Soal Harga Cabai, Presiden Jokowi: Musim Kemarin Banyak Yang Gagal Panen

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 9 Januari 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 25.202 Kali
Presiden Jokowi memantau harga cabe, di Pasar Kajen, Kota Pekalongan, Jateng, Senin (9/1) pagi. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Jokowi memantau harga cabe, di Pasar Kajen, Kota Pekalongan, Jateng, Senin (9/1) pagi. (Foto: BPMI Setpres)

Kenaikan harga cabai mendapat perhatian dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Pada hari kedua kunjungannya ke Jawa Tengah, Senin (9/1) pagi, Presiden Jokowi menyempatkan diri memantau perkembangan harga cabai, di Pasar Kajen, Kota Pekalongan.

“Yang cabai rawit merah Rp100 ribu. Tapi yang cabai lain, cabai merah Rp50 ribu, yang cabai hijau juga di kisaran Rp45 ribu sampai Rp50 ribu,” kata Presiden Jokowi kepada para wartawan.

Menurut Presiden, kenaikan harga cabai tersebut memang tidak bisa dihindari mengingat pertanian cabai pada 2016 kemarin berada pada kondisi yang kurang bagus. Akibatnya, pasokan cabai kepada masyarakat sedikit terpengaruh.

“Yang namanya harga tergantung  supply dan demand. Karena musimnya pada 2016 kemarin memang jelek untuk cabai sehingga banyak yang busuk dan gagal panen sehingga supply-nya kurang. Itu fluktuatif,” terang Presiden.

Guna mengatasi kurangnya pasokan komoditas cabai di sejumlah daerah, pemerintah sebagaimana disampaikan oleh sMenteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengupayakan untuk menyalurkan stok komoditas cabai yang melimpah di daerah lainnya kepada daerah-daerah yang mengalami kekurangan.

“Gorontalo stoknya melimpah, dari sana akan kami salurkan ke daerah lain,” tuturnya pada Kamis kemarin.
Pasar Kajen

Selain memantau harga cabai, kunjungan Presiden Jokowi ke Pasar Kajen, Kota Pekalongan itu dimaksudkan untuk memenuhi janji yang diucapkannya kepada para pedagang di pasar tersebut, pada 2014 silam. Saat itu, ketika Joko Widodo masih berstatus calon presiden.
“Saya kembali lagi mau memperbaiki itu (pasar),” terang Presiden kepada para jurnalis usai peninjauan.

Presiden Joko Widodo kemudian menginstruksikan agar dilakukan pembenahan terhadap Pasar Kajen tersebut. Pembenahan tersebut penting untuk dilakukan mengingat peranannya yang besar dalam mempromosikan produk-produk lokal.

“Saya hanya ingin memerintahkan agar pasar ini direhab, terutama lantai kemudian pengelolaan mengenai kios di dalamnya. Ini mau disiapkan Pak Bupati dulu, nanti kalau bisa pakai anggaran tahun ini atau paling tidak maksimal tahun depan. Karena Pasar Induk Kajen ini penting sekali bagi produk-produk di sekitar Pekalongan,” terang Presiden kepada para jurnalis usai peninjauan.

Dalam peninjauannya tersebut, Kepala Negara yang didampingi Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sudjatmoko, sempat bertanya kepada para pedagang mengenai omzet penjualannya. Sejumlah pedagang mengaku bahwa penjualan di pasar yang menampung hingga 1.759 pedagang tersebut sangatlah ramai. Pembenahan pasar pun kemudian ditargetkan oleh Presiden dapat diselesaikan selambat-lambatnya pada tahun depan.

“Maksimal tahun depan rampung. Di dalam tadi saya tanya ke pedagang omzet sangat ramai. Paling hanya perlu penataan kios dan lantai saja,” ungkapnya.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya pada 2014 silam Presiden Joko Widodo, yang saat itu masih menjadi calon presiden. “Sekarang yang penting adalah membuat pasar-pasar tradisional bersih sehingga tidak kalah dari supermarket modern. Oleh sebab itu, tidak hanya Pasar Kajen yang bersih tapi juga semua pasar tradisional di Pekalongan, semua pasar di Indonesia,” ucapnya saat itu.

Menurutnya, pasar tradisional merupakan pusat pengembangan ekonomi mikro. Berbagai kebutuhan yang ada di pasar merupakan produk-produk masyarakat kecil dan menengah sehingga membantu perekonomian mereka. (BPMI Setpres/ES)

Berita Terbaru