Sambutan Presiden RI pada acara Peresmian Museum Kepresidenan Balai Kirti, di Istana Kepresidenan Bogor, 18 Oktober 2014

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 Oktober 2014
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 31.162 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang sama-sama kita hormati dan kita cintai, Bapak Habibie beserta Mas Ilham,
Yang sama-sama kita hormati dan kita cintai Ibu Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid,
Yang sama-sama kita cintai dan hormati Ibu Titiek Soeharto,
Dan yang mewakili keluarga besar Bung Karno dan keluarga besar Ibu Megawati Soekarno Putri,
Yang saya cintai Saudara Wakil Presiden Republik Indonesia beserta Para Pimpinan Lembaga-lembaga Negara, Para Menteri, dan Anggota Kabinet Indonesia Bersatu II,
Yang Mulia para Duta Besar Negara-negara sahabat dan pemimpin organisasi internasional,
Yang saya cintai para seniman dan budayawan, para sejarawan, arsitek, dan hadirin sekalian yang saya muliakan,

Alhamdulillah di hari yang istimewa dan bersejarah ini kita semua dapat hadir di Istana Bogor ini untuk bersama-sama menyaksikan peresmian Museum Kepresidenan Balai Kirti yang ada di Istana Bogor ini dan juga Museum Kepresidenan yang ada di Istana Jogyakarta.

Hadirin yang saya hormati,
Sebagai sebuah negara, Indonesia tergolong berusia muda. Menjadi negara kita belum genap satu abad. Kita memiliki enam presiden sampai hari ini dan insya Allah dua hari lagi kita akan memiliki tujuh presiden dengan dilantiknya, insya Allah, Presiden Terpilih Joko Widodo. Sungguh pun demikian kiranya apa yang dilakukan oleh presiden-presiden selama ini karyanya, tantangan dan permasalahan yang dihadapi, serta semua yang disumbangkan kepada negara dan bangsa ini perlu diabadikan dalam sebuah museum. Kita pernah mendengar bahwa sebagaimana dituturkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tadi, Bapak Muhammad Nuh, bahwa bangsa yang besar bangsa yang arif dan sekaligus bangsa yang cerdas itu adalah bangsa yang menghormati para pahlawan, para pemimpin, dan para pendahulu sekaligus bisa memetik pelajaran dari masa lalu untuk dibawa ke masa depan– kita mendengar berkali-kali ungkapan seperti itu. Sementara itu saya punya keyakinan, saya kira Bapak Habibie akan sependapat dengan saya, Ibu Shinta juga demikian, bahwa setiap pemimpin, setiap presiden pasti lah ingin berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. Tantangannya memang berbeda karena zaman terus berganti dan berubah tetapi saya pastikan pasti dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, setiap presiden baik hingga hari ini maupun presiden-presiden yang akan datang tentu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya. Oleh karena itu, dua tahun yang lalu di hadapan para Menteri terkait, para arsitek, para sejarawan, serta jajaran lembaga kepresidenan di ruang sebelah sana kami melaksanakan pertemuan. Dan saya sampaikan dua hal itu, dikandung maksud untuk memberikan semangat serta motivasi terhadap apa yang bisa kita lakukan yang tiada lain adalah membangun dan menghadirkan Museum Kepresidenan yang insya Allah akan segera kita resmikan. Kami berpendapat, Bapak/Ibu dan hadirin sekalian yang saya muliakan, bahwa generasi bangsa itu perlu mengetahui jejak perjalanan hidup dan perjuangan para presiden, sekaligus memahami semangat dan tantangan zaman yang dihadapi masing-masing presiden itu serta kontribusinya kepada bangsa dan negara.

Balai Kirti ini serta Museum Kepresidenan yang ada di Istana Jogyakarta haruslah menjadi museum yang hidup. Artinya, setiap presiden mesti mengembangkan, melengkapi, dan memutakhirkan museum itu, termasuk Balai Kirti yang ada di Istana Bogor ini. Bapak Jokowi dan Presiden-presiden mendatang hampir pasti juga akan mengembangkan lebih lanjut serta sekali lagi melengkapi dan memutakhirkan apa yang hendak kita lihat pada sore hari ini. Dan pengembangan serta pemutakhiran museum itu tentu sejalan dengan gerak perjalanan bangsa dari masa ke masa, dari periode ke periode.

Dan yang terakhir tentunya saya juga ingin memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan jajarannya, Menteri Pekerjaan Umum dan jajarannya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan jajarannya, Menteri Sekretaris Negara dan Sekretaris Kabinet dengan jajarannya, para arsitek, sejarawan dan para budayawan, dan semua pihak yang telah menghadirkan dan mempersembahkan Museum ini kepada rakyat Indonesia. Kita bersyukur kepada Allah SWT bahwa the idea and the dream come true. Kalau hanya idea tetapi tidak bisa ditransformasikan menjadi karya nyata akan tetap menjadi idea. Alhamdulillah Allah memberikan jalan dengan kerja keras kita terlahirlah dan bisa persembahkan Museum ini kepada bangsa kita.

Dua hari yang lalu saya sudah meninjau langsung Museum Kepresidenan di Istana Jogyakarta, bagus dan juga tidak kalah dengan museum-museum yang lain. Jogyakarta penting, itu kota perjuangan baik perjuangan bersenjata maupun perjuangan politik– Presiden Pertama dan Presiden Kedua menjadi pelaku sejarah, Bung Karno dan Pak Harto. Dan Jogya yang tetap dinamis dan dikunjungi oleh wisatawan tentu semestinya memiliki Museum Kepresidenan yang bisa ditampilkan dengan baik. Dan para Duta Besar saya berharap dan mengundang sekaligus untuk berkunjung ke Balai Kirti yang ada di Bogor ini maupun Museum Kepresidenan yang ada di Istana Jogyakarta.

Itulah Bapak/Ibu hadirin yang dapat saya sampaikan. Dan akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Allah SWT dan dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Balai Kirti Museum Kepresidenan yang terletak di Istana Bogor dan Museum Kepresidenan yang terletak di Istana Jogyakarta dengan resmi saya nyatakan dibuka penggunaannya.

Terima kasih,
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

(Humas Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru