Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-46 Universitas Sebelas Maret (UNS), di UNS Tower Ki Hadjar Dewantara, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah, 11 Maret 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 11 Maret 2022
Kategori: Sambutan
Dibaca: 695 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Maju;
Yang saya hormati Gubernur Provinsi Jawa Tengah;
Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota Majelis Wali Amanat Universitas Sebelas Maret;
Yang saya hormati Bapak Rektor beserta seluruh jajaran Rektorat UNS;
Yang saya hormati Pimpinan dan Anggota Dewan Profesor UNS, seluruh civitas akademika UNS, Bapak-Ibu hadirin undangan yang berbahagia.

Pertama-tama, kepada keluarga besar Universitas Sebelas Maret saya mengucapkan selamat Dies Natalis yang ke-46 dan terima kasih telah berperan sangat signifikan dalam pembangunan dan kemajuan masyarakat di Surakarta, di Jawa Tengah, dan di Indonesia. Dengan terus berinovasi dan transformasi, saya yakin UNS akan semakin sukses mengemban mandatnya, berkontribusi untuk Indonesia maju yang kita cita-citakan.

Hadirin dan undangan yang berbahagia,
Tadi ibu Menteri Keuangan sudah memberikan gambaran betapa sulitnya situasi saat ini, betapa tidak gampangnya mengelola APBN (Anggaran Pendapatan Belanja Negara), mengelola keuangan dalam situasi yang sangat extra ordinary ini. Dan kita tahu bahwa dunia sekarang ini pada situasi yang tidak mudah, situasi yang tidak gampang, semua negara merasakan, semua negara, bukan hanya negara kita. Sulit, sangat sulit.

Kita dihadapkan sebelumnya pada disrupsi kronis akibat revolusi industri 4.0 dan semua negara tergagap-gagap. Dihantam lagi oleh disrupsi akut karena pandemi yang tidak kita duga-duga, tambah pusing kita semuanya, semua negara tambah pusing semuanya. Pusingnya belum reda, tambah lagi ada perang, sudah bertubi-tubi. Betapa sekali lagi, pengelolaan tadi yang disampaikan oleh Ibu Menteri Keuangan, betapa sangat sulitnya, ekonomi betapa sangat sulitnya. Tetapi alhamdulillah kita bisa menjalaninya, mengelola keuangan, mengendalikan COVID-19 dengan baik, kalau dibandingkan dengan negara-negara lain. Artinya apa? Masa depan global semakin penuh dengan ketidakpastian.

Dua hari yang lalu, Kanselir Jerman Olaf Scholz telepon kepada saya, berbicara banyak ya kira-kira tadi yang saya sampaikan suasananya. Kemarin telepon lagi siang juga Perdana Menteri Kishida dari Jepang menyampaikan hal yang sama, pandemi yang belum rampung, kemudian ada tambahan perang, sehingga semuanya menjadi sulit diprediksi, sangat sulit diprediksi. Hal-hal yang dulu tidak kita perkirakan semuanya muncul, semuanya. Kelangkaan energi, sekarang semua negara mengalami, tambah perang, harga naik lipat. Kita tahu 2020, minyak harganya hanya kira-kira 60-an, 60 dolar per barel. Hari ini kira-kira 115 (dolar), itu pun sebelumnya, seminggu yang lalu sudah di angka 130 (dolar), dua kali lipat. Semua negara harga jualnya ke masyarakat sudah naik juga, kita di sini masih nahan-nahan. Bu Menteri saya tanya, “Gimana, Bu? Tahannya sampai berapa hari ini?” Kita nahan-nahan terus. Kelangkaan energi, satu.

Juga, beberapa negara sudah mulai terjadi kelangkaan pangan. Food price (harga pangan) dunia naik semuanya. Gandum naik, kita kena imbas, kedelai dunia naik. Tambah perang ini, gandum karena hampir 20 persen lebih gandum itu dari Ukraina dan Rusia, naik sangat drastis. Kalau dilihat angka-angka, waduh, di Rusia naik 12 persen, Amerika naik 6,9 persen, Turki 55 persen. Alhamdulillah, kita masih di angka 3 (persen). Tapi sampai kapan kita bisa menahan seperti ini?

Kelangkaan kontainer. Kalau keadaan normal, kontainer cari berapa pun gampang banget. Sekarang, karena tadi disrupsi menjadi langka. Akhirnya apa? Harga kontainer naik berlipat-lipat, dulu naik dua kali, naik tiga kali, naik empat kali, naik lima kali. Artinya apa? Barang-barang logistik sampai ke konsumen pun karena terbebani oleh harga kontainer yang naik, menjadi juga dibeli lebih mahal. Efeknya ke mana-mana, kemudian yang terjadi adalah kenaikan inflasi.

Hati-hati mengelola ekonomi saat ini. Ekonomi makronya dikelola tapi mikronya tidak diperhatikan, bisa buyar. Artinya apa? Kerja sekarang ini harus kerja detail. Kalau enggak detail, enggak akan menyelesaikan masalah. Untungnya inflasi di negara kita masih terkendali dengan baik, masih 2,2 (persen). Coba lihat di Turki 48,7 (persen), Amerika yang biasanya di bawah 1 persen, sekarang udah di 7,5 persen, India sudah 6 persen, Rusia sudah 8,7 (persen), tapi enggak tahu hari-hari ini. Situasi seperti ini, dunia. Kuncinya, menurut saya, kuncinya adalah kecepatan berubah dan bisa memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Ini yang akan kita lakukan.

Oleh sebab itu, perlu stabilitas. Yang kita lakukan, transformasi ekonomi. Dalam posisi seperti ini, keberanian mentransformasi ekonomi ini akan memberikan manfaat dan memberikan peluang jangka panjang kita akan menjadi lebih baik. Sudah sering saya sampaikan, karena kita sudah bertahun-tahun, berpuluh-puluh tahun, beratus tahun kita selalu ekspor yang namanya bahan mentah. Sejak VOC loh kita ini mengekspor bahan mentah, sampai sekarang masih kita ekspor bahan mentah. Tidak, kita tidak mendapatkan nilai tambah, tidak mendapatkan added value apa-apa.

Dari sejak 2020, sudah saya sampaikan kepada seluruh menteri, satu-satu harus kita setop. Nikel setop, tidak ada lagi yang nanya ekspor bahan mentah nikel, raw material enggak ada lagi diekspor, nikel setop. Apa yang terjadi? Tujuh tahun yang lalu, kita ekspor nikel bahan mentah kira-kira 1–1,5 miliar US Dollar, berarti kira-kira Rp15–20 triliun. Karena kita setop dan muncul yang namanya industrial downstreaming, hilirisasi, industrialisasi, 2021 kemarin ekspor kita, karena sudah ada bentuk setengah jadi dan jadi, menjadi 20,8 miliar US Dollar.  Artinya dari Rp15 triliun melompat kepada kurang lebih Rp300 triliun.

Baru satu barang yang namanya nikel, padahal kita memiliki bauksit untuk alumina, tembaga, timah, emas, dan komoditas-komoditas perkebunan dan pertanian. Betapa kalau ini satu persatu kita memiliki keberanian untuk bilang setop, munculnya angka-angka yang tadi saya sampaikan. Membuka lapangan kerja, itu yang paling penting. Yang kedua, Bu Menteri Keuangan bisa pungut pajaknya; PPh-nya ambil, PPN-nya ambil lebih gede, bea ekspor, PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dapat semuanya.

Tapi begitu kita bilang setop nikel, setop ekspor bahan mentah nikel, ya kita digugat sama Uni Eropa, belum rampung sampai sekarang. Enggak apa-apa ini belum rampung, saya sudah perintah lagi bauksit tahun ini setop, biar digugat lagi. Bauksit setop, tahun depan setop lagi tembaga atau timahnya, biar digugat lagi. Enggak apa-apa digugatin terus, belum tentu kita kalah, tapi belum tentu juga kita menang. Tapi keberanian itu harus kita lakukan. Kalau kita enggak pernah mencoba, kita enggak akan tahu kita menang atau kalah, kita benar atau enggak benar. Tapi yang ini benar, setop itu benar. Kita tahu karena dari Rp15 triliun melompat menjadi Rp300 triliun.

Apa yang terjadi kalau ini kita setop semuanya? Investasi di dalam negeri akan naik tinggi sekali. Yang dari luar, masuk juga ada capital inflow yang itu juga akan memunculkan nilai tambah yang luar biasa. Dan barang-barang seperti lithium battery, iVi battery, kendaraan listrik, nanti sodium-ion, semikonduktor semuanya akan diproduksi di dalam negeri karena bahan bakunya kita setop.

Saya sampaikan saat G20 di Italia, Indonesia tidak tertutup, kita ini terbuka, tapi industrinya jangan di tempatmu terus dong. Separuh bawa di Indonesia atau semuanya bawa di Indonesia, kita terbuka. Bisa kamu kerja sama dengan BUMN kita, bisa kamu bekerja sama dengan swasta kita atau kamu sendirian juga enggak apa-apa, tapi di Indonesia. Enak banget, kita setorin mereka bahan bakunya, nilai tambahnya bisa 14 kali sampai 20 kali lipat kalau kita hanya setor material, enak banget. Pajak mereka yang dapat, pembukaan lapangan pekerjaan mereka yang dapat, terus kita dapat apa? Kita ditakut-takuti terus, tak gugat di WTO, tak gugat di WTO. Gugatlah.

Yang kedua, hilirisasi yang kedua, ekonomi hijau. Kekuatan kita ada di sini juga. Oleh sebab itu, harus kita bawa ke arah ekonomi hijau karena kekuatan kita ada di situ, karena energi hijau kita memiliki potensi yang juga tidak sedikit; hydropower dari 4.400 sungai yang kita miliki, geotermal 29 ribu megawatt, di mana-mana ada, angin kita punya, panas matahari kita ada, arus gelombang bawah laut kita punya, panas permukaan laut kita memiliki. Sehingga produk yang dihasilkan nanti adalah produk-produk hijau dari Indonesia yang memiliki nilai tambah yang lebih besar.

Untuk menuju ke sini, apa yang harus kita siapkan? Yang kita ini harus habis-habisan dan secepat-cepatnya melakukan, SDM (sumber daya manusia). Pengembangan SDM harus berubah dan harus cepat berubahnya. Hati-hati, saya ingin mengingatkan kepada UNS. UNS sekarang ini sudah menjadi kapal besar. Nah, kapal besar ini kalau mau mengubah itu juga pelan-pelan, padahal yang dibutuhkan adalah kecepatan. Kalau kapalnya masih kecil, belok langsung gampang banget.

Mahasiswa berapa, Pak Rektor, sekarang? Empat puluh ribu, ini sudah kapal induk, gede banget, 40 ribu itu gede banget. Hati-hati, kapal besar ini hati-hati. Bisa tidak lincah loh, tapi juga bisa lincah, tergantung nahkodanya. Karena seperti yang tadi saya sampaikan, seluruh organisasi, termasuk lembaga pendidikan tinggi, termasuk universitas harus lincah, harus cepat belajar dengan perubahan-perubahan yang ada, harus updated, harus. Tapi hati-hati tadi, kapal besar. Karena dunia berubah begitu sangat cepatnya, ilmu pengetahuan juga berkembang sangat cepat sekali.

Saya kadang-kadang enggak mengerti betul. Muncul ini, ini apa sih barang ini? Muncul yang lain, barang apa ini? Muncul lagi, muncul lagi, muncul lagi. Sekali lagi, ilmu pengetahuan berkembang sangat cepat dan harus diikuti dengan program pendidikan yang dinamis, yang cepat. Risetnya, dan risetnya juga harus cepat berubah sesuai dengan tantangan zaman yang ada. Kita ini berkejaran.

Saya membayangkan kita ini hanya punya waktu urusan SDM, untuk mengejar itu hanya punya waktu dua tahun. Kita berani berubah ndak dalam dua tahun ini? Kalau ndak, nanti di dalam bonus demografi 2030-2035, habis kita kalau kita enggak cepat berubah.

Saya sudah berhitung, saya sudah berkalkulasi dengan para menteri kita. Kita hanya punya kesempatan berubah ini dua tahun ini, karena muncul bonus demografinya nanti di 2030-2035. SDM digital (digital talent) harus, karena semua sekarang ini kejar-kejaran, semua negara ke sini. Digital talent ini penting, AI (artificial intelligence), cloud computing, digital design, digital marketing, blockchain, semuanya. Barang ini apa? Barang ini harus kita miliki SDM-SDM itu, sehingga saya sangat setuju yang sering disampaikan oleh Mendikbud, Kampus Merdeka. Mahasiswa bisa belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, kampus yang mengarahkan.

Saya senang, mahasiswa sekarang bisa belajar di industri satu semester. Artinya apa? Industri menjadi bagian dari universitas. Ada Matching Fund yang dibiayai oleh kementerian, ada target 10 ribu praktisi dari industri yang ditarik ke kampus. Ini nanti akan men-trigger perubahan-perubahan itu.

Sekali lagi, kalau ini tidak kita lakukan dalam dua tahun ini, saya membayangkan di 2030-2035, berat. Kita akan berat. Sehingga saya minta yang namanya program studi, program studi sekarang ini mungkin hanya relevan lima tahun. Hati-hati dengan kecepatan perubahan zaman  seperti ini. Sekarang masih banyak yang sudah 20 tahun, 30 tahun enggak berubah. Bisa saja sebuah ilmu relevan untuk semester ini, semester depan sudah enggak relevan lagi, bisa karena perubahan-perubahan yang cepat tadi.

Pembubaran program studi sulit, sulit. Saya sudah mendengar dari beberapa universitas, sulit. Saya belum mendengar dari UNS. Pembentukan program studi juga sulit, padahal setahu saya kewenangannya sudah didelegasikan kepada perguruan tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara). Betul, Pak Rektor? Sudah didelegasikan loh, jangan nyalah-nyalahin lagi kementerian.

Pusat studi yang ada di kampus-kampus, hati-hati. Saya sekarang memang ya memang harus bekerja harus detail, kalau kita enggak detail, kita enggak ngerti-ngerti. Pusat studi, saya dengar juga demikian dan yang saya tahu juga demikian. Yang lama tidak dibubarkan, yang sudah jadul (jaman dulu) tidak dibubarkan, yang baru juga enggak dibentuk. Ini tantangan-tantangan kita dalam rangka SDM, menyiapkan SDM Indonesia.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, selamat Dies Natalis ke-46.

Terima kasih. Saya tutup.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru