Sidang Kabinet Paripurna melalui Video Conference mengenai Pagu Indikatif RAPBN Tahun Anggaran 2021, 6 Mei 2020, di Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Mei 2020
Kategori: Pengantar
Dibaca: 330 Kali

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Bapak Wakil Presiden,
Bapak-Ibu sekalian para peserta Sidang Kabinet Paripurna di bulan Mei ini.

Sebelum saya memberikan kesempatan kepada Menteri Keuangan untuk memaparkan rencana pagu indikatif RAPBN tahun anggaran 2021, saya ingin menyampaikan beberapa hal untuk menjadi perhatian para Menteri dan Kepala Lembaga.

Yang pertama, berdasarkan laporan dari BPS menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia di Triwulan I Tahun 2020 tumbuh 2,97 persen, ini year on year. Sekali lagi, tumbuh 2,97 persen. Turun delta 2 persen, lebih lambat dibandingkan dengan pertumbuhan di Kuartal IV/2019, yang tumbuh 4,97 persen. Walaupun hanya tumbuh 2,97 persen tapi dibandingkan dengan negara lain yang telah merilis angka pertumbuhannya, kinerja ekonomi negara kita relatif masih baik.

Coba kita lihat beberapa negara yang mengalami kontraksi dan kontraksinya tentu saja masuk ke tumbuh negatif. China turun dari plus 6 persen menjadi minus 6,8 persen, artinya ini year on year deltanya 12,8 persen; Perancis, deltanya 6,25 persen, minus; Hongkong, deltanya 5,90 persen; Spanyol deltanya 5,88 persen; dan Italia deltanya 4,95 persen tumbuh negatif.

Yang kedua, COVID-19 telah memukul perekonomian banyak negara, termasuk negara kita dan memukulnya pada dua sisi sekaligus, yaitu sisi demand (sisi permintaan) dan sisi suplai (sisi penawaran), dan di sisi produksi. Dari sisi suplai (sisi penawaran), Indeks Manufaktur Indonesia (PMI) pada April 2020 juga mengalami kontraksi terdalam bila dibandingkan negara lainnya di ASEAN. Indonesia di level 27,5, lebih rendah dibandingkan Korea. Korea Selatan 41,6, Malaysia 31,3, Vietnam 32,7, Filipina 31,6. Ini hati-hati mengenai Indeks Manufaktur Indonesia, agar juga dicarikan solusi dan jalan agar kontraksi ini bisa kita perbaiki.

Untuk itu saya minta Menteri-menteri di bidang ekonomi memperhatikan angka-angka yang tadi saya sampaikan secara detail. Mana saja sektor, subsektor yang mengalami kontraksi paling dalam, dilihat secara detail dan dicarikan stimulusnya. Sehingga program stimulus ekonomi betul-betul harus kita buat dan harus tepat sasaran, dan bisa mulai merancang skenario ­recovery/pemulihan di setiap sektor atau subsektor.

Data yang saya miliki, ada beberapa subsektor yang berkontribusi negatif terhadap pertumbuhan di Kuartal I/2020. Pangan, tanaman pangan ini minus 0,31, hati-hati dengan angka ini. Sekali lagi, hati-hati dengan angka-angka ini. Tadi pangan minus 0,31. Sekali lagi, beberapa kali sudah saya sampaikan, FAO memperingatkan terjadinya krisis pangan. Artinya apa? Sektor pertanian harus digenjot agar berproduksi tetapi sekali lagi juga dengan protokol kesehatan yang baik. Angkutan udara minus 0,08; pertambangan minyak, gas, panas bumi minus 0,08; industri barang, logam, komputer minus 0,07; penyediaan akomodasi minus 0,03; industri mesin dan perlengkapan minus 0,03.

Begitu juga dengan angka dari sisi demand, sisi permintaan. Angka inflasi pada April 2020 tercatat 0,08 persen, sangat rendah bila dibandingkan pada periode bulan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya. Dari sisi pengeluaran, saya mencatat konsumsi rumah tangga sebesar 2,84 persen dan pengeluaran pemerintah 37,4 persen menjadi lokomotif pertumbuhan. Namun, tolong dilihat konsumsi untuk LNPRT (Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga), yang mengalami kontraksi sampai minus 4,91 persen. Ini betul-betul dilihat secara detail, yang konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga ini, dilihat.

Karena itu, penyaluran bansos dari pemerintah pusat, bansos dari pemerintah daerah, maupun dari Dana Desa dan juga program padat karya tunai dalam minggu-minggu ini harus dipastikan sudah jalan di lapangan. Bansosnya sudah diterima masyarakat, program padat karya juga sudah jalan di lapangan.

Yang ketiga, saya ingin mengingatkan bahwa fokus kerja yang paling utama sekarang ini tetap pada mengendalikan COVID-19 secepat-cepatnya, menurunkan secepat-cepatnya. Saya melihat negara yang akan menjadi pemenang adalah negara yang berhasil mengatasi COVID-19. Untuk itu semua Menteri, Kepala Lemabga, Panglima TNI, Kapolri, saya minta mengerahkan semua tenaga, mengerahkan semua energi, mengerahkan semua kekuatan untuk mengendalikan COVID-19 ini dan menangani dampak-dampak yang menyertainya.

Target kita di bulan Mei ini harus betul-betul tercapai sesuai target yang kita berikan, yaitu kurvanya juga harus turun, dan masuk pada posisi sedang di bulan Juni, di bulan Juli harus masuk pada posisi ringan, dengan cara apapun. Dan itu dilakukan tidak hanya oleh Gugus Tugas tapi juga melibatkan seluruh elemen bangsa, jajaran pemerintahan, organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan, relawan, partai politik, dan sektor swasta. Ini yang betul-betul harus didirijeni, diorkestrasi dengan baik. Saya yakin jika kita bersatu, jika kita disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan, semua rencana yang sudah kita siapkan yang lalu ini akan bisa mengatasi COVID-19 secepat-cepatnya.

Yang keempat, saya ingatkan untuk penanganan COVID-19, semua jajaran pemerintahan harus betul-betul berpegang pada prinsip-prinsip good governance, memegang teguh transparansi, memegang akuntabilitas. Tujuan kita hanya satu, keselamatan seluruh rakyat, baik di bidang kesehatan maupun di bidang sosial ekonomi. Dan dalam mencapai tujuan itu, sekali lagi kita semuanya, pemerintah harus bergerak dengan cepat karena betul-betul situasinya bersifat extraordinary dan memerlukan kecepatan, memerlukan ketepatan. Tetapi dalam menjalankan tugas ini pemerintah juga, kita semuanya harus juga siap untuk diawasi, siap untuk dikontrol, bukan hanya oleh lembaga-lembaga negara seperti DPR, BPK, tapi juga oleh seluruh masyarakat.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan sebagai pengantar.

Pengantar Terbaru