Silaturahmi dengan Panitia dan Pemenang Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Tahun 2018, 12 November 2018, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 12 November 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.718 Kali

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja,
Yang saya hormati Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia Mgr. Ignatius Suharyo,
Ketua Panitia dan seluruh peserta Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Katolik Nasional Pertama Tahun 2018,
Bapak-Ibu hadirin yang berbahagia.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Pertama-tama, saya ingin mohon maaf yang sebesar-besarnya tidak dapat menghadiri acara Pesparani di Ambon sebulan yang lalu. Beberapa bulan sebelumnya sebetulnya saya sudah bertemu dengan panitia, sudah diatur oleh Kementerian, Pak Menteri Sekretaris Negara.

Jadi kalau ada acara itu yang mengatur Setneg, bukan presiden. Jadi presiden disuruh ke mana datang, undangan ke mana datang, undangan ke mana datang. Jadi saya tidak bisa mengatur-atur mengenai saya harus ke mana. Karena memang saat itu ada agenda tugas kenegaraan yang pengaturannya memang betul-betul sekarang ini, terutama memang di hari Sabtu dan Minggu.

Saya itu kalau Sabtu dan Minggu, yang lain libur, saya justru biasanya 2-3 kali kegiatan saya lebih banyak dibanding hari biasa. Saya senang hari biasa seperti ini. Sabtu dan Minggu bisa dua kali (lipat). Misalnya kayak minggu yang lalu, pagi betul-betul pagi, saya jam 06.00 itu sudah sampai di Pasar Anyar di Kabupaten Tangerang. Jam 06.00 pagi saya sudah sampai di pasar. Kemudian masuk ke hotel sudah tengah malam. Pagi-pagi lagi sudah harus menghadiri acara.

Saya sebetulnya sering menyampaikan kepada Pak Mensesneg, “Pak Menteri, saya ini juga sama lho seperti yang lain-lain, punya rasa capek, punya rasa lelah. Jangan dipikir saya ini kayak mesin, kayak robot, dibawa sana, dibawa sini.” Pengaturannya ada masa istirahatnya, mesti ada jedanya. Itu yang bolak-balik, “Pak, tapi ini yang kalau ini enggak datang, ini enggak datang, ini kecewa.” Ya kalau lingkupnya mungkin hanya Jakarta kita bisa mengatur-atur waktu tapi kalau ini di Aceh, kemudian di Papua, kemudian di Ambon, pengaturannya yang sangat sulit sekali.

Tapi saya senang akhirnya hari ini saya bisa bertemu dengan Bapak-Ibu seluruh peserta, seluruh panitia Pesparani Katolik Nasional. Di sini juga ada Pak Gub, Pak Wali Kota, dan Bupati yang hadir. Saya sudah mendengar banyak mengenai acara ini, saya kira saya bisa menyampaikan panitia telah sukses menyelenggarakan Pesparani ini. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada para pemenang.

Saya kira yang penting bukan semata-mata soal vokal atau siapa pemenangnya atau siapa yang menjadi juaranya, tapi yang paling penting kita bisa merayakan kebersamaan, bisa merayakan persaudaraan, bisa merayakan persatuan. Dan tempatnya seperti tadi yang disampaikan oleh Mgr. Suharyo, betul, tempat di Ambon itu memang sebuah simbol yang benar dilakukan di sana. Karena dalam paduan suara, kita banyak belajar tentang tenggang rasa, kita banyak belajar untuk saling menghargai terhadap orang lain, dan belajar saling membangun toleransi, karena memang saat ini, itulah yang diperlukan bangsa kita, Indonesia. Suara sopran, suara alto, suara tenor, dan suara bas, semuanya harus saling menghargai. Tidak mungkin satu minta dominan, satu minta terus-terusan sopran, atau terus-terusan bas, tidak mungkin. Harus saling menjaga dan mengurangi ego masing-masing untuk mendapatkan sebuah suara yang padu, suara yang harmonis, dan suara yang indah.

Sekali lagi, saya ingin menyampaikan ucapan selamat dan permohonan maaf karena tidak bisa hadir di Ambon pada saat pembukaan yang lalu.

Yang kedua, mumpung pas bertemu, saya juga sedikit ingin menyampaikan agar pesan-pesan mengenai kerukunan, pesan-pesan mengenai persaudaraan, pesan-pesan mengenai persatuan ini terus kita sampaikan kepada umat, kita sampaikan kepada masyarakat, kita sampaikan kepada rakyat. Karena kebutuhan kita saat ini akan persatuan, mengingatkan akan pentingnya persatuan, persaudaraan, kerukunan, ini betul-betul saya ingin ini terus disampaikan dan digaungkan kepada masyarakat. Karena banyak kita ini yang tidak ingat, mungkin lupa dan mungkin tidak ingat, bahwa negara ini memang sangat beragam. Berbeda agama, berbeda suku, berbeda bahasa daerah, berbeda adat, berbeda tradisi, dan itu memerlukan sebuah pemahaman yang sangat, agar aset terbesar bangsa ini yaitu persatuan, persaudaraan, dan kerukunan itu betul-betul bisa diresapi oleh masyarakat, bisa dipahami secara mendasar oleh masyarakat. Karena memang perbedaan-perbedaan yang ada ini membutuhkan itu. Jangan sampai intoleransi, ekstremisme, menganggap dirinya yang paling benar, itu merasuk ke mana-mana dan akhirnya nantinya masyarakat merasa tidak rukun, tidak satu. Itu yang sangat berbahaya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.

Terima kasih.
Selamat pagi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru