Silaturahmi dengan Muslimat NU dan Para Ulama, 8 Februari 2019, di Pondok Pesantren Al-Ittihad Cianjur, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 8 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.640 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu wassalamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati yang mulia para Alim Ulama, wabilkhusus Bapak Kiai Haji Kamali Abdul Ghani, pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittihad, beserta seluruh jajaran pengurus,
Yang saya hormati Ketua Muslimat Nahdlatul Ulama Ibu Khofifah Indar Parawansa, beserta seluruh jajaran pengurus Muslimat NU Provinsi Jawa Barat, Muslimat NU Kabupaten Cianjur,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, Bapak Gubernur Provinsi Jawa Barat, Bapak Bupati Kabupaten Cianjur,
Ibu-ibu semuanya seluruh Muslimat NU Kabupaten Cianjur yang siang hari ini hadir,

Siang hari ini, alhamdulillah, sangat berbahagia sekali bisa hadir di Pondok Pesantren Al-Ittihad Kabupaten Cianjur dan bisa bertemu dengan Ibu-ibu semuanya.

Apa kabar Ibu-ibu? Alhamdulillah baik.
Sampurasun.

Tadi sudah dideklarasikan deklarasi antihoaks, antifitnah, antigibah. Apa yang harus kita tindaklanjuti setelah deklarasi?

Kita tahu semuanya bahwa negara kita Indonesia ini dianugerahi oleh Allah berbeda-beda, beda suku, beda agama, beda adat, beda tradisi, beda bahasa daerah. Oleh sebab itu, penting bagi kita semuanya untuk merawat, untuk menjaga persatuan kita, menjaga kerukunan kita, menjaga persaudaraan kita, menjaga ukhuwah kita, menjaga ukhuwah islamiah kita, menjaga ukhuwah wathaniyah kita. Karena bangsa Indonesia ini adalah bangsa besar, berbeda-beda, dan jumlahnya banyak sekali.

Penduduk kita sekarang sudah 260 juta. Kita memiliki 714 suku. Saya ingin bandingkan dengan yang namanya Afghanistan, kita memiliki 714 suku, Afghanistan itu memiliki tujuh suku. Afghanistan tujuh, Indonesia 714, sudah bandingkan. Di Afghanistan terjadi konflik, kemudian perang, sudah lebih dari 40 tahun tidak selesai-selesai. Nah, ini dimulai dari konflik dua suku. Dua suku konflik, yang satu membawa teman dari luar, yang satu membawa teman dari luar, perang, sampai sekarang tidak selesai-selesai.

Saya pernah ke Kabul, ibu kota Afghanistan. Dua hari sebelum saya turun ke sana ada bom, 103 orang meninggal dan ratusan lagi luka-luka. Dua jam sebelum saya turun dari pesawat, di Kabul ada bom lagi, lima orang meninggal dan puluhan juga luka-luka.

Saya bertemu Presiden Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan, juga ketemu Ibu Negara Afghanistan yaitu Ibu Rula Ghani. Ini ceritanya cerita Ibu Rula Ghani, bercerita kepada saya waktu di Bogor bertemu dengan saya, waktu di Afghanistan juga bertemu dengan saya. Apa yang beliau ceritakan? Bu Rula Ghani cerita sambil sedikit mengeluarkan air mata. Apa yang beliau sampaikan,  “Presiden Jokowi, dulu 40 tahun yang lalu, Afghanistan ini aman, tenteram karena Afghanistan itu adalah negara yang kaya, deposit emasnya besar, minyak dan gasnya juga besar. 40 tahun yang lalu, negara lain mungkin banyak yang belum naik mobil. di Afghanistan saya sudah menyetir mobil di kota, maupun dari kota ke kota, dari kabupaten ke kabupaten. Tidak ada masalah, aman, tenteram.” Terus ada konflik antar dua suku tadi sehingga perang. Terus setelah perang, perbedaannya apa dengan sebelum? Ya tadi, dulu bisa naik mobil ke mana-mana, waktu perang 40 tahun, Ibu Rula Ghani menyampaikan, yang paling rugi hanya dua; satu, wanita/perempuan, yang kedua, anak-anak, tidak bisa kemana-mana. Beliau menyampaikan, “sekarang saya bisa naik sepeda saja sudah saya syukuri alhamdulillah. Anak-anak bisa naik sepeda kita syukuri, alhamdulillah. Itu pun juga takut-takut karena perang, konflik.”

Inilah pengalaman, pelajaran yang bisa kita ambil. Negara yang dulunya aman tenteram, kemudian perang karena konflik dua suku. Oleh sebab itu, deklarasi tadi penting untuk mengingatkan kepada kita semuanya, jangan sampai gara-gara, satu, ini biasanya dimulai dari politik ini, pilihan bupati, iya kan, pilihan gubernur, pilihan presiden. Dimulai dari situ. Pilihan bupati, antarkampung enggak saling sapa. Pilihan gubernur, antartetangga enggak saling omong. Pilihan presiden, sama di satu majelis taklim tidak saling omong, tidak saling sapa. Lho, lho, lho, lho. Lupa, kita ini saudara, kita ini saudara. Ukhuwah kita harus kita pererat terus, kita jaga, kita rawat. Kok urusan pilihan politik menjadi seperti itu? Karena ada apa? Di sini ngomporin, di sini ngomporin, kemudian muncul di tengah-tengah ada fitnah, fitnah, hoaks, fitnah, hoaks, banyak sekali sehingga antarteman, antarsaudara, antartetangga, antarkampung tidak saling bicara, tidak saling omong. Inilah dimulainya yang namanya konflik tadi.

Oleh sebab itu, saya sangat menghargai Ibu Khofifah, menghargai sekali deklarasi-deklarasi oleh Muslimat NU di mana-mana mengenai hoaks, fitnah, dan gibah. Supaya kita tidak didera oleh perpecahan dan konflik. Kalau sudah perang, sudah konflik seperti ini, menyembuhkannya,  mengembalikannya sangat, sangat, sangat sulit sekali. Satu mengalah, yang satu enggak mengalah. Satu mau, yang satu enggak mau. Sampai kita ini sudah mempertemukan mereka mungkin lebih dari sembilan kali di Indonesia tapi masih belum bisa sambung.

Oleh sebab itu, jangan sampai itu terjadi di negara kita. Ibu-ibu setuju? Jadi kembali lagi, karena pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan presiden, atau pilihan wali kota, dimulai dari situ.

Banyak isu-isu sekarang ini, banyak isu-isu. Hati-hati, banyak isu-isu. Saya berikan contoh isu yang di bawah, banyak sekali. Satu, kriminalisasi ulama. Dengar Ibu-ibu itu ya? Dengar? Padahal enggak ada tapi diisukan itu. Tolong disampaikan kepada saya, ulamanya siapa? Kalau ada yang tidak bersalah kemudian dimasukkan sel, lha itu namanya kriminalisasi. Enggak ada. Jadi hanya dibuat isu-isu supaya di bawah ini resah.

Ada lagi isu Presiden Jokowi itu PKI. Ada, saya dengar. PKI itu dibubarkan tahun ’65-’66, saya lahir tahun ’61, umur saya baru empat tahun. Ngerti semuanya ya? Enggak ada PKI balita. Wong saya masih balita, masak sudah jadi PKI. Bagaimana? Logikanya enggak masuk. Tapi ada yang percaya. Ada yang percaya itu karena sudah kemakan, sudah panas kemakan oleh fitnah-fitnah seperti itu.

Ada lagi, Presiden Jokowi itu antek asing. Ada di bawah itu seperti itu. Coba dilihat, Ibu-ibu mungkin tahu yang namanya Blok Mahakam, Blok Mahakam itu blok minyak besar kita. Sudah 50 tahun itu dikelola oleh yang namanya Inpex dan Total, itu perusahaan dari Jepang dan Prancis. 2015 yang lalu sudah kita ambil alih dan kita berikan kepada Pertamina. Begitu dibilang antek asing. Kemudian Blok Rokan yang dikelola oleh Chevron dari Amerika, 2018 kemarin sudah dimenangkan lagi oleh Pertamina 100 persen. Begitu dibilang antek asing. Terakhir,  akhir 2018 kemarin, Desember, alhamdulillah yang namanya Freeport, itu tambang emas, tambang tembaga yang ada di Papua sudah mayoritas 51 persen dikendalikan oleh yang namanya PT Inalum, oleh negara kita. Begini malah dibilang saya antek asing. Antek asingnya di mana?

Ini yang namanya isu dan fitnah. Kalau kita tidak menyaring, tidak tanya kanan, tidak tanya kiri, langsung masuk, ya jadinya akan sangat berbahaya bagi negara ini, perselisihan, konflik akan terjadi.

Saya beruntung sekali hari ini bisa bertemu dengan Ibu-ibu Muslimat NU Kabupaten Cianjur, sehingga apa yang saya sampaikan ini agar juga disampaikan kepada kanan-kiri kita. Jangan gampang termakan oleh isu-isu, jangan gampang termakan oleh fitnah-fitnah.

Kalau ada pilihan bupati, pilihan gubernur, pilihan wali kota, pilihan presiden itu gampang banget. Misalnya pilihan bupati, ada calonnya tiga, iya kan, dilihat saja, gampang kok. Punya pengalaman enggak dalam pemerintahan, dilihat, iya ndak? Dilihat saja prestasinya apa, sebelumnya punya prestasi ndak. Dilihat programnya baik atau tidak baik untuk rakyat, untuk daerahnya. Ide dan gagasannya apa dilihat, sudah. Jangan dengerin yang namanya fitnah-fitnah, isu-isu yang berkembang. Kalau sudah menjelang, ini kan dua bulan lagi ini, bulan politik ini, isinya pasti isu simpang siur ke mana-mana.

Saja rasa itu sedikit yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, marilah kita menjaga, marilah kita merawat persatuan kita, kerukunan kita, persaudaraan kita, ukhuwah kita, ukhuwah islamiah kita, ukhuwah wathaniyah kita, agar negara kita ini tenteram, adem, ayem, aman, dan insyaallah adil dan makmur.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Sambutan Terbaru