Semangat Idulfitri Untuk Sesama

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 Mei 2020
Kategori: Opini
Dibaca: 458 Kali

Oleh: M Arief Khumaidi*

Bulan ramadan telah berlalu dan saat ini kita sedang merayakan hari raya Idulfitri 1441 Hijriah. Tidak seperti sebelumnya, hari raya tahun ini kita dihadapkan dengan wabah COVID-19 atau Corona yang telah menjadi pandemi di dunia yang telah menjalar dengan cepat menjangkiti penduduk dunia. Banyak negara telah tertular oleh penyakit ini. Kondisi sampai tanggal 22 Mei 2020 terdapat 216 negara termasuk negara kita Indonesia yang terjangkit, ada 4.962.707 orang yang terkonfirmasi menderita, dan sejumlah 326.459 orang wafat akibat penyakit ini. Sementara di negara kita 20.796 positif, sembuh 5.057 dan meninggal 1.326 orang (WHO/covid19.go.id update terakhir: 22-05-2020).

Wabah ini telah membatasi masyarakat untuk berinteraksi dengan yang lain, termasuk membatasi untuk mudik dan menjalin siturahmi dengan keluarga yang biasanya dilaksanakan pada setiap hari raya Idulfitri. Wabah COVID-19 ini merupakan bagian dari ujian bagi kita. Ujian atau cobaan tersebut berasal dari Allah SWT yang telah ditetapkan bagi umat manusia. Allah memberikan ujian bagi umatnya dengan berbagai bentuk berupa ketakutan, kekurangan dan kelaparan atau paceklik. Namun Allah juga mewasiatkan kepada kita harus sabar dan ikhlas menghadapi ujian terebut. Dalam surat Al Quran disebutkan: “Dan sungguh kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan, harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (al Baqarah : 155).

Dalam ayat tersebut diterangkan bahwa dalam kehidupan dunia ini Allah mendatangkan cobaan kepada hamba-hambaNya untuk menguji hamba-hambaNya tersebut. Terkadang ujian berupa kebahagiaan, seperti kekayaan dan kemudahan dalam berbagai hal. Namun tidak jarang ujian tersebut juga berupa kesusahan, seperti rasa takut seperti wabah COVID-19 saat ini. Wabah corona ini telah memberikan penderitaan banyak orang, warga menjadi tidak dapat bebas berkegiatan atau bekerja, adanya kebijakan jaga jarak (social distancing) telah membatasi penduduk untuk berinteraksi dengan orang lain, anak anak tidak dapat pergi ke sekolah dan orang tua tidak dapat bekerja mencari nafkah. Hal ini berkontribusi pada meningkatkan kemiskinan dan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok untuk makan sehari hari.

Namun kita harus sabar dan ikhlas menjalani ujian ini dengan tetap berikhtiar agar selamat dalam peperangan menghadapi pandemik COVID-19, antara lain dengan menjaga jarak secara fisik dengan orang lain, memakai masker, sering cuci tangan sesuai protokol kesehatan yang telah di tetapkan. Musibah adalah ujian terhadap orang beriman untuk menunjukkan kesabaran dengan tetap bertahan menjadi orang yang baik, tetap beriman dan berbuat kebajikan. Ujian tersebut harus kita hadapi dengan lapang dada, sabar dan berusaha agar terlepas dari wabah ini. Ujian tersebut dapat dikatakan berhasil atau lulus dilalui  apabila tetap berada dalam kondisi tetap menjadi orang yang baik, sabar dan beramal kebajikan, orang tersebut adalah yang lebih baik baik amalnya, sebagaimana dalam surat al Mulk ayat 1-2.

 “Maha Suci Allah Yang di tanganNya lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Apabila sabar menjalani ujian dan berbuat kebaikan maka insyallah orang tersebut berhasil memperoleh tujuan puasa ramadan yang baru saja dilaksanakan, yaitu menjadi insan bertaqwa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana di wajibkan atas orang-orang sebElum kamu agar kamu bertaqwa (al Baqarah: 183)

