Silaturahmi dengan Para Petani Tebu Tahun 2019, 6 Februari 2019, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Februari 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.001 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Yang saya hormati Pak Menko Perekonomian, Bapak Kepala Staf Kepresidenan,
Yang saya hormati Ketua Umum DPN APTRI (Dewan Pimpinan Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia) Bapak Soemitro Samadikun, beserta seluruh jajaran pengurus DPD dan para petani tebu dari seluruh tanah air yang hadir sore hari ini di Istana.

Tadi sudah disampaikan secara gamblang oleh Pak Soemitro mengenai problem-problem yang berkaitan dengan tebu, yang berkaitan dengan gula. Saya harus bicara apa adanya, tidak semua… Saya masih belum secara detail tahu betul mengenai permasalahan, terutama yang berkaitan dengan harga. Tadi saya minta bisikan dari Pak Menko tetapi juga belum nangkep betul, sehingga saya minta yang dari Lampung ada ndak? Lampung, Lampung, Lampung, Lampung. Kemudian dari Jawa Timur? Banyak Jawa Timur. Jawa Tengah? Jawa tengah juga banyak. Ya boleh dari Lampung satu, silakan Lampung satu ke sini, ke sini. Dari Lampung satu saja ke sini. Jawa Tengah tadi mana ya? Jawa Tengah, Jawa Tengah, Jawa Tengah ya boleh Jawa Tengah maju. Ya,  ini yang Jawa Tengah yang dari sana silakan maju yang Jawa Tengah ya. Ini dari Jawa Timur? Jawa Timur, Jawa Timur, Jawa Timur, ya boleh Jawa Timur. Ya.

Biar saya mengerti betul begitu, saya ingin tanya ke pelaku-pelaku. Sehingga nanti dalam membuat kebijakan itu tidak keliru, tidak salah. Semoga-moga  nanti ini bisa mewakili dan pemikirannya bisa masuk ke otak saya.

Dan yang perlu saya sampaikan, memang produksi gula ini kan semakin tahun semakin turun terus, padahal permintaannya semakin tahun semakin naik.

Apa? Jawa Barat? Ya sudah Jawa Barat, satu sini. Nanti kalau semua minta maju yang lain juga minta maju nanti. Sudah, Jawa Barat boleh sini, sini, sini, sini, sini. Nah iya kan minta maju semua kan. Sudah, sudah, sudah, oke, sudah.

Perkenalkan dulu. Sudah sini, semuanya mau maju, ya enggak apa-apa. Sudah, silakan, silakan. Nama?

(Dialog Presiden RI dengan Perwakilan Petani Tebu)

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Bismillahirrahmanirrahim. Perkenalkan nama saya Harmonis Siaga Putra, asal dari Lampung, petani tebu wilayah Lampung.

Presiden Republik Indonesia
Pak siapa tadi?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Harmonis Siaga Putra.

Presiden Republik Indonesia
Panggilannya?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Harmonis.

Presiden Republik Indonesia
Pak Harmonis.

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Pak Harmon apa Pak Harmonis? Pak Harmonis.

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Harmonis.

Presiden Republik Indonesia
Pak Harmonis. Ya Pak Harmonis, mintanya dipanggil Pak Harmonis, Pak Harmon bagaimana? Ya, jadi kalau di Lampung, di Lampung ada problem apa di sana, yang konkret begitu, kemudian yang memerlukan sebuah, sebuah solusi.

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Problemnya sedikit Pak, mengenai bantuan dari pemerintah, khususnya Kementerian Pertanian yang beberapa tahun ini tidak pernah sampai lagi ke masyarakat.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Program Bansos Tebu.

Presiden Republik Indonesia
Apa?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Bansos.

Presiden Republik Indonesia
Bansos Tebu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Dari Kementerian Pertanian.

Presiden Republik Indonesia
Bansos. Coba, coba. Bansos apa? Bansos Tebu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu Bansos Tebu itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Bantuan dari pemerintah Kementerian Pertanian.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Yang sampai tiga tahun ini…

Presiden Republik Indonesia
Apa ini? Bansos Tebu itu apa itu? Ini semua provinsi dapat Bansos Tebu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Dapat.

Presiden Republik Indonesia
Biasanya dapat?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Bongkar ratun, rawat ratun.

Presiden Republik Indonesia
Oke. Apa itu?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Ya dari tahun 2015 sampai 2018 ini tidak pernah sampai.

Presiden Republik Indonesia
Biasanya dapatnya berapa?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Kalau waktu 2014 dapat pupuk, pengolahan lahan, dan alsintan, ya alat pertanian.

Presiden Republik Indonesia
Oke, oke, oke. Berarti apa yang diharapkan dari sini? Jadi kalau misalnya dapat bongkar ratun, dapat rawat ratun itu bisa dapat apa sih? Berarti dapat apa? Mengurangi biaya begitu? Biaya…

Harmonis (Petani tebu dari Lampung)
Iya, membantu biaya petani.

Presiden Republik Indonesia
Oke, nggih. Terus apa lagi Pak Harmonis?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Ini saja?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Ini saja. Karena tiga tahun ini enggak pernah sampai, karena ada kebijakan Pak Presiden, bahwa harus ada sertifikasi bibit.

Presiden Republik Indonesia
Harus ada sertifikasi bibit?

Harmonis (Petani Tebu dari Lampung)
Iya. Sedangkan perusahaan yang ada di Lampung tidak pernah mengeluarkan sertifikasi itu. Jadi terkendala di situ selama tiga tahun ini.

Presiden Republik Indonesia
Ya. Enggak, begini, supaya Bapak-Ibu tahu bahwa tidak semua hal saya itu tahu ya. Mesti… Seperti ini, Bansos Tebu, saya baru dengar ini. Oke, nanti akan saya cek ke Mentan.

Oke, baik. Terima kasih. Silakan Pak.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Terima kasih Pak. Nama Kamari, Pak. Dari Jawa Tengah.

Presiden Republik Indonesia
Dari?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Jawa Tengah.

Presiden Republik Indonesia
Jawa Tengah. Pak siapa tadi?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Kamari, anak petani Pak.

Presiden Republik Indonesia
Pak Kamari?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Iya mewarisi bapak petani, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Tapi ya itu tadi, posisi sekarang yang tahun-tahun kemarin bagus tapi dua tahun ini sangat sulit bagi petani tebu, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa? Kenapa?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Yang pertama itu adalah dihapusnya kredit KKPE yang diubah menjadi KUR.

Presiden Republik Indonesia
Dihapusnya apa?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
KKPE.

Presiden Republik Indonesia
KK?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Kredit Ketahanan Pangan.

Presiden Republik Indonesia
Oh, oke. Kredit Ketahanan Pangan menjadi KUR.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Menjadi KUR. Itu sangat menyulitkan bagi kami karena KUR sendiri itu untuk perbankan tetap minta agunan, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kalau KKPE dulu ndak?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Ndak. Jadi agunan tetapi tanaman tebu kita dianggap, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya, ya.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Jadi tanaman tebu yang kita tanam itu masuk dalam perhitungan.Tapi sekarang yang dihitung adalah agunannya, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oke, nangkep.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Maka dari itu, kalau bisa untuk dipermudah KKPE.

Presiden Republik Indonesia
Diadakan lagi?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Iya Pak, KKPE itu atau KUR-nya itu nanti dipermudah lagi untuk agunannya.

Presiden Republik Indonesia
Hmm, oke.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Itu di… Kemudian, di Jawa Tengah Pak, di Trangkil kami itu menggilingkan tebu kita titip, kerja sama dengan pabrik gula, memang pabrik gulanya swasta, Pak. Nah, pabrik gula swasta dengan regulasi tahun kemarin, dengan adanya pembelian gula oleh pemerintah, Bulog, di bawah Bulog itu 97, kami tidak dapat bagian, Pak. Padahal sudah statement dibuat 97, kami, petani kami petani-petani yang di bawah swasta itu kan harus ikut Pak, tapi tidak uman, tidak dapat. Lah kami menjualnya di bawah itu, kami sangat menangis Pak, itu.

Presiden Republik Indonesia
Menjualnya, menjualnya kemana sih?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Menjualnya ya dijualnya di investor itu, karena bocor, rembesan gula rafinasi itu sangat banyak, makanya harganya sangat melemah, Pak. Maka kami minta untuk tahun depan kalau memang regulasinya dibeli ya dibeli semuanya oleh swasta. Karena kami itu kemitraan, dengan PG itu kemitraan, jadi bagi hasil, resmi Pak itu.

