Silaturahmi dengan Perempuan Arus Bawah “Bersama Memperkuat Bangsa”, 6 Maret 2019, di Istana Negara, Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 6 Maret 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.886 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.

Assalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Ibu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak beserta seluruh Menteri Kabinet Kerja yang hadir, Bapak Kepala Staf Kepresidenan,
Ibu-ibu dan Bapak-bapak, utamanya para Aktivis Perempuan Arus Bawah yang pada pagi hari ini hadir,
Dan yang saya hormati Perwakilan Organisasi Perempuan PBB (UN) di Indonesia,
Tamu undangan yang berbahagia.

Pagi hari ini saya sangat berbahagia sekali dan tadi yang disampaikan di layar adalah aktivitas-aktivitas yang sangat luar biasa. Bagaimana perjuangan memotivasi dari ibu-ibu aktivis yang tadi banyak yang berkaitan dengan urusan ekonomi, yang berkaitan dengan urusan KDRT, yang berkaitan dengan hukum, yang berkaitan dengan lingkungan. Saya kira itu adalah sebuah prestasi yang masih kita harapkan lebih banyak lagi dari perempuan-perempuan Indonesia.

Dan saya sangat percaya peran sentral para perempuan dalam mendidik anak-anak kita dan juga dalam menopang ekonomi keluarga. Saya ingat kecilan saya, ini cerita sedikit enggak apa-apa, kecilan saya, saya lahir, semua tahu saya lahir di bantaran sungai, di pinggir kali. Orang tua saya di situ jualan bambu dan kayu. Tahun ‘70-an saya ingat sekali, rumah saya digusur. Brettt, namanya digusur brettt gitu kan. Tidak diberi ganti rugi saat itu sehingga bingung mencari rumah. Kami pernah empat kali ngontrak, ngontrak, ngontrak, pindah, pindah, pindah, pindah. Dan itu saya rasakan betul betapa perjuangan seorang ibu dalam mengayomi, mendidik anak itu begitu sangat beratnya. Saya merasakan itu betul, terutama dari sisi ekonomi.

Oleh sebab itu, saat ini pemerintah kita memiliki banyak program ekonomi mikro, ekonomi kecil yang juga kita harapan ini bisa menopang peningkatan kesejahteraan dan ekonomi keluarga. Misalnya, UMi. UMi ini kredit ultra mikro yang telah kita berikan lebih dari satu juta nasabah. Kemudian juga Mekaar, Program Mekaar, ini juga untuk ekonomi-ekonomi mikro dan ekonomi kecil yang hampir 99 persen pesertanya adalah ibu-ibu. Sudah mencapai 4,2 juta yang ikut di sini.

Saya sering bertemu dengan mereka dan saya senang. Ada ibu-ibu yang sebelumnya jualan gorengan setelah dapat pinjaman dua juta bisa jualan, tambahan jualan bakso, yang dulunya jualan bakso, tambah jualan nasi uduk sehingga ekonomi keluarganya menjadi terdukung dari kegiatan-kegiatan ini.

Tapi saya tahu bahwa kegiatan ekonomi seperti ini sangat berat sekali praktiknya di lapangan. Tidak semudah yang kita bayangkan. Persaingan, kompetisi, saya kira kita bisa lihat, ibu-ibu misalnya, penjual sayur, penjual daging, penjual sembako yang ada di pasar-pasar sungguh sebuah, menurut saya sebuah perjuangan yang amat berat. Pagi subuh sudah siap di pasar, kemudian sore baru bisa kembali ke rumah untuk menata keluarganya.

Saya ingin ada yang maju. Tadi dari dua belas tadi yang ada urusannya dengan ekonomi ada ndak? Oh, enam belas ya? Ada ndak yang ada urusan dengan ekonomi? Ya, Ibu coba yang, ya Ibu yang dari Papua, ya maju. Urusan ekonomi ya. Silakan, sini.

Yang berhubungan dengan KDRT? Tadi ada, kelihatannya banyak tadi yang berhubungan dengan KDRT. Ya, KDRT ya maju, KDRT.

Ada yang berhubungan yang lain? Yang berhubungan dengan lingkungan, ada?

Kalau disuruh maju kok sulit gitu ya? Tapi saya pastikan tidak diberi sepeda. Ya silakan. Saya pastikan, yang maju jangan berharap lagi mendapatkan sepeda, tidak diperbolehkan oleh KPU maupun Bawaslu. Ya saya senang saja, malah sepedanya utuh.

Ada lagi yang berhubungan dengan apa ya, sebentar. Ya oke, berhubungan dengan kesehatan tunjuk jari dulu nanti saya suruh maju. Sebentar, tunjuk jari dulu, saya suruh maju. Belum tentu yang di depan terus, yang di belakang juga enggak apa-apa.

Ya, boleh maju. Ya nanti semua maju semua. Pasti macam-macamkan? Ini ada nelayan, ada petani, ada PAUD, ada buruh migran, semua minta maju.

Saya pastikan tidak dapat sepeda. Jangan senang maju dulu, tidak dapat sepeda, jangan keliru. Nanti, waduh keliru lagi nanti.

Ya, dikenalkan Ibu. Nama, berkegiatan di bidang apa?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Selamat pagi untuk kita semua.

Presiden Republik Indonesia
Selamat pagi.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Yang saya hormati Bapak Presiden Republik Indonesia bersama seluruh jajarannya. Yang saya hormati dan banggakan seluruh pejuang-pejuang perdamaian, yang lain telah pergi dan kita masih ada. Tuhan memberkati.

Perkenalkan nama saya Ibu Doliana Yakadewa.

Presiden Republik Indonesia
Ibu Doliana.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Saya guru SD.

Presiden Republik Indonesia
Guru SD.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Di daerah pesisir jauh, kategori 3T.

Presiden Republik Indonesia
Di mana itu 3T itu?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Di Kabupaten Jayapura, di pesisir jauh, kami lewat laut.

Presiden Republik Indonesia
Di Jayapura.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Jayapura.

Presiden Republik Indonesia
Masih Kabupaten Jayapura?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Kabupaten Jayapura.

Presiden Republik Indonesia
Masih dekat, Jayapura. Kalau di Wamena, di Wamena, di Nduga, wah itu jauh banget, saya pernah kesana, jauh. Kalau di Jayapura masih dekat, masih dekat dengan kota. Bu Doliana, apa yang Ibu lakukan?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Saya mewakili, yang saya kerja adalah perempuan pada wilayah konflik dan ekonomi kerakyatan.

Presiden Republik Indonesia
Apa? Wilayah konflik dan ekonomi kerakyatan, apa itu?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Adalah perempuan rentan mendapat perlakuan tidak adil. Lebih kepada pekerjaan kemanusiaan.

Presiden Republik Indonesia
Apa? Jadi yang apa? Mendampingi apa itu?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Mendampingi kasus kekerasan dalam rumah tangga.

Presiden Republik Indonesia
Terus?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Lalu perlakuan perempuan sebagai pencari nafkah di pasar.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu? Yang terakhir ini apa? Saya tertarik yang terakhir tadi?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Baik, saya memulai apresiasi untuk Bapak, capaian tiga…

Presiden Republik Indonesia
Ndak, saya mau cerita ini kok. Ya boleh-boleh.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Saya mau cerita.

Presiden Republik Indonesia
Ya, cerita, enggak apa-apa, jangan nyegat saya. Oke, oke, silakan.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Capaian tiga belas tahun kami turun di jalan meneriakkan Pasar Mama-Mama Papua, tiga belas tahun.

Presiden Republik Indonesia
Pasar Mama-Mama Papua, oh iya.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Iya. Lalu yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia dapat menyelesaikannya pada tempo empat minggu. Kami mendapat empat lantai dengan pembagian seluruhnya. Itu saya ucap terima kasih Bapak.

Presiden Republik Indonesia
Senang itu dapat Pasar Mama-Mama itu? Senang? Pada senang dapat Pasar Mama-mama, itu?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Iya, Bapak.