Bulan ramadan yang baru saja kita lalui merupakan bulan ibadah dan beramal. Umat Islam dalam menjalani ibadah puasa dengan berlomba lomba untuk beramal kebajikan. Perlombaan dalam berbuat kebajikan di bulan puasa ini sangatnya fair, tidak ada kecurangan dan dalam suasana penuh rahmat  karena yang menilai perlombaan adalah Allah SWT. Keikhlasan dan kesenyapan dalam beramal karena harapan amalan-amalan yang dilaksanakan di bulan ramadhan tersebut dalam rangka mendapatkan ridho Allah SWT.  Sesuai dengan bunyi al Baqarah 183 di atas tujuan puasa ramadan adalah agar manusia bertaqwa, maka ibadah yang dilaksanakan dalam bulan ramadhan dimaksudkan agar  ketaqwaan umat Islam meningkat. Puasa Ramadan ibarat bulan tarbiyah, dimana umat mendapatkan latihan dan gemblengan selama sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa, dengan menahan diri dari lapar, dahaga dan perbuatan lainnya yang membatalkan puasa, serta melaksanakan amal lainnya seperti zakat fitrah, zakat mal dan sodaqoh lainnya, dengan harapan membiasakan diri dengan ibadah dan amalan yang mulia tersebut.  Tentunya semangat ibadah dan amal kebaikan tersebut tidak berhenti di bulan ramadan saja. Seusai bulan ramadan justru kualitas ibadah dan amalan kebaikan tersebut semakin baik dilaksanakan dalam keseharian seperti yang telah dilaksanakan selama sebulan penuh di bulan ramadan tersebut. Ibadah dan amalan yang perlu di tingkatkan tersebut antara lain melalui membiasakan zakat dan shodaqoh. Ibadah zakat dan sodaqoh merupakan ibadah yang berdimensi sosial ini sering di laksanakan selama bulan ramadan. Berderma kepada yang tidak berpunya, mengeluarkan zakat mal terhadap harta yang kita miliki yang telah memenuhi nisabnya, mengeluarkan zakat fitrah menjelang Idulfitri. Melaksanakan zakat dan shodaqoh selama puasa dengan tanpa mengharapkan imbalan dan semata-mata hanya mngharap ridho Allah SWT tersebut sangat membantu kehidupan mereka yang membutuhkan. Berzakat merupakan cerminan insan yang bertaqwa yang memiliki rasa kepedulian kepada sesama. Dalam Al Quran di nyatakan bahwa harta yang kita miliki terdapat hak orang lain, seperti hak orang miskin yang meminta maupun orang miskin yang tidak menunjukkan kemiskinannya dengan menahan tangannya untuk meminta. Sebagaimana disebutkan dalam surat azd Dzaariyaat; 19. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.

Di dalam al Quran perintah zakat seringkali di sandingkan dengan perintah mendirikan salat, yang menunjukkan bahwa zakat tersebut penting di samping salat. Salat merupakan kewajiban setiap individu seorang beriman, sedangkan zakat merupakan kewajiban orang beriman dan yang mampu melaksanakan. “Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu tentu kamu akan mendapat pahalanya dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan (Al Baqarah : 110). Salat dan zakat seakan menyatu dalam diri seseorang, salat yang ditegakkan dengan baik maka zakat menjadi kebutuhan batinnya untuk dilaksanakan oleh orang yang menjalankan salat tersebut. “Tahukan kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna (al Maa’uun: 1-7)

Salat merupakan lambang hubungan yang sifatnya vertikal sebagai wujud ketundukan seorang hambanya kepada Allah SWT, sedangkan zakat menunjukkan hubungan yang bersifat horizontal yaitu peduli dengan sesama manusia. Mereka yang telah melaksanakan zakat maka telah melaksanakan hubungan dengan sesama manusia yang harmonis, yang pada kenyataannya telah menolong orang lain yang sedang membutuhkan. Zakat tersebut sebagai bukti implementasi  bahwa puasa yang telah dilaksanakan telah meningkatkan ketaqwaannya. Oleh karena itu ibadah zakat tidak dapat dipandang remeh, apabila zakat dan sodaqoh ini dibayarkan oleh mereka yang mampu di kalangan umat Islam, insyaallah problem sosial berupa kemiskinan dan kelaparan dapat diatasi. Apalagi dalam suasana pandemi COVID-19, banyak mereka yang kehilangan pekerjaan yang berakibat berkurangnya rezeki yang yang didapat selama ini. Masyarakat bangsa dalam menghadapi dampak COVID-19  perlu saling membantu dan bergotong royong dalam membantu mereka yang kurang berdaya.

Semoga dengan Idulfitri tahun ini dapat menjadi hikmah bagi kita, untuk meningkatkan ketaqwaan sehingga menjadi insan semakin bertaqwa termasuk didalamnya meningkat kepeduliannya terhadap sesama.

 

*Penulis bekerja di Sekretariat Kabinet RI

Opini Terbaru