Selain ‘Ausindo Wave’ bagi Generasi Muda, Presiden Usul 4 Agenda Prioritas Kemitraan RI-Australia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 10 Februari 2020
Kategori: Berita
Dibaca: 85 Kali

Suasana saat Presiden Jokowi memberikan pidato di parlemen Australia, Canberra, Senin (10/2). (Foto: Humas/Dindha Moerti).

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengusulkan Ausindo Wave (Australia-Indonesia Wave) bagi generasi muda dan 4 agenda prioritas menyongsong satu abad kemitraan Pemerintah Republik Indonesia (RI) dengan Australia untuk menghadapi berbagai tantangan global.

“Pertama, kita harus terus memperjuangkan nilai demokrasi, hak asasi manusia, toleransi, dan kemajemukan. Setop intoleransi, setop xenophobia, setop radikalisme, setop terorisme. Terus kikis politik identitas di negara kita dan di berbagai belahan dunia, baik itu atas dasar agama, etnisitas, identitas askriptif lainnya,” ujar Presiden Jokowi saat memberikan pidato di parlemen Australia, Canberra, Senin (10/2).

Politik identitas, menurut Presiden, merupakan ancaman terhadap kualitas demokrasi, ancaman bagi kemajemukan, dan ancaman bagi toleransi. Ia menambahkan bahwa ancaman ini semakin nyata jika terus dieksploitasi demi kepentingan politik jangka pendek yang mengakibatkan kebencian, ketakutan, bahkan konflik sosial.

“Sebagai 2 negara yang demokratis dan majemuk kita harus bekerja keras bahu membahu, berdiri tegak untuk memperjuangkan nilai-nilai demokrasi dan toleransi serta kemajemukan dan mencegah dunia dari ancaman clash of civilization,” ujarnya.

Kedua, menurut Presiden, Indonesia dan Australia harus memperkuat prinsip ekonomi terbuka, bebas, dan adil, di tengah maraknya proteksionisme kedua negara harus terus menyuarakan keterbukaan dan keadilan ekonomi.

“Di tengah tumbuh suburnya pendekatan zero sum game kita harus terus memperkokoh paradigma win-win. Saya sangat percaya bahwa sistem ekonomi terbuka dan adil adalah akan menguntungkan semua pihak,” tutur Presiden.

Itulah, menurut Presiden, alasan dirinya menyambut baik kesepakatan Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership (IA-CEPA).

Kolaborasi menjadi kata kunci, sambung Presiden, dan akan menciptakan peluang, mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi baru, serta menemukan solusi bagi tantangan ekonomi global.

“Ini yang sebenarnya Indonesia dan ASEAN proyeksikan melalui ASEAN Outlook on the Indo-PacificOutlook yang akan mengubah rivalitas menjadi kerja sama, yang mengubah trust defisit menjadi strategic trust,” tambah Presiden.

Jika ini dijalankan, lanjut Presiden, kawasan Indo-Pasifik akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dunia di masa depan serta Indonesia dan Australia harus menjadi jangkar kerja sama di kawasan Indo-Pasifik.

“Yang ketiga, Indonesia dan Australia harus menjadi anchor mitra pembangunan di kawasan Pasifik. Indonesia memahami tantangan pembangunan di kawasan Pasifik. Sebagai sesama negara kepulauan, tantangan yang dihadapi Indonesia dan negara kawasan Pasifik tidak jauh berbeda,” tambahnya.

Menurut Presiden, perubahan iklim dan bencana alam, serta pemerataan sosial, pendidikan, kesehatan, dan pembangunan sumber daya manusia adalah tantangan nyata yang dihadapi negara-negara di kawasan Pasifik.

Indonesia dan Australia, lanjut, harus menjadi teman sejati bagi negara-negara di kawasan Pasifik, berkolaborasi sebagai mitra pembangunan, mengatasi dampak perubahan iklim, memperkecil tingkat kemiskinan dan kesenjangan sosial, menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan Pasifik.

“Keempat, kita harus bahu membahu bagi pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan, reboisasi hutan dan daerah hulu sungai, mencegah kebakaran hutan dan lahan, komitmen untuk menurunkan emisi karbon, serta pengembangan energi terbarukan dan green technology lainnya,” tambah Presiden.

Rencana Indonesia untuk membangun ibu kota baru, menurut Presiden, adalah salah satu bagian dari komitmen ini, smart city, smart metropolis, green technology yang berharmoni dengan lingkungan alam dan sekaligus sebagai bagian dari upaya transformasi ekonomi berbasis inovasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

“Kolaborasi kemitraan Indonesia dan Australia di tengah dunia yang terbuka terus dipenuhi ketidakpastian dapat diilustrasikan dalam film Avengers Endgame. Jika kekuatan positif bersatu, the Avengers essamble, maka musuh bersama dapat dilumpuhkan,” katanya.

Jika Indonesia dan Australia bekerja sama dan berkolaborasi, menurut Presiden, maka intoleransi, proteksionisme, dan ancaman kemiskinan serta ancaman perubahan iklim dapat diatasi.

Selain 4 fokus tersebut, menurut Presiden, jangkar kemitraan Indonesia dan Australia pada tahun 2050, 3 dekade dari sekarang adalah generasi muda. Kedua Negara, menurut Presiden harus tawarkan tren kedekatan Indonesia-Australia kepada generasi muda, menggelorakan kecintaan generasi muda Australia pada Indonesia, dan sebaliknya kecintaan generasi muda Indonesia pada Australia.

“Generasi muda kita saat ini yang akan menjadi pemimpin masa depan. Investasi pada generasi muda akan memperkokoh kemitraan Indonesia dan Australia ke depan. Kita sudah memiliki modal yang besar,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Presiden, terdapat 160 ribu siswa Australia belajar bahasa Indonesia dan 21 ribu pemuda Indonesia belajar di Australia. Ia menegaskan bahwa jika ini terus dilakukan maka kemitraan Indonesia-Australia pada tahun 2050, pada 1 abad umur kemitraan kedua negara akan bermanfaat bukan saja bagi rakyat kedua negara tapi bagi dunia.

Sebagai penutup, Presiden Jokowi mengutip musisi Jimmy Little, artis Aborigin Australia, “We’re all gifted with the opportunity to succeed. But you get further if you extend the hand of friendship.”

“Melalui persahabatan yang tulus maka hubungan Indonesia dan Australia bukan saja bermanfaat bagi kesejahteraan kedua negara namun juga bagi kawasan di sekitar kita dan bagi dunia secara keseluruhan,” pungkas Presiden. (MAY/EN)

Berita Terbaru