Presiden Republik Indonesia
Kenapa? Lebih bersih?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Fasilitas layak. Iya.

Presiden Republik Indonesia
Pasarnya lebih bersih? Ya kan, jelas. Terus apa lagi?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Kita tidak kena hujan dan panas.

Presiden Republik Indonesia
Ya, biasanya kena hujan dan panas, ini enggak kena hujan dan panas. Oke, dua. Tiga?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Kita tidak gelar karung di jalan.

Presiden Republik Indonesia
Biasanya gelar karung di jalan, sekarang pasarnya ada meja, bersih, teratur, rapi, gitu ya?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Terus apa lagi?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Itu capaian. Saya lebih ke harapan lagi Bapak, kami lebih kepada bantuan permodalan Pasar Mama-Mama Papua. Itu minta diada lebih baik untuk kita.

Presiden Republik Indonesia
Sudah dapat apa ingin dapat?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Mau dapat, ingin.

Presiden Republik Indonesia
Mau dapat. Oke, oke. Saya, gitu nanti saya perintah Program Mekaar untuk masuk ke Pasar Mama-Mama. Ada berapa pedagang sih di Pasar Mama-Mama?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Kami untuk sementara 630.

Presiden Republik Indonesia
600? Banyak sekali. Saya ke sana mungkin berapa kali ya sudah. Satu, dua, tiga, terakhir… mungkin empat kali ya, empat kali saya ke Pasar Mama-Mama ini. Dan memang, ya kalau dibandingkan sebelumnya dengan yang sekarang ya memang ya jauh. Sekarang bagus sekali.

Sekarang berarti yang dibutuhkan adalah permodalan?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Ada satu lagi ini Bapak saya tambah.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Sebentar, ini di sini ada Bu Menteri BUMN, kirim itu PNM, Program Mekaar ke Pasar Mama-Mama. Oke. Ini perintah, Bu. Iya. Biar cepat nanti. Besok pasti sudah langsung ke sana.

Terus apa lagi mau cerita?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Sebagai pendamping korban kami mengharapkan ada rumah aman untuk korban kekerasan dalam rumah tangga.

Presiden Republik Indonesia
Belum ada?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Belum ada.

Presiden Republik Indonesia
Belum ada. Oke. Di mana itu? Mau dibangun di mana itu?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Ya, kalau dapat bukan di provinsi…. Di tanah Papua saja, kalau di Tanah Papua kami ada dua provinsi, Papua dan Papua Barat.

Presiden Republik Indonesia
Ya, yang diminta Ibu Doliana itu di titik-titik mana?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Saya mau ada di titik Kota Jayapura dan…

Presiden Republik Indonesia
Kota Jayapura dan di mana? Sudah?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Dan Manokwari.

Presiden Republik Indonesia
Manokwari, Manokwari. Berarti di Papua dan Papua Barat?

Doliana Yakadewa (Guru SD di Kabupaten Jayapura)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Oke. Gampang kalau itu. Oke, ada lagi? Cukup? Ya, ganti.

Silakan.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Selamat pagi semua. Terima kasih Bapak Presiden Republik Indonesia yang saya cintai. Saya perwakilan dari Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik.

Presiden Republik Indonesia
Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik. Nama saya Fitri, saya sebagai Ibu rumah tangga.

Presiden Republik Indonesia
Ibu Fitri.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Iya.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Aktivitas saya mengikuti Sekolah Perempuan di Kabupaten Gresik.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu? Sekolah Perempuan itu apa?

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Sekolah Perempuan itu sekolah alternatif, maksudnya untuk perempuan-perempuan penerima manfaat.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Seperti program jaminan kesehatan.

Presiden Republik Indonesia
Oke.

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Iya. Seperti KIS itu kami melakukan pendataan. Seperti yang dilakukan oleh kami itu banyak perempuan-perempuan miskin di desa itu masih banyak yang tidak mendapatkan kartu perlindungan sosial seperti jaminan kesehatan. Jadi di sini kita melakukan pemantauan siapa saja warga kita itu yang belum mendapatkan kartu jaminan kesehatan.

