Sambutan Presiden Republik Indonesia pada Peresmian 166 Sekolah Rakyat di 34 Provinsi di Balai Besar Pendidkan Pelatihan Kesejahteran Sosial Banjarmasin, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, pada Senin, 12 Januari 2026

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 12 Januari 2026
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 545 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi oh sudah selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan.

Yang saya hormati, Menteri Sosial Saudara Saifullah Yusuf sebagai penyelenggara, Wakil Menteri Sosial Saudara Agus Jabo Priyono bersama seluruh jajaran Kementerian Sosial;
Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Saudara Abdul Muhaimin Iskandar; Para menteri koordinator, para menteri, para kepala badan, Panglima TNI, Kapolri, serta seluruh anggota Kabinet Merah Putih, para wakil menteri, wakil kepala badan yang hadir, yang saya hormati;
Para kepala daerah yang hadir, Gubernur Kalimantan Selatan Saudara Muhidin yang saya hormati, Gubernur Jawa Timur Saudari Khofifah Indar Parawansa yang saya hormati, Gubernur Jambi Saudara Al Haris yang saya hormati, Gubernur Sulawesi Tenggara Saudara Andi Sumangerukka, Gubernur Nusa Tenggara Timur Saudara Emanuel Melkiades Laka yang saya hormati; Gubernur Maluku Utara Saudari Sherly Tjoanda, kok yang tepuk tangan Gubernur Maluku Utara;
Gubernur Nusa Tenggara Barat Saudara Lalu Muhamad Iqbal yang saya hormati.

Para gubernur, para bupati, dan wali kota, mungkin yang hadir juga ini banyak sekali bupati, ini bupati yang hadir di sini, ya? Bupati Ogan Komering Ulu Saudara Teddy Meilwansyah, Bupati Kepulauan Anambas Saudara Aneng, Bupati Natuna Saudara Cen Sui Lan, Bupati Kaur Saudara Gusril Pausi, Bupati Lampung Selatan Saudara Radityo Egy Pratama, Bupati Lebak Saudara Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya, Bupati Pandeglang Saudari R. Dewi Setiani, Bupati Sumedang Saudara Dony Ahmad Munir, Bupati Kuningan Saudara Dian Rachmat Yanuar, Bupati Majalengka Saudara Eman Suherman, Bupati Wonosobo Saudara Agus Subagiyo, Bupati Cilacap Saudara Syamsul Auliya Rachman, Bupati Rembang Saudara Harno, Bupati Sragen Saudara Sigit Pamungkas, Bupati Katingan Saudara Saiful, Bupati Barito Kuala Saudara Bahrul Ilmi, Bupati Bua Lemo Saudara Rum Pagau, Bupati Pangkajene Kepulauan Saudara Muhammad Yusran Lalogau, Bupati Soppeng Saudara Suwardi Haseng, Bupati Buton Tengah Saudara Azhari, Bupati Maluku Tengah Saudara Zulkarnain Awat Amir, Bupati Bone Saudara Andi Asman Sulaiman, Wali Kota Bandar Lampung Saudari Eva Dwiana, Wali Kota Cirebon Saudara Effendi Edo, Wali Kota Kediri Saudari Vinanda Prameswari, Prameswati, sorry, ya, Wali Kota Blitar Saudara Syauqul Muhibbin, Wali Kota Pasuruan Saudara Adi Wibowo, Wali Kota Palangkaraya Saudara Fairid Naparin, Wali Kota Banjarbaru Saudari Erna Lisa Halaby.

Menko-Menko yang hadir tadi, ya, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Saudara Pratikno, tadi Saudara Muhaimin sudah tadi saya sebut, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, Saudara Prasetyo Hadi, Menteri Luar Negeri Saudara Sugiono, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Profesor Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Profesor Brian Yuliarto, Menteri Komunikasi dan Digital Saudara Meutya Viada Hafid, yang saya hormati Menteri Pekerjaan Umum Saudara Dody Hanggodo, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Bidokrasi Saudari Rini Widyantini, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Saudari Arifah Choiri Fauzi, Menteri Perhubungan Saudara Dudy Purwagandhi.

