Sambutan Presiden Republik Indonesia Pada Taklimat Awal Tahun Presiden Republik Indonesia di Hambalang, Provinsi Jawa Barat, Selasa, 6 Januari 2026

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 7 Januari 2026
Kategori: Sambutan
Dibaca: 131 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Syalom,
Salve,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan,
Rahayu, rahayu.

Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia Saudara Gibran Rakabuming Raka;
Para Menteri Koordinator, para Menteri, para Kepala Badan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional, para Penasehat Khusus Presiden, Jaksa Agung, Kepala BIN, Kapolri, Panglima TNI, dan seluruh Kepala Staf Angkatan, para Wakil Menteri, dan seluruh anggota Kabinet Merah Putih yang saya banggakan.

Pertama-tama, tentunya sebagai insan yang bertakwa marilah kita tidak henti-hentinya memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Mahabesar, bagi umat Islam – Allah SWT atas segala karunia kesehatan, kebaikan yang masih diberikan kepada kita sehingga kita dapat berkumpul di siang hari ini di Hambalang, Jawa Barat.

Hari ini saya sengaja mengundang Saudara-saudara berkumpul di Hambalang, di Padepokan Garuda Yaksa untuk memberi Taklimat Awal Tahun 2026. Pertimbangan saya kumpulkan adalah: Pertama, untuk kita evaluasi kerja kita tahun lalu, selanjutnya kita memahami kondisi bangsa kita di tengah dinamika dan gejolak dunia, dan selanjutnya kita melihat ke depan tahun ini langkah-langkah apa yang harus kita laksanakan, sasaran-sasaran apa yang harus kita capai.

Saudara-saudara sekalian,
Kita memahami bahwa kondisi bangsa kita penuh dengan tantangan dan cobaan. Yang terakhir, tentunya kita memahami benar bencana-bencana yang terjadi di tiga provinsi di Aceh, tetapi juga di beberapa tempat-tempat lain [seperti] di Jawa Barat juga, di Jawa Tengah, di beberapa tempat lain. Jadi, Saudara-saudara, kita hadapi itu. Dan, kita dengan hadapi itu, kita memahami benar bahwa ternyata negara kita sesungguhnya memiliki kekuatan, negara kita telah mampu dan terus-menerus membuktikan kepada rakyat kita dan sesungguhnya kepada diri kita sendiri, kepada elit kita bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia punya kekuatan. Kita memahami itu dan kita terus telah membuktikan itu di tahun 2025 dan akan kita buktikan di tahun 2026 ini.

Saudara-saudara sekalian,
Dengan ini semua, saya ingin menggunakan kesempatan pertama di awal taklimat saya untuk menyampaikan terima kasih saya yang sedalam-dalamnya dari hati saya. Terima kasih saya sebagai Presiden, sebagai pemimpin, sebagai penerima mandat dari rakyat Indonesia, sebagai boleh dikatakan nahkoda, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada pembantu-pembantu saya yang paling inti: Saudara-saudara para Menko, para Menteri, para Kepala Badan, Wakil Kepala Badan, pejabat-pejabat lembaga-lembaga tinggi negara yang sangat penting, Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, Kepala BIN, semuanya para Kepala Staf.

Saudara-saudara,
Kita telah membuktikan kepada bangsa dan negara, kepada rakyat kita, kita buktikan dengan kenyataan, kita buktikan dengan fakta, facts on the ground yang bisa diukur, bisa dipegang, bisa dilihat, dengan demikian saya menyampaikan penghargaan kepada Saudara-saudara sekalian. Tidak mungkin saya sebagai Presiden bisa melaporkan hal ini kepada bangsa, tanpa kerja keras Saudara-saudara semuanya.

Saudara-saudara,
Walaupun mungkin tidak terlalu sering saya kumpulkan Saudara-saudara, Saudara-saudara telah bekerja dengan penuh inisiatif, dengan penuh pemahaman, keberanian. Karena, Saudara-saudara, mengambil keputusan, mengambil inisiatif itu membutuhkan keberanian, yang paling aman, paling gampang itu tidak berbuat apa-apa atau menunggu petunjuk. Tetapi, pemimpin sejati, pemimpin sebenarnya adalah mereka yang memahami strategi besar, memahami tujuan, memahami direktif pemimpin sehingga yang dipahami adalah arah besar, adalah petunjuk umum, bukan tiap keputusan harus menunggu petunjuk atasan.

Jadi, Saudara-saudara, apa yang telah kita capai menurut saya sangat membanggakan. Salah satu landasan pertama dari strategi transformasi bangsa yang saya canangkan, yang saya tawarkan kepada rakyat sewaktu saya dan Saudara Gibran mencalonkan diri sebagai Presiden dan Wakil Presiden, kita maju ke hadapan rakyat dengan sesuatu strategi, strategi tertulis, strategi terukur, strategi melalui kajian puluhan tahun. Strategi yang kita yakini yang kita sebut strategi transformasi bangsa, di mana esensi-esensinya adalah: Yang pertama, bangsa Indonesia harus mandiri, bangsa Indonesia harus berdiri di atas kaki kita sendiri dan di situ elemen utamanya adalah swasembada pangan. Tidak ada bangsa yang merdeka bilamana bangsa itu tidak bisa menjamin makan untuk rakyatnya dan awalnya adalah swasembada beras karena beras adalah makanan pokok kita, tapi yang dikatakan swasembada pangan adalah tidak hanya beras, [melainkan] beras, jagung, singkong, dan yang lain-lain. Swasembada pangan artinya adalah karbohidrat dan protein, kita harus swasembada protein. Dan juga, selain swasembada pangan, dasar selanjutnya adalah swasembada energi. Kalau kita tergantung dengan bangsa lain untuk energi kita, tidak mungkin kita makmur, tidak mungkin kita lepas dari kemiskinan.

Saudara-saudara,
Strategi ini ternyata dibenarkan oleh dinamika dunia. Kita bisa bayangkan, kalau kita tidak swasembada beras di tengah konflik dimana-mana, di tengah perang dimana-mana. Sumber impor beras kita tadinya adalah Thailand dan Kamboja dan Vietnam, sekarang Thailand sama Kamboja perang terus, setelah perang – negosiasi – gencatan senjata – damai – meletus lagi, meletus lagi. Dalam keadaan seperti itu bayangkan, amankah kita tergantung impor dari negara yang konflik? Salah satu makanan kita juga dari India, India perang sama Pakistan.

Saudara-saudara,
Kita juga pernah mengalami Covid-19, semua negara pengekspor makanan menutup. Kita tidak bisa impor, walaupun kita punya uang. Dan, impor berarti devisa kita keluar. Jadi, Saudara-saudara, pangan dan energi harus kita mandiri, harus kita mandiri. Alhamdulillah, target yang saya berikan kepada tim, tim pangan kita, saya berikan target waktu awal pemerintahan yang saya pimpin adalah empat tahun untuk swasembada pangan. Alhamdulillah, Desember 31 tahun 2025 waktu 24.00 bisa kita dengan resmi mengatakan di tahun 2025 Republik Indonesia swasembada beras. Dan, saya juga cukup merasa besar hati, bangga, bahwa hari ini cadangan beras kita di gudang-gudang pemerintah Indonesia adalah yang tertinggi selama sejarah berdirinya Republik Indonesia. Pernah di pemerintahan Presiden Soeharto, kita di puncaknya pernah punya cadangan beras di gudang pemerintah [sebanyak] 2 juta ton. Hari ini cadangan beras kita di gudang pemerintah lebih dari 3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia. Ini saya kira adalah akibat kerja keras semua unsur.

Saudara-saudara sekalian,
Kita juga mencanangkan di awal pemerintahan program Makan Bergizi Gratis. Pertimbangannya sangat sederhana, bahwa dari semua kajian rata-rata satu dari lima anak Indonesia kekurangan gizi [yaitu] 20 persen, di beberapa daerah sampai 30 persen lebih. Itu yang jelas dikatakan malnutrisi/stunting, badannya sangat lemah, pertumbuhannya tidak normal. Kemudian, ternyata puluhan juta anak-anak Indonesia berangkat sekolah tanpa makan pagi, banyak juga makan mereka hanya nasi dengan daun-daun. Untuk itu, kita telah melihat contoh-contoh banyak negara dan kita canangkan Makan Bergizi ini kita mulai pada tanggal 6 Januari 2025, hari ini adalah 6 Januari 2026 dan kita sudah mencapai hari ini dilaporkan kepada saya 55 juta penerima manfaat, 55 juta, [sekali lagi] 55 juta anak-anak Indonesia menerima makan tiap hari dan termasuk ibu-ibu hamil. Ini sesuatu yang membanggakan juga, karena negara-negara yang kita ketahui contoh Brasil, Presiden Brasil menyampaikan kepada saya mereka butuh 11 tahun untuk mencapai 40 juta penerima manfaat, kita satu tahun mencapai 55 juta penerima manfaat. Apakah ada kekurangan? Ada. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan. Apakah ada penyimpangan? Pasti. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan, tetapi kita bersyukur bahwa kalau kita pelajari dengan objektif statistik boleh dikatakan bahwa kita 99,99 persen berhasil.

