Solusi Listrik, Presiden Jokowi: Harus Mulai Berpikir Konversi ke Energi Terbarukan

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 11 Juni 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 28.721 Kali
Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant di Lombok, NTB. (11/6). (Foto: Humas/Nia)

Presiden Jokowi bersama menteri dan pejabat terkait meresmikan mobile power plant di Lombok, NTB (11/6). (Foto: Humas/Nia)

Presiden Joko Widodo mengungkapkan ia akan melihat langsung ke lapangan perkembangan proyek pembangunan yang tengah dilaksanakan. Hal itu disampaikan Presiden kepada wartawan usai melakukan groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) Jeranjang berkapasitas 2×25MW di Desa Kebunayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (11/6) pagi.

“Ini saya ke lapangan ingin melihat langsung progress perkembangan setiap proyek pembangunan yang telah kita putuskan,” ujar Presiden.

Lebih lanjut, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa memang banyak yang masih mobile power plant, kemudian nantinya akan dilihat lagi yang hydro power plant dan PLTU yang besar-besar.

“Kalau nanti sudah jalan, kita ingin melihat provinsi-provinsi yang kurang itulah yang kita tambahi terlebih dahulu, yang kurang dikejar untuk ditambah biar tidak ada byarpet. Kalau sudah cukup, itu yang akan kita perluas lagi,” ujar Presiden.

Proses ekspansi, menurut Presiden, harus melihat perkembangan setiap tahun apakah itu akan ada pertumbuhan, ada permintaan sehingga yang sudah cukup ini tetap dihitung lagi.

“Ini harus mulai berpikir ke konversi perpindahan energi bersih, energi yang terbarukan. Memang yang masih banyak adalah yang kurang. Seperti di NTB ini masih kurang. Insya Allah bulan Agustus akan rampung mobile power plant. Kemudian ada juga datang yang kapal, juga di NTB September, Oktober,” tutur Presiden.

Saat menjawab hal lain selain listrik, Presiden Jokowi menyampaikan jika di situ ada pertumbuhan ekonomi yang ke depan harus diantisipasi. “Jangan sampai ada pertumbuhan ekonomi tidak diantisipasi sehingga pertumbuhan itu menjadi berhenti atau malah turun. NTB tadi saya sampaikan pertumbuhan ekonomi 9,9 persen,” tutur Presiden.

Mengenai penyelesaian proyek yang berhenti, Presiden menyampaikan bahwa nanti akan dibahas dalam rapat terbatas setelah sebelumnya dicek lagi oleh BPKP.

Menutup wawancara dengan wartawan, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa mengejar kecepatan itu yang MPP, 6-7 bulan rampung meski dalam jangka panjang mesti kita lihat cost-nya, mana yang murah, masih batubara. “Tetapi ke depan karena kita punya potensi air, sungai, hydro juga sebentar lagi akan kita tunjukkan dimana nanti yang hydro,” pungkas Jokowi.

Turut mendampingi Presiden Jokowi dalam acara peresmian kali ini adalah Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri ESDM Sudirman Said, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Dirut PLN Sofyan Basir, dan Gubernur Nusa Tenggara Barat Muhammad Zainul Majdi serta pejabat setempat. (GUN/EN)

Berita Terbaru