Lha itu kan ada statement laporan bahwa pabrik gula swasta itu membeli putus. Ini yang salah informasi. Mohon kami luruskan bahwa misalnya pabrik Kebon Agung, kemudian Trangkil Pati, Pakis Pati, itu pabrik swasta, kemudian di Jogja juga itu bagi hasil, kalau memang tebunya bagus dikasih rendemen yang bagus, jadi mendidik sekali itu.

Presiden Republik Indonesia
Hmm, nangkep.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Itu Pak. Itu untuk kami di Jawa Tengah. Kemudian, kami dititipi dari Jawa Tengah khususnya dari Kabupaten Pati saat ini posisi banjir Pak, di sungai Kali Juwana Pak, Silugonggo.

Presiden Republik Indonesia
Banjir? Nggih.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Iya, karena sudah sedimentasi, sudah pendangkalan sungainya itu yang tahun berapa itu kemarin, sudah dikeruk dengan dananya yang memang sungguh tinggi. Kalau dikelola oleh kabupaten jelas nanti tidak mampu, maka dari itu kami dapat usulan dari, baik dari petani tebu maupun petani padi untuk supaya mengusulkan kepada Bapak, supaya untuk Silugonggo tahun depan diprogramkan untuk pengerukan Sungai Juwana.

Presiden Republik Indonesia
Sungainya dengan?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Silugonggo, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Si?

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Silugonggo, Jratunseluna Silugonggo itu Pak, sampai sekarang ini masih tergenang air, Pak. Kasihan mau panen sudah ndak bisa, akhirnya padinya membusuk.

Presiden Republik Indonesia
Iya Silugonggo, nggih.

Kamari (Petani Tebu dari Jawa Tengah)
Terima kasih. Itu saja untuk teman lain. Terima kasih Bapak.

Presiden Republik Indonesia
Nggih Pak Kamari, nggih.

Ya, Silakan.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Terima kasih diberi kesempatan untuk bersilaturahmi pertama kepada Bapak Presiden, Bapak Ir. Jokowi. Izin.

Presiden Republik Indonesia
Nama?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Nama saya Tarip Royiku Sayyiban.

Presiden Republik Indonesia
Pak Tarip?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Dari Pabrik Gula Rejoagung, petani Pabrik Gula Rejoagung.

Presiden Republik Indonesia
Mana itu?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Madiun.

Presiden Republik Indonesia
Oh, Madiun, nggih? Nggih. Bagaimana-bagaimana?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Permasalahannya kira-kira seperti apa yang dikemukakan oleh Bapak Soemitro Samadikun Ketua APTRI Nasional.

Presiden Republik Indonesia
Nggih.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Yaitu pertama mengenai harga gula, kemudian impor. Harga gula kami, petani untuk mulai dari tahun 2016 itu sudah mulai menurun karena adanya gula impor, gula rafinasi yang merembes ke pasaran konsumen, bukan untuk industri minuman dan makanan. Untuk itu, kami mohon kepada Bapak kalau impor gula hendaknya pada waktu perhitungan kita gula hasil produksi nasional itu tidak waktu pada waktu panen keluarnya. Jadi kami bukan, bukan alergi gula impor. Karena kami sadar bahwa gula produksi nasional dari petani itu memang masih di bawah kebutuhan konsumen di negara kita. Sehingga nanti kalau mengeluarkan gula impor itu tidak waktu musim panen.

Presiden Republik Indonesia
Panen.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Sehingga pasaran harga gula itu tetap bisa memenuhi harga pokok produksi. Kemudian, tentang sistem bagi hasil, hendaknya dipertahankan sistem bagi hasil itu. Karena itu, kami merasa petani akan, akan bisa hidup dan bisa diuntungkan dengan sistem pembelian, sistem bagi hasil tadi. Karena kami mendengar bahwa akan ada sistem pembelian putus.

Presiden Republik Indonesia
Enggak, sistem bagi hasil ini Pak Tarip, sistem bagi hasil ini keputusan siapa sih? Keputusan pabrik gula atau keputusan pemerintah atau keputusan dari Bulog atau keputusan dari mana sih?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Pemerintah Pak ini.

