Soal Kenaikan Harga BBM, Menko Perekonomian: Akan Diumumkan Pada Waktunya

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 17 November 2014
Kategori: Berita
Dibaca: 49.726 Kali

Sofyan JalilSidang Kabinet Paripurna yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di kantor presiden, Jakarta, Senin (17/11), telah membahas beberapa materi, di antaranya rencana pemerintah mengalihkan subsidi harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Namun, sejauh ini pemerintah belum menentukan waktu yang pasti terkait rencana menaikkan harga BBM sebagai upaya mengalihkan subsidi BBM itu.

Menko Perekonomian Sofyan Jalil kepada wartawan mengatakan, pembicaraan tentang masalah BBM, pengalihan subsidi itu dibahas cukup panjang. Tentu, pemerintah akan mengumumkan pada waktunya.

BBM kenaikan berapa?

“BBM tunggu saja akan diumumkan pada waktunya. Itukan bagian dari pengumuman tadi. Sabar saja,” pinta Sofyan Jalil kepada wartawan seusai Sidang Kabinet Paripurna, Senin (17/11) sore.

Ia menyebutkan, sidang kabinet itu membicarakan segala yang berkembang di masyarakat. Semua menteri bicara, semua angka-angka dikeluarkan, semua pertimbangan dibahas. Menurut Sofyan, bagi pemerintah tentu masalah ini adalah masalah yang sudah sangat kronik yang selama ini kita diskusikan.

“Tadi adalah hal itu dievaluasi secara komprehensif. Pemerintah ada komitmen untuk menyesuaikan, untuk mengalihkan subsidi itu ke arah yang produktif, dan tentunya pengumuman akan dilakukan pada waktunya,” jelas Sofyan Jalil.

Namun Menko Perekonomian menegaskan, pemerintah sudah membahas dan mengantisipasi kalau harga BBM itu dinaikkan, demikian juga terkait dengan kenaikan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok terkait itu kenaikan harga BBM itu.

“Dalam bahasa ekonominya bahwa inflasi sudah di price in, harga-harga sudah di price in. Dengan demikian begitu pengumuman dilakukan sebenarnya masyarakat sudah sangat siap,” jelas Sofya.

Intinya, lanjut Sofyan, pemerintah akan mengalihkan subsidi yang tidak produktif ini ke arah subsidi yang produktif. Ia mengingatkan, sebanyak Rp 740 triliun dalam lima tahun ini dihabiskan untuk subsidi minyak, sedangkan biaya kesehatan cuma Rp 200 triliun pada periode yang sama. Sementara, 52 persen irigasi kita rusak karena tidak ada dana.

“Oleh sebab itu, kalau nanti kita alokasikan subsidi ini sebenarnya dalam rangka untuk invest masa depan. Kita invest masa depan sehingga Indonesia itu menjadi negara yang cukup produktif salam segala hal,” papar Sofyan Jalil.

Mengenai harga di pasar internasional yang saat ini turut menjadi 70-80 dollar per barrel sehingga pemerintah tidak boleh menaikkan harga BBM, Menko Perekonomian Sofyan Jalil mengatakan, bahwa hal itu hanya analisa saja.

“Itu kan analisis dan tesis yang Anda kemukakan. Intinya adalah, bagaimana subsidi yang tidak produktif itu dialihkan kepada subsidi yang produktif,” pungkas Sofyan Jalil. (Humas Setkab/ES)

Berita Terbaru