Siapkan Ekonomi Kreatif, Bekraf Usung Soto dan Dangdut jadi Unggulan Indonesia

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 13 Desember 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 17.909 Kali
20161213-BAKOHUMAS BEKRAF

Deputi Hubungan antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti menjelaskan tentang Bekraf di Forum Tematik Bakohumas Bekraf di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (13/12). (Foto: Humas/Edi)

Meskipun baru dibentuk pada Januari 2016 dan praktis beroperasi mulai Maret 2016, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) diharapkan menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia ke depan. Untuk itu, Bekraf melakukan kajian yang dapat diakses oleh publik seperti survei yang telah dilakukan bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

Wakil Ketua Bekraf, Ricky Joseph Pesik, mengatakan Bekraf terus berusaha menyampaikan informasi secara rutin melalui sistem komunikasi yang ada. “Selama ini tren forecasting belum dilakukan sehingga para pelaku ekonomi kreatif tidak memiliki gambaran menghadapi tantangan di tahun depan. Hal ini berbeda dengan China atau Amerika yang sudah punya hal ini,” kata Ricky pada Forum Tematik Badan Koordinasi Hubungan Kemasyarakatan (Bakohumas) di Hotel Aryaduta, Jakarta Selasa (13/12) pagi.

Deputi Hubungan antar Lembaga dan Wilayah Bekraf Endah Wahyu Sulistianti mengemukakan, tahun depan,  Bekraf akan mengusung tema Soto dan Kopi dalam menyampaikan ke publik. Sementara untuk fesyen yang akan dipublikasikan adalah mengenai hijab.

Sementara Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo menyampaikan bahwa ke depan, perkembangan teknologi harus diantisipasi. Ia mencontohkan misalnya 3D printing yang bisa saja dilakukan di negara pembeli sehingga memangkas ongkos produksi.

“Ada 4 hal yang menjadi aspek penting dalam akses permodalan di Bekraf yakni Grant, demand side, supply side, dan match making (mempertemukan investor dan pelaku usaha),” ungkap Fadjar.

Fadjar mengingatkan, dalam usaha sekarang  ada perbedaan antara Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) dengan Start Up. Ia melanjutkan, dalam proses perkembangan start up tidak memerlukan tempat untuk melakukan ekspansi sedangkan untuk UMKM membutuhkan hal tersebut.

“Saat ini Bekraf mencoba mengusulkan model pendanaan seperti IP Financing, Rating System, Character Scoring, dan Financial Technology,” tutur Fadjar seraya menambahkan bahwa model pendanaan ini juga bisa dilakukan untuk UMKM, bukan hanya untuk start up.

Deputi Bidang Infrastruktur Hari Santoso Sungkari menyampaikan bahwa salah satu program yang menjadi unggulan adalah BEKUP, Bekraf for Pre Start Up. Ia menambahkan bahwa salah satu contoh yang dilakukan adalah saat Bekraf bekerja sama dengan blibli.com tanggal 25 Juli 2016.

“Bekraf juga melakukan peningkatan swa nilai assesment di kota-kota Indonesia yang bertujuan meningkatkan kemampuan ekonomi kreatif di kota tersebut,” lanjut Hari.

Direktur Edukasi Ekonomi Kreatif Poppy Savitri menyampaikan, salah satu program utama adalah IKKON (Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara). Ia juga menambahkan bahwa produk yang dihasilkan kemudian juga diberikan hak cipta dari para desainer dan perajin.

“Kriteria peserta IKKON terdiri dari Senior Desainer sebagai mentor, Antropolog, Fotografer, dan Videografer. Untuk tahun 2017 akan ditambahkan juga business advisor,” lanjut Poppy.

Tindak lanjut IKKON, menurut Poppy, melalui koperasi dan juga mitra kerja maupun potensi lokal lainnya. Ia juga menyampaikan bahwa IKKON diharapkan mampu meningkatkan kontribusi PDB dan menambah lapangan kerja baru.

Sementara Deputi Pemasaran Bekraf Joshua Puji Mulia Simanjuntak menyampaikan bahwa salah satu fokusnya adalah dukungan terhadap pelaku kreatif untuk mendapatkan akses pasar.

“Konsep pemasaran yang ditawarkan adalah pendekatan konsumen secara proaktif, pendekatan bisnis secara proaktif, pendekatan terhadap pemerintah. Salah satunya yakni memasukkan dalam e-catalogue,” tutur Joshua.

Pembinaan dan bimbingan teknis, lanjut Joshua, juga akan ditingkatkan pada tahun 2017. Ia juga sampaikan bahwa salah satu yang dilakukan adalah program kurasi festival kuliner dan fesyen baik di dalam maupun luar negeri.

“Jika di kuliner yang diunggulkan adalah soto. Kalau di musik adalah Dangdut dengan program Halo Dangdut,” lanjut Joshua.

Deputi Fasilitasi dan Kekayaan Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi, Ari Juliano Gema menyampaikan bahwa fokus utamanya dilakukan untuk memberikan konsultasi hak kekayaan intelektual. Ia juga sampaikan bahwa Bekraf membuat aplikasi untuk informasi mengenai hak kekayaan intelektual.

“Bekraf memiliki Satgas Anti Pembajakan yang menangani pengaduan pembajakan produk ekonomi kreatif,” lanjut Ari seraya menyampaikan bahwa ini bukti Negara hadir untuk melindungi pelaku usaha.

Ari juga menyampaikan bahwa sekarang ini Bekraf sedang menyusun panduan usaha di ekonomi kreatif yang akan menjadi standardisasi bagi pelaku usaha ekonomi kreatif.

Produk baru di tahun 2017, lanjut Ari, Bekraf akan melakukan pendampingan kepada pelaku ekonomi kreatif untuk didampingi pengacara tanpa memungut bayaran.

“Pendampingan lain yang dilakukan Bekraf adalah memberikan bantuan teknis tentang pembentukan badan hukum bagi para pelaku ekonomi kreatif,” lanjut Ari seraya menutup sesi penyampaian dalam acara kali ini.

Dalam acara kali ini, tampak hadir oleh Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, para Deputi di Bekraf, dan perwakilan kementerian/lembaga lainnya. (EN/ES)

Berita Terbaru