Sambutan Presiden RI Pada Rakornas VI Tim Pengendalian Inflasi Derah 2015, Di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, 27 Mei 2015

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 27 Mei 2015
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 15.407 Kali

Logo PidatoBismillahirrahmanirahim

Assalamualai’kum, Wr.Wb.

Yang saya hormati Gubernur Bank Indonesia, seluruh Kepala BI, para menteri Kabinet Kerja, seluruh Kepala Lembaga Pemerintahan Kementerian, para gubernur, Bupati/Walikota seluruh Indonesia.

Hadirin dan Undangan sekalian.

Tadi sudah disampaikan secara komplit oleh Gubernur BI, mengenai masalah inflasi dan pengendaliannya. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi itu sangat penting, tetapi inflasi, pengendalian inflasi juga sangat penting.

Saya kira di setiap pertemuan 2 hal itu selalu saya sampaikan kepada Gubernur, pada Bupati dan Walikota, kenapa saya sampaikan karena percuma pertumbuhan ekonomi misalnya 5 tetapi inflasinya misalnya 12, nggak ada artinya karena masyarakat akan membeli sebuah barang, itu kan terasa betapa barang itu mahal. Tetapi kalau pertumbuhan ekonomi 5, kemudian inflasi bisa ditekan dibawah 5, 4 artinya masyarakat akan menikmati sebuah perbedaan antara inflasi dan angka pertumbuhan itu.

Beberapa hal yang menyangkut inflasi telah sering saya sampaikan, tetapi yang memang yang paling penting adalah sekarang ini masalah fokus masalah dengan infrastruktur.  Kenapa fokusnya ke arah infrastruktur karena memang dengan infrastruktur inilah nantinya akan bisa kita tekan harga-harga transportasi. Kalau harga transportasi murah tentunya harga akan menjadi murah.

Ini mungkin sebagai gambaran bobot di sebelah Barat, misalnya di Pulau Sumatera berapa terhadap nantinya inflasi secara nasional, di Kalimantan berapa, di Timur berapa semuanya ada presentasinya. Saya kira silakan lihat di layar.

Kemudian ini saya sampaikan sekalian mengenai kota-kota dan inflasi yang masih tinggi. Kita lihat ada yang 11, ada yang 12, di Merauke misalnya sampai 12%, tetapi di sana ada satu barang yang saya cek betul. Harga beras justru jauh lebih murah dibanding kota/kabupaten yang lain. Disana harga beras bisa antara Rp 5.500 sampai Rp 6.000. Ini luar biasa, tetapi inflasi barang-barang yang lain harganya tinggi. Inilah saya kira pemerintah pusat harus memberikan perhatian kepada kelihatan berarti infrastrukturnya yang harus diperbaiki, sehingga distribusi barang dan pasokan barang ke Merauke ini bisa lebih baik.

Kemudian kota-kota dengan inflasi rendah, 6,5; 6,1;4% dimana Manokwari 5% sangat bagus, saya kira kota-kota inilah yang nantinya akan mempengaruhi berapa inflasi nasional kita, dan kita tahu bahwa selama Januari, Februari, Maret ini justru kita deflasi, inflasinya dibawah 0. Hampir setiap minggu saya lihat kota yang inflasi rendah, kota/kabupaten yang mana inflasinya tinggi. Provinsi mana yang rendah, provinsi mana yang inflasinya tinggi. Hati-hati untuk daerah-daerah yang berkontribusi tinggi terhadap inflasi harus melihat sebetulnya siapa yang menyumbang atau mendorong inflasi daerah itu.

Bobot terbesar memang berada pada komoditas-komoditas pangan, beras misalnya itu mempengaruhi hampir 4,02%. Daging ayam juga berpengaruh cukup besar, 1,1%. Daging sapi juga berpengaruh, cabe merah juga memberikan pengaruh, bawang merah juga memberikan pengaruh. Oleh sebab itu tadi sudah disampaikan oleh Gubernur BI, dan ini juga saya tekankan lagi bahwa daerah memang ke depan harus menggarkan anggaran untuk operasi di pasar. Ini penting sekali.

Jawa Timur saya lihat juga menganggarkan untuk operasi pasar, tetapi tidak diberikan kepada barangnya, tetapi disubsidi kepada angkutannya, ini juga bisa. Saya kira semua provinsi, Kabupaten/kota itu bisa menaruh anggaran untuk operasi pasar. Sehingga kalau cabe harganya mahal langsung dipasok dengan cabe. Beras mahal, langsung dipasok sebanyak-banyaknya dengan komoditas beras, karena sekarang ini yang melakukan operasi pasar memang baru Bulog.

Tetapi kalau kabupaten/kota juga ikut bersama-sama melakukan itu, saya kira inflasi akan kita bisa tekan serendah-rendahnya, karena di tingkat negara di Asean kita memang inflasinya masih cukup tinggi, kalau 2014; 8,3 ini tinggi karena tadi disampaikan oleh Bapak Gubernur BI, Malaysia hanya 0 koma, dibawah 1. Kemudian Filipina masih dibawah 5, hampir semuanya dibawah 5. Kita saja yang masih diatas 5. Oleh sebab itu target tahun ini, taget tahun ini inflasi kita harus antara 4+1, 4-1, ini target yang ingin kita capai pada tahun ini dan semoga nantinya target itu bisa kita capai.

Kita juga ingin merombak fungsi Bulog sebagai penyanggah dan tidak hanya masalah beras, tetapi komoditas-komoditas lain juga akan tetapi ini masih dalam proses merevisi, regulasi, dan juga kelembagaan.

Tadi juga sudah disampaikan bahwa banyak penyebab tingginya inflasi antara lain kenaikan BBM, kemudian juga tarif listrik, kemudian juga tarif angkutan, kemudian juga masalah harga LPG, dan yang memang yang paling banyak adalah yang paling bawah beras, cabe, bawang merah, daging ayam, daging sapi.

Inilah yang terus harus diawasi dan saya kira ada beberapa kali menyampaikan PPID daerah harus melibatkan jajaran kepolisian dan tentu aja pemerintah daerah kalau disitu ada Bank Indonesia, juga Bank Indonesia yang berada di daerah, sesering mungkin terjun ke lapangan, terjun ke gudang-gudang, distributor besar untuk melihat apakah mereka menimbun atau tidak barangnya terlalu banyak atau tidak, harus terus dikontrol sehingga distributor besar terasa kalau mereka diawasi, jangan sampai mereka tidak diawasi menimbun barang dan memainkan harga. Ini yang paling penting dan itu juga saya lakukan saat saya menjadi walikota maupun gubernur.

Saya ingat waktu jadi walikota, inflasi di Solo waktu itu 1,53 karena setiap 2 minggu kita selalu datangi gudang-gudang, selalu datangi distributor, dan selalu saya sampaikan hati-hati jangan stok barang, hati-hati stokmu harus keluar, harus disampaikan itu. Kalau tidak ini akan dipakai untuk bermain-main harga, terutama di tempat-tempat yang jangkauannya sulit, ini permainannya ada di gudang itu.

Kabupaten-kabupaten yang jangkauannya masih sulit, permainannya ada di gudang. Tetapi kalau yang ngecek ada dari BI, dari Pemda, dari Kejaksaan, dari Kepolisian, akan berpikir seribu kali. Oleh sebab itu saya titip juga Bapak Kapolri, Bapak Jaksa Agung juga agar diperintahkan juga ke jajaran dibawahnya masa inflasi ini juga menjadi perhatian.

Kemudian yang bisa menghambat inflasi, kenapa kita ingin mengembangkan dan membuka lahan pertanian baru karena kita ingin pasokan pangan ke pasar itu bisa kita kendalikan dan supplynya sebanyak-banyaknya sehingga menekan harga menjadi lebih murah. Saya mungkin juga bercerita bahwa di kunjungan kerja saya ke Marauke saya melihat di Merauke ada 4,6 juta ha lahan yang datar yang dekat dengan air, yang bisa dimanfaatkan, baik  nantinya tahun ini akan dimulai, baik untuk beras, baik untuk gula, disitu dan baik untuk komoditas-komoditas yang lainnya. Kita akan kendalikan dari sana.

Bapak/Ibu bisa bayangkan kalau 4,6 juta ha kemudian ditanami padi semuanya dan sudah dicoba 5 ribu ha disana satu ha bisa keluar 8 ton, karena semuanya mekanisasi. Berarti 8 kali 4,6 =35 juta ton sekali panen 35 juta ton, kalau 3 kali panen  berarti 105 juta ton hanya dari Merauke kalau ini dikerjakan fokus dan serius, bisa keluar 105 juta ton padahal produksi beras kita 60 sampai 70 juta ton. Ini akan dikerjakan oleh BUMN maupun swasta.

Itu baru di Merauke padahal masih padahal lagi di sekitar kabupaten Merauke juga masih ada lahan-lahan yang kurang lebih sama dengan yang di Merauke. Inilah rasa optimisme yang ingin saya sampaikan bahwa masalah pangan itu bisa kita akan selesaikan tapi memang perlu waktu mungkin 3-4 tahun baru disana bisa berproduksi total seperti tadi yang saya sampaikan. Karena menyangkut infrastruktur jalan menuju ke lokasi, karena dari Merauke ke desa Wapeko, itu kemarin kita tempuh antara 1,5 sampai 2 jam dan infrastruktur jalan diperlukan, irigasi juga dibangun.

Kemudian juga kenapa kita ingin membuat tol laut dari Barat sampai ke Timur. Saya sampaikan bahwa kalau ini dikerjakan nantinya biaya transportasi akan jatuh, akan murah dan jatuh dan kalau angkutannya murah tentu saja barang yang naik ke dalam kapal itu juga akan jatuhnya juga murah sesampai di tempat tujuan. Karena bapak/ibu bisa lihat bahwa biaya transportasi kita dibandingkan negara-negara disekitar kita itu 2,5 sampai 3 kali lipat tingginya.

Memang sangat mahal sekali di Indonesia. Kenapa karena kita fokus membangun ini, karena konektivitas antar kota, konektivitas antar kabupaten, konenftikitas antara pulau itu sangat diperlukan sekali. Kita juga harus sadar bahwa negara kita negara besar dengan 17 ribu pulau. Konektifitas antar pulau sangat diperlukan sekali dan ini juga akan kita kerjakan antara 3 sampai 4 tahun.

Sebetulnya masalah urusan cabe yang paling bawah sekarang ini saya baru 3 hari yang lalu dari pasar, memang yang sekarang lagi naik memang harga cabe, sebetulnya ini perkara mudah, kalau semua daerah dan kota provinsi itu menggerakan menanam cabe, sangat mudah itu menanam cabe itu, tetapi selalu hampir setiap tahun ada sebuah gejolak harga karena cabe. Setiap tahun coba kita lihat, hampir setiap tahun ini ada, tapi kalau gerakan sudah rampung paling kebutuhan cabe banyak tetapi selalu ada gejolak harga yang sangat tinggi. Bahkan 2 tahun yang lalu harga cabe berlipat-lipat harganya. Karena pasokannya tidak ada. Hal-hal kecil kalau kita tidak jeli dan kita tidak detail melakukan akan kita bisa memberikan dampak kepada inflasi.

Distribusi logistik ini sangat diperlukan kenapa dibangun jalan-jalan sebaik-baiknya kenapa semua negara konsentrasi kepada infrastruktur karena kita sering lupa bahwa dengan infrastruktur ini harga akan menjadi jatuh lebih murah, akan turun lebih murah. Dan distribusi logistik kalau kita di Indonesia lewat laut. Yang kedua lewat kereta api, yang ketiga lewat darat. Oleh sebab itu kita konsentrasi, yang keempat lewat udara.

Oleh sebab itu kenapa kita konsentrasi kepada pelabuhan, konsentrasi kepada laut, konsentrasi kepada kereta api karena memang disitulah nanti akan mempengaruhi harga-harga barang di seluruh tanah air, kenapa kita juga ingin membangun laut, karena konektifitas antar kota, antar kabupaten, antar pulau itu sangat diperlukan, sudah dimulai, sudah di Kuala Tanjung, kemudian Tanjung Priuk, kemudian di Jawa Timur, kemudian di Makassar, kemudian 2 bulan lagi di Sorong, selanjutnya di Pelabuhan-pelabuhan lainnya, semuanya akan kita bangun.

Dari mana uangnya, dari mana kok semuanya dibangun uangnya berasal dari pengalihan BBM, karena uang kita menjadi longgar, tetapi memang tidak semua berasal dari APBN, mungkin antara 40 sampai 50% berasal dari APBN sisanya akan dikerjakan oleh BUMN maupun oleh investor. Kalau investor mau masuk akan tetapi kalau tidak, kalau yang masih dihitung rugi APBN yang masuk.

Pelabuhan-pelabuhan di sebelah Timur mungkin investor masuk tidak mungkin mesti dari BUMN atau dari APBN karena hitung-hitungannya biasanya masih rugi. Kapal kesana bisa mengangkut tapi pulangnya mereka kosong ini masih selalu menjadi hitung-hitungan bagi investor. Itu peran negara hadir disitu.

Dan infrastruktur pangan, mengapa dibangun karena kita ingin menaikkan produksi pangan kita. Kalau pangan kita produksinya sudah berlimpah kita tidak usah takut ada El Nino, ada perubahan musim, karena memang stok pasokannya ada. Tetapi kalau kitanya limit sangat mepet sekali atau masih impor ya dana ini El Nino kita berikan semuanya. Karena semua negara sudah mulai. Stok pangan banyak-banyak kaya di Tiongkok sekarang mulai dibeli-beli karena mereka sudah ketakutan El Nino. Adanya perubahan musim, adanya musim kering yang panjang. Konsentrasi kita selalu pada infrastuktur pangan, baik bendungan dan irigasi.

Mungkin perlu saya sampaikan bahwa anggaran untuk yang pertanian tahun yang lalu Rp 14 triliun tahun ini Rp 32 triliun, tahun depan kita antara Rp 40 sampai Rp 45 triliun. Lalu kita naikkan karena kita memang ingin infrastruktur di bidang pertanian betul-betul kita persiapkan.

Juga masalah listrik, terutama dalam 70 tahun kita merdeka, baru kira-kira 5 ribu megawatt, kita 5 tahun target kita 35 ribu megawatt banyak yang sangsi banyak yang pesimis. Saya sampaikan saya sangat optimis bahwa 35 ribu akan bisa kita capai dengan catatan urusan pembebasan lahan daerah memberikan dukungan penuh dan ikut cawe-cawe. Yang kedua masalah perizinan harus dipotong disederhanakan secepat-cepatnya, tidak mengurus izin sampai 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun, itu lupakan 35 ribu megawatt. Kalau 2 hal itu bisa kita selesaikan akan sangat cepat sekali pembangunan ini.

Pembangunan listrik bukan hanya masalah proyeknya, jangan terpaku pada proyeknya, jangan terpaku pada 35 ribu megawattnya, tetapi dengan listrik ini kita bisa memberikan penerangan kepada seluruh daerah, seluruh desa yang di tanah air. Anak-anak kita juga bisa belajar di malam hari, industri mikro, industri kecil yang ada di desa-desa semuanya juga bisa berproduksi.

Kemudian yang terakhir hierarki industri akan berjalan di kawasan-kawasan industri yang ada di daerah-daerah tanpa ini nggak mungkin ada ekspansi hotel, tanpa listrik ini nggak mungkin ada investasi di bdiang pariwisata tidak akan mungkin. Oleh sebab itu kenapa ini kita harus terus kejar ada masalah di suatu tempat saya datangi, ada sebuah problem provinsi saya datangi, karena kita yang 35 ribu megawatt itu harus berhasil, harus dapat ini bukan target, tapi itu kebutuhan. Kebutuhan kalau tidak dapat 35 ribu itu jangan harap pertumbuhan ekonomi kita akan baik, karena industrilisasi itu memerlukan listrik.

Setahun yang lalu saya dengan Pak Gubernur Sulawesi Selatan, tanda tangan dan langsung kirim berapa kontiner dari Sulawesi Selatan karena saat itu di Jakarta pada posisi kurang beras, menyampaikan kepada saya waktu itu ke pemerintah pusat daripada impor. Selalu yang mudah impor, ternyata saat itu saya dapat informasi bahwa di Sulawesi Selatan mempunyai stok beras yang melimpah. Saya dengan pak Gubernur ada dan 2 hari sudah langsung beras dikirm dari sana ke Jakarta.

Saya kira proses-proses komunikasi antar gubernur, antar bupati, antar walikota ini penting sekali sehingga pasokan di setiap daerah itu ada. Hati secara nasional kita mungkin cukup tapi setiap wilayah, setiap kabupaten, setiap kota bisa tidak mencukupi karena informasi yang tidak sambung. Oleh sebab itu kita sebentar lagi mau membangun pasar lelang untuk komoditas-komoditas di daerah sehingga harga tidak ditentukan oleh tengkulak, harga tidak ditentukan oleh distributor-distributor, pedagang yang nakal, tetapi ditentukan oleh lelang dan nanti yang dapat disini, yang dapat untungnya adalah produsen, siapa petani. Semua negara melakukan itu dan kita ingin juga ingin melakukan nanti agar gubernur, bupati, walikota memberikan dukungan ini karena dengan pasar lelang inilah nanti komoditas, harga komoditas-komoditas barang kalau sistemnya terintegrasi akan kelihatan. Harusnya berapa harga beras, berapa harga cabe, berapa harusnya harga cabe, dan jagung, dan yang lain-lainnya.

Saya kira itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini dan sekali lagi target inflasi nasional pada tahun ini sudah kita targetkan 4-1 dan 4+1, semoga itu bisa kita capai, ini atas dukungan dan kerja sama semua daerah dan tentu saja pemerintah pusat.

Terima kasih,

Assalamu’alaikum, Wr.Wb.

(Humas Setkab)

 

Transkrip Pidato Terbaru