Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Perayaan Natal Nasional Tahun 2025 di Tenis Indoor Senayan, Kota Administrasi Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta, pada Senin, 5 Januari 2026
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan,
Rahayu, rahayu.
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Ketua Umum Perayaan Natal Nasional 2025 sekaligus Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Saudara Maruarar Sirait;
Dewan Pengarah Perayaan Natal Nasional 2025, Saudara Hashim Djojohadikusumo; Jenderal TNI (Purn.) Luhut Binsar Pandjaitan;
Yang saya hormati, Menteri Agama Prof. K.H. Nasaruddin Umar;
Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin;
Para Menteri Koordinator, para Menteri, Kepala Badan, Wakil Kepala Badan, Wakil Menteri, Panglima TNI, Kapolri, beserta para Kepala Staf Angkatan (TNI), serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang hadir, yang tidak saya sebut namanya satu per satu tanpa mengurangi rasa hormat saya, karena tadi juga sudah banyak diperkenalkan, kalau saya baca ini, halamannya cukup banyak ini.
Para tokoh gereja nasional;Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Pendeta Jacklevyn Frits Manuputty;
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII), Pendeta Tommy Lengkong;
Ketua Persekutuan Gereja Pentakosta Indonesia (PGPI), Pendeta Jason Balompapueng;
Ketua Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK), Pendeta Sonny Situmorang;
Ketua Umum Bala Keselamatan, Kolonel Hosea Makagiantang;
Ketua Umum Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), Presbiter Yakobus Jimmy Mboe;
Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Tionghoa di Indonesia (PGTI), Pendeta Lukas Jetro Kusumo;
Ketua Presidium Persekutuan Baptis Indonesia (PBI), Pendeta Randy Alexander Chuang;
Sekjen Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Monsinyur (Mgr.) Adrianus Sunarko;
Koster gereja, guru Sekolah Minggu, guru agama Kristen dan Katolik, anak-anak Sekolah Minggu, disabilitas, yayasan yatim piatu, paduan suara yang saya cintai;
Para pimpinan organisasi keagamaan mahasiswa, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GAMKI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI);
Saudara-saudaraku umat Kristiani sebangsa dan setanah air di manapun engkau berada, baik yang hadir langsung maupun yang hadir melalui video conference;
Para hadirin, undangan yang hadir, rekan-rekan pers dan media yang saya hormati;
Gubernur DKI Jakarta, Saudara Pramono Anung yang saya hormati;
Duta Besar Palestina, Dr. Zuhair Al-Shun.
Tentunya sebagai insan yang bertakwa, tidak henti-hentinya kita panjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahakuasa, Maha Besar, yang memiliki sekalian alam, atas segala karunia, atas segala kebaikan berkah, atas kesehatan yang kita nikmati, dan juga atas kedamaian yang masih diberikan kepada bangsa dan negara kita sehingga kita dapat berkumpul malam ini di acara Puncak Perayaan Natal Nasional 2025 yang kita laksanakan sekarang pada tanggal 5 Januari 2026 ini. Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehormatan yang diberikan kepada saya untuk hadir di sini dan menyampaikan langsung ucapan. Selamat Hari Raya Natal kepada Saudara-saudaraku umat Kristiani sebangsa dan setanah air, di manapun engkau berada. Semoga damai Natal membawa kebaikan, berkah, kasih, pengharapan, dan kekuatan bagi kita sekalian.
Saudara-saudara sekalian,
Acara hari ini adalah bukti dari jati diri kita bangsa Indonesia sebagai bangsa yang majemuk, bangsa yang multietnis, multiras, multiagama, multibudaya. Kita adalah bangsa yang sangat besar. Para pakar ada yang hitung, kelompok etnis yang ada di Indonesia itu 1.700 [etnis] dengan bahasa daerah yang sangat banyak. Kita di bumi Nusantara ini, suku-suku kita menganut agama-agama yang berbeda-beda tapi kita bisa bersatu, kita bisa hidup sebagai satu bangsa, satu nusa yang memiliki satu bahasa karena kita punya niat yang sama. Kita ingin meraih kehidupan yang baik, bersama. Kita telah ditakdirkan oleh [Tuhan] Yang Mahakuasa untuk hidup di bumi Nusantara ini. Kita tidak bisa menentukan kita lahir di mana, dari rahim ibu yang mana, itu sudah takdir Ilahi, tapi takdir ini yang membuahkan bangsa Indonesia.
Saya merasa besar hati, saya merasa bangga, mendapat kehormatan besar menjadi presiden dari sebuah negara yang sangat besar, jumlahnya keempat terbesar di dunia. Negara sebesar Eropa, Eropa 27 negara, kita satu negara, dan juga, saya juga bersyukur saya dipilih oleh rakyat Indonesia. Begitu saya dipilih dan saya dilantik, saya mengerti, saya mengetahui, saya mempelajari keadaan bangsa Indonesia di mana sesungguhnya, kita patut bersyukur, bangsa kita sungguh memiliki kekayaan yang sangat-sangat besar. Namun, tantangan yang kita hadapi juga sangat besar. Saya kira, sebagai insan hamba Tuhan, kita semua harus mengerti bahwa segala kebaikan yang diberikan oleh [Tuhan] Yang Mahakuasa, segala kekayaan tersebut, kalau kita tidak pandai menjaga kekayaan tersebut, kalau kita tidak pandai mengelola kekayaan tersebut, maka kita tidak boleh menyalahkan siapa pun atas nasib yang kita alami.
Saudara-saudara sekalian,
Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa sesungguhnya, di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, penuh gejolak perang di mana-mana, kita harusnya bersyukur bahwa bangsa kita sampai hari ini mengalami keadaan damai. Kita mengerti, negara sebesar ini pasti ada perselisihan paham, ada konflik, ada persetujuan, ada persaingan. Tetapi secara umum, bangsa-bangsa lain mulai melihat bangsa Indonesia bahwa bangsa sebesar ini, dapat hidup dengan harmoni, dengan saling menghormati, dan saling mencintai.
Saudara-saudara sekalian,
Baru saja keluar, sebuah survei dunia yang dilakukan bersama oleh Harvard University dan Gallup—Gallup [World] Poll—di mana dari hampir 200 negara, negara yang rakyatnya setelah ditanya, menjawab bahwa rakyat tersebut mengalami bahagia, negara yang paling nomor satu di dunia sekarang, rakyat yang mengatakan dia bahagia adalah bangsa Indonesia. Ini mengharukan bagi saya, karena saya paham bahwa sebagian besar rakyat kita, sesungguhnya masih mengalami kehidupan yang sangat-sangat sederhana, yang berada dalam keadaan bisa harus kita akui, keadaan yang belum sesungguhnya sejahtera. Tetapi kalau ditanya, masih mengatakan bahwa dia bahagia. Ini membingungkan bangsa-bangsa lain, membingungkan bangsa-bangsa lain, dan juga mengharukan bagi saya. Karena itu, saya bersama pembantu-pembantu saya, bekerja sangat keras, sudah satu tahun kita menerima tugas dari bangsa Indonesia. Saya dibantu oleh pembantu-pembantu saya. Orang-orang yang saya harus akui adalah orang-orang, putra-putri terbaik bangsa Indonesia.
Saya bersyukur saya mendapat kesempatan, saya diajak bergabung dalam pemerintah Presiden Joko Widodo. Selama lima tahun, selama lima tahun, saya masuk ke dalam kekuasaan eksekutif. Jadi bagi saya, lima tahun itu adalah semacam masa magang, masa pembelajaran. Begitu saya hadir pertemuan kabinet yang pertama, saya lihat kelilingnya itu, dan memang saya sudah tentunya hadir pelantikan, saya mengatakan kepada beberapa rekan-rekan, saya bilang—waktu itu kan, 2019 saya kandidat yang kalah, ya, kan? Tapi saya waktu masuk ruang kabinet, saya melihat, dan saya katakan, seandainya saya menang, sebagian besar kabinet itu pasti saya ajak membantu saya, dan itu terbukti begitu saya jadi presiden, ya banyak dari mereka masih tetap saya ajak. Kenapa? Karena memimpin, mengelola, dan mengendalikan pemerintahan untuk sebuah negara sebesar ini harus terdiri dari putra-putri terbaik. Tidak bisa, tidak bisa kita sembarangan.
Jadi Saudara-saudara,
Ada, memang kita harus akui dengan kebaikan bangsa Indonesia, elitnya juga banyak yang, yah, mau dikatakan apa, ya, enggak tahu, saya, pengalaman saya, semakin tinggi di masyarakat, sesungguhnya semakin, semakin apa, ya, semakin kurang ikhlas, begitu, lo. Yang di bawah, rakyat kita luar biasa. Luar biasa. Rakyat kita di bawah [luar biasa]. Tapi semakin ke atas, jadi ada budaya suka nyinyir, suka ngejek, apa yang dibuat oleh bangsa sendiri, enggak bagus. Ini aneh ini, tapi tidak apa-apa. Karena ini banyak pendeta, banyak romo, ya, kan, jadi kita harus selalu sekarang bicara kebaikan, ya.
Saudara-saudara,
Keluarga saya sebagian itu Nasrani. Tapi, kadang-kadang, kalau ajaran Nasrani yang paling pokok ya, Monsinyur, kalau tidak salah ya, Pendeta, yang paling pokok adalah kalau pipi kiri kita ditempeleng, kita harus kasih pipi kanan. Benar, betul? Betul, ya? Betul. Karena waktu kecil, saya sekolah Kristen juga, saya itu. Jangan-jangan saya ngerti cerita-cerita di Bible lebih dari Saudara-saudara, itu, jangan-jangan. Benar, kan? Ajaran Nasrani. Kalau ditempeleng pipi kiri, harus kasih pipi kanan, harus memaafkan, kan begitu, kan? “Forgive those that trespass against us”, benar, enggak? “Forgive us our trespasses, as we forgive those that trespass against us”. Jadi saya, sebenarnya ya, bagi saya itu, selalu ingin cari kebaikan daripada ketidakbaikan. Saya ingin cari persatuan daripada perpecahan.
Kalau masuk ke dalam kancah politik, pasti persaingan sangat keras, ketat, dan tidak ada masalah. Masuk lapangan bola pun, persaingan sangat keras. Mana ada orang yang mau kalah. Benar? Iya, kan? Waktu kita kalah sepak bola saja, sedihnya bukan main. Aku kalah pilpres berapa kali itu, sudah lupa. Tapi, tidak ada masalah. Tidak boleh kita sakit hati. Tidak boleh dendam. Tidak boleh benci. Dan, itu saya berusaha untuk teguh pada pendirian itu.
Waktu muda, waktu muda di Jakarta, sebagai anak muda, kita selalu mau belajar bela diri. Kenapa? Kita tidak mau kalah kalau kita berkelahi. Jadi saya cari guru ke mana-mana, dan semua guru yang saya ketemu, yang hebat silatnya itu, selalu mengajarkan, “Prabowo, kamu harus berani, tapi jangan dendam dan jangan benci”, dan ini saya kira ajaran semua agama kita, ya. Jadi, saya kadang-kadang kalau di keluarga saya, beberapa saudara saya malah suka marah sama saya, “Bowo, kamu kenapa selalu…dia dulu begini-giniin kamu”, saya bilang, “Itu kan dulu. Sekarang, keadaannya harus…harus bersatu, harus bekerja sama”. Dan, Saudara-saudara, ini saya mau, saya mau gunakan kesempatan ini. Mumpung dikasih podium, kan, kita. Karena ada podium dan saya presiden, Saudara terpaksa dengar. Benar, kan? Panitia enggak berani, ingatkan saya, “Waktu, Pak”. Awas. Pokoknya ini podium ya, sesuka presiden berapa lama, ya. Masih kuat dengar saya? Mau kuat, enggak kuat, Saudara harus dengar saya, gitu, lo.