Jadi, Saudara-saudara, tentunya kita harapkan zero defect, itu yang harus kita capai. Tidak kita puas dengan kekurangan 0,00 sekian [persen] itupun bagi kita sesuatu yang harus kita atasi dan alhamdulillah kita sudah mengatasi, dan kita sedang atasi terus. Langkah demi langkah, pengawasan demi pengawasan, langkah-langkah pengamanan terus kita lakukan, tetapi intinya adalah bahwa kita intervensi.

Saya ingat kata-kata pendahulu-pendahulu kita, salah satu ucapan Bung Karno: The hungry stomach cannot wait – perut yang lapar tidak bisa tunggu. Pemimpin yang bertanggung jawab, pemimpin yang punya hati, pemimpin yang punya kepedulian harus bekerja keras untuk menghilangkan kelaparan dan kemiskinan, ini tugas yang kita embani, tugas mulia. Alhamdulillah kita penuh keyakinan, kita buktikan. Saya sangat yakin, walaupun begitu banyak pakar yang mengejek saya dan tim saya, menyinyir, mereka katakan MBG pasti gagal, tetapi kita buktikan kepada mereka MBG berhasil, MBG dinantikan oleh semua rakyat. Bahkan, sekarang saya repot, saya sedih kalau saya ke daerah-daerah anak-anak panggil saya, teriak [kepada] saya, “Pak, kapan kami terima MBG?” Dan, kita lihat video clip bagaimana kendaraan MBG datang, rakyat menunggu, menyambut.

(Video terkait MBG ditampilkan)

Saya tidak paham, manusia macam mana yang tidak tergerak hatinya melihat anak-anak seperti itu, saya tidak paham. Hei orang-orang pintar, hei orang-orang pintar yang ngejek, lihatlah dengan mata dan hatimu rakyat kita, anak-anak itu.

Saudara-saudara,
Percaya kita berada di jalan yang benar, di jalan membela keadilan, di jalan memberantas kemiskinan, di jalan menghilangkan kelaparan. Kita berada di jalan yang bersih, yang suci, kita berada di jalan yang diridai oleh Tuhan Mahakuasa. Jangan ragu-ragu.

Saudara-saudara,
Kita buktikan, kalau niat kita bersih, niat kita tidak mencuri uang rakyat, kita berbuat untuk kepentingan rakyat, kepentingan bangsa kita, keselamatan bangsa kita, kita tidak perlu ragu-ragu, kita tidak perlu sedikitpun gentar. Dan, Saudara-saudara, kita pasti dimaki, kita pasti difitnah karena banyak kekuatan, tidak hanya di negara kita, banyak kekuatan memang berada di pihak yang senang di alam penuh korupsi, penuh penyelewengan, penuh penipuan, mereka ingin kaya di atas penderitaan rakyat kecil. Jadi, kita siap kalau kita dihantam, kita difitnah, kita diejek, terima itu sebagai kebanggaan. Kalau orang jahat mengejek kita, berarti kita benar, dan kita harus terus melaksanakan dan membela kebenaran.

Saudara-saudara,
Banyak sekali yang akan kita akan review, tetapi saya kira taklimat yang selanjutnya sebaiknya kawan-kawan media kita istirahat dulu. Kalau perlu mungkin makan dan minum kopi, sambil saya memberi petunjuk-petunjuk yang lebih rinci. Jadi, ada hal-hal yang boleh terbuka tetapi ada hal-hal yang sebaiknya kita simpan dulu, Saudara-saudara.

(Taklimat tetap berlanjut secara tertutup)

Sambutan Terbaru