Sarankan Pendekatan Dialogis, Presiden Jokowi: Publik Semakin Kritis, Tidak Bisa Langsung Percaya

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 November 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 24.346 Kali
Presiden Jokowi memukul gong tanda dimulainya Konvensi Humas Nasional 2015, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11)

Presiden Jokowi memukul gong tanda dimulainya Konvensi Humas Nasional 2015, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11)

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengemukakan, kita saat ini mengalami transformasi media yang luar biasa, kecepatannya luar bisa. Kita melihat, kita membaca tidak hanya dari media mainstream, tidak hanya dari koran, tidak hanya dari majalah, tidak hanya dari tivi, tidak hanya dari media online, tapi sekarang jurnalisme masyarakat itu hampir setiap detik muncul isu-isu yang muncul berubah-ubah.

“Hari ini apa trending topic-nya jelas dapat kita baca. Paling jelas apa, papa minta pulsa diganti dengan papa minta saham,” kata Presiden Jokowi saat membuka Konvensi Nasional Humas Tahun 2015, di Istana Negara, Jakarta, Rabu (18/11) siang.

Presiden Jokowi menegaskan, perubahan sangat cepat sekali, sangat cepat sekali sehingga petugas hubungan masyarakat atau public relation (PR) sekarang harus baca terus. Yang lagi hits apa, yang baru menjadi trending topic apa, harus selalu mengikuti.  Kalau tidak, kita berbicara individu dengan individu, orang dengan orang, kita menjadi tidak mengerti, karena perubahannya detik per detik.

Menurut Presiden, saluran media semakin beragam dan kita memang berada di era sosial media yang jejaring sosial dilakukan dengan sama sekali berbeda, dengan 10 – 20 tahun yang lalu. Ia menyebutkan, setiap orang bisa membuat web, setiap orang bisa menginformasikan, meskipun kadang-kadang nggak tahu informasinya benar atau salah, yang kalau kita tidak hati-hati kemakan juga informasi yang keliru.

Karena itu, Presiden mengingatkan PR setiap perusahaan dan kementerian juga harus hati-hati. Sebab, keliru berangkat bisa keliru nanti hasilnya.

Presiden Jokowi juga menyampaikan, bahwa kita juga menghadapi informasi yang sangat beragam, karena kita bisa melihat berita dan informasi beredar di jejaring sosial. Banyak yang benar, tetapi banyak juga yang tidak benar. Tidak betul, banyak sekali.

“Oleh sebab itu sekarang ada ujaran kebencian, nah, itu agak ada ngeri memang yang sering memberikan informasi yang menyebarkan kebencian, menyebabkan konflik horizontal, menggiring orang untuk melakukan sesuatu,” tutur Presiden seraya menyebutkan, nanti berperangnya dengan hal seperti itu, menyiapkan dengan tidak hanya dengan sebuah kata-kata, tetapi juga dengan pasukan yang bisa meng-counter sebuh berita yang keliru, atau tidak betul di sebuah perusahaan atau di sebuah kementerian atau di sebuah negara.

Kritik Publik

Dalam kesempatan itu Presiden Jokowi juga mengingatkan kecepatan arus informasi yang sangat luar biasa karena bersifat real time, dengan bingkai kepentingan yang beragam. Ia menyebutkan, ada kepentingan politik, ada kepentingan ekonomi, ada kepentingan bisnis, ada kepentingan individu, ada kepentingan organisasi-organisasi, sehingga kalau bacaan kita sebagai PR tidak tajam, bisa keliru kita menggiring sebuah opini.

“Publik juga semakin kritis, tidak bisa kita berbicara langsung percaya. Publik bisa kritik, bisa mengkalkulasi bisa menghitung. Ini sebuah pembelajaran sangat baik, ini berita betul atau tidak betul,” tutur Presiden Jokowi.

Menurut Presiden, tuntunan untuk dialog untuk transparansi juga semakin kuat, tidak bisa dibendung, karena kita tidak bisa lagi menghambat arus informasi, tidak bisa. “Dulu kita menguasai media-media mainstream, sekarang mana bisa. Tidak bisa, diblock kayak apapun tidak bisa, semua media nggak akan bisa. Dan ke depannya itulah dunia yang harus kita hadapi,” terang Presiden.

Karena itu, tutur Presiden Jokowi, di dalam konteks perkembangan seperti itu, tidak ada jalan lain untuk membangun trust, membangun kepercayaan, membangun reputasi dengan cara-cara komunikasi yang dialogis, bukan monolog. Bukan satu arah, tetapi dialog.

Presiden mengingatkan, dialog mudah diucapkan tetapi memerlukan kesabaran memerlukan waktu, memerlukan kemampuan mendengar yang terkadang mendengar hal yang sakit karena isinya hanya nggak ada yang betul

“Hanya dengan dialog kita bisa mendengar suara dan keinginan dari masyarakat, dari rakyat. Dan hanya dengan dialog itu, kita bisa mengakui dan menghormati keberadaan orang lain. Hanya dengan dialog itu, juga akan terbangun kepercayaan satu dengan yang lain,” pungkas Presiden Jokowi seraya menyebutkan, mendengar, buat dirinya sangat diperlukan. (FID/RAH/ES)

Berita Terbaru