Sebelum Oktober 2015, Pemerintah Wajibkan Freeport Divestasikan Lagi 10,64 Sahamnya

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 November 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 46.232 Kali

FreeportPemerintah mewajibkan perusahaan tambang asal Amerika Serikat, PT Freeport Indonesia untuk menyelesaikan kewajiban divestasi saham asingnya sebesar 10,64 persen sebelum 14 Oktober 2015.

Dirjen Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Sukhyar mengatakan, kewajiban tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2014.

“Sesuai PP tersebut, maka Freeport sudah harus mendivestasikan sahamnya kepada peserta Indonesia sebesar 20 persen,” kata Sukhyar kepada wartawan di Jakarta, Kamis (13/11).

Saat ini, sebesar 9,36 persen saham Freeport sudah dimiliki peserta Indonesia melalui pemerintah. Sementara 90,64 persen saham lainnya dikuasai pemegang asing yakni Freeport McMoran. Sesuai PP No. 77 Tahun 2014 itu, maka paling lambat sampai 14 Oktober 2015, Freeport sudah harus mendivestasikan sahamnya sebesar 10,64 persen.

Menurut Sukhyar, sesuai PP 77/2014, Freeport juga sudah harus mendivestasikan hingga 30 persen dalam lima tahun atau sebelum 14 Oktober 2019. “Kewajiban divestasi sebesar 30 persen sudah tertuang dalam nota kesepahaman renegosiasi kontrak karya Freeport,” jelasnya.

Ditambahkan Dirjen Mineral dan Batubara itu, bahwa pihaknya akan membuat peraturan Menteri ESDM tentang tata cara divestasi untuk menindaklanjuti PP tersebut.

“Pemerintah melalui Kementerian Keuangan juga harus memvaluasi nilai divestasinya,” ujar Sukhyar seraya menambahkan, ilai divestasi yang ditawarkan kepada pemerintah mestinya di bawah harga pasar.

Pihak PT. Freeport Indonesia sendiri menghitung, sesuai harga pasar saat ini, nilai 10 persen sahamnya sekitar 2 miliar dolar AS atau hampir Rp 50 triliun.

Bukan Tekanan

Dalam kesempatan itu Dirjen Mineral dan Batubara Sukhyar membantah anggapan jika penerbitan PP No.77/2014 yang memberikan kemudahan kewajiban divestasi dimaksudkan sebagai tekanan perusahaan asing termasuk Freeport.

“Kewajiban divestasi berbeda-beda karena skala investasinya juga berbeda-beda. Kalau investasi besar tentunya butuh waktu untuk pengembaliannya,” ujar Sukhyar.

Ia menjelaskan, sesuai PP 77/2014, pemerintah menurunkan besaran divestasi saham bagi perusahaan asing yang melakukan kegiatan tambang bawah tanah dan terbuka seperti Freeport dari 51 persen menjadi hanya 30 persen.
PP yang ditandatangani mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 14 Oktober 2014 itu merupakan revisi dari Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2012.(*/ANT/ES)

Berita Terbaru