Presiden Republik Indonesia
Pemerintah? Benar?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
68… Eh 66-34.

Presiden Republik Indonesia
Siapa yang memutuskan? Mentan atau BUMN?

Hadirin
Mentan

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Pokoknya yang sudah berlaku mulai petani menjual gula sendiri.

Presiden Republik Indonesia
Nggih, nggih.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Jadi dengan sistem bagi hasil 66 persen.

Presiden Republik Indonesia
Jadi Pak Tarip, dan Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian, ingin tetap sistem bagi hasil?

Hadirin
Iya!

Presiden Republik Indonesia
Benar?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Bukan, bukan saya saja ya.

Presiden Republik Indonesia
Ya, saya tanya tadi, benar ingin sistem bagi hasil ini tetap dipertahankan?

Hadirin
Betul!

Presiden Republik Indonesia
Nggih, oke.Terus masih ada lagi?

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Kira-kira itu.

Presiden Republik Indonesia
Nggih. Matur Nuwun.

Tarip (Petani Tebu dari Jawa Timur)
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Silakan Pak.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Nama saya Mulyadi, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Pak Mulyadi.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Mulyadi, petani Jawa Barat. Ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan dalam kesempatan ini langsung ke Pak Presiden, bahwa lima tahun ke belakang Pak, Jawa Barat itu areal perkebunan tebunya kurang lebih sampai di 27 ribu hektare, namun pada saat ini tahun 2008 kemarin, itu kurang lebihnya hanya di 21 ribu hektare Pak.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa?

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Itu karena memang animo masyarakat sebagai para petani tebu ini jelas menurun dalam kurun waktu lima tahun ke belakang ini karena mereka mengharapkan sebuah penghasilan tetapi makin tahun, makin tahun mereka merugi dan merugi. Itu salah satunya Pak. Dari sebuah kerugian akhirnya luas lahan perkebunan yang ada di Jawa Barat makin menurun.

Presiden Republik Indonesia
Turun.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Yang kedua, dengan menurunnya luas areal yang tadinya di Jawa Barat ini ada lima pabrik Pak, sampai hari ini sudah tinggal tiga pabrik Pak. Pabrik yang ada di Jawa Barat, Subang sudah ditutup, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ini, pabrik ini milik siapa ini?

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Milik BUMN, PT. Rajawali Dua, Cirebon, terus juga yang di Karangsuwung, PG Karangsuwung juga ditutup, Pak. Jadi dua pabrik ini sudah ditutup, tinggal sekarang tiga, karena tadi dampak sebuah penurunan jumlah luas areal.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Dalam kesempatan ini, Pak Presiden saya memohon kondisi yang ada di lapangan di Ontam, Pak, ini kami para petani sangat-sangat kesulitan untuk melakukan budidaya tebu ini dengan tenaga manual. Kami berharap dengan tenaga manual yang cukup mahal, Pak. Sehingga tadi yang sudah dipaparkan oleh Ketua Umum kami Pak Mitro, ini biaya produksinya kalau dengan 97 tidak nutup Pak, karena memang harganya sudah tinggi.

Kami berharap kepada Bapak, mohon kiranya untuk pelaksanaan budidaya kami di lapangan ini sudah kepada semimekanisasi Pak. Kami alhamdulillah para petani tebu yang ada di Jawa, Jawa Barat mungkin teman-teman lain yang di Jawa Timur, Jawa Tengah, Medan, dan sebagainya, ini memang sudah dibantu Pak, melalui Kementerian Pertanian dengan adanya traktor. Tetapi ini juga perlu ditambahkan karena kami merasa kesulitan pada saat juga panen, Pak. Pada saat musim tebang, karena pakai manual tenaganya juga mahal. Saya berharap ini sudah harus melakukan mekanisasi, Pak. Kalau terus-terusan seperti ini, kami khawatir tidak ada kelebihan buat kami para petani tebu setelah dihitung, Pak.

