Sambutan Presiden RI Pada Silaturahim Nasional Menuju Pembangunan Nasional Yang Berkelanjutan Tahun 2014, Sentul, Bogor, 15 Oktober 2014

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 16 Oktober 2014
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 26.848 Kali

Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Shalom,
Om swastiastu.

Yang saya cintai Bapak Boediono, Wakil Presiden Republik Indonesia, yang saya cintai Bapak Try Sutrisno, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia. Bapak, Ibu, hadirin sekalian peserta silatnas yang saya cintai dan saya banggakan.

Alhamdulillah di hari yang istimewa ini kita dapat menyatukan hati, semangat, dan tekad kita untuk melanjutkan bakti kita kepada bangsa dan negara, melanjutkan pembangunan nasional menuju Indonesia yang lebih maju, lebih adil, dan lebih sejahtera.

Saya menyimak dengan saksama apa yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan tadi, juga tayangan yang disiapkan untuk mengenang kebersamaan kita selama 10 tahun mengemban tugas negara ini, dan kata-kata yang disampaikan oleh pimpinan APPSI mewakili para gubernur yang juga menggambarkan kebersamaan kita semua di dalam mengemban tugas-tugas untuk bangsa dan negara yang kita cintai bersama.

Pada kesempatan ini, hari-hari terakhir saya mengemban tugas sebagai Presiden Republik Indonesia, saya inginmenyampaikan dua hal. Pertama, sebuah refleksi singkat, meskipun tadi sudah kita lihat bersama-sama dalam tayangan di hadapan kita. Kemudian bagian kedua, ungkapan hati saya sekaligus pesan dan harapan kepada Saudara-saudara yang akan masih melanjutkan tugas di akhir masa bakti saya dan ini semacam farewell remarks yang akan saya sampaikan.

Ada lima butir refleksi dan lima butir pesan dan harapan saya. Saya ingin mengajak Saudara untuk melakukan refleksi dan kontemplasi agar ke depan Saudara semua bangsa Indonesia terus membangun diri menuju masa depan yang dicita-citakan bersama.

Pertama, mari kita sadari dan pahami bahwa pembangunan itu sebuah proses, proses jangka panjang, bukan sebuah peristiwa, it is not an event dan juga bukan proses satu tahun, dua tahun. Kalau kita memahami bahwa pembangunan itu sebuah proses jangka panjang, maka harus selalu hidup semangat, tekad dan energi kita untuk melakukan pembangunan secara terus-menerus, pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan atau sustainable development bukan hanya pembangunan yang harus melestarikan lingkungan kita, tetapi juga pembangunan yang dilaksanakan secara terus-menerus berangkat dari visi dan strategi besar disertai dengan tahapan-tahapan pembangunan dan dilaksanakan secara dinamis dan sungguh-sungguh. Bersyukurlah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Allah Subhanahu Wataala, karena Saudara semua menjadi pelaku sejarah untuk membangun negeri ini menuju masa depan yang lebih baik.

Yang kedua. Kalau kita bicara reformasi atau perubahan sejatinya reformasi itu adalah kesinambungan dan perubahan, continuity and change yang sudah baik-baik sejak awal berdirinya republik ini, sejak pemerintahan Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati, saya, dan siapa lagi nanti ke depan yang baik-baik itu harus dijaga sebagai sebuah kesinambungan. Yang belum baik, yang belum sepenuhnya bisa dicapai haruslah dicapai, dilakukan perubahan-perubahan untuk bisa mengatasi berbagai persoalan bangsa. Itu yang kedua.

Sedangkan yang ketiga, dalam kesinambungan pembangunan, kita harus dengan objektif, dengan terbuka, dan jujur melakukan evaluasi. Hampir pasti setiap tahapan pembangunan siapapun presidennya dan siapapun yang berada dalam pemerintahan yang dipimpin oleh presiden itu, pasti ada capaian-capaian, keberhasilan, achievement, tetapi pasti ada pekerjaan rumah yang tersisa, ada yang belum sepenuhnya dapat dicapai atau shortcoming.

Oleh karena itulah, sama dengan hakikat kesinambungan dan perubahan tadi, capaian yang sudah dicapai hendaknya tetap dijaga bahkan ditingkatkan, yang belum dicapai dilakukan perbaikan. Paling tidak kita bersyukur bahwa ekonomi kita 10 tahun ini terjaga, tumbuh di tengah-tengah ekonomi dunia yang kerap mengalami krisis, di tengah-tengah berjatuhannya ekonomi negara-negara sahabat, termasuk negara-negara maju, meskipun sekali-sekali ada stagnasi dan side back, tetapi ekonomi nasional kita sungguh terjaga.