Presiden Republik Indonesia
Terus apa itu? Anunya apa?

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Untuk kedepannya ini kepinginnya Bapak Presiden masih membuat rakyat miskin di Indonesia ini mendapatkan perlindungan sosial terkait dengan kesehatan.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Jadi kita ini kalau untuk kesehatan kan sekarang ada Kartu Indonesia Sehat. Tapi memang, ada mungkin satu, dua, tiga yang masih belum dapat itu. Jadi Bu Fitri tadi betul, ada kececer. Namanya negara ini negara besar, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote itu sekarang penduduk kita sudah 269 juta. Jadi kalau ada bercecer seperti itu ya saya kira sangat bagus sekali Bu Fitri bisa menyisir kemudian menginfokan kepada kami untuk kita selesaikan.

Tapi juga selain untuk kesehatan kita memiliki program bantuan sosial, berupa Program Keluarga Harapan (PKH) yang ini untuk baik biaya tambahan gizi anak, untuk pendidikan anak sekolah, dan juga kalau ingin untuk tambahan usaha. Karena tahun ini yang kita berikan sudah sepuluh juta keluarga penerima manfaat, sepuluh juta, jumlah yang sangat besar sekali.

Dan juga ada yang namanya Kartu Indonesia Pintar. Ini juga untuk pendidikan bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. Sudah diberikan kepada sembilan belas juta siswa dari keluarga-keluarga yang tidak mampu. Sehingga dari sinilah kita melihat angka kemiskinan itu bisa ditekan semakin mengecil, semakin mengecil. Sekarang angka kemiskinan kita sudah 9,8 persen. Ya kalau sudah angkanya di bawah sepuluh persen itu memang menekannya lebih sulit untuk turun-untuk turun. Tapi dengan program-program itu kita harapkan angka kemiskinan dapat diturunkan dan juga angka gini ratio, kesenjangan yang dulunya 0,41 sudah menjadi 0,38. Ini juga bisa kita tekan lagi sehingga kesenjangan itu tidak semakin melebar.

Apa yang Ibu Fitri harapkan?

Fitri (Perwakilan Sekolah Perempuan Kabupaten Gresik)
Yang kami harapkan perempuan-perempuan di Indonesia mendapatkan jaminan kesehatan terkait dengan kesehatan reproduksi perempuan. Ini kan masih banyak yang terkena penyakit kanker serviks dan semacamnya itu. Kami kepingin pemerintah memberikan pelayanan seperti yang kami harapkan supaya banyak lagi perempuan-perempuan di Indonesia yang lebih sehat dan bisa menghasilkan generasi penerus yang sehat dan berkualitas.

Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Itu, Ibu Fitri, Ibu Jokowi itu tiap hari muter untuk urusan IVA Test. Tahu ya IVA Test ya? Ya, muter terus untuk urusan ini sehingga kanker di alat reproduksi kita itu bisa segera dicegah sedini mungkin. Saya kira ini hal yang sangat penting. Tapi sekali lagi, memang kita masih memiliki pekerjaan-pekerjaan besar yang harus kita selesaikan bersama-sama. Enggak mungkin pemerintah sendiri, enggak mungkin. Harus didukung oleh aktivis-aktivis yang berhubungan langsung dengan masyarakat dan mengetahui betul detail apa problem yang ada di lapangan.

Silakan Bu dikenalkan.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Terima kasih Bapak Presiden. Suatu kebanggaan bagi saya bisa bertemu langsung dan atas nama  kabupaten saya dari KLU.

Presiden Republik Indonesia
Mana itu? Kabupaten dari?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Kabupaten Lombok Utara.

Presiden Republik Indonesia
Lombok Utara?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Oh, Lombok Utara.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Nama saya Sarayah, juga dari anggota Sekolah Perempuan Desa Sukadana, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Presiden Republik Indonesia
Bu Sarayah dari Lombok Utara.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Lombok Utara. Saya pernah kesana belum?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Pernah?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Pas gempa.