Jadi, Saudara-saudara,
Tidak hanya itu memang ajaran hampir semua agama. Itu ajaran guru-guru yang bijak. Tapi itu juga, itu juga analisa geopolitik. Analisa geopolitik. Pakar-pakar geopolitik di dunia melihat Indonesia. Indonesia ini luar biasa. Sangat kaya. Sekarang masalahnya adalah bagaimana kekayaan ini kita jaga, kita kelola, untuk bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Ini harus kita akui, Saudara-saudara. Jangan kita bangga dengan hanya kata-kata kaya, produksi ini, milik itu, tidak. Kita harus sekarang berjuang agar kekayaan itu benar-benar dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Kita harus menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kita harus menghilangkan kelaparan dari bumi Indonesia.
Saudara-saudara,
Ada yang, ini zaman teknologi, ya. Jadi sekarang teknologi itu ada sosmed, iya, kan? Sosmed ini baik, tapi ada juga kadang-kadang bahayanya. Dengan banyak podcast-podcast, banyak pakar itu bicara asal bicara. Jadi saya lihat ada pakar-pakar yang selalu mengerti pikirannya Prabowo Subianto. Jadi kadang-kadang kalau saya mau cek, kira-kira apa yang dipikirkan Prabowo Subianto, saya cari podcast. Kira-kira apa ya, yang sedang dipikirkan oleh Prabowo? Ngarang, gitu, lo, iya, kan. Prabowo sedang konflik internal dengan ini, nanti dengan itu. Senangnya ramai, gaduh. Padahal enggak ada, Saudara-saudara.
Jadi, Saudara-saudara,
Yang kita, yang saya katakan tadi, pakar-pakar geopolitik mengatakan, bangsa Indonesia ini akan menjadi bangsa keempat terkaya di dunia. Tapi ada, ada syaratnya. Syaratnya apa? Syaratnya adalah apabila bangsa Indonesia bisa bersatu. Syaratnya apa? Terutama apabila elitnya bisa bekerja sama. Ini bukan…begitu saya lihat, baca itu beberapa tahun yang lalu, saya semakin yakin. Akhirnya, selalu saya ingin, saya ingin selalu mengajak, apapun perbedaan kita, apapun mungkin dosa-dosa kita di masa lalu, karena kita manusia, pasti penuh dosa, pasti ada kesalahan. Tapi, sekarang, kita harus bekerja sama, kita harus kompak, kita harus bahu-membahu. Yang kuat, tarik yang lemah. Yang lemah, berhimpun kerja sama, bersaing baik, tapi begitu pertandingan selesai, bersatu. Bersatu. Ada yang mengatakan, kalau bersatu itu tidak demokratis. Lo, demokrasi silakan, koreksi silakan, kritik bagus, tapi fitnah itu tidak bagus. Semua agama tidak mengizinkan fitnah. Saya yakin di agama Kristen demikian juga, “Thou shalt not lie”. Kebohongan itu tidak baik. Apalagi kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, kebohongan yang menimbulkan perpecahan, kebohongan yang menimbulkan kebencian. Ini bisa merusak kita semua.
Jadi Saudara-saudara,
Kalau di agama Islam ada itu, ajarannya. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Bayangkan. Jadi yang kita harus waspadai sekarang, kalau kritik malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya menganggap bahwa saya dibantu, saya diamankan. Kadang-kadang kita tidak suka dikritik, kita tidak suka dikoreksi, tapi sesungguhnya itu mengamankan, iya, kan? Contoh paling sederhana, kadang-kadang kita lupa, ada kancing yang tidak terpasang. Kemudian anak buah kita lari, “Pak, seragam Bapak, Pak, Bapak kancingnya”, lo, ini anak buah kok, berani koreksi? Tapi dia koreksi untuk mengamankan saya. Bayangkan, presiden muncul, kancingnya tidak [terpasang rapi], iya, kan? Jadi kadang-kadang saya dongkol juga sama ajudan saya, cerewet banget, nih. Tapi, dia menjaga saya, dia menjaga saya. Beberapa kali saya diselamatkan, iya, kan?
Ini cerita waktu saya masih aktif, ya. Saya keluar dari ruangan mau ambil apel, enggak tahu saya sibuk atau apa, saya lupa pakai tanda pangkat. Lari anak buah saya, “Pak, Pak, jangan keluar, Pak, tanda pangkat Bapak tidak lengkap”, oh iya, jadi apa? Dia mengamankan saya. Kritik, koreksi, adalah menyelamatkan. Jadi saya terima kasih, kalau ada yang teriak-teriak, “Prabowo ini mau hidupkan lagi militerisme”, wah, beri saya koreksi, apa, benar? Oke, baru kita lihat. Panggil ahli hukum, panggil, di mana, ya, kan, mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter
Jadi Saudara-saudara,
Itu yang ingin saya sampaikan. Kita memiliki masa depan yang bagus. Walaupun ada kelompok nyinyir, ya, kan, enggak apa-apa, enggak apa-apa. Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja. Yang jelas, waktu saya kampanye sudah sekian puluh tahun, saya selalu bicara, Indonesia harus swasembada pangan. Selalu saya bicara, di manapun. Waktu saya masih di Golkar pun, saya sudah bicara itu. Saksinya banyak orang Golkar di sini, karena saya alumni Golkar. Saya tidak berubah. Waktu saya kampanye terakhir, swasembada pangan yang pertama. Dan, begitu saya jadi presiden, itu fokus saya. Dan, saya beri, saya beri target kepada tim saya, kita harus swasembada beras empat tahun. Itu target saya, empat tahun.
Saudara-saudara,
Di perayaan Natal ini, saya dengan bangga hari ini, saya bisa menyampaikan, begitu lewat 31 Desember 2025, bangsa Indonesia sekarang sudah swasembada beras. Tahun 2025, kita tidak impor beras sama sekali, tahun 2025. Target empat tahun, kita bisa capai dalam waktu satu tahun. Dan, kita bantu tidak hanya bangsa Indonesia, kita membantu dunia. Kenapa? Dengan kita tidak impor beras, harga beras dunia turun. Turun ratusan dolar, turunnya. Jadi banyak negara berterima kasih sama kita. Saudara-saudara sekalian, ini satu contoh.
Saudara-saudara,
Saya canangkan [program] makan bergizi gratis (MBG). Kenapa? Waktu saya kampanye sekian kali, saya ikut, saya ikut pilpres berapa kali, ya? Empat kali. Empat kali. Empat kali, tiga kali kalah, tapi yang terakhir menang, oke, lah. Iya, kan? Saya datang ke desa-desa, di mana-mana, saya lihat anak-anak kecil. Saya tanya, “Umurmu berapa?” sembilan, sepuluh, sebelas [tahun] tapi badannya sama dengan anak [berusia] empat tahun. Kecil, dia alami kurang gizi, di mana-mana. Dan, saya belajar, saya keliling dunia, saya belajar. Saya lihat bagaimana India membantu rakyat miskinnya dengan makan bergizi gratis.
Saudara-saudara,
APBN-nya India, APBN-nya India, nomor satu bagi dia, nomor satu adalah pertahanan. Karena dia tidak mau ambil risiko keselamatan bangsa dia. Nomor satu, pertahanan. Nomor dua atau nomor tiga adalah makan bergizi. Brasil juga sudah melaksanakan [program] makan bergizi, 12-13 tahun yang lalu. Saudara-saudara, sekarang sudah ada 76 negara melaksanakan [program] makan bergizi. Dan, Saudara-saudara, ahli-ahli dari Amerika, Rockefeller Institute, datang ke Indonesia, lihat kita punya proyek dan menyampaikan kepada saya, di Istana Merdeka, dia sampaikan kepada saya, ahli dari Rockefeller Institute, dia mengatakan, “Ini adalah investasi Anda yang terbaik”, satu rupiah investasi kepada [program] makan bergizi gratis, menurut Rockefeller Institute, akan menghasilkan pelipatan nilai ekonomi lima kali sampai 35 kali. Ini mereka yang bicara, saya tidak mengejar itu. Saya hanya didorong oleh tidak sampai hati saya, melihat anak-anak Indonesia kurang gizi. Untuk mereka yang kaya, untuk mereka yang sudah mapan, ya tidak penting. Tapi untuk anak-anak di banyak daerah, makan bergizi itu sangat-sangat penting.
Tiap kali saya keliling daerah, saya sedih. Karena walaupun ada yang teriak, “Terima kasih, Pak, MBG”, saya maju lagi lima meter, ada yang bilang, “Kapan, Pak, kami terima MBG?”. Karena walaupun luar biasa, saya terima kasih kepada BGN [Badan Gizi Nasional], saya diberi laporan hari ini, sudah mencapai lebih dari 51 juta penerima manfaat MBG. Benar, Pak Dadan, ya? Oh, sudah 55 [juta]? Saya ralat, bukan, saya kira 51 juta, 55 juta. Hari ini sudah 55 juta, 55 juta penerima manfaat Indonesia. Berarti, itu sama dengan memberi makan delapan kali Singapura. Tiap hari kita beri makan 55 juta, 55 juta mulut, Saudara-saudara. Presiden Brasil menyampaikan ke saya, mereka mencapai 40 juta [penerima manfaat] dalam 11 tahun. Kita 55 juta [penerima manfaat] dalam satu tahun. Karena kita mulai 6 Januari 2025. Hari ini 5 Januari 2026, Saudara-saudara. Dan ada yang nuduh, ada, “Oh, Prabowo bikin MBG ini supaya nanti 2029 dia dipilih kembali”. Selalu berpikir negatif. Tapi kalau rakyat memilih saya tahun 2029, apa salah saya? Iya, kan? Kalau Tuhan mengizinkan. Kalau Tuhan tidak mengizinkan, saya buat apa saja, tidak akan terjadi. Benar, enggak? Empat kali ikut pemilu, tiga kali kalah. Soalnya waktu itu Pak Luhut enggak dukung saya, sih.
Saudara-saudara,
Gimana? Masih mau terus? Kok, suaranya kurang antusias, ya? Kalau, kalau saya sebut Teddy, lebih semangat. Panitia, masih boleh terus saya? Baik Saudara-saudara, intinya itu yang ingin saya sampaikan. Negara kita hebat. Negara kita kaya. Dan, negara kita bisa lebih makmur lagi, asal pemimpin-pemimpinnya bersatu. Kerja sama. Bersatu tidak berarti semua harus masuk pemerintah, tidak. PDI-P boleh di luar. Boleh, tapi kerja sama. Saya, saya dukung Pramono jadi Gubernur DKI [Jakarta]. Betul. Saudara-saudara, apakah MBG enggak sampai ke Sumatra Barat? Karena aku kalah di Sumatra Barat, berarti MBG jangan ke Sumatra Barat, enggak ada itu. Apa saya larang MBG ke Aceh? Aku kalah juga di Aceh. Tidak, karena sekarang saya bukan milik satu partai. Saya sekarang milik seluruh bangsa Indonesia. Jadi, di kesempatan Natal hari ini, itu yang ingin saya sampaikan. Perayaan ini adalah kehormatan bagi saya. Perayaan ini membuktikan bangsa Indonesia, bangsa yang rukun, bangsa yang harmonis. Kita saling hormat-menghormati, Saudara-saudara.
Saya sangat, saya sangat bangga dengan contoh pemimpin-pemimpin kita. Bung Karno, Bung Karno presiden. Dia membuat masjid terbesar Republik Indonesia, Masjid Istiqlal. Arsiteknya dia tunjuk orang Nasrani. Orang Nasrani yang jadi arsitek Masjid Istiqlal. Di mana ada seperti ini? Saya, saya bangun masjid ndak terlalu besar di Hambalang. Arsiteknya, dan yang bangun, orang Katolik. Kehormatan bagi saya. Saya suka musik. Saya punya, membina orkestra filharmoni sama band. Suatu saat, [anggota] band saya itu kebetulan Nasrani semua yang kelompok kecilnya, begitu 17 sudah banyak. Tapi yang empat [anggota band] inti itu orang Kristen. Suatu saat saya kaget. Waktu lebaran, dia melantunkan selawat. Selawat Badar, selawat Rasulullah. Luar biasa, luar biasa. Orang Kristen memainkan selawat. Ini, apa ya, membuat hati saya merasa hangat. Saya bangga menjadi anak Indonesia. Karena, saya juga prajurit dulu, sekarang hati saya masih prajurit. Fisik saya sudah enggak bisa lagi naik gunung bawa ransel. Naik gunung pakai helikopter, bisa.
Saudara-saudara,
Waktu di tentara, waktu di tentara, anak buah saya ada yang [beragama] Hindu, ada yang Katolik, ada yang Protestan. Saya masih ingat, anak buah saya yang gugur. Masih ingat. Saya masih ingat. Ada yang Katolik, ada yang Protestan, ada yang Hindu. Waktu saya perintahkan dia maju, apakah dia bertanya, “Pak, kenapa saya harus maju?”, dia tidak bertanya. Dia melaksanakan tugas dia. Dan, yang mengharukan bagi saya, waktu saya memberitahu orang tuanya, begitu kembali dari daerah operasi. Saya beritahu, saya masih ingat nama prajurit itu, Stefanus, saya masih ingat, Sersan Stefanus. Ibunya datang. Dia datang ke kantor saya, membawa pakaian perlengkapan dan sepatu dinas. “Pak, ini kan milik negara, saya mau kembalikan”. Bayangkan. Kemudian, “Pak, saya hanya mau tanya, satu. Apakah anak saya gugur dalam pertempuran oleh musuh?”, “Iya, Bu. Ibu harus yakin putra Ibu gugur sebagai kusuma bangsa dalam pertempuran”, “Kalau begitu, saya rela”, saya masih ingat. Saya punya anak buah satu lagi, orang Flores dari Ende. Masih ingat namanya, Cyprianus Gebo, dari Ende. Saya ke rumahnya di Ende. Jadi Saudara-saudara, inilah Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda, satu. Satu tujuan. Marilah kita jaga persatuan kita. Marilah semuanya terus menggalang dan memajukan persatuan, kerja sama yang baik. Saling mengasihi, saling menjaga, saling menghormati, saling melindungi, dan saling memaafkan kesalahan-kesalahan kita.
Karena itu, sebagai penutup, tapi kalau tanya orang Gerindra, penutupnya Prabowo bisa tujuh kali, gitu, lo. Tapi enggak, ini sekali, penutup. Sebagai penutup, karena ini kebiasaan, jadi dalam perayaan semacam ini, saya pribadi sebagai Prabowo Subianto, dan sebagai Presiden Republik Indonesia, kalau ada kata-kata saya yang salah, yang menyinggung perasaan siapapun, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Niat saya dan niat pembantu-pembantu saya tidak ada lain, kami bekerja keras untuk menghilangkan kemiskinan dari bumi Indonesia. Kami bekerja keras mengurangi penderitaan dan kesulitan rakyat kita, apalagi sekarang di daerah-daerah bencana. Kami bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita. Percayalah, itu, itu niat kami dan kami sangat optimis. Kami sangat percaya bahwa kami berada di jalan yang benar. Di jalan di atas kebenaran, di atas keadilan, dan sesungguhnya hanya untuk kebaikan seluruh rakyat Indonesia.
Terima kasih.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Salam sejahtera,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya,
Rahayu, rahayu.
Merdeka!
Merdeka!
Merdeka!
Semoga Tuhan Maha Besar selalu melindungi kita sekalian.
Terima kasih. Selesai.



