Silaturahmi dengan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka dan Gita Bahana Nusantara dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2019, di Istana Negara, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 Agustus 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 127 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih pada RAN, terima kasih semuanya yang telah menghibur pemuda-pemudi kita dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.

Pada kesempatan yang baik ini saya ingin titip pada Saudara-saudara. Saudara benar berasal dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, betul? Saya lihat tadi ada yang dari Manokwari, ada yang dari Jayapura, ada yang dari Aceh, ada yang dari Kaltara, ada yang dari Maluku Utara, ada yang dari NTT, ada yang dari NTB, ada yang dari Jawa, ada yang dari Sumatra. Semuanya ada, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, NTT, NTB, Papua, semuanya ada.

Apa yang ingin saya sampaikan? Kita ini dianugerahi oleh Tuhan dan sudah menjadi hukum Allah, sudah menjadi hukumnya Tuhan, kita hidup dalam perbedaan. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda etnis, berbeda apa lagi? Berbeda bahasa daerah, berbeda budaya, berbeda adat, berbeda tradisi. Inilah yang namanya Indonesia, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jangan sampai karena perbedaan agama, perbedaan suku, perbedaan bahasa daerah, perbedaan tradisi, menyebabkan kita menjadi kelihatan tidak satu, tidak bersatu. Saya titip, Saudara-saudara adalah masa depannya Indonesia. Saya minta yang Aceh mengenal bagaimana yang ada di Papua, yang di Papua mengenal bagaimana yang ada di Kalimantan, yang di Sulawesi mengenal bagaimana yang ada di Jawa, yang di Jawa mengenal yang ada di Bali, di NTT, NTB, di Maluku. Kita harus saling mengenal.

Sekali lagi, ini sudah menjadi hukumnya Tuhan, hukumnya Allah, bahwa kita memang berbeda-beda. Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke depan tergantung pada Saudara-saudara semuanya. Kalau saling mengenal, saling tahu, bisa saling menghormati bisa saling menghargai, ya inilah Indonesia.

Jangan sampai, saya titip kepada anak-anak semuanya, karena urusan pilpres, karena urusan pilihan gubernur, karena pilihan wali kota, karena pilihan bupati menjadi tidak rukun. Ada temannya yang enggak saling sapa gara-gara pilpres. Ada enggak? Moga-moga yang di sini enggak ada. Tapi seperti itu ada, saya harus omong apa adanya, ada.

Antarkampung enggak saling omong gara-gara pilihan gubernur, ada. Antar-RT enggak saling bicara gara-gara pilihan bupati, wali kota, ada. Jangan bilang enggak ada. Ada.

Inilah yang harus kita sadari bersama. Negara ini dijadikan contoh oleh negara-negara lain karena sikap toleransinya, sikap ramah dan santunnya, sikap agamisnya, itu dilihat oleh bangsa lain, kita ini dijadikan contoh. Kalau di dalam sendiri kita masih seperti itu, saling membenci, ada? Enggak ada? Lihat di medsos. Ujaran kebencian ada? Kita harus omong apa adanya, ada. Hal-hal seperti itulah yang harus diluruskan. Oke, titipan saya itu saja.

Di sini  ada yang nomor sepatunya 43?
Ada yang nomor sepatunya 43? Itu semangat, kamu sini.
Namanya?

Abel Romario Pehopu
Nama saya Abel.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nama Abel, dari?

Abel Romario Pehopu
Sulawesi Selatan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Abel, benar nomor sepatumu itu? Sekarang sini, Pancasila!

Abel Romario Pehopu
Pancasila.
Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.
Tiga, Persatuan Indonesia.
Empat, Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan.
Lima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya. Sebentar, ini adalah sepatu, sepatu saya. Ini sepatu saya, sudah saya pakai, sudah saya pakai. Ini produksi dalam negeri dari Bandung. Ini yang akan saya berikan pada Abel. Ini. Ya, jadi sepatunya itu agak kotor sedikit karena memang pernah dipakai. Ya, sudah silakan.

Ada, sebentar, ada yang hafal nama ikan?
Coba sekarang gantian yang putri, yang putri. Sebutkan sepuluh nama ikan yang depannya… Wah enggak jadi, enggak jadi.

Sebentar, sebentar. Coba, sekali lagi… Oh, sebentar, saya undang ini saja lah, tadi pagi saya lihat yang mengerek bendera, saya lihat, oh tadi sore, sore tadi saya melihat yang mengerek bendera. Kalau enggak sore, pagi ya? Pagi atau sore tadi? Pagi. Yang mengerek bendera ada yang namanya Rangga? Benar ada ya, yang namanya Rangga, benar?

Coba dikenalkan dulu namanya, Rangga saya tahu.

Rangga Wirabrata Mahardika
Semuanya, perkenalkan nama saya Rangga Wirabrata Mahardika asal Provinsi Jawa Barat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kotanya?

Rangga Wirabrata Mahardika
Kota dari Kabupaten Bekasi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kabupaten Bekasi.
Enggak, tadi saya lihat di TV itu kamu kok kelihatan gugup, sambil …(menarik napas). Benar? Merasa ndak?

Rangga Wirabrata Mahardika
Merasa.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Merasa, merasa gugup? Iya, benar?

Rangga Wirabrata Mahardika
Siap. Sedikit Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau saya lihat enggak sedikit, saya lihat di TV tadi agak banyak tadi gugupnya. Kenapa sih? Kenapa? Kenapa? Ya, meskipun enggak salah, tapi kelihatan agak grogi sedikit sehingga ambil nafasnya kelihatan… (menarik nafas). Saya melihat di TV itu, benar?

Rangga Wirabrata Mahardika
Siap.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya benar, wong saya lihat kok. Kenapa coba? Sampaikan!

Rangga Wirabrata Mahardika
Agak gugup saat langkah ke tiang bendera, pas sudah di depan tiang bendera baru deg-deg.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya betul, kelihatan. Kenapa gitu lho? Kenapa deg-deg kenapa? Alasannya?

Rangga Wirabrata Mahardika
Siap. Bawaan saja mungkin Pak, grogi.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ya sudah, terima kasih. Mungkin ada beban apa begitu? Apa ingat pacar di rumah sehingga waduh gugup. Oke, ya sudah. Terima kasih.

Ya, Rangga saya beri sepeda, sudah. Ya, diambil saja, diambil.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Sekali lagi, masa depan, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah segalanya. Jangan sampai negara kita yang beragam ini seperti negara lain yang konflik, kemudian perang yang puluhan tahun tidak selesai gara-gara merasa mereka tidak saling saudara. Kita semuanya adalah saudara sebangsa dan setanah air. Sadarlah itu, sampaikan kepada teman-temanmu, sampaikan kepada tetangga-tetanggamu bahwa kita adalah saudara sebangsa dan setanah air.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Silakan, RAN!

Sambutan Terbaru