Sidang Terbuka Senat Universitas Kristen Indonesia (UKI) dalam rangka Lustrum XIII, 15 Oktober 2018, di Lapangan Bola, Kampus Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang, Jakarta Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 Oktober 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.313 Kali

Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Shalom,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Om swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Yang saya hormati Pak Menteri Ristekdikti,
Yang saya hormati Rektor Universitas Kristen Indonesia beserta seluruh jajaran eksekutif,
Yang saya hormati Dewan Guru Besar, Senat Universitas, Dewan Etik dan Pendeta Kampus Universitas Kristen Indonesia,
Yang saya hormati Ketua PGI,
Yang saya hormati seluruh mahasiswa yang hadir dan alumni yang hadir pada pagi hari ini.

Viva UKI!

Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia,
Pertama-tama, saya ingin mengucapkan selamat atas Dies Natalis ke-65 Universitas Kristen Indonesia (UKI). Universitas yang lahir dari semangat perjuangan kemerdekaan, universitas yang mengajarkan betapa mulianya melayani daripada dilayani. Saya yakin kiprah dan kontribusi UKI di masa-masa mendatang akan semakin signifikan dan mampu menjadi universitas yang unggul, yang memberikan kontribusi besar bagi kemanusiaan, bagi Indonesia yang maju dan bermartabat.

Bapak Rektor, Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia,
Pada kesempatan ini saya ingin sedikit menjelaskan kembali mengenai pidato saya saat pembukaan IMF-World Bank Annual Meeting di Bali tiga hari yang lalu, karena ini banyak ramai.

Sekali lagi, perhelatan ekonomi dan politik dunia saat ini diwarnai oleh pertarungan antarkekuatan-kekuatan besar, antarnegara-negara besar dan negara-negara elite. Perebutan kekuasaan antarkekuatan besar itu bagaikan sebuah roda besar yang berputar seperti siklus kehidupan. Satu negara elite tengah berjaya, sementara negara lain mengalami kemunduran dan kehancuran. Tatkala para kekuatan-kekuatan besar ini sibuk bertarung satu sama lain, mereka tidak sadar adanya ancaman yang lebih besar, misalnya perubahan iklim, terorisme global, dan menurunnya ekonomi global.

Pesan moral utama yang ingin saya sampaikan saat itu adalah bahwa konfrontasi dan perselisihan akan mengakibatkan penderitaan, bukan hanya bagi yang kalah namun juga bagi yang menang. Ketika kemenangan sudah dirayakan dan kekalahan sudah diratapi, barulah kedua-duanya sadar, tapi sudah terlambat kalau sadarnya baru belakangan. Bahwa kemenangan maupun kekalahan dalam perang selalu hasilnya sama, yaitu dunia yang porak-poranda. Tidak boleh melakukan pengrusakan hanya untuk menghasilkan sebuah kemenangan. Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan di tengah kehancuran.

Itulah pesan moral yang ingin saya sampaikan di saat Annual Meeting itu. Pesan moral yang saya sampaikan pada pidato di Bali tersebut tidak hanya relevan disampaikan kepada para pemimpin dunia saat ini, tetapi juga tepat kita sampaikan kepada masyarakat, kepada pemimpin-pemimpin kita di dalam negeri, terutama kepada elite-elite yang sedang memperjuangkan kepentingannya.

Saat ini kita memasuki tahun politik, semuanya sudah tahu. Dan masyarakat kita akan ikut terlibat dalam proses demokrasi, dalam proses kontestasi politik. Memang kontestasi akan diikuti dengan kompetisi dan rivalitas. Tetapi kompetisi dan rivalitas tersebut harus dibangun di atas fondasi yang tidak saling menjatuhkan.

Kontestasi tidak boleh menimbulkan kegaduhan dan permusuhan, kebencian, kedengkian, tidak saling mencela, tidak harus saling memfitnah. Kontestasi politik tidak boleh menimbulkan kerusakan. Dan kontestasi juga tidak boleh mengorbankan fondasi kebangsaan kita, fondasi sosial dan politik kita berupa stabilitas dan keamanan, toleransi dan persatuan. Fondasi ekonomi kita berupa kepercayaan internasional serta kenyamanan dalam berusaha dan bekerja.

Rakyat kita harus merayakan kontestasi ini dengan kegembiraan, ini sering saya sampaikan, yang diwarnai oleh narasi-narasi yang sejuk dan ide-ide untuk kemajuan, gagasan-gagasan untuk kemajuan, program-program untuk Indonesia Maju. Yang merayakan perbedaan pilihan dengan penuh kedewasaan, dengan penuh kematangan, yang justru ini akan memperkokoh Bhinneka Tunggal Ika kita dan persatuan kita. Inilah yang sebetulnya ingin kita raih dalam kontestasi politik kita ini.

Saya ingin menyadarkan kepada Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara semuanya, sekali lagi, bahwa negara kita ini negara besar, dengan perbedaan-perbedaan yang sangat banyak, perbedaan suku, agama, tradisi, adat, bahasa daerah, semuanya berbeda kita ini.

Saya sering menyampaikan, kita sekarang memiliki 714 suku, memiliki 1.100 lebih bahasa daerah, memiliki adat yang berbeda, memiliki tradisi yang berbeda. Itu saya ketahui betul, saya lihat betul, setelah kita berjalan dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Bayangkan 714 suku. Singapura itu hanya memiliki 4 suku. Saya dari Afghanistan saya tanya Presiden Ashraf Ghani ada berapa suku di sana? 7 suku,  kita 714. Bayangkan betapa perbedaan-perbedaan itu nyata di dalam kehidupan sehari-hari kita. Bahasa daerah 1.100. Dunia mana yang memiliki perbedaan yang amat sangat seperti ini.

Saya sering mencontohkan di Sumatra Utara. Kalau sudah sambutan pasti di sana kan, “horas.” Ya kan? Begitu masuk ke Pakpak, “horas,” ditegur saya. “Pak Presiden keliru,  di sini juah-juah, Pak, bukan horas.” Pindah lagi ke Karo, beda lagi. “Pak, di sini bukan horas, Bapak keliru, di sini mejuah-juah.” Masih dalam satu provinsi, pindah lagi ke Nias, “Bapak jangan bicara lagi horas, di sini ya’ahowu.” Saya yang hafal memang baru satu provinsi, karena kita memiliki 34 provinsi, memiliki 514 kota dan kabupaten. Negara mana yang memiliki perbedaan-perbedaan seperti yang tadi saya sampaikan? Tidak ada.

Oleh sebab itu, saya pesan, saya titip, jangan sampai karena pilihan bupati, karena pilihan wali kota, karena pilihan gubernur, karena pilihan presiden, kita menjadi seolah-olah sepertinya terbelah-belah, terpecah-pecah. Silakan mau pilih bupati A, bupati B, bupati C dalam kontestasi politik di daerah, silakan. Silakan pilih gubernur  A, B, atau C, atau kalau kandidatnya 4, D. Pilih yang terbaik. Ada pilihan presiden, A dan B, silakan pilih A atau B.

Ini adalah kontestasi politik. Sehingga sering saya sampaikan kepada masyarakat, kepada rakyat, mestinya dalam kontestasi politik itu adalah kontestasi adu ide, adu gagasan, adu program. Dan lihat, dilihat juga di dalam pilihan bupati, pilihan wali kota, pilihan gubernur, pilihan presiden,  dilihat juga prestasinya seperti apa, rekam jejaknya, track record-nya seperti apa, dilihat. Jangan adu celaan, saling mencela, saling memaki, saling menghujat, saling memfitnah. Itu bukan tata krama Indonesia, itu bukan etika Indonesia. Apa ini mau kita terus-teruskan? Tidak.

Kembali lagi, negara ini negara besar, para pendiri bangsa kita telah memberi keteladanan yang luhur kepada kita sebagai generasi penerus. Coba kita lihat Bapak Johanes Leimena dan Bapak Mohammad Natsir. Meskipun mereka berasal dari partai yang berbeda, Partai Kristen Indonesia dan Partai Masyumi, tetapi mereka sangat bersahabat, mereka bersaudara dalam visi kebangsaan dan sahabat sejati dalam pergaulan sehari-hari. Tidak ada saling mencela, tidak ada saling mencemooh, tidak ada saling memfitnah, apalagi.

Inilah keteladanan-keteladanan yang harus kita ambil, kita pakai. Dengan fondasi yang kuat, bangsa kita akan kokoh menghadapi tantangan-tantangan. Tantangan-tantangan besar kita itu di hadapan mata, ketidakpastian ekonomi global, perubahan iklim yang kita rasakan, terorisme, radikalisme. Itu tantangan-tantangan yang akan kita hadapi ke depan. Kita juga harus cepat memanfaatkan peluang dan mampu melakukan lompatan-lompatan kemajuan. Kalau itu kita bersatu, pasti kita bisa.

Saya berikan contoh Asian Games. Biasanya kita ranking 22, ranking 17, ranking 15. Begitu bersatu, kita tidak pernah berbicara yang main badminton itu agamanya apa, yang main silat itu dari provinsi mana, sukunya apa, enggak pernah. Kita hanya berbicara satu, Indonesia, Indonesia Raya, Merah Putih, nyatanya kita bisa nomor 4.