Yang kedua, politik dan demokrasi. Politik stabil, demokrasi tumbuh meskipun di sana-sini juga ada riak-riak dan itu biasa dalam kehidupan masyarakat yang terbuka, open society. Kemudian, meskipun sekali-kali ada benturan dan perselisihan, tetapi dibandingkan dengan banyak negara di dunia, dibandingkan dengan negara lain yang juga majemuk, sebenarnya kebersamaan kita, kerukunan kita, dan toleransi di antara elemen bangsa yang berbeda suku, agama, etnis, dan perbedaan identitas apapun, itu juga terbangun dengan baik. Lantas pertahanan dan keamanan kita dibandingkan di era krisis dulu dan dibandingkan dengan banyak negara di dunia juga terjaga. Kalau ada masalah segera bisa kita selesaikan. Peran internasional Indonesia semakin mengemuka, baik di forum kawasan maupun di dunia termasuk di forum G20.

Tentu banyak lagi capaian yang telah dicapai oleh Saudara semua selama 10 tahun ini. Tetapi kalau kita jujur, kita juga harus mengakui masih ada sejumlah pekerjaan rumah, shortcoming ataupun hal-hal yang belum sepenuhnya dapat kita capai. Membangun pemerintahan yang bersih, menyukseskan reformasi birokrasi harus terus kita lanjutkan sampai benar-benar good governance dan birokrasi yang responsif, accountable, dan cekatan itu terbangun dengan lebih baik lagi. Kita telah melancarkan gerakan pemberantasan korupsi yang paling agresif dalam sejarah Indonesia, tapi di sana-sini masih terjadi kasus-kasus penyimpangan dan korupsi, ini juga salah satu shortcoming kita yang harus terus kita lanjutkan upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi itu.

Otonomi daerah berlangsung dengan baik, banyak prakarsa, inisiatif dari para gubernur, bupati, dan wali kota yang patut kita berikan penghargaan dan pujian. Sungguh pun demikian, di sana-sini masih ada ekses dari implementasi otonomi daerah itu. Itu juga menjadi pekerjaan rumah kita ke depan. Meskipun kita telah membangun banyak infrastruktur di seluruh tanah air apalagi dengan percepatan MP3EI, tetap saja kita merasakan di sana-sini masih ada kekurangan infrastruktur, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi kita. Dan kemudian kita juga sama-sama merasakan bahwa konektivitas tanah air kita meskipun terus kita usahakan juga masih memerlukan kerja keras kita ke depan nanti.

Inilah sejumlah hal yang menurut saya menjadi pekerjaan rumah yang harus kita atasi bersama-sama, dan tentunya bersama Presiden kita yang baru nanti dengan pemerintahannya dan Saudara semua juga ada di situ kiranya berbagai capaian atau achievement itu bisa dicapai, dijaga, dan dipertahankan, kemudian yang belum baik bisa diperbaiki.

Yang keempat sebagai sebuah refleksi adalah Saudara merasakan banyak kemajuan dan capaian yang kita raih manakala terjadi sinergi antara pusat dengan daerah melibatkan seluruh eselon pemerintahan daerah, provinsi, kabupaten, dan kota, dan juga pemerintahan pada tingkat pusat, sektoral, regional. Beberapa kali kita melakukan sinergi dan sinkronisasi atas pelaksanaan pembangunan dan ternyata hasilnya nyata. Ini juga sebuah refleksi kalau kita benar-benar menjaga sinergi, sinkronisasi, dan koordinasi ini, maka hasilnya akan menjadi lebih baik.

Kemudian yang kelima atau refleksi terakhir di atas segalanya, Indonesia bangsa yang besar sekaligus bangsa yang majemuk dan sekaligus menghadapi tantangan yang kompleks di tengah dunia yang tidak mudah. Oleh karena itulah, agar bangsa Indonesia dengan ideologi dan dasar negara Pancasila bisa terus membangun diri menuju masa depan yang maju, adil, dan sejahtera, maka diperlukan pilar-pilar kehidupan bernegara yang tumbuh dari masyarakat kita, yaitu kita harus tumbuh bersatu. Persatuan menjadi penting, unity in diversity, sangat-sangat penting.

Yang kedua kita harus menjadi bangsa dan masyarakat yang rukun, kerukunan, harmoni itu juga penting.

Yang ketiga toleransi, tanpa toleransi harganya sangat mahal, dunia bergejolak, dunia diwarnai dengan peperangan di mana-mana karena hilangnya toleransi, the cost of intolerans itu ternyata mahal sekali. Di waktu yang lalu kita pernah mengalami mahalnya harga sebuah intoleransi. Oleh karena itulah, pesan dan harapan saya sebagaimana yang kita jalankan selama ini, yang berupaya, yang kita berupaya untuk merawatnya baik-baik, sekali lagi adalah persatuan, kerukunan, dan toleransi. Itulah lima butir refleksi yang hendak saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Hadirin yang saya cintai, bagian kedua atau bagian terakhir adalah ungkapan hati saya di akhir masa bakti ini juga ada lima butir.

Pertama, kita bersyukur kepada Allah Subhanahu Wataala yang telah memberikan misi dan kesempatan sejarah untuk berbakti dan membangun negeri tercinta ini. Saya pribadi tentu dengan Wakil Presiden Boediono dan sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla juga bersyukur, karena kami juga mendapatkan amanah untuk menjalankan pemerintahan dan memimpin negeri ini.

Yang kedua terima kasih, terima kasih yang tulus dari saya kepada Saudara semua, kepada rakyat Indonesia. Khusus kepada jajaran pemerintahan dan tentunya jajaran lembaga-lembaga negara, terima kasih atas kebersamaannya di dalam menyelenggarakan kehidupan bernegara dan menjalankan roda pemerintahan. Terima kasih atas kebersamaan dan kerja samanya di dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan. Dan terima kasih secara khusus karena kita semua, termasuk jajaran Komisi Pemilihan Umum, Bawaslu Pusat dan Daerah, Gubernur, Bupati, dan Wali kota, TNI dan Polri, masyarakat luas, pers dan media massa, civil society yang bisa bersama-sama menyelenggarakan pemilihan umum yang damai dan demokratis. Ini adalah pemilu keempat yang oleh dunia dikatakan pemilu yang demokratis, fair and free election, tentu ke depan harus kita lebih sempurnakan lagi, disamping memenuhi ketentuan undang-undang dasar, langsung, umum, bebas, dan rahasia, jujur, dan adil, mari kita pastikan bahwa setiap pemilihan umum dan juga pemilihan kepala daerah, itu berjalan secara aman, tertib, dan lancar, dan juga secara free and fair dalam arti luber dan jurdil.

Yang ketiga, saya mohon maaf apabila apa yang saya lakukan belum memenuhi harapan saudara semua, harapan seluruh rakyat Indonesia. Saya ingin berbuat yang terbaik untuk negeri ini, tetapi saya manusia biasa, ada kekurangan dan kelemahan saya. Oleh karena itu, barangkali ada sejumlah sasaran yang belum bisa kita capai dan sebagai pemimpin saya memohon maaf atas belum dicapainya sejumlah hal itu. Saya juga meminta maaf apabila selama sepuluh tahun ini ada sikap, perilaku, dan tutur kata saya yang Bapak, Ibu, Saudara-saudara tidak berkenan. Percayalah tidak ada niat yang tidak baik dari saya, semua itu semata-mata untuk kepentingan manajemen pemerintahan dan pembangunan yang kita laksanakan bersama.

Yang keempat, saya berharap Saudara semua mendukung penuh Presiden yang baru nanti bersama pemerintahan yang dipimpinnya. Hanya dengan dukungan Saudara, pemerintahan yang baru yang juga tidak kecil tantangan dan permasalahan yang dihadapi itu bisa melaksanakan tugasnya dengan baik.

Yang terakhir, yang kelima, selamat berjuang Saudara-saudara, selamat bertugas, selamat berbakti kepada negara dan bangsa, dan semoga negara tercinta, Indonesia kita semakin jaya di masa mendatang.
Demikianlah yang dapat saya sampaikan dan saya lima hari lagi mohon diri, saya akan kembali ke tengah-tengah masyarakat sebagai warga negara seraya mendoakan pemimpin baru, pemerintahan baru, dan Saudara semua di dalam mengemban tugas.

Sekian,
wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
om shanti, shanti, shanti om.

(Kedeputian Persidangan Setkab)

Transkrip Pidato Terbaru