Sudah Dibawah Nilai Fundamental, BI Sebut Depresiasi Rupiah Karena Sentimen Eskternal

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 18 Agustus 2015
Kategori: Berita
Dibaca: 22.481 Kali
Gubernur BI Agus Martowardojo (tengah) saat memberikan keterangan di kantor Gubernur BI, Jakarta, Selasa (18/8)

Gubernur BI Agus Martowardojo (tengah) saat memberikan keterangan di kantor Gubernur BI, Jakarta, Selasa (18/8)

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) yang dipimpin oleh Gubernur BI Agus Martowardojo menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada triwulan II 2015, namun diperkirakan akan membaik pada triwulan III dan IV 2015. Pertumbuhan ekonomi triwulan II 2015 tercatat 4,67% (yoy), menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 4,72% (yoy).

“Perlambatan ini terutama didorong oleh melemahnya pertumbuhan investasi dan konsumsi pemerintah. Kondisi tersebut disebabkan oleh penyerapan belanja pemerintah yang tidak secepat perkiraan, termasuk realisasi proyek infrastruktur, sejalan dengan reorganisasi beberapa kementerian/lembaga (penyesuaian nomenklatur),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara dalam siaran persnya, Selasa (18/8).<

Menurut Tirta, perilaku menunggu (wait and see) investor swasta juga mendorong pelemahan investasi bangunan. Dari sisi eksternal, ekspor tumbuh terbatas seiring dengan pemulihan ekonomi global yang belum kuat dan harga komoditas yang masih menurun.

Sementara dari sisi spasial, perlambatan ekonomi terutama dialami oleh wilayah Sumatera dan Kalimantan, dengan beberapa propinsi berbasis SDA migas tumbuh negatif seperti Riau, Kalimantan Timur, dan Aceh.

RDG BI juga menilai, kinerja transaksi berjalan semakin membaik, tercermin dari menurunnya defisit transaksi berjalan. Defisit transaksi berjalan tercatat sebesar 4,5 miliar dollar AS (2,1% PDB) pada triwulan II 2015, lebih rendah dibandingkan dengan defisit pada triwulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 9,6 miliar dollar AS (4,3% PDB).

“Peningkatan kinerja transaksi berjalan terutama ditopang oleh perbaikan neraca perdagangan nonmigas akibat impor nonmigas yang turun tajam seiring dengan melambatnya permintaan domestik,” jelas Tirta.

Sementara itu, meskipun ekspornonmigas mengalami penurunan (-5,3%, yoy), kinerja ekspor nonmigas secara riil mengalami perbaikan, tercermin dari meningkatnya volume ekspor sebesar 7,7% (yoy). Sementara itu, neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2015 menunjukkan perkembangan yang positif dengan mencatat surplus sebesar 1,33 miliar doliar AS.

Di sisi lain, lanjut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI itu, transaksi modal dan finansial masih mencatat surplus pada triwulan II 2015, di tengah kondisi pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian. Namun, surplus tersebut lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada periode yang sama tahun sebelumnya, terutama karena surplus investasi portofolio yang menurun dan investasi lainnya yang mengalami defisit.

“Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa pada akhir Juli 2015 tercatat sebesar 107,6 miliar dollar AS atau setara dengan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor,” papar Tirta.

Mengenai nilai tukar rupiah, Rapat Dewan Gubernur BI mengakui, telah mengalami depresiasi, terutama dipengaruhi oleh sentimen eksternal. Pada triwulan II 2015, rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,47% (qtq) ke level Rp13.131 per dollar AS.

Tekanan terhadap rupiah pada triwulan II, jelas Tirta, tersebut dipengaruhi antisipasi investor atas rencana kenaikkan suku bunga AS (FFR), dan Quantitative Easing ECB, serta dinamika negosiasi fiskal Yunani.

Ia menyebutkan, dari sisi domestik, meningkatnya permintaan valas untuk pembayaran utang dan dividen sesuai pola musiman pada triwulan II 2015. Namun, tekanan tersebut tertahan oleh sentimen positif terkait kenaikan outlook rating Indonesia oleh S&P dari stable menjadi positif dan meningkatnya surplus neraca perdagangan.

Perkembangan terakhir, lanjut Tirta,  menunjukkan bahwa sejalan dengan reaksi pasar global terhadap keputusan Tiongkok yang melakukan depresiasi mata uang Yuan, hampir seluruh mata uang dunia, termasuk Rupiah, mengalami tekanan depresiasi.

“ Rupiah mencatat pelemahan cukup dalam (overshoot) dan telah berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued),” jelas Tirta.

Menyikapi perkembangan tersebut, Tirta menegaskan, Bank Indonesia telah dan akan terus berada di pasar untuk melakukan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya, sehingga dapat mendukung terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Dalam kesempatan itu, Tirta Segara juga menyampaikan bahwa RDG BI memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut, lanjut Tirta, sejalan dengan upaya membawa inflasi menuju pada kisaran sasaran sebesar 4±1% di 2015 dan 2016.

Ia menyebutkan, fokus kebijakan Bank Indonesia dalam jangka pendek diarahkan pada langkah-langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, di tengah masih berlanjutnya ketidakpastian perekonomian global, dengan mengoptimalkan operasi moneter baik di pasar uang Rupiah maupun pasar valuta asing.  (Depkom BI/ES)

Berita Terbaru