Sidang Kabinet Paripurna, di Istana Negara, Provinsi DKI Jakarta, 11 Oktober 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 11 Oktober 2022
Kategori: Pengantar
Dibaca: 393 Kali

Situasi ekonomi global, situasi geopolitik betul-betul sekarang ini sangat menyulitkan semua negara, berubah dan menjadi sulit diprediksi, dan dengan ketidakpastian yang tinggi, volatilitas yang semakin tinggi. Tadi pagi, saya juga mendapatkan telepon dari [Washington] DC, dari Bu Menkeu, bahwa saat ini sudah ada 28 negara yang antre masuk menjadi pasiennya IMF.

Artinya, badai itu sudah datang. Sehingga persiapan kita ini harus betul-betul persiapan detail, enggak bisa sekali lagi kita bekerja hanya rutinitas, enggak bisa lagi sekarang ini. Bekerja makro, bekerja mikro, bekerja detail, itu yang akan bisa menyelamatkan negara kita. Kehati-hatian kita dalam setiap membuat kebijakan, betul-betul jangan sampai lepas dari manajemen kita, karena memang situasinya betul-betul ini situasi yang luar biasa sulitnya.

Sekali lagi, policy setiap kementerian dan lembaga itu hati-hati, urusan kecil-kecil, tapi sekarang ini semuanya sensitif. Urusan kemarin, misalnya yang berkaitan dengan kompor listrik, itu betul bahwa kita memang harus konversikan tapi timing-nya bukan sekarang. Kompornya 1800 [VA], artinya apa? Kita akan mengubah dari yang biasanya pemakaian 450 [VA] menjadi pemakaian di atas 1800 [VA], di rakyat hal-hal seperti itu menjadi sebuah guncangan. Hati-hati ini hal-hal seperti ini. Memang harus yang berkaitan dengan rakyat , hati-hati policy-nya.

Sekali lagi, yang pertama, saya minta kepada Bapak-Ibu sekalian untuk konsentrasi dan betul-betul fokus pada tugas kita masing-masing. Kemudian juga, implementasi dari program-program yang ada, betul-betul dilihat betul bermanfaat riil atau ndak. Kalau ndak, bisa dibelokkan ke hal-hal yang riil.

Kemudian, yang berkaitan dengan percepatan anggaran, serapan anggaran. Ini serapan APBN ini hati-hati, ini juga masih rendah. Realisasi baru 62,5 persen, apalagi yang berkaitan dengan belanja modal baru 45,8 persen. Yang paling tinggi ya belanja pegawai, karena memang ini rutinitas yang memang harus keluar. Tapi yang belanja modal, belanja barang dan jasa masih sangat rendah, termasuk bansos.

Yang kedua, saya minta kepada para menko sekali lagi untuk memperkuat konsolidasi antar kementerian/lembaga, sehingga terkonsolidasi betul-betul di lingkupnya masing-masing, baik untuk urusan perlambatan ekonomi dunia, urusan krisis pangan, urusan krisis energi, urusan krisis keuangan. Nanti beberapa menteri dan menko akan saya ajak untuk berbicara yang berkaitan dengan stress test. Sampai seberapa jauh kekuatan kita kalau badainya itu datang, baik yang berkaitan dengan currency, dengan kurs, yang berkaitan dengan inflasi, yang berkaitan dengan growth, yang berkaitan dengan pangan kita, energi kita, semuanya harus kita tes betul sampai plan A, plan B, plan C, plan D, semuanya harus ada semuanya, plan E semuanya. Yang paling buruk, yang buruk, yang terburuk, semuanya harus kita hitung semuanya. Sehingga sekali lagi, situasi semakin memburuk dan antisipasi dampak di domestik ini harus betul-betul disiapkan, disiapkan betul.

Kemudian juga, saya titip ini di Menko Marinves, Menteri investasi, ini betul-betul realisasi dari investasi itu betul-betul nyata dan riil di lapangannya ada. Ada persoalan, selesaikan di lapangan, apa pun, sekecil apa pun. Karena itu darah segar baru, capital inflow yang masuk ke negara kita, uang yang masuk ke negara kita dan itu harus betul-betul hargai betul, karena sekarang ini sulit yang namanya mencari investasi, mencari uang untuk kita ajak masuk.

Kepada Menko PMK, yang berkaitan dengan dampak dari gejolak ekonomi, yang berkaitan dengan kemiskinan, tolong dilihat secara detail. Jangan sampai ada yang lolos dari bantuan sosial (bansos) kita. Kalau memang kurang, ini kita rapatkan lagi, kita meeting-kan lagi seperti apa solusinya.

Yang ketiga, yang berkaitan dengan Presidensi G20. Saya minta gaungnya diangkat lagi. Semua gaungnya diangkat lagi, sehingga betul-betul menuju ke G20 Summit ini, betul-betul gregetnya di dalam maupun di luar negeri itu betul-betul ada.

Yang terakhir, antisipasi potensi bencana alam karena cuaca ekstrem harus juga dihitung. Gelombang panas di Eropa, banjir bandang di Pakistan, badai di Florida, kekeringan panjang di Afrika di Kenya, saya kira kita lihat semuanya. Itu harus menjadi bahan kita, evaluasi kita. Jangan sampai kita tidak punya persiapan untuk hal-hal seperti ini.

Saya kira, saya sudah perintahkan ke Menteri PUPR kemarin. Meskipun sekarang hari hujan tapi yang namanya persiapan titik-titik pompa yang harus dibangun itu harus, di mana kira-kira air itu akan enggak ada, di mana yang namanya gelombang panas kering. Itu nanti kalau yang saya takutkan adalah ini kita sudah mendapatkan mungkin hampir tiga tahun musim basah, musim basah panjang, yang saya takutkan ada yang nanti musim kering juga yang panjang. Tapi kalau kita sudah punya siap-siap embungnya diperbanyak, yang kecil-kecil, enggak usah bukan bendungan, bukan dam, dan lain-lain. Yang kecil-kecil, urusan pompa-pompa di desa-desa, urusan embung yang kecil-kecil itu segera bisa disiapkan secara cepat. Sekali lagi, persiapan mitigasi bencana itu harus.

Saya rasa itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih.

Pengantar Terbaru