Tadi Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo tadi sudah disebut, Sekretaris Kabinet RI Letkol Teddy Indra Wijaya, Kepala Staf Kepresidenan Saudara Muhammad Qodari, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Saudara Angga Raka Prabowo. Nama Prabowo kok, banyak sekali ini. Pasti orang baik, yang namanya Prabowo ini, mudah-mudahan, insyaallah. Kepala Badan Pusat Statistik Saudari Amalia Widyasanti, Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Saudara Muhammad Yusuf Ateh. Kau asal mana ya, Pak Ateh? Sunda? Ha? Palembang-Sunda? Oke. Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Saudara Budiman Sudjatmiko. Ada? Coba dicatat ini. Ini sambil saya absen, ini absen sebetulnya ini. Kepala Perpustakaan Nasional RI Saudara Aminudin Aziz, ya, bagus hadir, saya catat ini. Wakil Menteri Kesehatan Saudara Benjamin Paulus Octavianus, Wakil Menteri Dalam Negeri Saudara Letnan Jenderal Polisi Akhmad Wiyagus, Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang Saudara Ossy Dermawan, terima kasih.

Saudara-saudara,
Terima kasih kesabaran Saudara-saudara. Kenapa saya bacakan satu-satu? Karena mereka sudah membuat atau mengeluarkan suatu usaha, tenaga, mereka meluangkan waktu mereka hadir jauh-jauh ke sini, jadi saya kira pantas untuk disebut. Eh, Menteri [Kepala] Bappenas, belum, ya? Wah, enggak ada ini, [Kepala] Bappenas di sini, wah, aduh, gimana? Hah? Mana, sekpri? Gimana, sekpri? Ngarang,kau. Wah, pelakunya ini. Sekpri saya, Saudara Agung Surahman akan menikah tanggal 18, 18 Januari ini, hari Sabtu. Berapa hari sebelum menikah, masih mau kerja, masih mau masuk. Jadi walaupun tadi agak kurang, ya saya maafkan, lah. Apa? Enggak dengar saya, kau. Kaget saya pagi-pagi, “Saya ikut, Pak”, “Lo, kau kan, mau menikah sebentar lagi, sudah siap semua?”, “Sudah, Pak, sudah siap semua”, masih mau hadir, ya, walaupun kurang-kurang dikit, ya. Profesor Rahmat Pambudi [Menteri PPN/Kepala Bappenas], terima kasih. Kenapa kau buka kopiah? Supaya kelihatan pintar. Jadi, kalau orang botak itu pasti pintar. Orang pintar belum tentu botak tapi kalau orang botak pasti pintar, dan saya beruntung karena tim saya banyak orang botak. Di sini ada berapa dirut? Dirut Agrinas Pangan, ini orang dari Timor Timur tadinya, tapi loyal sama merah-putih, ikut ke sini, beliau namanya Joao Mota, namanya panjang sekali, Joao Angelo De Sousa Mota, benar? Kepala juga mulai botak, pintar pasti.

Saudara-saudara sekalian,
Saya hari ini sangat bahagia, Saudara-saudara sekalian. Saya ucapkan terima kasih kepada semua unsur dan semua K/L, semua lembaga, semua elemen yang telah bekerja mewujudkan suatu langkah. Menurut saya ini langkah, langkah terobosan, langkah berani, terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini. Dan, saya terus terang saja cukup bahagia, cukup besar hati, saya terharu sebetulnya, melihat dampak daripada upaya kita. Yang saya katakan Saudara-saudara, cara bernegara, cara bernegara. Oh iya, ini saya lihat ada asisten khusus saya juga, Saudara Yuza, botak juga, kan? Saya punya dua asisten khusus, ya, di bidang komunikasi, yang nyusun pidato-pidato saya, yang satu namanya Agung juga, Acil, orang Garut, ya. You lihat, kan, dua-duanya botak, kan? Nah, jadi teori saya benar, mereka pintar-pintar, dan memang mereka pintar-pintar, terima kasih.

Jadi Saudara-saudara,
Cara berpikir, dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional, yang normatif adalah membangun pertumbuhan, ya, dan ada pemikiran selama ini, ya, pemikiran neoliberal, biar yang kaya enggak apa-apa 0,1 persen, lama-lama menurut teori ini, karena pertumbuhan, kekayaan menumpuk, enggak apa-apa menumpuk di atas, lama-lama akan menetes ke bawah. Nah, ini teori, tapi kenyataannya menetesnya kapan sampai ke bawah? Jangan-jangan menetesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya, tidak tepat untuk kita, untuk negara seperti kita, yang pernah dijajah, yang merdeka karena perjuangan, merdeka karena ratusan tahun perjuangan, di mana waktu kita merdeka, ya, sebagian besar rakyat kita, ya, tidak punya apa-apa. Kemudian kita bangun, bagus pertumbuhan, ternyata kalau kita hanya mengejar pertumbuhan, dan tidak melihat, tidak berani melihat, pertumbuhan ini benar-benar dirasakan enggak oleh rakyat yang paling bawah? Nah, di situ, disitu tugas para pemimpin.  Kita harus berani melihat, kita harus berani melihat kekurangan kita, dan kita harus ambil langkah. Langkah kita harus berani.

Saudara-saudara,
Pertumbuhan harus disertai oleh pemerataan suatu sistem yang tidak cepat. Mengusahakan, mengupayakan pemerataan, sistem itu kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa. Saya ingatkan Saudara-saudara sekalian, tujuan bernegara kita, tujuan kita merdeka adalah untuk membawa kesejahteraan, kehidupan yang lebih baik untuk seluruh rakyat Indonesia. Berkali-kali, pendiri-pendiri bangsa kita menggarisbawahi itu, ada dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Kita harus memajukan kesejahteraan umum, dan juga, yang pertama kita melindungi segenap tumpah darah Indonesia. Melindungi apa? Melindungi dari mana? Melindungi dari ancaman. Ancaman apa? Melindungi dari ancaman kelaparan, melindungi dari ancaman kemiskinan, melindungi dari ancaman penderitaan, melindungi dari ancaman penyakit, ini tujuan kita merdeka. Untuk apa kita merdeka? Kita punya lagu kebangsaan, apa lagu kebangsaan itu hanya untuk dinyanyikan?

Saudara-saudara sekalian,
Saya ingatkan kembali ke semua unsur, terutama orang-orang pintar. Saudara-saudara, kita bernegara untuk memperbaiki kehidupan seluruh rakyat Indonesia, bukan segelintir rakyat, seluruh rakyat Indonesia, itu tujuan bernegara. Dan, untuk itu, saya berterima kasih, waktu saya memang melakukan perintisan karier sebagai prajurit, prajurit TNI karena TNI memang adalah tentara rakyat, TNI dari tahun awal kemerdekaan seterusnya, selalu berada di tempat-tempat yang paling susah. Hari ini pun, TNI bersama Polri terjun di tempat yang paling susah di mana rakyat menderita akibat bencana di Sumatra dan di beberapa tempat, bersama lembaga-lembaga lain, bersama relawan, tapi TNI dan Polri terjun. TNI dan Polri sebenarnya adalah satu, adalah satu, karena TNI dan Polri lahir dari perjuangan kemerdekaan. Saya selalu ingatkan, ya memang kalau negara yang maju, seolah-olah maju, negara Barat, negara apa, tuh, seolah mau pisahkan, polisi urusannya hanya kamtibmas. Lahirnya republik, polisi ikut perang, polisi ikut perang. Di awal, karena kita enggak punya anggaran, kita tidak jelas, awal republik, lahirnya republik.  Jadi khusus di Indonesia dan dulu pernah kita jadi satu, tapi enggak apa-apa, yang penting adalah sifat, nafas, semangat, kesadaran, kesadaran berbangsa, cinta tanah air, ini yang paling penting. Dan, saya melihat, hari ini kita buktikan, semua unsur ikut, dan tidak kecil peranan para gubernur dan para bupati kita.

Dan, saya terima kasih, program-program kita berhasil karena dukungan semua,  dukungan bupati, dukungan wali kota, dukungan gubernur, dukungan pimpinan polisi, pimpinan tentara, dukungan semua, ke K/L-K/L di mana-mana. Ini bukti kita berbuat sehingga anak-anak kita hari ini, yang tadinya mungkin sulit sekolah, sekarang mereka punya harapan. Saya terkesima hari ini, terus terang saja, terkesima. Bisa ada anak yang tidak punya dalam beberapa bahasa, luar biasa, yang mereka itu, yang bahasa Inggrisnya, menurut saya luar biasa, karena saya besar di luar negeri. Kalau saya bahasa Inggrisnya bagus, ya wajar, saya pernah tinggal di daerah-daerah situ. Tapi anak ini, saya kagum juga sama dia tadi. Siapa namanya itu, ya? Nanti yang…tadi itu yang berbahasa bagus itu, semua ya nanti suruh menghadap saya, ya. Mungkin bagusnya kita kirim juga ke luar negeri, kira-kira, gimana setuju, enggak? Dan, saya kagum, masa baru enam bulan tadi saya lihat, sudah ada yang juara olimpiade ini, juara itu, luar biasa. Juara Olimpiade Matematika, luar biasa, saya sangat terkesima, saya sangat terharu, bahkan. Mudah-mudahan kamera enggak menuju ke saya tadi, sulit saya tahan air mata juga. Sama dengan medsos [media sosial]. Kita terharu, kita keluar air mata karena apa? Karena bangga, karena bahagia, melihat anak-anak kita. Dan, kita tergerak, teringat. Kenapa kita teringat? Bayangkan, bayangkan, kalau waktu itu kita, saya dan menteri-menteri, tidak ambil sikap yang berani, mari kita berbuat yang mungkin tidak lazim. Kita bikin sekolah yang terbaik, sekolah berasrama untuk mereka-mereka yang mungkin tidak punya harapan, mereka yang dari keluarga yang kondisinya tertinggal.

Saudara-saudara, Anak-anak, Anak-anak Sekolah Rakyat, Murid-murid, Anak-anakku,
Jangan kau kecil hati, jangan kau malu, orang tuamu hanya buruh atau hanya petani miskin, atau hanya tukang pemulung, jangan kau malu. Mereka, mereka mulia, mereka kerja keras, halal, bekerja dengan keringat untuk masa depanmu. Jangan pernah kecil hati. Hormati orang tuamu, kalau perlu kau pulang, kau sungkem, kau cium kaki orang tuamu. Jangan pernah kau malu. Mereka lebih mulia dari orang-orang pintar, tapi koruptor-koruptor yang berkhianat kepada negara dan bangsa. Saya lebih hormat sama pemulung, saya lebih hormat dengan dengan tukang becak yang kerja dengan keringat daripada mereka yang pintar-pintar tapi mencuri uang rakyat, saya lebih hormat. Karena presiden, ya saya boleh bicara, iya, kan?

Saudara-saudara,
Jadi, saya tidak mau anak-anak SR (Sekolah Rakyat) ya, memang jangan sekali-sekali. Selalu, selalu hormati orang tuamu. Kalau dia belum mampu, bukan salah dia, bukan salah orang tuamu. Memang negara kita belum mampu memberi terbaik untuk semua rakyat. Tapi kita akan berjuang keras, kita berjuang keras, supaya semua kekayaan negara akan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Saya kira saya tidak mau panjang lebar pidato, ya, nanti bisa kebablasan ini, karena saya kalau sudah begini, ya, bisa dua-tiga jam pidato saya. Apalagi saya lihat ada kopi di sini. Saya minta izin, boleh minum kopi? Boleh? Izinnya ke siapa, ya? Saya minta izin minum, ya. Biasanya kalau habis satu cangkir itu, pidato saya tiga jam. Masih kuat dengar saya? Benar? Benar? Anak-anakku, mau dengar aku terus? Yang anak-anak pengin, hanya menteri-menteri saya capai. Karena menteri-menteri saya, tiga kali atau empat kali seminggu dengar pidato semacam ini, dia. Tapi saya, enggak, saya benar-benar bahagia hari ini, kementerian-kementerian saya, kabinet saya, saya merasakan kompak. Jangan percaya orang-orang yang terlalu pintar, ya, yang ngomong di mana, di sosmed [social media], menganalisa, terjadi sesuatu perpecahan di antara lingkungannya Prabowo, wah, seru. Saya sendiri, saya sendiri, tertarik, dari mana ini?

Tapi enggak, saya merasa kerja keras, kompak, teamwork yang luar biasa, ya, sehingga kita mencapai keberhasilan demi keberhasilan, bukti demi bukti. Desember 31, 2025. Saya ulangi, Desember 31, tahun 2025, resmi Indonesia mencapai swasembada beras. Di tengah tahun 2024 dan 2025, Indonesia mengalami El Nino dilanjutkan dengan kekeringan berkepanjangan, kita bisa mengatasi, dan kita bisa menghasilkan produksi beras tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Cadangan beras kita di gudang pemerintah hari ini, tertinggi selama sejarah Republik Indonesia, Saudara-saudara, dan kita akan terus memperkuat, terus memperkuat. Sebentar lagi, kita swasembada jagung untuk pakan para petani dan peternak. Habis itu, kita akan swasembada di bidang-bidang lain. Juga, hari ini kita berhasil melihat dan meresmikan 166 Sekolah Rakyat. Sasaran kita adalah 500 Sekolah Rakyat sampai tahun 2029, insyallah akan tercapai.

Dan, saya minta maaf kami masih belum bisa menghasilkan lebih banyak daripada yang sekarang, ini pun usahanya sudah luar biasa. Dan, saya untuk itu, saya sampaikan penghormatan saya sebesar-besarnya kepada Menteri Sosial dan jajarannya yang bekerja keras. Tentunya didukung oleh para Menko, ya, Pak Muhaimin, Profesor Pratik, didukung oleh menteri-menteri Dikdasmen, [Kementerian] Dikti dan Sains, Menteri Agama. Semua menteri-menteri yang dukung ini luar biasa. Dan, saya percaya di ujungnya kita akan capai target kita 500 [SR] dan tiap sekolah nanti ujungnya, sasaran kita adalah tiap sekolah adalah 1.000 murid, 1.000 murid. Kalau hari ini baru sampai 15.000 [murid], tapi saya dilaporkan mungkin akhir tahun ini akan mencapai 30.000. Tapi, ujungnya sasaran kita adalah tiap kampus, sekolah, rakyat adalah 1.000 murid, berarti sasaran kita nanti 500.000, 500.000 murid.

Cita-cita saya di akhir masa jabatan saya, tahun 2029, bahwa mereka yang berada di kemiskinan ekstrem, Desil 1 dan 2, bisa kita ubah nasibnya, kita bisa hilangkan kemiskinan ekstrem di Indonesia. Saya percaya itu bisa terjadi. Keberhasilan-keberhasilan kita sangat banyak, tapi kalau saya rinci di sini saya kira panjang sekali. Bukan kita sombong, bukan kita membangga-banggakan, tapi kita harus, kita harus bangga dengan prestasi, kita harus bangga dengan bukti, ya. Tidak boleh kita tidak mengerti keberhasilan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang rendah diri. Rendah hati boleh, jangan rendah diri, jangan inferior. Kalau Indonesia selalu jelek, enggak boleh, tidak benar. Indonesia berprestasi, Indonesia bisa berprestasi, Indonesia akan berprestasi, dan Indonesia akan bangkit menjadi negara yang baik, negara yang maju, negara yang sejahtera.

Saudara-saudara,
Di tengah kondisi dunia yang penuh gejolak, penuh ketidakpastian, kita bersyukur negara kita masih dalam keadaan yang baik, potensi kita sangat besar, kekayaan kita sangat banyak. Tidak gampang puluhan tahun, kekayaan kita kurang tertib dikelola. Tidak mudah, banyak orang mengejek saya, saya tahu. Sebetulnya enggak banyak, segelintir orang saja, hanya dia mungkin punya uang, dia punya sarana, dia bisa menyebarkan, dia bisa menyebarkan sinisme, pesimisme, dan kemungkinan besar mereka dibayar oleh kekuatan-kekuatan asing. Itu keyakinan saya, kepercayaan saya. Kalau orang Indonesia yang bersih, jujur, pasti melihat, yang benar adalah benar, yang tidak benar adalah tidak benar. Kita berbuat yang baik, berbuat yang benar masih dicaci-maki, tapi tidak apa-apa, kita tidak ragu-ragu.

Saya hari ini merasa bahwa tekad kita benar dan dibuktikan benar. Setelah enam bulan kita melihat keadaan anak-anak kita seperti ini, luar biasa ini, ya. Jadi sekali lagi, sekali lagi, saya mengajak semua, seluruh bangsa Indonesia selalu, mari kita bersatu, mari kita kerja sama untuk menghilangkan kemiskinan dan kelaparan dari Indonesia. Kita bangkitkan semua kehidupan bangsa Indonesia. Pendidikan adalah sarana, sarana yang paling benar untuk menghilangkan kemiskinan. Tapi pendidikan butuh uang. Uang kita kalau dicuri, kalau dikorupsi, kurang untuk membangun semua sekolah yang kita ingin bangun, Saudara-saudara, semua kampus yang kita ingin bangun.

Saudara-saudara,
Kita kekurangan dokter, kita kekurangan ratusan ribu dokter. Rakyat kita perlu dokter, perlu dokter gigi. Tidak bisa hanya dengan bicara, dengan memfitnah, menghardik, mengejek, tidak bisa. Kita harus buka sekolah-sekolah, kampus-kampus yang banyak. Dan, saya akan buktikan kepada seluruh rakyat Indonesia, dalam waktu dekat, kita akan buka kampus-kampus kedokteran. Dan, di kampus kedokteran ini, dan rencana saya, kampus-kampus kedokteran, kampus-kampus teknik dan yang sebagainya, nanti dibuka untuk semua anak-anak Indonesia dan mereka tidak boleh bayar, dibayar oleh negara. Saya ingin anaknya tukang pemulung bisa jadi insinyur, bisa jadi dokter, bisa jadi pengusaha, bisa jadi jenderal, itu cita-cita saya, Saudara-saudara. Saya akan bangga melihat itu.

Sekali lagi, kita harus berani. Siapa berani dia menang, berani berbuat. Sebelum berbuat, berani melihat keadaan yang sebenarnya. Berani melihat kesulitan, berani menghadapi kesulitan. Jangan lari dari kesulitan, jangan menutupi kesulitan. Lihat kesulitan, hadapi, atasi. Baru kita bangkit sebagai bangsa. Terima kasih. Cukup?

Saudara-saudara,
Karena saya harus ada acara lagi di Balikpapan, meresmikan suatu kilang, suatu modernisasi kilang minyak di Balikpapan. Dengan modernisasi kilang minyak ini, kita akan menghemat devisa yang banyak. Kita tidak perlu lagi impor-impor terlalu banyak BBM [bahan bakar minyak].

Saudara-saudara,
Kita mengerti, masalah sudah mengerti. Tim saya sudah mengerti, tim saya bekerja keras. Kita hadapi, ada bencana, kita atasi, ya, kan? Ada kesulitan kita atasi. Terima kasih, tim saya semuanya. Di depan rakyat, saya mengatakan, saya bangga dengan prestasi tim saya, dan saya percaya, kita dalam bulan-bulan akan datang, kita akan beri terus-menerus bukti hasil prestasi kepada rakyat Indonesia dalam minggu-minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun mendatang. Tentunya, kami, saya, tidak punya tongkat Nabi Musa. Saya juga tidak punya tongkat Nabi Sulaiman. Tidak bisa seketika. Tapi insyaallah, setapak demi setapak, kita bekerja dengan cepat. Perjalanan seribu kilometer dimulai dengan satu langkah dan kita sudah berbuat banyak langkah, Saudara-saudara sekalian.

Makan Bergizi Gratis (MBG) hari ini, kalau tidak salah, sudah mencapai 58 juta, 58 juta penerima manfaat, 58 juta anak-anak, ibu-ibu hamil, dan lansia menerima makan tiap hari, tiap hari sekolah, ya. Tapi kalau yang ibu-ibu hamil, tujuh hari diberi. Lima puluh delapan juta [penerima manfaat], dalam satu tahun. Negara mana yang bisa berbuat itu? Negara mana? Dan, total sudah kita beri makan itu, kalau tidak salah tiga miliar porsi sudah kita cetak, Saudara-saudara sekalian. Ini prestasi. Dan, insyaallah paling lambat akhir tahun ini, kita akan sampai sasaran kita, 82 juta lebih penerima manfaat. Kalau Januari saja sudah 58 juta, saya percaya kita akan capai [bulan] Desember. Walaupun Kepala BGN [Badan Gizi Nasional] mengatakan, “Tidak, Pak, kami akan lebih cepat dari Desember.” Oke, jangan dipaksa. Teliti. Buat yang terbaik. Kita juga akan melihat beroperasinya minimal 25 ribu Koperasi Merah Putih. Dari rencana kita 81 ribu, kita yakin bulan Maret-April akan berfungsi beroperasi 25 ribu koperasi. Berarti akhir Desember, saya berharap akan mencapai minimal 60 ribu Koperasi Merah Putih, Desember 2026. Artinya, ekonomi kita akan bangkit di semua bidang.

Saya kira itu. Terima kasih sekali lagi, semua unsur yang bekerja keras untuk Sekolah Rakyat. Terima kasih anak-anakku, atas semangatmu. Guru-guru, terima kasih. Kepala sekolah, terima kasih. Saya minta dibina dengan baik. Guru harus selalu memberi contoh, ya, guru harus memberi contoh. Saya minta para guru selalu memberi yang terbaik, memberi contoh. Tampil di depan murid harus dalam keadaan yang baik, yang tertib, yang rapi, ya. Kalau perlu saya minta juga bantuan TNI dan Polri secara bergilir, mungkin mengirim beberapa perwira untuk bantu, mungkin dikunjungi bergiliran dan dibina, diberi cara berpakaian yang baik, cara pakai dasi yang baik, ya, cara pakai baret yang baik. Saya minta Seskab dan Mensesneg bantu Mensos, bantu Menko-Menko. Dilihat lagi, ya, kan, yang mungkin kurang apa, kita perbaiki, ya, kan. Kalau ada baret-baret yang kekecilan diganti yang tidak kekecilan, ya.

Jadi Saudara-saudara,
Anak-anak Indonesia yang akan digembleng di candradimuka tadi, candradimuka Sekolah Rakyat harus dibina dengan baik. Penampilannya harus baik. Luar biasa tadi yang dari Pasuruan, ya? Hebat sekali, lo, komandannya suruh menghadap saya nanti. Saya kira tidak kalah dengan SMA Taruna Nusantara (TN). Sikapnya itu, lo. Balik kanannya itu luar biasa, saya belum pernah lihat, enggak tahu saya. Pak Sugiono, kepala lembaga, ya? Kau kepala lembaga TN, ya? Kau lulusan TN, ya? Enggak yakin so, balik kananmu sama dengan ini. Tapi kamu sudah menteri, saya enggak mau uji kamu. Duduk, duduk, duduk. Gila, ya. Wah, luar biasa.

Saya ini, saya ini orang Jawa tapi dari Banyumas. Setengah Banyumas, setengah Sulawesi. Jadi kalau orang Banyumas itu agak beda dengan orang Solo. Mana, ada orang Solo di sini? Kalau orang Solo itu bicaranya halus, ya, kan? Kalau Banyumas itu bisa-bisa orang Banyumas itu ya, mungkin mirip-mirip Madura lah, kira-kira, ya. Jadi, apa adanya. Kalau tidak benar, saya bilang tidak benar. Tapi kalau baik, saya bilang baik. Kalau hebat, saya bilang hebat. Kalau kagum, walaupun anak kecil, saya kagum tadi. Luar biasa tadi baris-berbarisnya. Mungkin, mungkin kira-kira apa? Kita kasih beasiswa juga anak itu, ya. Kita lihat umurnya berapa. Kita jangan ragu-ragu. Prestasi, hormati, beri penghargaan. Cepat.

Salah satu kekurangan bangsa kita adalah pelit, pelit memberi penghargaan, ya. Tapi saya senang sekarang. Panglima TNI dan Kapolri tidak pelit. Berprestasi, naikin pangkat. Apa ruginya? Ya, kan. Kalau yang sipil-sipil, berprestasi, kalau masih sekolah, kasih beasiswa, sekolahkan ke mana, ya. Yang nakal-nakal, bina lagi, enggak apa-apa, ya, kan. Saya dulu waktu muda, ya, tergolong murid yang ya, agak nakal juga.

Saya kira itu dari saya. Terima kasih sekali lagi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om santi santi santi om,
Namo Buddhaya, 
Salam kebajikan.

Semoga Tuhan Maha Besar, Allah Swt., senantiasa melindungi Saudara-saudara sekalian, melindungi anak-anak kita. Semoga seterusnya terus semangat, terus bekerja keras. Belajar, belajar, belajar, untuk nanti Saudara-saudara angkat orang tuamu ke tempat yang lebih baik.

Terima kasih.

Selamat berjuang. Kita berada di jalan yang benar. Kita tidak ragu-ragu apapun yang terjadi. Kita akan terus dalam perjuangan demi bangsa dan rakyat Indonesia. Terima kasih.

Selesai.

Transkrip Pidato Terbaru