Sebut Islam Indonesia ‘Rahmatan lil ‘Alamin’, Seskab: Kita Beruntung Ada Pancasila

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 2 Juni 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 22.306 Kali
Seskab Pramono Anung menjadi narasumber di acara Sudut Istana, Rabu (1/6) malam, di TVRI. (Foto: Humas/Jay)

Seskab Pramono Anung menjadi narasumber di acara Sudut Istana, Rabu (1/6) malam, di TVRI. (Foto: Humas/Jay)

Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung mengemukakan, yang membuat Indonesia tetap satu adalah ideologi konstitusional, sebagai pandangan bangsa ke depan. Mengutip pernyataan Bung Karno, Seskab menilai, Pancasila itu inheren ada dalam urat nadi rakyat Indonesia.

Dengan segala kekurangan, menurut Seskab, demokrasi kita telah tumbuh secara baik, dunia mengakui Indonesia sebagai role model baru dunia. Ia menyebutkan, sebagai negara mayoritas Islam terbesar di dunia, ada demokrasi, dan ada toleransi. Sehingga ketika Presiden pergi ke manapun ini selalu menjadi pertanyaan, bagaimana menjaga ini, ketika banyak persoalan negara Islam sedang bergejolak, kemudian Eropa begitu phobia terhadap berbagai persoalan terakhir dengan ekstrimisme, dengan radikalisme.

“Inilah yang kemudian kita beruntung ada Pancasila, yang menuntun kita semua menyelesaikan persoalan bangsa kita semua,” tegas Pramono saat tampil di acara Sudut Istana di Stasiun TVRI, Rabu (1/6) malam, yang mengusung tema “Pancasila, Ideologi yang Bekerja”.

Menurut Seskab, saat menghadapi ancaman radikalisme, Indonesia berhasil mengatasinya dan mendapat banyak apresiasi dari negara lain. Saat bertemu dengan Presiden Uni Eropa, kata Pramono, Presiden Jokowi menyampaikan, bahwa Islam di Indonesia bukan Islam pemarah, bukan Islam yang seperti disebutkan selama ini, tetapi Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin (memberi rahmat bagi semesta alam). “Itulah yang menjadi kekuatan Indonesia yang paling utama,” ujarnya

Disampaikan Pramono, bahwa dalam menjalankan pemerintahan, Presiden Jokowi selalu memberikan ruang untuk adanya perbedaan, dan perbedaan itu harus diselesaikan melalui mekanisme rapat. “Ini adalah cerminan dari kepemimpinan yang memegang teguh ideologi,” papar Pramono.

Indonesiasentris

Dalam kesempatan itu, Seskab Pramono Anung juga menyampaikan, strategi Pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dilakukan melalui deregulasi peraturan dan pembangunan yang dapat mempersatukan Indonesia, yaitu Indonesiasentris, bukan Jawasentris.

Adapun terkait deregulasi, disampaikan Seskab bahwa Pemerintah telah mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi I-XII yang bertujuan untuk memberikan kemudahan, memberikan efisiensi, membuat daya tarik bagi investor masuk ke Indonesia, dan mendorong para pelaku dunia usaha terutama menengah ke bawah agar bisa mengikuti perkembangan zaman dan bertarung dalam dunia global.

Sebagai perubahan yang mendasar dalam waktu yang tidak terlalu lama, 8 bulan, ada 12 paket deregulasi, menurut Pramono, ini sebenarnya mengubah banyak perilaku terutama pada pemberi atau pengambil keputusan pada tingkat itu.

Mas Pram, panggilan akrab Pramono Anung memberi contoh, dulu BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) untuk mengurus 8-12 izin, perlu waktu dua bulan, satu bulan paling cepat dan membuka ruang adanya hanky panky proses interaksi perorangan. “Sekarang ini kita tutup itu. Semua izin, ada 8 sampai 12 izin, itu hanya 3 jam, dan ini dilakukan, online. sehingga tidak ada proses secara orang per orang,” jelasnya.

Pemerintah, lanjut Seskab, dalam hal ini memperkecil dan menutup ruang penyalahgunaan kekuasaan dan jabatan (abuse of power), dengan menerapkan sistem yang lebih terbuka. “Ke depan, Pemerintah akan menerapkan financial inclusive, dimana pembagian kartu-kartu atau Bantuan Langsung Tunai (BLT) tidak lagi diberikan secara tunai, namun dilakukan dengan phone banking sehingga tidak ada oknum yang bisa memotong,” ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan oleh Seskab Pramono Anung, bahwa Indonesia harus dibangun dari pinggiran untuk mendekatkan yang jauh dan membuat Indonesia sebagai sebuah unity, sebuah kekuatan. Diyakini Seskab, jika semua rencana berjalan baik, pada akhir periode kepemimpinan Presiden Jokowi, wajah Indonesia dalam kacamata dunia, pasti berubah.

“Indonesia akan dilihat dunia sebagai energi baru, kekuatan baru. Dan mudah-mudahan pertumbuhan 5% ke atas ini akan semakin menarik, tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah, perilaku birokrasi, perilaku para pengambil keputusan harus berubah, mereka harus open minded, harus terbuka, dan memberikan kesempatan siapapun yang ingin maju, memajukan Indonesia ini secara bersama-sama,” tegas Seskab.

Dijelaskan Seskab, saat ini Presiden menggelar setidaknya 5-8 kali ratas setiap minggunya. Ia menyebutkan, dalam hal ini pemimpinnya harus memberikan contoh, dan mesin birokrasinya juga harus bekerja keras.

“Ahamdulillah sekarang ini saya melihat, dengan segala kekurangan yang ada menurut saya birokrasi di Indonesia, sudah mengalami perbaikan yang luar biasa di Istana. Dan mudah-mudahan menular di tempat lain di kementerian lain dan lembaga,” kata Mas Pram.

Dalam acara yang dibuka oleh Sukardi Rinakit dan juga menghadirkan pembicara Sekretaris Militer Presiden, Marsekal Muda TNI Hadi Tjahjanto, S.IP itu, tampak hadir Deputi Seskab Bidang Dukungan Kerja Kabinet Yuli Harsono, Deputi Seskab Bidang Polhukam Fadlansyah Lubis, Deputi Seskab Bidang PMK Surat Indrijarso, dan pejabat lainnya di jajaran Sekretariat Kabinet. (RMI/ES)

Berita Terbaru