Soal Infrastruktur, Presiden Jokowi: Bukan Hanya Urusan Ekonomi Tapi Juga Persatuan Bangsa

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Januari 2018
Kategori: Berita
Dibaca: 12.663 Kali
Presiden Jokowi memberikan paparan dalam pembukaan Kongres PMKRI, di Palembang, Sumsel, Senin (22/1)  siang. (Foto: Anggun/Humas)

Presiden Jokowi memberikan paparan dalam pembukaan Kongres ke-30 PMKRI, di Palembang, Sumsel, Senin (22/1) siang. (Foto: Anggun/Humas)

Sebagai negara yang sangat besar dengan jumlah penduduk yang banyak dengan beragam suku, agama, adat istiadat, dan tradisi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengingatkan perlunya kehati-hatian dalam mengelola keberagaman dan kemajemukan.

“Perlu kebesaran hati, perlu toleransi yang tinggi. Ini sangat penting,” kata Presiden Jokowi saat membuka Kongres ke-30 dan MPA ke-29 Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) di GOR Dempo Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatra Selatan, Senin (22/1) siang.

Untuk mempersatukan bangsa yang besar ini, Presiden menegaskan pentingnya pembangunan infrastruktur.

“Jangan hanya dilihat fisiknya, banyak orang hanya melihat fisiknya. Kenapa airport di Pulau Miangas kita bangun? Kenapa runway di Pulau Rote, di Kabupaten Rote Ndao juga kita perpanjang. Karena dengan infrastruktur inilah kita ingin mempersatukan bangsa yang sangat besar ini,” tegas Presiden.

Pembangunan infrastruktur tersebut, lanjut Kepala Negara, bukan hanya persoalan ekonomi, karena dengan infrastruktur, baik jalan, bandar udara, pelabuhan, maupun tol laut, itulah yang akan mempersatukan bangsa ini. “Jangan sampai ada ketimpangan antarwilayah yang sangat jomplang, yang sangat lebar sekali,” ujarnya menekankan.

Dengan alasan tersebut, Presiden memberikan perintah kepada Menteri ESDM untuk melakukan program BBM satu harga di Indonesia, baik di Jawa, Sumatra, Papua, maupun daerah lainnya. Sebagai hasilnya, lanjut Presiden, sejak 8 bulan yang lalu masyarakat di pegunungan tengah Papua telah menikmati harga BBM yang sama seperti masyarakat di pulau Jawa.

Pembangunan jalan Trans Papua dan Kalimantan, ujar Presiden Jokowi, dilakukan karena pemerintah menginginkan masyarakat di Papua, Kalimantan, dan pinggiran juga menikmati bagusnya infrastruktur.

“Jangan hanya kita yang ada di Jawa dan di Sumatra saja,” ujar Presiden.

Presiden Jokowi juga menunjukkan contoh soal harga bahan bakar minyak (BBM), yang sebelumnya di Papua harganya bisa mencapai Rp60 ribu–Rp100 ribu per liter. Kepala Negara menilai hal ini tidak mencerminkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ujung Tombak
Lebih lanjut, Presiden Jokowi mengajak kepada seluruh anggota PMK RI untuk terus menjadi mahasiswa-mahasiswa yang penuh dengan kasih, berani menjadi ujung tombak persatuan Indonesia, berani mengawal pembangunan nasional, berani menjadi pelopor Indonesia, bersih dari korupsi, berani mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kerja nyata dan kehidupan sehari-hari, serta berani mewujudkan cinta Republik Indonesia dengan mental pejuang bukan mental pecundang.

“Negara ini adalah negara besar dan perlu kita bangun bersama-sama, bekerja bersama-sama, bergotong-royong bersama-sama agar negara kita segera menjadi negara maju, negara kuat, negara adil, negara makmur, negara yang sejahtera,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri ESDM Ignasius Jonan, Menpora Imam Nahrawi, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin.(DND/GUN/ES)

Berita Terbaru