Presiden Republik Indonesia
Oh, sering? Oh, sering.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Oh, di situ. Ya, sudah. Saya mikirnya, saya tahunya kan Lombok, Lombok Utara, Selatan, Barat kan saya enggak anu. Lombok, tahunya Lombok. Oke, ya silakan dijelaskan gimana aktivitasnya?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Gimana, saya pertama-tama yang menjadi anggota Majelis Krama Adat Desa yang ada di desa kami, mempunyai peranan penting dalam memutuskan atau ketika menyelesaikan masalah supaya jangan sampai ke ranah hukum dengan cara untuk memediasi. Terutama itu kasus KDRT dan perkawinan anak.

Presiden Republik Indonesia
Oke, jadi Bu Sarayah ini menjadi mediator?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Betul. Memediasi kalau ada problem-problem KDRT sehingga tidak dibawa ke wilayah hukum. Bisa didamaikan, bisa dimusyawarahkan, begitu ya kira-kira?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Contohnya apa? Misalnya?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Misalnya kayak kemarin kejadian pada minggu yang lalu, pascagempa ada terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan di dalam pengungsian. Gara-gara ekonomi suami memukul istri karena tidak menyiapkan makanan.

Presiden Republik Indonesia
Suami memukul istri karena enggak nyiapin makanan?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Oke. Terus?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Sementara di tempat itu adalah masih di pengungsian, apa yang bisa dimasak karena keadaan yang cukup memprihatinkan ketika gempa terjadi.

Presiden Republik Indonesia
Iya.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Seolah-olah mata pencaharian kami yang ada di pengungsian tidak ada.

Presiden Republik Indonesia
Terus?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Dan juga…

Presiden Republik Indonesia
Berarti Ibu memerankan apa di dalam? Ada suami memukul istri tadi, apa memerankan mediasinya seperti apa?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Mediasi yang kami lakukan sebagai anggota Majelis Krama Adat Desa kami bisa memediasi bahwa supaya jangan terjadi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Presiden Republik Indonesia
Ibu panggil?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Lakinya itu? Bapaknya Ibu panggil?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Atau didatangi?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Iya didatangi atau dipanggil?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Dipanggil.

Presiden Republik Indonesia
Dipanggil.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Ketika dua kali dia terus melakukan dengan perlakuan yang sama kepada istri, di sinilah peran kami sebagai Majelis Krama Desa membuat awik-awik yang di desa.

Presiden Republik Indonesia
Membuat awik-awik?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Awik-awik tentang kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Presiden Republik Indonesia
Apa itu awik-awik?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Awik-awik istilahnya suatu tata cara atau aturan yang tertulis.

Presiden Republik Indonesia
Oh. Jadi suaminya Ibu panggil?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Terus diberitahu gimana?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Ya.

Presiden Republik Indonesia
Diberitahu gimana suaminya itu?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
 “Pak, ketika tidak ada makanan apakah seharusnya Bapak harus menempeleng atau memukul istri Bapak?”

Presiden Republik Indonesia
Ndak. Jawabannya apa? Ndak, gitu?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Dia terdiam. “Habis saya tidak ada makanan?” “Apa yang harus dimasak Ibu sementara Bapak tidak bekerja.” “Sekarang kan gempa, gimana saya bisa mencari pekerjaan? Mata pencaharian kan tidak ada.” “Tetapi dengan tidak ada makanan tidaklah semesti harus pukulan itu jatuh kepada istri.”

Presiden Republik Indonesia
Kepada istri. Terus?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Di sini juga Bapak harus bisa mencarikan nafkah. Mungkin bisa menjadi buruh harian atau menjadi nelayan supaya bisa menghasilkan/mendapatkan penghasilan penambahan ekonomi keluarga.

Presiden Republik Indonesia
Ibu beritahu seperti itu?

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Iya. Hal-hal seperti itu yang kami sampaikan kepada Bapak-bapak supaya sedikit-dikit jangan gara-gara urusan ekonomi, gara-gara urusan anak ini pipi sudah ditampar dan menjadi biru. Nah hal itulah yang membuat peran kami sebagai saya ikut andil bermodalkan ilmu dari sekolah perempuan yang lima tahun ini, punya pemikiran untuk mengubah pola pikir bagaimana masyarakat itu bisa berubah. Ketika istri sakit apakah peran bapak hanya diam, hanya memukul, tetapi bagaimana kesetaraan antara laki-laki dan perempuan itu bisa kita lakukan.

Presiden Republik Indonesia
Bagus. Oke. Oke, bagus, bagus.

Sarayah (Anggota Majelis Krama Adat, Kabupaten Lombok Utara)
Di sini juga kami mengharap bahwa adanya peraturan yang tidak tumpang tindih antara perkawinan, tentang perkawinan anak. Walau bagaimanapun kami di lapangan itu ketika menangani kasus perkawinan anak, sementara dari pemerintah KAU mengiyakan ketika dia berumur 16 tahun 0 hari itu sudah bisa dinikahkan. Sedangkan secara perlindungan anak, kan umur 18, dikatakan anak kan masih dalam kandungan sampai dia berumur 18. Secara fisik dia belum siap, juga secara ekonominya.

Presiden Republik Indonesia
Iya, iya. Iya, setuju, setuju. Oke, silakan Bu.

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Yang terhormat Bapak Presiden Joko Widodo yang saya banggakan. Perkenalkan nama saya Nurul Latifah.

Presiden Republik Indonesia
Bu Nurul, ya.

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Iya. Pendaur ulang limbah sampah plastik dari Dusun Temenggungan, Desa Kejagan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Presiden Republik Indonesia
Trowulan, Mojokerto. Apa, urusan apa tadi? Sampah plastik?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Iya.

Presiden Republik Indonesia
Gimana ceritanya? Ini urusan lingkungan, iya kan? Gimana? Kita ini sudah mulai gerakan besar-besaran untuk urusan sampah plastik. Karena kita, sampah plastik kita di dunia itu nomor 2, setelah Tiongkok/China. Gede banget kita. Ini yang harus kita kerjakan, kita atasi bersama-sama. Silakan Bu Nurul, gimana?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Ya. Saya mau menyuarakan pekerja perempuan yang memilah, yang mengolah sampah, di sini dia yang terpapar langsung dan bahan di sini mengandung senyawa kimia berbahaya yang namanya polybrominated diphenyl ethers, yang mana ini bisa merusak reproduksi, kehamilan, ibu menyusui, dan merusak janin.

Presiden Republik Indonesia
Sehingga Ibu apa? Aktivitasnya memberitahu ke ibu-ibu gitu atau gimana?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Iya. Yang saya inginkan dari pemerintah, terutama dari Bapak Presiden untuk mengupayakan hak dan perlindungan terhadap perempuan yang terpapar langsung dengan sampah limbah plastik ini agar bisa berkontribusi untuk terus membersihkan sampah-sampah yang tidak terurai itu.

Presiden Republik Indonesia
Ya, tahu? Semua tahu ya? Tahu? Tahu? Saya masih belum tahu. Belum nangkep arahnya. Iya, diulang coba. Apa?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Di sini, di tempat kami 80 persen pekerja pemilah, pengolah sampah plastik.

Presiden Republik Indonesia
Oke, nangkep, nangkep. Ini yang di TPA ya?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Bukan.

Presiden Republik Indonesia
Bukan? Bukan di TPA?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Bukan. Ini kita ambilnya dari pengepul, kayak dari Kalimantan, dari Sulawesi, dari Bali, dari NTT juga. Jadi di desa kita itu sentra sampah plastik.

Presiden Republik Indonesia
Sentra sampah plastik? Iya terus?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Terus di sana banyak pekerja perempuannya juga.

Presiden Republik Indonesia
Iya, oke.

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Jadi dia yang terpapar langsung dengan kimia berbahaya, seperti polybrominated diphenyl ethers itu.

Presiden Republik Indonesia
Oh, nangkep, nangkep. Terus harusnya berarti seperti apa? Apa yang bisa saya bantu?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Saya minta pemerintah untuk memberi hak dan perlindungan terhadap perempuan yang terpapar langsung dengan bahan kimia yang berbahaya ini.

Presiden Republik Indonesia
Apa konkretnya?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Konkretnya bisa nanti melindungi dia dari reproduksi juga, bisa lingkungannya juga jadi bersih juga. Soalnya kita selama ini kendalanya sampah plastik yang tidak bisa didaur ulang di sana dibakar, belum ada tempat pemusnahan khusus.

Presiden Republik Indonesia
Nangkep, nangkep. Sudah, nangkep. Ya, sudah nangkep, nangkep.

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Ya alhamdulillah sudah dibantu juga dari UNDP kemarin pelatihan gender juga. Iya, jadi kita tentang APD, jadi untuk perlindungan diri. Cuma ya enggak semuanya, belum semuanya sadar, para pelaku daur ulang plastiknya itu belum sadar semua.

Presiden Republik Indonesia
Iya. Oke, nangkep, nangkep, nangkep Bu, nangkep Bu, nangkep, nangkep, nangkep, nangkep. Ya nanti saya akan detailkan lagi. Mungkin perlu dikirim misalnya tungku pembakar, gitu maksudnya?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Bukan.

Presiden Republik Indonesia
Bukan itu?

Nurul Latifah (Pendaur Ulang Limbah Plastik dari Mojokerto)
Di tempat kita kan sampah itu di rumah-rumah yang enggak punya lahan itu di rumah, di sebelah-sebelah rumah. Kita minta pemerintah untuk bikin depo mini atau sejenis koperasi gitu. Jadi sampah-sampah itu tidak di sekitar rumah. Kalau yang punya lahan memang ada tempat khusus. Cuma yang enggak punya lahan, kami mayoritas 80 persen pengolah sampah di desa.

Presiden Republik Indonesia
Oke. Saya belum bisa membayangkan kayak apa, ya. Tapi saya nangkep sudah. Nanti biar Pak Teten saja. Ini urusan sampah pintar Pak Teten, diurus Pak Teten. Oke, sudah nangkep.

Ya, baiklah. Oh, sebentar. Ini ada… Biasanya diberi sepeda tapi karena enggak boleh memberi sepeda sekarang saya beri foto saja. Ini, Ibu, oke. Oke, sama-sama, silakan. Ini, Ibu, sudah. Ini, Ibu. Baik. Ini foto ini kalau ditukar sama sepeda bisa dapat 10 sepeda lebih. Karena album foto, ini yang mahal album fotonya, bukan fotonya. Albumnya ini ada tulisannya, ‘Istana Presiden Republik Indonesia’, ini yang mahal ini. Ini Bu, oke, diterima. Nanti kalau sudah maju, sudah ditanya-tanya, enggak diberi apa-apa gitu, ada yang menggerutu. Jadi yang maju sekarang kita beri album.

Senang kan Bu? Senang dapat album senang ndak? Kok kelihatannya enggak senang. Senang ndak? Senang. Oke. Ibu Doliana tadi kelihatannya enggak senang gitu. Senang ya? Oh senang, senang, ya.

Baiklah Ibu dan Bapak sekalian yang saya hormati,
Pekerjaan besar kita masih menanti utamanya pekerjaan-pekerjaan di lapangan dan utamanya memang pada temapt-tempat yang di bawah. Karena saya tahu betul setiap saya ke desa, setiap saya ke kampung, setiap saya ke kampung nelayan, saya melihat betapa pekerjaan besar kita ini masih banyak sekali, terutama dalam rangka pemberdayaan perempuan.

Dan saya pernah mendapat cerita ini dari Ibu Rula Ghani. Saya pengin cerita sedikit mengenai Ibu Rula Ghani. Beliau ini adalah istri Dr. Ashraf Ghani, Presiden Afghanistan. Presiden Afghanistan, ibu negaranya namanya Ibu Rula Ghani. Saya bertemu dengan Presiden Afghanistan tiga kali, bertemu dengan Bu Rula Ghani dua kali. Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari beliau? Beliau cerita pada saya, di Afghanistan konflik dan perang sudah empat puluh tahun, empat puluh tahun. Karena dua suku yang konflik, kemudian satu membawa kawan dari luar negara lain, satu membawa kawan dari luar negara lain, akhirnya perang. Empat puluh tahun enggak selesai.

Beliau pesan kepada saya, “Presiden Jokowi, saya tahu negaramu negara besar, penduduknya 269 juta. Di sini, Indonesia ini berbeda-beda sukunya, 714 suku, di kami Afghanistan hanya tujuh suku.” Di sana tujuh suku, di sini 714 suku. “Saya hanya ingin mengingatkan, jangan sampai di Indonesia ini ada konflik sekecil apapun antarsuku, apalagi antaragama. Kami tahu di Indonesia ini berbeda-beda suku, berbeda-beda agama, berbeda-beda adat, berbeda-beda tradisi, berbeda-beda budaya, dan bahasa daerah. Kami ini hanya tujuh suku, dua suku konflik kemudian perang, empat puluh tahun enggak selesai.”

Apa yang beliau ceritakan kepada saya? “Presiden Jokowi, empat puluh tahun yang lalu sebelum ada perang ini, negara kami ini negara kaya.” Ya memang Afghanistan itu deposit emasnya terbesar di dunia, kemudian deposit minyak dan gasnya juga temasuk terbesar di dunia. “Empat puluh tahun yang lalu, saya itu naik mobil di Kabul, dari Kabul ke kota lain, ke provinsi biasa. Negara lain belum ada yang naik mobil, di Afghanistan sudah banyak perempuan-perempuan yang naik mobil. Tetapi akibat perang, akibat konflik dan perang, empat puluh tahun yang dirugikan hanya dua; yang pertama perempuan-perempuan Afghanistan dan yang kedua anak-anak. Anak-anak enggak bisa sekolah apalagi naik mobil,” beliau menyampaikan. Dengan rasa terharunya beliau cerita, “sekarang kita perempuan di Afghanistan bisa naik sepeda saja sudah alhamdulillah, sudah kita syukuri. Gara-gara perang kita menjadi betul-betul sangat menderita.”

Inilah kenapa ini kita ingatkan di sini, betapa pentingnya sebuah negara itu damai, tenteram, sehingga kita bisa memperjuangkan hal-hal yang belum baik yang ada di negara kita. Kalau sudah perang seperti itu dirukunkannya sangat sulit sekali. Kita sudah ikut cawe-cawe dan merukunkan kelompok-kelompok yang bertikai di Afghanistan tetapi juga tidak gampang, sangat sulit. Karena sudah empat puluh tahun lebih. Ini setuju, ini enggak setuju, ini enggak setuju, ini enggak setuju, ah sudah, sangat sulit sekali.

Oleh sebab itu, saya titip kepada kita semuanya, marilah kita ajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan, menjaga kerukunan, menjaga persaudaraan karena itu adalah aset terbesar bangsa ini. Aset terbesar kita adalah persatuan, persaudaraan, dan kerukunan. Jangan sampai gara-gara urusan politik, inikan dimulai dari urusan politik. Konflik di sana juga karena urusan politik, urusan pilihan bupati, urusan pilihan gubernur, urusan pilihan wali kota, urusan pilihan presiden, dimulai dari situ pasti. Kayak kita enggak seperti saudara saja. Padahal yang namanya pesta demokrasi baik pilihan bupati, wali kota, gubernur, presiden itu setiap lima tahun pasti ada. Enggak perlulah itu dibesar-besarkan. Apalagi, saya itu kadang sedih dengar antarkampung enggak bicara gara-gara pilihan bupati, antartetangga enggak saling sapa gara-gara pilihan gubernur, di dalam satu majelis saja enggak salah omong gara-gara pilihan presiden. Geleng-geleng saya. Ini apa gitu… Kok kayak jadi politikus semuanya.

Saya sangat menghargai sekali aktivitas-aktivitas para aktivis perempuan yang tadi sudah dipaparkan. Ini hal-hal seperti ini yang kita perlukan. Hal-hal seperti ini yang bermanfaat bagi negara ini, bagi rakyat kita.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru