Tarakan, Zona Rawan Gempabumi di Kaltim

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 5 Desember 2014
Kategori: Opini
Dibaca: 134.557 Kali

Oleh: Dr. Daryono, S.Si, M.Si, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG

TarakanUntuk kesekian kalinya, Kota Tarakan Kalimantan Timur (Kaltim) kembali diguncang gempabumi tektonik pada 9 November 2014 dini hari. Peristiwa gempabumi yang terjadi cukup unik, mengingat kejadiannya yang berlangsung berurutan hingga warga masyarakat Tarakan yang sempat terbangun dari tidur, kemudian lari berhamburan keluar rumah. Sebagian besar dari mereka takut akan datangnya gempabumi yang lebih besar, serta kekhawatiran akan terjadi tsunami mengingat wilayahnya yang berdekatan dengan laut.

Beberapa laporan warga menunjukkan bahwa getaran gempabumi dirasakan terjadi hingga beberapa kali, akan tetapi karena magnitudo gempabum yang relatif kecil maka hanya 3 gempabumi yang dapat ditentukan parameternya di Pusat Gempabumi Nasional, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Setidaknya ada tiga guncangan kuat yang terjadi. Guncangan pertama pada pukul 02.00.18 WIB, disusul guncangan kedua pukul 02.01.54 WIB, dan terakhir adalah guncangan paling kuat pada pukul 03.07.04 WIB. Ketiga gempabumi ini memiliki magnitudo bervariasi, yaitu M 4,3 Skala Richter (SR), M 4,1 SR, dan M 4,5 SR. Di Pulau Tarakan, Pulau Bunyu, dan Pulau Baru gempabumi dirasakan pada skala intensitas II-III Modified Mercally Intensity (MMI). Namun demikian, hingga saat ini belum ada laporan korban luka maupun kerusakan akibat gempabumi.

Berdasarkan analisis gelombang gempabumi menunjukkan bahwa kedalaman hiposenter ketiga gempabumi tersebut cukup dangkal, yaitu 10 kilometer. Kedalaman hiposenter dangkal ini juga tampak dari anatomi seismogram di stasiun Tarakan (TARAI), yang menunjukkan singkatnya selisih waktu tiba gelombang S dan P sekitar 5 hingga 6 detik. Selain itu, bentuk seismogram dengan durasi pendek juga menggambarkan kekuatan gempabumi yang relatif kecil.

Analisis mekanisme sumber ketiga gempabumi menunjukkan mekanisme yang sama, yaitu patahan turun (normal fault). Hasil ini relevan dengan kondisi geologi dan seismotektonik setempat, dalam hal ini di Pulau Tarakan dan sekitarnya memang banyak terdapat persebaran struktur geologi sesar menurun (gravitasional fault).

Aktivitas Kegempaan

Banyak pernyataan yang dilontarkan warga masyarakat setempat terkait dengan gempabumi yang mengguncang Tarakan. Sebagian besar dari pertanyaan warga adalah mengapa Pulau Kalimantan yang selama ini dinilai aman ternyata dapat terjadi gempabumi?

Tarakan merupakan zona rawan gempabumi di Kalimantan Timur. Data aktivitas kegempaan menunjukkan bahwa, secara umum wilayah Pulau Kalimantan memang memiliki tingkat aktivitas kegempaan yang lebih rendah jika dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Namun demikian, berdasarkan catatan sejarah gempabumi sejak tahun 1921 menunjukkan bahwa di Kalimantan telah terjadi beberapa kali gempabumi merusak. Gempabumi Sangkulirang 14 Mei 1921 memiliki intensitas hingga VIII MMI. Gempabumi kuat ini diikuti gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan.

Selanjutnya adalah gempabumi Tarakan 19 April 1923 (M 7,0 SR) berkedalaman 40 kilometer dengan intensitas hingga VIII MMI. Gempabumi ini menyebabkan kerusakan rumah dan timbulnya banyak rekahan tanah di Tarakan.

Gempabumi kuat di Tarakan juga pernah terjadi pada 14 Februari 1925. Guncangan gempabumi ini dilaporkan di Tarakan hingga mencapai VII MMI hingga merusak beberapa rumah. Selanjutnya, Tarakan pada 28 Februari 1936 kembali diguncang gempabumi dengan kekuatan M 6,5 SR. Gempabumi ini dilaporkan sangat kuat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa. Terakhir adalah gempabumi dengan kekuatan M 4,7 SR yang mengguncang kuat daerah Paser dan Long Ikis pada 22November 2009. Akibat gempabumi ini dilaporkan sejumlah rumah, gedung sekolah,dan tempat ibadah mengalami kerusakan cukup parah.

Secara geologis kawasan Pulau Tarakan dan sekitarnya terletak di zona Cekungan Tarakan. Struktur geologi yang dominan terdapat di zona ini adalah patahan turun. Sejarah geologi menunjukkan bahwa di zona ini pernah berkembang proses pengendapan sedimen yang masif. Akumulasi beban sediman di kawasan delta telah menyebabkan beberapa tempat di cekungan ini mengalami penurunan dan terbentuk struktur patahan turun. Beberapa sumber pustaka juga menunjukkan bahwa dari arah timur Tarakan terdapat subduksi mikro ke bawah Borneo. Konsekuensi dari dinamika tektonik ini maka terbentuklah antiklin di Bunyu dan Tarakan.

Kondisi tektonik yang kompleks ini semakin mengokohkan pendapat bahwa Cekungan Tarakan memang merupakan kawasan rawan gempabumi. Kerawanan gempabumi di zona ini selain disebabkan oleh adanya beberapa struktur geologi sesar turun dan subduksi mikro dari arah timur Tarakan, juga disebabkan oleh keberadaan beberapa struktur sesar mendatar. Tarakan dan sekitarnya secara tektonik diapit oleh tiga sistem sesar mendatar. Di sebelah selatan Pulau Tarakan terdapat dua sistem sesar yang berarah baratdaya-tenggara, yaitu zona Sesar Mangkalihat (Mangkalihat fault zone)dan zona Sesar Maratua (Maratua fault zone). Zona Sesar Mangkalihat merupakan sesar kelanjutan dari Sesar Palu-Koro, yang melintas dekat kota Tanjung Redep.

Keberadaan zona Sesar Maratua juga tidak kalah penting untuk diperhatikan, karena ujung sesar ini terletak di lautan yang lokasinya berdekatan dengan kota Tanjung Selor. Sementara itu, di sebelah utara Pulau Tarakan juga terdapat zona Sesar Sempurna (Sempurna fault zone) yang melintas dari Laut Sulawesi hingga Sabah Malaysia, dan melintasi kawasan yang berdekatan dengan Pulau Sebatik. Terlepas apakah sesar-sesar tersebut di atas masih aktif atau tidak, tampaknya masih perlu penelitian lebih lanjut. Namun demikian, potensi kegempaan yang mungkin terjadi di daerah tersebut tetap perlu diwaspadai.

Kajian Risiko

Melihat kondisi seismisitas dan tektonik di kawasan Tarakan dan sekitarnya yang aktif dan kompleks ini, maka kiranya mendesak untuk dilakukan pengkajian bahaya dan risiko gempabumi. Ini penting mengingat Kota Tarakan memiliki posisi yang sangat strategis bagi Provinsi Kalimantan Timur, yaitu sebagai penggerak pertumbuhan wilayah utara Provinsi Kalimantan Timur dan pintu gerbang kedua bagi Kalimantan Timur setelah Kota Balikpapan. Tarakan kini bukan sekedar kota transit perdagangan antar pulau, tetapi juga transit ekspor impor antara Indonesia-Malaysia-Filipina. Selain dinamika perkembangan wilayah yang pesat, di Tarakan juga terdapat banyak obyek vital terkait pertambangan dan migas.

Pengkajian bahaya dan risiko gempabumi sangat penting untuk pengembangan strategi mitigasi untuk mengurangi dampak bencana, seperti: korban jiwa, kerugian ekonomi, dan kerusakan sumberdaya alam. Kajian bahaya gempabumi dapat menjadi pedoman untuk perencanaan pembangunan, meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam menghadapi bencana, sehingga masyarakat Tarakan dapat hidup dan bekerja dengan aman.***

Opini Terbaru