Sosialisasi Bansos Program Keluarga Harapan Tahun 2019, 3 Desember 2018, di Gelanggang Remaja, Jalan Otto Iskandar Dinata, Jakarta Timur

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 3 Desember 2018
Kategori: Sambutan
Dibaca: 1.443 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bismillahirrahmanirrahim,
Alhamdulillahirrabbilalamin,
wassalatu was salamu ‘ala ashrifil anbiya i wal-mursalin,
Sayidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammaddin,
wa ‘ala alihi wa sahbihi ajma’in amma ba’du.

Yang saya hormati para menteri Kabinet Kerja, Pak Menteri Sosial, Pak Sekretaris Kabinet,
Yang saya hormati Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Jakarta Timur,
Serta Bapak-Ibu sekalian Penerima Manfaat dari Program Keluarga Harapan (PKH).

Selamat sore!

Sudah pegang ini semuanya kan? Sudah pegang? Yang tahun 2018 yang belum cair berapa ratus ribu? Sudah cair semua? Sudah? Sudah cair semua 2018? Sudah? Sudah? Kok ada yang belum, ada yang sudah. Sudah belum? Sudah? Berarti habis 2018. Iya? Uangnya sudah habis kan? Nah sudah habis.

Sekarang kita bicara tahun 2019. Tadi Pak Menteri Sosial sudah menyampaikan bahwa pengambilannya biasanya bulan Februari, tahun depan akan diajukan di bulan Januari. Nanti maju, bulan Januari, bulan April, bulan Juli, bulan Oktober. Setuju ndak? Siapa yang ndak setuju maju, saya beri sepeda. Yang pertama itu, jadi nanti diatur maju di bulan Januari, bulan April, bulan Juli, dan bulan Oktober, yang pertama.

Yang kedua, sekarang satu tahun dapat Rp1.890.000, betul? Benar enggak? Benar? Ya.  Tahun depan insyaallah akan dua kali lipat kurang lebih. Siapa yang tidak setuju maju ke depan? Siapa yang tidak setuju maju ke depan, sini, sini, sini. Ada yang tidak setuju? Setuju semua? Yang paling penting, ini Rp1.890.000, tahun depan insyaallah kurang lebih dua kali lipat, kurang lebih. Ini wajib kita syukuri bersama-sama. Alhamdulillah. Ya kalau dapat lebih gede kita syukuri. Ya ndak? Tadi saya dengar ada yang enggak setuju, itu mana tadi? Setuju ya? Oke setuju, saya gedok, setuju. Dah, dok.

Jadi diajukan di bulan Januari, bulan April, bulan Juli, bulan Oktober, dan jumlahnya akan kurang lebih, jumlahnya masih dihitung-hitung, tapi kurang lebih dua kali lipat, kurang lebih. Nanti akan disebutkan jumlahnya berapa.

Untuk apa? Sekali lagi, anggaran yang diberikan kepada Ibu-ibu ini sudah tahu semuanya untuk apa? Saya kira sudah ada pendamping-pendamping yang pintar-pintar di sini yang mendampingi kelompok-kelompok yang ada. Jadi anggaran yang ada ini bisa digunakan untuk kesehatan keluarga, gizi keluarga. Beli telur boleh ndak? Beli ikan boleh ndak? Beli tempe/tahu boleh? Beli susu untuk anak, boleh? Beli rokok boleh? Tidak boleh. Enggak boleh ya, janjian ya.

Nah, tapi misalnya, ngambil uang, ngambil Rp500 ribu dibawa pulang, suaminya minta untuk beli rokok, diberi boleh? Boleh ndak? Boleh ndak? Tidak boleh? Tidak cinta suami. Benar ndak? Tidak boleh! Bukan ini cinta dan enggak cinta. Tidak boleh. Sampaikan baik-baik kepada suami, “Pak, Pak, Pak ini uang PKH ini adalah untuk gizi anak-anak kita, juga untuk pendidikan anak-anak kita.” Untuk bayar SPP, untuk beli buku, beli seragam, ya kan? Atau untuk modal usaha, tambahan modal usaha sedikit-sedikit boleh tetapi kalau untuk beli rokok, “Pa, Pak, Be, Babe, Bapak, Papa tidak boleh untuk beli rokok”. Kalau nanti ketahuan ini untuk beli rokok, janjian, pendamping sudah janjian ya kita ya, ini dicabut. Setuju? Nah, jadi tidak boleh.

Karena ada pendampingan, tolong betul-betul anggaran ini didampingi, diarahkan yang baik. Sehingga kita harapkan, tadi seperti yang Pak Menteri sampaikan, target-target yang Pak Menteri sampaikan tadi betul-betul bisa tercapai. Karena tahun depan itu yang diberi adalah sepuluh juta. Yang kemarin, seluruh Indonesia itu enam juta keluarga, tahun depan ini sepuluh juta keluarga, dengan tambahan tadi, per keluarga ditambah dua kali lipat tadi jumlah rupiah yang diterima.

Ini yang sudah terima dua tahun yang lalu ada? Ada? Setahun yang lalu ada? Dua tahun yang lalu? Setahun yang lalu, iya kan, setahun yang lalu. Ada yang mau maju enggak? Cerita mengenai penggunaan PKH, tunjuk jari. Tidak saya beri sepeda. Silakan Ibu, maju. Sini. Ada lagi yang mau maju, cerita mengenai penggunaan PKH? Sini Ibu, maju.

Silakan dikenalkan Ibu namanya, nama, dari kampung mana.

(Dialog Presiden RI dengan Penerima Manfaat PKH)

(Dalam dialog, salah satu penerima manfaat PKH mengungkapkan bahwa dana PKH yang diterima selain digunakan untuk pendidikan anak, juga digunakan untuk modal usaha sehingga saat ini ia sudah lulus menjadi penerima manfaat PKH)

Betul. Karena masih banyak saudara-saudara kita ini yang belum dapat PKH, gitu lho. Masih banyak, ada mungkin total 16 juta, jadi masih ada yang belum. Jadi kalau yang sudah lulus harus berani lulus, begitu. Jangan disuruh lulus enggak mau.

Baiklah saya rasa itu. Terima kasih Bu Ayi dan Bu Warti. Terima kasih, terima kasih. Nggih. Silakan kembali.

Saya lihat penggunaan PKH ini sudah mulai tepat sasaran dan kita harapkan sekali lagi pendamping PKH betul-betul bisa mendampingi kelompok-kelompok yang ada. Dan kita harapkan, saya harapkan nanti kenaikan anggaran PKH ini betul-betul bermanfaat bagi Ibu-ibu semuanya, terutama memang yang memiliki usaha. Tadi Bu Warti misalnya tadi peyek. Peyek kalau biasanya sehari bisa jualan Rp200 ribu bisa menjadi jualan Rp400 ribu misalnya. Naik tingkatannya, levelnya sehingga keuntungannya juga menjadi lebih baik.

Bu Warti sini, sini saya beri foto. Karena ini kan masa-masa pemilu, masuk masa pemilu tidak boleh memberi sepeda, jadi saya beri foto saja. Sini.

Saya rasa itu Ibu-ibu yang saya hormati. Marilah kita gunakan betul anggaran yang ada di Program Keluarga Harapan ini untuk menyiapkan anak-anak kita agar menjadi anak-anak yang sehat, anak-anak yang cerdas, yang nantinya negara kita bisa bersaing dengan negara-negara luar karena anak-anak kita semuanya sehat, cerdas, dan pintar-pintar.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan.
Terima kasih.
Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Sambutan Terbaru