Tatap Muka dengan Penerima Bantuan Stimulan Rumah Rusak Berat, Sedang, dan Ringan yang Sudah Jadi, 22 Maret 2019, di Gedung Hakka, Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 22 Maret 2019
Kategori: Sambutan
Dibaca: 2.596 Kali

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Yang saya hormati Pak Gubernur, Ibu Wakil Gubernur, serta Bapak Bupati yang hadir, para Menteri Kabinet Kerja,
Ibu dan Bapak sekalian seluruh warga Nusa Tenggara Barat, khususnya sekarang ini di Kabupaten Lombok Barat.

Gempa terjadi dulu di bulan Agustus. Ini sudah kurang lebih tujuh bulan. Saya sudah minta sebetulnya kepada Menteri agar bisa cepat diselesaikan pembangunan rumah yang ada. Tetapi dalam praktiknya memang banyak sekarang ini pejabat-pejabat yang khawatir kalau prosedurnya tidak dilalui mereka takut masuk sel, baik mungkin di Pak Bupati, mungkin di Pak Gubernur, mungkin di Pak Kepala BNPB, dan juga Pak Menteri. Sehingga prosedur yang dulu ruwet, ada tujuh belas prosedur, sudah kita potong sebetulnya sekarang ini tinggal empat. Tetapi saya lihat tadi juga masih dari sini, ke sini, ke sini, ke sini, masih empat tahapan. Tapi juga sudah, menurut saya sudah cepat.

Dan saya senang masyarakat sekarang di sini antusias untuk semuanya memakai rumah tahan gempa, benar? Karena harus kita sadari betul bahwa di Lombok ini memang kita berada pada daerah yang rawan gempa. Kita harus sadar itu, sehingga pembangunan rumah yang tahan gempa ini memang kita haruskan. Dan kita tahu ada rumah yang sudah dibangun kemarin yang tahan gempa waktu ada gempa tanggal 17 (Maret) yang lalu, baru saja kemarin, yang rumah tahan gempa tidak ambruk tapi yang rumah tidak tahan ya gempa ambruk lagi.

Inilah yang ke depan yang semuanya kita harus menyadari, ini sudah menjadi sunatullah bahwa di Lombok ini diberikan kesuburan tanah, keindahan pantai dan alam, tetapi juga sebagai daerah yang rawan gempa. Ini harus kita sadari, tetapi kalau nanti rumah-rumah yang tahan gempa ini selesai insyaallah kita semuanya bisa hidup menyatu dengan alam. Karena tidak di kita saja, kayak di Jepang pun itu juga masuk daerah rawan gempa tapi juga mereka bisa hidup berdampingan dengan baik dengan lingkungan yang mereka miliki yaitu juga daerah rawan gempa.

Saya ingin yang hadir di sini nantinya segera mendapatkan bangunan rumah itu, entah tadi ada yang tipe 30, ada yang tipe 35, ada yang milih Risha, ada yang milih Rita, ada yang milih Risba. Masyarakat diberi pilihan-pilihan sehingga kita harapkan ini segera bisa dilaksanakan di lapangan dan kembali kita hidup normal. Kalau ada gempa ya rumahnya hanya goyang-goyang sedikit, tidak ada masalah, karena memang rumahnya rumah tahan gempa yang sudah dicek semuanya oleh Kementerian PU.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Kalau masih ada yang ingin bertanya, ada? Ya, bertanya silakan. Mau bertanya? Ya, Pak.

(Dialog Presiden Republik Indonesia dengan Perwakilan Penerima Dana Bantuan)

Lalu Mandraguna
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Lalu Mandraguna
Yang saya hormati Bapak Presiden Republik Indonesia. Yang saya hormati pula Pemerintah Provinsi dan mohon maaf Ibu Iriana Joko Widodo, terima kasih atas kehadirannya.

Jadi tiang Lalu Mandraguna dari Lingkungan Pengempel Indah, Kelurahan Bertais, Kecamatan Sanubaya. Dan alhamdulillah rumah kami sudah jadi.

Presiden Republik Indonesia
Rumahnya sudah jadi, ya. Ada yang sudah jadi, ada yang belum. Ya memang ini, kita ini memang totalnya, kemarin saya mendapatkan angka, 216.000 rumah, jumlah yang tidak kecil. Jadi ya kita harus sabar. Tapi uangnya, perlu saya sampaikan, jangan sampai ada berita-berita bohong yang datang kepada Bapak-Ibu sekalian, uangnya sebetulnya sudah masuk sebelum Desember itu sudah Rp3,5 triliun ke sini, tapi prosedurnya ruwet jadi tidak sampai segera ke masyarakat. Kemarin sudah ditambah lagi Rp1,6 triliun, berarti sudah terkumpul di NTB Rp5,1 (triliun). Rp5,1 triliun sudah di sini, bukan di Jakarta. Sudah di sini tapi memang harus lewat prosedur-prosedur tadi.

Ya, silakan.

Lalu Mandraguna
Ya, terutama saya ingin mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, serta TNI/Polri yang selalu mengayomi kami dari awal evakuasi sampai dengan selesai pembangunan sampai saat sekarang ini. Kepada tim pendamping fasilitator dari Kementerian PUPR yang luar biasa, mereka intens sekali setiap hari, bisa dibilang 24 jam 7 hari Pak kami bisa menghubungi mereka.

Pak Gun, jadi proses pembangunan rumah itu berapa hari?

Lalu Mandraguna
Kalau untuk proses pembangunannya itu sebenarnya cepat Pak kalau untuk metode Risha.

Presiden Republik Indonesia
Ya, yang di tempat Pak Gun ini berapa hari?

Lalu Mandraguna
Kami mulai peletakan batu pertama 3 Oktober, kami selesainya awal Desember karena kan kami harus melewati tahap-tahap prosedur pencairan segala macam.

Presiden Republik Indonesia
Oh, ini yang masih prosedur lama. 2018, Pak.

Lalu Mandraguna
Ya, nggih. Masih prosedur lama. Oke, ya berarti yang sebelum Desember itu masih lama itu.

Lalu Mandraguna
Kalau sekarang cepat Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya, sekarang cepat. Ya, nggih.

Lalu Mandraguna
Alhamdulillah. Itu saja Pak, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Itu saja Pak. Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam. Ada yang belum selesai? Yang sudah dimulai tapi belum selesai ada ndak? Coba, sini.

Abdul Aziz
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi semuanya.

Presiden Republik Indonesia
Wa’alaikumsalam.

Abdul Aziz
Terima kasih Bapak Presiden. Nama saya Abdul Aziz, putra asli Narmada. Kebetulan saya, rumah di belakang gedung ini. Yang saya tanyakan di sini ada tiga Bapak, mohon maaf sekali.

Presiden Republik Indonesia
Sebentar, saya tanya dulu. Sebelum tanya, saya tanya dulu. Rumahnya sudah dibangun?

Abdul Aziz
On process Pak. Dibangunnya belum Pak, tapi masih dalam proses pendataan.

Presiden Republik Indonesia
Proses pendataan? Oh, belum dibangun. Masih proses pendataan. Sudah sampai mana? Pendataan sampai mana?

Abdul Aziz
Baru sampai, kemarin terakhir penyerahan buku tabungan ke fasilitator.

Presiden Republik Indonesia
Bukunya diserahkan, isinya ada ndak di tabungannya itu?

Abdul Aziz
Sudah ada.

Presiden Republik Indonesia
Berapa isinya?

Abdul Aziz
Rp10 juta.

Presiden Republik Indonesia
Ini tahapan pertama berarti?

Abdul Aziz
Iya, betul sekali Bapak. Yang rusak ringan.

Presiden Republik Indonesia
Oh, ini rusak ringan. Oke, berarti sudah, uangnya sudah ada di rekening. Terus ngambilnya?

Abdul Aziz
Ngambilnya masih tunggu proses Pak.

Presiden Republik Indonesia
Nunggu apa lagi katanya?

Abdul Aziz
Sudah selesai semua sih cuma kita tunggu proses berikutnya.

Presiden Republik Indonesia
Sudah selesai kok masih nunggu proses? Berarti belum selesai.

Abdul Aziz
Itu tinggal tunggu pencairan ke rekening pokmas, informasi dari fasilitator.

Presiden Republik Indonesia
Tunggu pencairan, ya oke. Yang terpenting uang sudah dipegang, benar? Terus tadi apa, mau tanya apa?

Abdul Aziz
Yang saya pertanyakan ada tiga pertanyaan ini Bapak. Yang pertama, kemarin waktu pendataan ini adalah pendataan yang gempa pertama. Gempa-gempa berikutnya itu banyak masyarakat yang rusak rumahnya sehingga tidak ikut terdata pada saat pendataan pertama. Apakah tindakan Pemerintah Pusat dan seterusnya mengenai masyarakat yang belum terdata?

Kedua, sekarang ini kita tahu tahun politik yang di mana pemilihan presiden 17 April 2019 akan segera dilaksanakan. Apakah proses ini akan terus berjalan bagi masyarakat yang on process pengerjaan rumahnya dan lain sebagainya, ketika Bapak Presiden tidak terpilih lagi? Yang jadi pertanyaan saya, apakah program yang belum terdata ini akan berjalan sesuai keinginan Bapak Presiden saat ini apa bagaimana?

Dan yang ketiga, saya mohon izin untuk foto bersama dengan Bapak. Saya mempunyai HP Pak, saya mohon yang pertanyaan yang ketiga ini di-iya-kan Bapak.

Seperti itu. Terima kasih Pak.

Presiden Republik Indonesia
Yang ketiga tadi bukan pertanyaan, tapi minta, permintaan.

Begini, jadi kemarin kan ada lagi gempa yang tanggal 17 Maret, itu sudah didata. Tadi saya sudah mendapatkan laporan dari Pak Kepala BNPB, Pak Jenderal Doni Monardo, ada kurang lebih empat ribu lagi tambahan. Ya ini masuk tambahan lagi.

Sekali lagi, memang di Lombok ini memang rawan gempa. Jadi yang dulunya rusak ringan karena gempa berikutnya menjadi rusak berat, ya rusak berat, memang faktanya memang rusak berat kok. Benar ndak? Itu. Jadi ya tercatatnya nanti rusak berat. Tapi ini masih diproses lagi yang tambahan yang baru kemarin, ada tambahan kurang lebih empat ribu lagi.

Supaya Bapak-Ibu semuanya tahu mengenai ini, kita ini juga bukan menyelesaikan di sini saja, ada di Lombok, ada di Palu, Donggala, yang terakhir ada di Banten dan Lampung. Supaya Bapak-Ibu juga tahu bahwa kita menyelesaikan di beberapa tempat, yang jumlahnya juga hampir mirip-mirip. Tapi kita semuanya harus optimis bahwa persoalan ini bisa kita selesaikan, dan bisa kita atasi bersama. Kita harus optimis.

Tadi saya sudah bertanya di lapangan di tempat prosedur tadi. Beberapa masyarakat sudah saya tanya, saya sudah nangkep. Ini tadi ada tambahan, ada tambahan, saya kira ini menjadi juga masukan bagi saya untuk memperbaiki, kita dan tim, baik di Provinsi, maupun di Kabupaten, semua memperbaiki prosedur-prosedur yang menyebabkan berjalannya kurang cepat. Ini saya lihat prosedur sekarang sudah cepat. Hanya ada masalah yang kedua tadi saya disampaikan oleh Pak Gubernur dan Bupati, materialnya di lapangan ini juga kurang, semen dan baja ringan suplainya masih kurang. Sehingga tadi saya sudah telepon juga Menteri, pemilik BUMN-BUMN kita, untuk juga segera mengirimkan semen-semen ke Lombok secepat-cepatnya.

Kenapa saya sering turun ke lapangan itu karena betul-betul ingin melihat masalahnya dan ingin segera menyelesaikan. Tapi yang paling penting sudah sampai di NTB, tadi saya pastikan, Rp5,1 triliun sudah sampai di sini. Yang paling penting itu. Artinya, tinggal prosedur di sini yang dipercepat sehingga bisa sampai kepada Bapak-Ibu sekalian.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Waktunya sudah masuk ke Salat Jumat. Ya, sama-sama Bu, nggih. Jadi kalau saya pas enggak ke sini jangan merasa ditinggalkan. Saya tetap akan ke sini menyelesaikan persoalan ini.  Saya kan juga harus ke Palu, saya juga cek ke Donggala, saya cek ke Banten, saya juga cek ke Lampung. Ya ngurut begini saja. Saya cek lagi di sini, saya akan pastikan, mungkin dua-tiga bulan lagi saya akan ke sini, apa yang menjadi masalah, apa yang harus diselesaikan. Dua-tiga bulan lagi saya ke sini, insyaallah. Jangan ragu bahwa kita ingin menyelesaikan ini, karena kadang-kadang memang masih ada yang tercecer, belum terdaftar, ya itu harus diselesaikan. Ya.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Saya juga ingin melihat di lapangan perkembangannya seperti apa.
Saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sambutan Terbaru