3,3%, tahun 2015 3,3%, tahun 2014 8,3%. Artinya gejolak kenaikan harga itu tidak setinggi sebelumnya, 8,3%, bisa dikendalikan. Ini modal, menurut saya, yang harus kita pakai. Dan sekarang hampir semua kapala daerah, Gubernur, Bupati, Wali kota betul-betul tahu apa manfaat inflasi, bagaimana mengendalikannya. Semuanya tahu. Kita semakin mengerti betapa percuma misalnya pertumbuhan ekonomi kita 5% tetapi inflasinya 8%, tekor 3% kita. Ini yang banyak ga tahu, kalau saya menjelaskannya mungkin gampang-gampangan supaya menegerti, prinsipnya saya itu. Sekarang saya melihat hampir mengerti semuanya, apa itu inflasi, apa itu pertumbuhan ekonomi.

Dengan kondisi-kondisi yang terus kita perbaiki, saya meyakini peredaran uang yang ada di daerah akan semakin baik. Jangan yang namanya uang sudah ditransfer ke daerah dari APBN, disananya kemudian dua hari balik lagi ke Jakarta. Kashian daerah.

Begitu juga infrastruktur, misalnya Tol Trans Sumatera. Saya selalu pesan, baik kepada BUMN, kepada kontraktor pemenang, libatkan yang namanya kontrakator-kontraktor kecil di daerah. Syukur yang menang itu dari daerah. Jangan semua yang menang dari Jakarta, duitnya ketarik ke sini lagi. Sehingga kalau nanti ada kontraktor-kontraktor yang menjadi sub-kontrak dari kontraktor nasional, industri-industri keuangan di daerah juga akan tumbuh. Beri mereka kredit, usahakan mereka diberikan dukungan untuk modal, untuk keuangan mereka. Karena proyek-proyek seperti ini, selain nanti akan memberikan trigger ekonomi yang lebih baik, juga kita ingin peredaran uang yang ada di provinsi, di kabupaten, di kota itu semakin banyak.

Yang Tol Trans Sumatera sering gambarnya saya tunjukkan itu kenapa? Karena sering orang tidak percaya padahal sudah berapa kilo itu yang sudah dicor, disemen. Terakhir saya ke sana sudah 6 kilo, tambah 3 kilo, tambah 4 kilo karena ini per section, 6 kilo, 3 kilo, 4 kilo, ada yang 5 kilo, berapa itu? 9 tambah 6, 15 tambah, kira-kira 21 kilo. Itu sudah berjalan. Saya waktu pertama groundbreaking di Lampung, ada masyarakat berbisik-bisik ke saya, Pak, jangan-jangan hanya groundbreaking saja, Pak. Saya kaget terus terang, kok seperti itu. Iya, Pak, dulu pernah groundbreak-an groundbreaking seperti ini. Jika perlu, saya tunjukkan, ini lho sudah jadi, ada gambarnya.

Begitu juga dengan tol-tol yang lain. Sekarang yang di Jawa pun, yang Solo-Ngawi-Kertosono sudah bertahun-tahun mangkrak karena investor yang sudah diberi surat itu tidak menjalankan, ya sudah cabut. Tahun kemarin sudah dicabut, langsung dikerjakan. Sudah enggak usah banyak hitung-hitungannya, cabut, berikan ke yang lain. Tungga tunggu, ditungga-ditunggu enggak akan lah kita ini, anggak rampung-rampung. Ramai diajak ramai saja sudah. Kita ngga bisa sekarang ini hanya ada orang datang hanya memburu rente, hanya dapat lisensinya, dapat kontraknya kemudian ini baru diputarin, ngga ada sekarang itu. Mulai harus dhilangkan hal seperti ini. Karena competitiveness, daya saing ngga ada lagi kaya gitu, jualan kertas kemana-mana, ngga ada.

 Juga di PLN sekarang, yang power plant yang mau investasi, ditaruh dulu uangnya 10%. Kalau investasi Rp60 triliun, kamu taruh Rp6 triliun, punya duit tidak? Jangan hanya dapat kemudahan, ada yang 15 tahun, 13 tahun, 10 tahun sudah dapat, ininya ngga dimulai-mulai karena muter, hanya pegang kertas saja. Tidak bisa sekarang seperti itu. Tidak mau saya. Saya ikuti terus. Saya kumpulin kemarin kontraktor, investornya di ruangan ini, saya absen sendiri satu-satu. Saya mau cek dapat berapa megawatt, dimana, duit yang kamu taruh sudah berapa. Tidak berat. Satu-satu saya catat sendiri.

Orang ada yang berpikir, Presiden sampai ngurusin sedetail itu. Mungkin dalam dua, tiga tahun itu harus dibeginikan dulu. Setelah nanti baik mungkin bisa dilepas. Tapi saya mau kerja detail seperti itu, ga mau di-ABS-in. Tanya Gubernur Lampung, saya sudah cek ke sini berapa kali? Lima kali. Mana ada Presiden ngurusi, ngecek jalan tol sampai lima kali. Biasanya kalau groundbreaking, tinggal, tidak jadi. Kebiasaan-kebiasaan itu harus dihilangkan.

Sekali lagi, kita sudah masuk di era persaingan, era kompetisi, siap enggak siap kita harus siap. Industri keuangan kita harapkan juga sama. Kalau negara lain bunga bank hanya 4%, 5%, 6%, kita juga harus nantinya seperti itu. Siap-siap perbankan, entah jurusnya seperti apa, pasti akan saya cari, pasti akan saya paksa. Entah dengan trigger subsidi, seperti KUR. Coba ingat KUR dulu bunganya berapa? 22%, betul? 23%, benar? Yang kecil-kecil diberi bunga 22%, 23%. Mikro, yang di pasar, yang di desa, yang di kampung 22%. Korporasi berapa diberi bunga? 11%? 12%?  Ya ndak? Apa benar? Apa adil? Gap akan semakin besar, gini ratio akan semakin meningkat. Gini ratio kita kemarin 2014, laporan dari Bank Dunia, 0,41, lampu kuning menuju merah.

Kita ingin semakin banyak korporasi di Indonesia, semakin banyak konglomerat di Indonesia tetapi yang kecil-kecil ini juga perlu diurus agar mereka meningkat, yang mikro menjadi usaha kecil, usaha kecil menjadi usaha menengah, kita minta seperti itu. Mereka juga harus diurus. Oleh sebab itu, tahun ini kita berikan subsidi dari APBN sepuluh koma sekian triliun untuk subsidi agar yang namanya bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat) jatuh pada angka 9% dari 22%.

Nanti mau tidak mau perbankan juga. Ini persaingan, ini ada 9 yang lain. Coba silakan, pakai angka 22 lagi. Ya kan? Ini era persaingan. Orang akan menuju ke yang 9 kan? Pasti. Mau tidak mau ke depan industri keuangan kita, industri jasa keuangan kita harus efisien, mau tidak mau. Entah yang BPR, BPD, bank swasta, entah bank BUMN, mau tidak mau harus menyiapkan diri menuju era kompetisi ini. Ini saya kira angka-angkanya kelihatan sekali.

Kemudian saya titip kepada seluruh industri jasa keuangan terkait dengan dana desa. Tahun yang lalu kita transfer ke desa Rp20,7 triliun ke 74 ribu desa yang ada negara kita. Tahun ini kita transfer dana desa kurang lebih Rp47 triliun, dua kali lebih. Ini besar sekali. ini kalau pengelolaannya di desa, di daerah didampingi industri-industri keuangan ikut masuk kesini agar uang itu tidak kembali lagi ke Jakarta, ini akan memberikan dampak daya beli, dampak kesejahteraan, dampak ekonomi di desa akan sangat besar sekali, kalau ini nanti benar seperti itu.

Saya pesan kepada kepala daerah, Gubernur, Bupati, Wali kota, jaga industri jasa keuangan, terutama yang berada di daerah, dampingi ini. Pada pesan, waktu bertemu dengan 3 ribu kepala desa, uang itu gunakan untuk infrastruktur yang padat karya, baik yang namanya jalan, yang namanya irigasi, gunakan itu, gunakan material-material yang ada di desamu sehingga uang itu keluar masuknya antar orang ke orang tapi di desa itu saja. Uang itu akan muter terus. Kekurangannya mungkin bisa saya cek, tahun ini akan dilanjutkan, tahun depan dilanjutkan, disimpan di industri jasa keuangan di daerah, di BPR sehingga uang akan muter terus di situ. Kita ingin yang kecil-kecil ini juga meloncat naik. Ini yang akan terus kita koneksikan agar kita tidak lupa pada yang di desa, pada usaha mikro, yang di kampung, di desa, di daerah, arahnya kesana.

Juga yang berkaitan dengan pariwisata, saya ingin mengingatkan kita semuanya. Kita ini negara yang sangat mempunyai daerah-daerah yang sangat indah, sangat cantik tetapi enggak pernah kita urus secara serius. Hingga kita sekarang memberikan target 10 destinasi wisata dulu agar ini betul-betul produknya diperbaiki, infrastruktur yang ada diperbaiki, baru nanti dipromosikan besar-besaran. Tapi sekarang sudah kita mulai promosi-promosi itu karena yang kita pilih ini kurang kecil-kecil saja. Masa toilet yang standar bintang 4, bintang 5, infrastruktur yang berkaitan dengan air bersih, jalan menuju kesana, kecil-kecil, dermaga kurang panjang. Saya sudah datangi semuanya, sudah kita identifikasi langsung di lapangan dan kita putuskan. Karena kenapa kita pilih ini karena ini memberikan dampak pada usaha handicraft, usaha di kampung, tenun, batik yang saya yakini akan meberikan perbaikan di bidang ekonomi. Kita lihat wisatawan yang masuk ke Indonesia hanya 9 juta.

Saya sudah berikan target kepada Menteri Pariwisata, 2019 minimal 20 juta, saya ngga mau ditawar lagi karena Thailand itu bisa 27 juta, Malaysia itu bisa 24 juta, hanya punya berapa destiniasi, hanya 2, ada yang 3. Kita 10, yang lain belum, yang bagus-bagus juga masih banyak, kita pilih 10 dulu. Masa hanya 9 juta? Ini mesti ada yang keliru, ada ayng salah, entah menyiapkan produknya, entah mengemas produknya, atau di promosinya yang harus dibenahi.

Saya kira itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya sangat menghargai apa yang telah dilakukan oleh OJK dalam memberikan trigger kepada pelaku-pelaku industri jasa keuangan dalam rangka terutama perbaikan ekonomi kelas bawah, perbaikan ekonomi di kampung-kampung, perbaikan ekonomi di desa, perbaikan ekonomi yang ada di daerah. Selamat bekerja, selamat bertugas.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru