Sambutan Presiden pada Musyawarah Nasional VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia Tahun 2016, Rabu, 9 November 2016, di Balai Kartini, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 November 2016
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 8.373 Kali

Logo-Pidato2-10Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillahirabbilalamin, 

Asshalatu wassalamu’ala asrafil ambiya i wal mursalin, sayyidina wahabibina wa safiina wa maulana muhammadin, wa’ala alihi washah bihi ajma’in, ‘amma ba’du

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja,

Yang mulia Duta Besar negara-negara sahabat,

Yang saya hormati Ketua umum beserta jajaran pengurus Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dari Sabang sampai Merauke, dari pusat sampai ke daerah,

Yang saya hormati para alim ulama, hadirin sekalian seluruh peserta Munas LDII yang saya hormati.

Sebuah negara yang bersatu, sebuah bangsa yang bersatu, sebuah masyarakat yang makmur merupakan cita-cita para pendiri bangsa Indonesia, yang harus terus kita jaga. Menjadi Indonesia berarti setiap orang, setiap organisasi harus berjiwa Pancasila, berjiwa Bhinneka Tunggal Ika, menjunjung tinggi toleransi, berjiwa gotong royong. Karena itu, saya mengapresiasi, saya sangat menghargai kegiatan Lembaga Dakwah Islam Indonesia baik melalui kegiatan pengajaran, pengamalan, dan penyebaran Islam berdasarkan Al Quran dan Hadits yang selama ini telah turut serta menjaga keindahan kerukunan hidup di nusantara, di Indonesia

Yang kedua, saya ingin berbicara masalah era kompetisi, masalah ekonomi. Ke depan, persaingan antar negara akan semakin sengit. Kompetisi itu, ke depan menurut saya meliputi tiga hal. Yang ini nantinya akan menjadi rebutan. Yang pertama adalah yang berkaitan dengan energi. Ini akan jadi rebutan. Yang kedua adalah yang berkaitan dengan pangan ini. Ini nanti juga akan menjadi rebutan karena penduduk akan meloncat tahun 2043 kira-kira 12,3 miliar manusia di dunia ini. Yang ketiga, yang berkaitan dengan air. Orang nanti juga akan rebusan air karena bumi semakin panas.

Tiga hal inilah sebetulnya, yang kita memiliki kekuatan. Energi kita punya, pangan kita sebetulnya ada, air kita sebetulnya ada, tetapi belum dikelola secara baik dalam rangka persiapan persaingan masa depan. Energi kita punya semuanya, minyak gas meskipun sekarang kita karena pengolaan yang tidak baik, kita sekarang justru menjadi net-importir minyak tetapi selain minyak kita masih memiliki sumber-sumber gas yang banyak. Energi yang terbarukan, yang belum digarap. Energi dari air, dari angin, dari ombak karena 70 persen Indonesia adalah air, adalah samudera, adalah laut. Yang kedua, yang berkaitan dengan pangan. Kita juga tidak kelola dengan baik padahal negara kita, adalah negara yang subur. Semuanya sekarang ini, saya harus berbicara apa adanya, impor semuanya yang berkaitan dengan pangan. Beras tahun lalu impor tapi tahun ini alhamdulillah nanti sampai akhir tahun moga-moga sudah tidak. Jagung kita masih impor. Saya sudah berikan target kepada Menteri Pertanian, 2018 kita harusnya sudah tidak impor lagi karena ini sudah turun impornya 60 persen, sudah turun. Karena ada panen yang sangat besar di NTB, di Gorontalo. di Jawa Timur.

Ini menggerak, bagaimana menggerakkan rakyat, jagung problem-nya hanya, kenapa sih rakyat nggak mau menanam, petani nggak mau menanam. Problem-nya hanya masalah harga. Tahun yang lalu, saat saya ke Dompu, ke Jawa Timur, di Magetan, semuanya mengeluh semuanya protes. Pak, harga jagung hanya Rp 1.500,- per kilo, padahal ongkos untuk tenaga kerja, untuk benih, untuk pemeliharaan bisa sampai Rp 1.600,- ,Rp 1.700,- berarti rugi. Siapa yang mau bekerja, kemudian hasilnya rugi, nggak ada. Sehingga tahun yang lalu, saya terbitkan Perpres, dipatok harganya Rp  2.700,-. Kalau harganya kurang dari Rp 2.700,- Bulog yang membeli. Kalau harganya lebih dari Rp 2.700,- silahkan dijual kepada siapa saja. Tahun ini harganya sudah mencapai Rp 3.100,- sampai Rp 3.200,- alhamdulillah. Ini silahkan yang beli swasta, silahkan yang beli Bulog juga silahkan. Tapi memang, sehingga petani semangat kuncinya ya hanya ada di situ. Tapi sekali lagi masih impor jagung kita, 40 persen masih impor, kedelai masih impor, apalagi yang impor, daging masih impor, buah masih impor.

Padahal itu kalau kita tanam, buah saya menyampaikan kepada Bupati Gubernur, siapkanlah lahan, lahan kan banyak, terutama yang di luar Jawa, mau 1.000 hektar, mau 10.000 hektar, mau 100.000 hektar ada. Kenapa semuanya, 14 juta hektar, semuanya ditanam sawit? Kenapa tidak ada 5 juta yang tanaman buah-buahan? Sehingga bisa menguasai dunia. Inilah manajemen negara kita yang memang terus akan kita perbaiki dan kita benahi.

Problem besar yang ada di negara kita, yaitu peringkat ease of doing business, kemudahan berusaha, orang ingin berusaha, usaha kecil ingin berusaha, usaha menengah ingin membuka usaha. Memang ranking-nya masih sangat. Dua tahun yang lalu, rangking kita 120, tahun yang lalu rangking-nya 106, tahun ini alhamdulillah bisa meloncat menjadi 91. Tapi jangan ditepuki, masih 91. Bandingkan Singapura tahun lalu nomor satu sekarang nomor 2. Malaysia tahun yang lalu saya ingat, nomor 18 sekarang turun menjadi 23. Tapi kita dari 106 meloncat menjadi 91, tapi masih 91. Jadi jangan tepuk tangan terlebih dahulu. Nanti kalau sudah angka-angkanya mulai di bawah 50, kita boleh bertepuk tangan.

Dan saya sudah berikan target, saya minta 40 ranking-nya karena Thailand itu sekarang sudah 46. Malaysia 23, Singapura 2. Ini dari kurang lebih 190-an negara. Indeks daya saing kita, coba kita lihat angka-angkanya, kita ranking ke- 41, yang lain angka-angkanya seperti yang ada di layar. Kita masih di bawah Singapura, di bawah Malaysia, di bawah Thailand. Padahal kita ini memiliki semuanya, infrastruktur memang kita yang harus kita kerja, sumber daya manusia, saya setuju tadi Bapak Ketua Umum, Pak Kyai menyampaikan SDM, ini harus ditingkatkan, dikembangkan karena memang kuncinya ada di situ. Sudah mau berusaha, izin-izinya sulit, pondasi dasar infrastruktur dan SDM kita yang kurang. Inilah problem besar negara kita.

Kemudian yang ketiga, mengenai pertumbuhan ekonomi. Alhamdulillah, kita kalau di dunia sekarang ini pertumbuhan ekonomi kita masuk 3 besar, masuk lalu negara-negara gede ya, negara-negara gede kita masuk 3 besar. India masih nomor 1, Tiongkok Cina nomor 2, Indonesia pada nomor 3. Jadi, masih kita harus bersyukur, kita harus bersyukur bahwa pertumbuhan ekonomi kita pada posisi yang baik. Semester satu tahun ini 4,94 persen, bukan semester, triwulan, triwulan satu  4,94 persen, triwulan yang kedua 5,18 persen, naik alhamdulillah. Triwulan yang ketiga, baru saja diumumkan, dua hari yang lalu 5,02, masih pada angka-angka 5 jadi masih bertahan.

Padahal kalau kita lihat negara-negara yang lain, sudah pada turun sampai 3 persen, ada yang turun 1,5 persen, ada yang turun 2 persen, ada yang sudah minus. Karena memang posisi ekonomi dunia sekarang ini memang pada posisi yang sangat tidak baik, sangat berat, selalu turun-turun. Rata-rata ekonomi dunia sekarang hanya 3,1. Tahun depan diperkirakan akan turun lagi. Kemudian tantangan kita adalah sekarang ini yang paling berat adalah masalah kemiskinan. Penduduk miskin kita masih 10,86 meskipun turun, alhamdulillah turun dari tahun yang lalu 0,36 persen tapi masih pada angka 10,86 persen. Gini rasio kita, kesenjangan, kesenjangan antar wilayah, kesenjangan kaya dan miskin masih tinggi sekali. Saya masuk saat itu 0,41 kalau saya angka 0,41 itu sudah angka kuning menuju ke merah. Kesenjangan terutama yang kaya dan miskin di tahun ini alhamdulillah sudah turun sedikit menjadi 0,397 tapi harus turun karena kesenjangan semakin kita biarkan akan semakin melebar ini yang harus kita stop.

Kemudian, pengangguran ini juga harus menjadi tantangan kita. Meskipun turun 0,31 tapi juga masih besar pada Januari yang lalu masih 5,5 persen, masih tinggi. Inilah saya kira problem-problem yang perlu saya sampaikan kepada Bapak Ibu seluruh peserta Munas ke-8 LDII pada pagi hari ini.

Kemudian dua hal tadi yang saya sampaikan, ada dua hal besar yang ingin kita kejar dalam percepatan kita. Yaitu percepatan pembangunan infrastruktur, yang kedua pembangunan sumber daya manusia kita. Pembangunan infrastruktur sekarang tidak Jawasentris tapi Indonesiasentris. Ini perubahannya.

Alhamdulillah, ini sudah 2 tahun, tol Trans Sumatera sudah dimulai, dari Lampung menuju ke Aceh. Gambarnya ada. Jadi kalau ada yang nggak percaya, gambarnya ada. Kalau ada yang nggak percaya lagi, silahkan ke Lampung, sampai ke Terbanggi, sampai ke Palembang, saya kira LDII dari Jakarta sampai ke desa, itu aja semuanya. Jadi kalau saya berbicara tolong dilihat dan juga saya titip ikut diawasi agar kualitas barangnya menjadi barang yang baik. Kalau ada hal-hal yang kira-kira nggak baik, kualitas aspalnya atau kualitas cor-nya bisikin ke saya, lewat Bapak Ketua Umum.

Di Kalimantan juga sudah dimulai yang Balikpapan-Samarinda. Kemudian yang di Manado-Bitung juga sudah dimulai. Kalau dalam dua ini akan selesai. Untuk apa sebetulnyaa infrastruktur-infrastruktur seperti ini. Goal-nya adalah karena biaya transportasi kita sangat mahal sekali. Dibandingkan Singapura, Malaysia masih 2,5 kali lipat. Mahal sekali kita ini. Biaya logistik kita juga kurang lebih sama, 2 sampai 2,5 kali lipat jadi kalau membawa barang dari satu kota ke kota yang lain, dari provinsi satu ke provinsi yang lain, betul-betul biaya di Indonesia masih mahal. Karena infrastrukturnya belum siap.

Ini nanti akan mempercepat dan akan menurunkan biaya transportasi. Kemudian goal-nya kemana kalau infrastrukturnya selesai. Ya barangnya akan lebih murah, biaya transportasi lebih murah, biaya logistik lebih murah, berarti nanti harga jual barang akan juga jatuh lebih murah. Itulah saatnya kita bisa bersaing dengan negara-negara yang lain.

Pelabuhan juga, pelabuhan pelabuhan besar sekarang dibangun di Kuala Tanjung Tanjung Priok Newport, Makassar Newport, nanti insya allah akhir tahun ini akan dimulai lagi di Sorong, yang gede-gede, yang saya sering sampaikan tol laut ini ini sehingga kapal-kapal besar bisa lalu lalang dari ujung barat sampai ke ujung timur. Nanti baru pelabuhan-pelabuhan sedang, baru pelabuhan-pelabuhan kecil yang juga ini harus kita kerjakan. Kita juga harus ingat bahwa negara Indonesia adalah negara dengan 17.000 pulau, 17.000 pulau.

Yang kecil-kecil sudah dimulai misalnya di Natuna pelabuhan harus dimulai, di Miangas airport juga sudah diselesaikan, yang kecil-kecil di Yahukimo juga airport, juga ditambah runway-nya dibangun terminalnya. Yang kecil-kecil lagi misalnya di Bener Meriah, Kabupaten Bener Meriah, di Aceh juga dibangun airportnya. Untuk apa? Bukan juga masalah logistik dan transportasi. Tapi inilah yang akan mempersatukan bangsa kita karena dari Aceh bisa langsung terbang ke Papua, dari Aceh bisa langsung berlayar menuju ke timur, ke Sulawesi, ke Ambon dan yang lain-lain. Tanpa itu, persatuan kita akan sulit untuk kita jalin. Jadi arahnya bukan hanya masalah harga tetapi juga berkaitan dengan persatuan kita.

Jalur kereta api di Sulawesi juga baru dimulai tahun yang lalu. Gambarnya ada, nanti kalau gambarnya nggak ada itu, yang ngerti hanya yang di Sulawesi, LDII di Sulawesi, tapi yang LDII di Aceh yang di tempat lain nggak, di Jawa nggak tau. Jadi saya selalu bawa gambar kalau masih ada yang nggak percaya silahkan datang ke Makassar, dimana dimulai di Baru, Kabupaten Barru. Ya. Kemudian menuju ke atas, ke Menado tapi saya kira ini masih dalam jangka yang panjang

Yang kedua, yang berkaitan dengan penyiapan sumber daya manusia. Inilah sebetulnya kekuatan kita pada tahun 2030. tahun 20035 kita akan mendapatkan sebuah bonus demografi yang sangat besar. Anak-anak muda dengan jumlah lebih dari 60 persen akan kita punyai. Padahal negara-negara yang lain, sudah pada menuju ke usia yang tidak produktif. Kita memiliki itu, tapi kuncinya kalau jumlahnya besar tetapi kualitas SDM-nya tidak mulai disiapkan dari sekarang, bisa juga menjadi sebuah bencana karena menjadi tidak produktif. Banyak tetapi tidak produktif, banyak tetapi tidak bisa masuk ke dunia kerja karena kualitasnya tidak kita siapkan. Kenapa sekarang kita fokus ke sini, ke vocational training, ke vocational school, kejuruaan, pelatihan? Karena memang arahnya ke sana.

Kita lihat negara-negara maju Jerman yang saya lihat. Jepang yang saya lihat. Korea Selatan yang saya lihat menggarap sumber daya manusia ini. SDM ini dengan sangat serius tetapi betul-betul menuju kepada apa yang dimaui oleh industri, apa yang di mau oleh pasar. Tetapi sekali lagi, meskipun mereka pintar, mereka pandai, mereka menguasai teknologi, tapi kalau tidak didampingi dengan keimanan yang baik, tidak didampingi dan kejujuran yang baik, tidak didampingi dan integritas yang baik, tidak didampingi dengan budi pekerti yang baik, tidak ada artinya. Bisa juga menjadi sebuah malapetaka. Sehingga saya setuju tadi, yang disampaikan oleh beliau, Bapak Kyai Haji Abdullah Syam, Bapak Ketua Umum mengenai gerakan “Ayo Menghormati Guru”, saya sangat setuju sekali. Ini sebuah bentuk, kita kembali pada karakter kita, karakter bangsa kita.

Coba kita lihat tadi sudah disampaikan oleh beliau, di Jepang saya lihat juga di Korea, yang namanya kepada orang tua, yang namanya kepada senior, selalu kalau ketemu haik, sambil gini. Ini sebuah penghormatan. Kita dulu juga punya, tahun-tahun 70-an saya ingat, dengan yang lebih senior pasti menunduk. Kalau ada yang duduk pasti begini. Kemana itu? Kalau dengan guru kita ingat, saya SD tahun-tahun 70-an, begitu guru datang, kelihatan jauh sudah, mengantri di depan gerbang sekolah, rebutan megang sepedanya bapak ibu guru kita, salamin dulu kemudian pegang rebutan. Inilah kita kehilangan karakter itu.

Pada yang namanya Jepang, negara ya dengan teknologi, dengan kemajuan, yang sangat tinggi itu masih memegang, itu Korea masih, masih. Senioritas kepada orang yang lebih tua. Inilah hal-hal yang ingin, saya sangat bahagia sekali bahwa di LDII tadi ada gerakan “Ayo Menghormati Guru” dan saya nanti juga akan bisikan kepada Mendikbud, saya, untuk ini juga menjadi gerakan nasional kita. Kalau nggak, kita ini akan lupa semuanya kita, hal-hal yang sangat basic, hal-hal yang sangat mendasar, karakter bangsa kita.

Hal yang berkaitan dengan media sosial, ini juga masalah SDM, kita harus kuasai itu, karena semua negara sekarang menuju ke sana, kita pun juga menuju ke media sosial.  SDM kita harus disiapkan. Saya tahu LDII banyak yang berada di perusahan-perusahan besar, yang berkaitan dengan IT, saya tahu banyak yang di Indosat, saya tahu banyak yang di Telkom, saya tahu di Telkomsel, di XL, saya tahu semuanya. Sehingga kalau tadi menampilkan hal-hal yang berkaitan dengan media sosial sangat bagus, sangat lancar, sangat baik, saya kira saya nggak kaget.

Saya juga titip kepada seluruh keluarga besar LDII, yang berkaitan dengan etika di dalam media sosial, coba kita lihat sekarang, buka, saling menghujat, saling mengejek, saling memaki, saling menjelekkan, apakah itu kepribadian bangsa kita. Apakah itu budi pekerti yang ditanamkan kepada kita, saya kira tidak. ini ada infiltrasi lewat media sosial yang kita tidak sadari dan tidak kita saring. Saya sudah sampaikan tahun yang lalu pada Menteri, Menkominfo dibuat netiket, etiket berinternet, berbahasa seperti apa, bertutur seperti apa. Saya kira kalau kita bersama-sama, seluruh jajaran LDII, keluarga besar LDII melakukan itu, kita melakukan itu, saya yakin yang jelek-jelek seperti itu juga akan kena arus sehingga menjadi baik. Saya sangat menghargai juga, LDII yang lain-lain belum, LDII sudah punya, apa, pikub.or.id, ini market place yang digunakan untuk memasarkan produk-produk. Yang lain belum, LDII sudah, ya karena banyak SDM-nya yang tadi, di tempat-tempat tadi, ya selalu mendahului.

Inilah saya kira kekuatan kita yang harus terus kita kerjakan, saya kira sudah ada online store seperti gampang memasarkan produk-produk antar anggota, antar kita semuanya. Jangan kalah. Sekarang paling besar seperti Alibaba, saya datang ke Alibaba, mereka punya jaringan yang sangat besar karena mempunyai apa, punya logistic platform yang betul-betul sudah merajai kemana-mana, kita sebetulnya juga bisa membuat kok, punya retail platform yang jaringannya kemana-mana, ratusan juga, kenapa kita juga tidak memiliki yang seperti itu. Sehingga saya selalu titip kalau ada apa itu, retail platform, logistic platform yang kita punya sendiri, jangan sampai itu dijual ke mana-mana. Saya sedih kalau ada market place yang bagus, tahu-tahu sudah 70 persen dicaplok oleh asing, aduh. Jadi yang mau kita suntik yang mana jadi bingung. Memang mungkin yang disuntik mungkin lebih baik yang tadi, pikub.or.id, supaya menjadi platform nasional karena pemiliknya jelas. Nanti kalau mau minta suntikan ke Menkominfo.

Bapak Ibu dan Saudara-Saudara sekalian yang saya hormati. Sekali lagi yang terakhir, yang ingin saya sampaikan mengenai ekonomi syariah. Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, selalu itu, selalu saya sampaikan dalam setiap pertemuan dengan Kepala-Kepala Negara supaya mereka mengerti bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar. Sehingga jangan melihat yang lain, lihatlah negara kita, Indonesia. Dengan jumlah seperti itu, seharusnya kita bisa mengembangkan ekonomi syariah kita dengan baik, bisnis syariah kita dengan baik.

Tapi ini data yang perlu saya sampaikan. Kita baru mengerjakan ini, baru 5 persen. Malaysia sudah 30-35 persen, kita pun kalah dengan Korea Selatan, dengan Inggris. Ini pasti ada yang perlu diperbaiki. Perbankan misalnya, kita baru memiliki 12 Bank Umum Syariah, pasar modal, penerbitan sukuk kita juga masih sekitar 132 triliun, masih kecil, non perbankan kita ini yang banyak, BMT kita ada kurang lebih hampir 5 ribu BMT. Yang dana sosial keagamaan kita ,sebetulnya kita juga mempunyai kekuatan yang besar, dana haji itu ada 84 triliun sampai Maret 2016, tapi dibandingkan dengan negara tetangga, ini juga masih lebih kecil karena tidak dikelola. Zakat oleh baznas. Ini potensi zakat 11 triliun per tahun, potensinya gede sekali. Wakaf misalnya, ini potensi ada 377 triliun, ini juga sebenarnya potensi yang besar sekali kalau digerakkan. Tetapi yang terkumpul karena tercecer sehingga manajemennya tidak bisa kita satukan.

Oleh sebab itu, saya mengajak kita semuanya untuk mengembangkan ekonomi syariah, bisnis syariah. Apa pun bisa di bidang perbankan, bisa di bidang asuransi, bisa di bidang wisata, hal-hal wisata syariah, bisa di bidang hotel, bisa di bidang restoran halal, saya kira kesempatan itu masih sangat luas sekali, sangat besar sekali. Karena berarti masih ada peluang 95 persen yang bisa kita kerjakan, besar sekali, baru 5 persen yang ada sekarang ini.

Inilah kenapa kemarin, sudah saya tandatangani Perpres-nya, Komite Nasional Syariah yang moga-moga dengan ini, dan saya menjadi Ketua Pembina-nya di situ langsung. Insya allah nanti dengan menggerakkan ini, ekonomi kita akan semakin baik. Karena yang 95 persen itu, akan terus kita isi dengan gerakan-gerakan ekonomi yang kita lakukan. Saya kira itu, yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Mohon maaf apabila ada hal-hal yang kurang berkenan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Transkrip Pidato Terbaru