Tapi yang diramaikan pasti pas saya naik motor. Yang diramaikan prestasinya dong, penyelenggaraan yang baik, naik motor saja diramaikan. Yang diramaikan yang melompat ini. Itu stuntman? Ya pasti stuntman dong. Masak Presiden disuruh melompat kayak itu? Yang benar saja. Iya kan? Presiden suruh lompat sendiri? Gila, Bro! Mestinya kita mengapresiasi prestasi-prestasi atlet kita, baik di Asian Games maupun di Para Games. Mengapresiasi, bukan cari-cari naik sepeda motor melompat saja dicari-cari kesalahannya. Ini apa sebetulnya kita ini? Maunya ke mana?

Bapak Rektor, Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.
Dalam setiap lompatan kemajuan, perguruan tinggi selalu menempati peran sentral, ini sering saya sampaikan terus. Apalagi tatkala dihadapkan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini kita tahu Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan yang sangat dahsyat. McKinsey Global Institute mengatakan bahwa perubahannya akan kurang lebih 3.000 kali lebih cepat dari revolusi industri yang pertama. Artinya apa? Ke depan ini akan ada perubahan-perubahan dunia, perubahan-perubahan yang sangat cepat sekali. Kita tahu artificial intelligence, internet of things, virtual reality, advanced robotic. Perubahannya, kita baru belajar satu muncul yang lain, kita belajar satu muncul yang lain.

Tiga tahun yang lalu saya ke Silicon Valley, masuk ke markasnya Google, masuk ke markasnya Twitter, masuk ke markasnya Plug and Play, masuk ke markasnya Facebook. Saya ketemu Mark (Zuckerberg) di markasnya Facebook. Masuk, dijelasin ini, ini, ini. Saya disuruh pakai kacamata gede seperti ini, oculus, diajak main pingpong. Main pingpong itu virtual reality. Main pingpong itu tidak pakai bet, tidak pakai meja, tidak pakai bola, tapi main, tang tung tang tung tang tung. Persis 100 persen kayak kita main tenis meja, main pingpong. Saya tanya kepada Mark, “Mark apakah ini hanya untuk pingpong?” “Presiden Jokowi, tidak.  Bisa untuk apa saja.” Artinya, saya tanya, “artinya sepakbola juga bisa?” “Bisa kenapa tidak.” Berarti nanti kita akan lihat orang main sepakbola tapi tidak di lapangan. Tendang-tendangan tapi tidak di lapangan, enggak ada bolanya. Bayangkan, akan terjadi sebuah perubahan seperti itu.

Inilah, tadi, inilah fungsinya perguruan tinggi melihat perubahan-perubahan sehingga segera menyesuaikan. Karena nanti perubahan-perubahan itu akan membawa implikasi  besar terhadap lanskap kehidupan kita sehari-hari, baik lanskap socio dan kultural yang akan berubah pasti, lanskap politik juga akan berubah, baik di tingkat global, nasional, daerah, semuanya juga akan berubah, lanskap ekonomi juga akan berubah. Sehingga perguruan tinggi ini juga harus menyesuaikan.

Saya selalu katakan bahwa agenda penelitian dan arah pendidikan juga harus tanggap terhadap tantangan perubahan dan peluang-peluang baru yang ada. Beberapa universitas besar dunia juga sudah cepat merespons perkembangan teknologi baru ini. Contoh, ada fakultas yang mengintegrasikan computer science, economics, dan data science. Di Kent State University ada Hospitality and Tourism Management sudah bergerak berubah. Di University of Southern California ada College of Games and Studies, ada juga Sport Studies.

Saya pernah undang yang namanya Jess No Limit. Ada yang tahu? Jangan-jangan enggak tahu Jess No Limit.  Saya tanya ke Jess,  “Jess,  saya ngerti income-mu sebagai gamersIncome dia itu mungkin sudah ratusan juta. Masih muda sekali, income-nya sudah ratusan juta. Pekerjaannya apa? Main game coba. Main game bisa dapat uang ratusan juta dari mana? Dia cerita ke saya.

Inilah profesi-profesi baru yang dulunya tidak ada, sekarang menjadi ada. Yang senang main eSport sama Mobile Legends pasti mengerti, tapi kalau yang, maaf, yang tua-tua kayak saya enggak mengerti. Tapi saya selalu ingin belajar. Saya selalu tanya ke anak-anak saya, apa sih Mobile Legends, eSport? Coba saya ingin main seperti apa? Saya main, saya bisa. Mungkin banyak yang belum dengar eSport apa? Mobile Legends apa? Ya itu kalau enggak ngikutin, ketinggal pasti.

Selain itu, fakultas dan program studi, ini perlu saya sampaikan Pak Rektor dan mungkin seluruh dekan, dan dosen. Selain itu, fakultas dan program studi juga bisa fokus pada produk-produk unggulan kita agar bisa memberikan value added, memberikan nilai tambah yang maksimal untuk masyarakat. Kita harus fokus menggarap produk-produk unggulan alam kita. Bisa saja, kenapa tidak ada fakultas kopi, fakultas teh, fakultas cokelat, fakultas kelapa sawit.  Masak sudah 30-50 tahun ini adanya hanya fakultas ekonomi, fakultas hukum, fakultas teknik. Kenapa tidak yang baru-baru ini dimunculkan, fakultas kelapa, bukan kepala, kelapa.  Kenapa tidak? Itu produk-produk unggulan Indonesia. Kita harus juga fokus menggarap produk-produk unggulan kebudayaan kita yang potensinya besar seperti pariwisata. Kenapa tidak ada fakultas tourisme, kenapa tidak? Ini sebuah potensi ke depan negara kita.

Seharusnya keunggulan-keunggulan kita tersebut harus diprioritaskan untuk dipelajari, untuk diajarkan mulai dari hulu sampai hilir semuanya, dipelajari semuanya. Kalau kopi ya bagaimana menanam, bagaimana memupuk, bagaimana panennya, bagaimana memproses produksinya,  bagaimana membuat kopi. Masa negara kita yang punya kopi, negara lain yang punya cappucino. Kenapa kita tidak bisa menciptakan produk-produk seperti itu? Bisa, tetapi butuh fakultas kopi.

Keluarga  besar UKI yang berbahagia,
Saya paham, agar lembaga perguruan tinggi bisa dinamis, perlu ekosistem yang mendukung,  perlu ekosistem nasional yang mendukung, seperti regulasi dan juga birokrasi nasional kita. Untuk itu, saya telah perintahkan dan terus saya ikuti agar ekosistem nasional kita harus semakin baik.  Dan mulai tahun depan kita akan fokus besar-besaran untuk pengembangan sumber daya manusia (SDM), setelah sebelumnya kita fokus kepada infrastruktur.

Infrastruktur sudah berjalan, kita harus masuk ke sumber daya manusia karena inilah kekuatan besar kita. Sumber daya manusia harus kita garap besar-besaran. Tentu saja ekosistem di dalam kampus juga harus dibenahi. Cara-cara baru harus dikembangkan. Kreasi/kreativitas baru harus difasilitasi dan dikembangkan. Inovasi yang memecahkan masalah dan memberikan nilai tambah harus diberikan prioritas. Dan kita harus berani memunculkan, sekali lagi, memunculkan fakultas baru, memunculkan program studi baru, dan mencetak keahlian yang relevan untuk masa kini dan masa depan.

Selain itu, ada satu prioritas lagi yang ingin saya titipkan kepada lembaga pendidikan tinggi, kepada UKI, yaitu pengembangan kewirausahaan (entrepreneurship). Kita membutuhkan para wirausahawan yang menciptakan lapangan kerja. Meskipun tadi sudah disampaikan oleh Pak Rektor, dalam Global Entrepreneurship Index tahun 2018, peringkat kewirausahaan kita baru pada ranking ke 94 dari 137 negara. Sedih ndak?  Kita harus bersama-sama membangun ekosistem bagi pengembangan kewirausahaan, membangun ekosistem yang membuat bisnis pemula (startup) bisa tumbuh menjadi besar, yang bukan hanya menghasilkan profit bagi perusahaan, tapi juga melahirkan benefit bagi masyarakat luas.

Saya yakin UKI sangat mampu menjalankan mandat-mandat tersebut dengan baik.  Saya tahu selama 65 tahun berkiprah, UKI telah membuktikan dirinya sebagai pelayan pendidikan yang berdedikasi tinggi, yang melahirkan lulusan-lulusan yang kompeten dan profesional, yang selalu membela Pancasila dilandasi jiwa kerakyatan, dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi.

Sekali lagi, selamat Dies Natalis yang ke-65, terus mencerdaskan kehidupan bangsa, teruslah mencetak manusia Indonesia yang unggul dan membela Pancasila, teruslah berinovasi untuk mewarnai peradaban Indonesia yang maju dan berkeadilan sosial.

Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Semoga Tuhan memberkati.

Sambutan Terbaru