Juga bagi untuk pengolahan di lapangannya juga harus dilengkapi dengan implemen yang harus dilengkapi, baik untuk pemupukannya juga pengolahan-pengolahan yang lain. Sekarang baru bisa hanya pembajakan Pak, bajak air tapi untuk pemupukannya, pengolahan seterusnya ini masih pakai manual sehingga tenaga kerjanya mahal. Apalagi tadi bahwa di penebangan di akhir itu terlalu tinggi biayanya. Kalau sudah pakai mekanisasi mudah-mudahan ini bisa menekan cost  kita, menekan biaya kita. Itu salah satu di lapangan.

Yang kedua Pak, kondisi pabrik gula yang ada di Jawa Barat yang tinggal tiga ini yang jarang beroperasi, ini juga rata-rata yang milik BUMN ini sudah umurnya ratusan tahun, sehingga perlu ini diperbaiki Pak, dengan secara keseluruhan. Harapan kami bisa dilaksanakan revitalisasinya di Jawa Barat ini. Tanpa itu diperbaiki, harapan kami untuk melahirkan rendemen yang terbaik buat kami saya yakin tidak akan tercapai itu.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Tahun ini saja rata-rata di bawah 7,5 rendemennya, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Rendemennya.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Rendemennya. Jadi berharap mudah-mudahan..

Presiden Republik Indonesia
Rendemen itu karena kualitas tebunya? Atau karena enggak baik mesinnya?

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Kalau menurut kami para petani ya, karena kami tidak tahu bagaimana cara mengolah, artinya di pabrik ini mesti ada perbaikan di pabriknya, Pak. Karena barang, alat-alat yang ada di pabrik itu sudah pada tua, Pak, peninggalan Belanda yang mesti memang harus diperbaiki.

Berikutnya Pak, ini yang menjadi pemikiran kami juga dengan teman-teman, bagaimana untuk menjadikan sebuah persaingan yang sehat antarkami para petani, sehingga melahirkan rendemen yang namanya rendemen individu itu, Pak. Itu belum bisa terjadi di wilayah kami. Kami berharap ada salah satu alat yang bisa dipasang di pabrik-pabrik yang ada. Kalau tidak salah namanya core sampling Pak. Itu core sampling itu yang menentukan rendemen setiap yang dibawanya oleh truk, setiap truk itu bisa dianalisa. Harapan kami itu juga bisa ada dilakukan di pabrik, sehingga melahirkan rendemen masing-masing petani, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oke, oke.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Kalau yang terjadi sekarang, semua digiling secara bersama melahirkan gula dihitung kepada kuintal tebu.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Jadi dibagi rata, Pak Presiden. Kami berharap supaya ada saling persaingan di lapangan supaya baik, maka diadakan rendemen individu. Itu yang kedua, Pak.

Yang ketiga, tadi sudah panjang lebar oleh Ketua Umum kami Pak Soemitro.

Presiden Republik Indonesia
Ini sudah yang kelima begitu kok.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Oh, kelima, Pak?

Presiden Republik Indonesia
Iya, enggak apa-apa.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Kalau hitungan saya baru yang ketiga, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Yang keenam enggak apa-apa.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Oh yang keenam sekarang. Yang keenam Pak Presiden, ini setelah kita berupaya di lapangan dengan mitra kita di pabrik gula, pada saat pascaakhir maupun penjualan sulit tahun kemarin. Sampai kami mulai giling bulan Mei akhir, selesai gula dijual bulan Desember akhir Pak, terkendala dengan beberapa kebijakan yang dilahirkan oleh Pak Menteri Perdagangan. Itu menghambat bagi kita menjual. Nanti bisa lebih lanjut mungkin ditanya ke teman-teman kami yang ada di jajaran DPN, Pak. Itu yang menghambat penjualan kita. Kami berharap, tadi yang sudah disampaikan oleh Pak Ketum juga Pak, ini harga dengan 97 juga secara hitungan ini masih kita belum ada keuntungan Pak. Kami berharap dengan harga tadi yang disampaikan Rp10.500 itu bisa menjadikan patokan pemerintah harga eceran yang terendah, acuan terendah, bukan harga eceran tertinggi. Kalau memang dengan keputusan pemerintah harga eceran tertinggi Rp12.500 insyaallah kami bisa menerima, asal tadi, di lapangannya dibantu Pak, peralatannya, di fabrikasinya, rendemennya bisa dinaikkan. Saya yakin Pak, saya yakin nanti kita akan untung, Pak. Kalau ini tidak dilakukan, harga berapapun pasti kita tetap akan rugi, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Nangkep, nangkep.

Mulyadi (Petani Tebu dari Jawa Barat)
Ini karena waktu barangkali ya Pak ya, terima kasih kalau harus panjang makin banyak yang saya uneg-uneg untuk disampaikan, karena kita puluhan tahun jadi petani, berapa tahun inilah kita mengalami kerugian yang cukup besar. Terima kasih. Wabillahitaufik walhidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam. Terima kasih Pak Mulyadi, omongnya tiga, sudah enam kok.

Silakan, silakan.

Suwandi (Petani Tebu dari Medan)
Bismillahirrahmanirrahim. Nama saya Suwandi, dipanggil Pak Iwan selalu.

Presiden Republik Indonesia
Pak Suwandi?

Suwandi (Petani Tebu dari Medan)
Iya, saya petani dari Medan, yang beda sekali dengan petani-petani yang ada di Indonesia ini. Karena kalau petani dari Medan ini adalah petani, saya rasa yang paling miskin dikarenakan enggak punya lahan tapi menanam tebu dengan cara bermitra dengan PTPN II, Pak. Nah, jadi segala sesuatunya kita harus patuh tunduk kepada PTPN II walaupun, yang pernah dialami pada tahun 2017 itu mendapat rendemen di bawah enam, di atas tiga koma. Jadi… Iya, itu yang kami alami.

Seterusnya kami itu di sana sistem rental B, Pak, menyewa lahan dengan PTPN II. Dulu tidak menyewa pada tahun 2006 itu dari hati ke hati secara bagi hasil 62-38. Kemudian tiga tahun setelah itu kita rental/menyewa tanah dengan PTPN II, itu sebesar per hektarenya Rp1.200.000 dengan bagi hasil 65 dan 35. Seterusnya ditingkatkan lagi menjadi Rp1.500.000, ditingkatkan lagi menjadi Rp6.000.000, ditingkatkan lagi Rp6.000.000.

Tapi kami petani di sana tidak pernah mengalami rendemen tujuh, paling tinggi enam koma lima. Sehingga selalu petani-petani di sana, Bapak, mengalami kerugian-kerugian tapi karena tidak ada pilihan lain mau tak mau sampai sekarang masih bertahan, masih bertahan. Kemudian apalagi dengan harga gula yang boleh dikatakan belum memadai apabila kita dapatkan dari keuntungan itu, Pak.

Jadi saya berharap, saya mohon kepada Bapak Presiden sepulangnya dari sini kami ke Medan, nanti gula bakal dinaikkan tahun ini. Artinya, supaya keluarga kami menyambut kami dari sini kami pulang bisa tersenyum Pak, bisa sekolah, bisa kuliah. Seandainya gula ini tidak bisa naik, mungkin rendemen rendah, mungkin keluarga kami juga mukanya Pak, muram, cemberut, dikarenakan mungkin bakal mengalami kerugian lagi. Jadi Pak, untuk itu kami yang dari Medan, mungkin seluruh, bukan mungkin Pak, seluruhnya petani-petani tebu di Indonesia ini sangat berharap sekali untuk kenaikan harga, agar petani tebu bisa menikmati, mempunyai gairah baru, mempunyai rasa semangat baru kembali, kembali nanti besok kita akan langsung masuk ke kebun tebu lagi untuk semangat bekerja. Mohon, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Nggih.

Suwandi (Petani Tebu dari Medan)
Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Nggih. Baiklah silakan kembali, saya sudah nangkep semuanya sekarang, sudah nangkep. Tadi yang disampaikan Pak Mitro saya masih membayang-bayangkan, sekarang saya…

Oh, ini sebentar-sebentar jangan balik dulu, kembali lagi, kembali lagi. Biasanya kalau yang suruh maju begini saya beri sepeda tapi karena ini mau pilpres enggak boleh bagi-bagi sepeda, jadi saya beri foto saja. Sebentar itu, ini Pak Harmonis dulu, silakan. Ini fotonya jangan di…, ini kalau diberikan sepeda bisa dapat sepuluh ini, karena di belakangnya ada tulisannya ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, begitu. Silakan. Oke, silakan kembali.

Siapa ini ya? Oh ini, silakan Pak Tarip. Oke, pas bicara, oh iya ada, benar, oke. Sama-sama.

Ini kok enggak ada ini bagaimana? Oh, ada. Ini, sudah. Ini silakan, Pak. Sama-sama. Terima kasih. Ini siapa ini sebentar? Bukan. Keliru tadi jangan-jangan. Sebentar, oh Bapak tadi? Coba kelihatannya ini mungkin yang anu… Benar? Betul? Oke. Lho ini kok kurang satu? Kurang satu. Berarti yang satu enggak usah ini. Sebentar. Oh, silakan Pak. Masih kurang satu? Benar? Oh masih proses. Oh, ya sudah. Coba nanti dilihat. Nggih, ­sama-sama. Terima kasih. Nanti diantar nanti.

Baiklah Bapak-Ibu sekalian yang saya hormati, saya nangkep intinya yang saya tangkep adalah satu mesin-mesin dari pabrik-pabrik BUMN harus direvitalisasi, betul? Oke, nggih satu ini bisa saya terima. Kemudian yang kedua juga harga minta naik ke Rp10.500. Ini tolong saya diberi waktu, diberi waktu seminggu. Saya nanti akan undang Pak Mitro dan mungkin nanti dari DPD ya, nanti saya undang dari APTRI untuk berbicara mengenai ini. Jangan saya baru tahu suruh memutuskan, keliru saya nanti di…. Ya, tapi intinya, intinya semangatnya adalah kita naikkan, berapanya itu yang belum saya putuskan. Dan, tadi mengenai bansos untuk tebu kemudian juga yang KKPE untuk tebu juga akan saya urusin saja.Saya pikir ini sesuatu yang sangat-sangat penting. Kemudian tadi, sistem bagi hasilnya juga tetap dipertahankan, akan juga saya tindaklanjuti.

Kemudian yang menarik tadi dari Pak Mulyadi tadi juga bagus tadi, mengenai rendemen individu. Benar ndak ini penting? Sehingga setiap ini, saling bersaing dan semangat untuk memperbaiki kualitas tebunya. Betul? Nggih, dan juga tadi semimekanisasi. Ini kalau traktornya sudah?

Hadirin
Sudah!

Presiden Republik Indonesia
Yang belum apanya? Untuk panen? Untuk panen itu apa mesinnya? Harvester untuk tebu ada?

Hadirin
Ya!

Presiden Republik Indonesia
Oke, nggih. Nanti saya perintah kepada Menteri Pertanian untuk juga menyiapkan masalah ini. Iya saya rasa, saya sekali lagi sudah nangkep apa yang Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara sampaikan. Beri waktu saya seminggu nanti dengan APTRI, Pak Mitro nanti dengan tim, kita nanti juga siapin tim, sehingga segera bisa kita putuskan. Yang paling penting memang satu tadi masalah harga, yang kedua kita juga akan putuskan pabrik-pabrik mana yang harus segera direvitalisasi. Kita biar tahu yang prioritas mana, yang nomor dua mana, yang nomor tiga mana, saya biar mengerti.

Kalau berbicara dengan pelaku-pelaku itu lebih, kalau saya lebih cepat nangkep dan bisa cepat ditindaklanjuti. Karena kadang-kadang kita berbicara dengan birokrasi kita, itu kadang-kadang memang info-info seperti ini tidak masuk ke saya, sehingga keputusan-keputusan itu tidak bisa saya ambil. Jadi mohon maaf banyak hal yang, jangan dipikir semua hal saya mengerti? Ndak! Padahal setiap hari lho, setiap hari saya ke daerah, setiap hari saya ke desa, setiap hari saya ke daerah, ke desa, tapi hal-hal seperti ini kalau enggak bertemu langsung dengan pelaku-pelaku ya belum nangkep. Jangan dipikir, wah Presiden mengerti semuanya? Ndak! Ini nanti ini setelah pertemuan kita yang kedua, nanti dengan tim kecil saja, nanti segera akan kita umumkan.

Saya rasa itu saja yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih sekali atas kehadiran Bapak-Ibu sekalian di Istana ini. Dan, kita harapkan secepatnya bisa diputuskan hal-hal yang bisa memberikan dampak yang baik pada seluruh petani tebu yang ada di seluruh Tanah Air.

Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru