Tingkatkan Sinergi Industri Nasional, Humas K/L Blusukan ke Pabrik Tekstil

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 April 2016
Kategori: Berita
Dibaca: 34.105 Kali
Insan kehumasan dari beberapa K/L yang tergabung dalam Bakohumas melakukan blusukan, di sebuah pabrik tekstil, di Solo, Jumat (15/4) pagi. (Foto: Edi Nurhadianto/Humas)

Insan kehumasan dari beberapa K/L yang tergabung dalam Bakohumas melakukan blusukan, di sebuah pabrik tekstil, di Solo, Jumat (15/4) pagi. (Foto: Humas/Edi)

Pimpinan Hubungan Kemasyarakatan (Humas) kementerian/lembaga (K/L) yang tergabung dalam Forum Bakohumas mengikuti acara yang  diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian (Kemenperin) di Solo, Jateng, Jumat (15/4) pagi, dengan melakukan ‘blusukan’ atau kunjungan lapangan ke pabrik tekstil PT Dan Liris.

Perusahaan Dan Liris sendiri memiliki area usaha seluas 50 hektar dan mempunyai lebih dari 7.500 karyawan, serta telah menggunakan mesin produksi terkini.

CEO PT Dan Liris, Michelle Tjokrosaputro, menyampaikan bahwa perusahaannya menempati posisi penting dalam industri tekstil terpadu di Indonesia. Hal ini terbukti dengan berhasilnya diraih Sertifikat ISO 9001.

“Daya saing PT Dan Liris terletak dalam proses produksi efisien yang dihasilkan dari penggunaan teknologi tepat guna dan pekerja terampil. Saat ini produk terbaru yang sudah berjalan 3 tahun yakni Bateeq,” jelas Michelle.

Capaian Tahun 2015 Tekstil dan Produk Tekstil (TPT)

Sebelumnya dalam diskusi di Solo, Jateng, Kamis (14/4), kata Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka Kemenperin Muhdori mengemukakan, industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) merupakan salah satu sektor industri prioritas yang menjadi andalan masa depan.

Pada tahun 2016, kata Muhdori, laju pertumbuhan Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki dan Aneka ditargetkan naik 6,33% dan memberi kontribusi sebesar 2,43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional.

“Sektor Industri TPT akan terus menguat karena sifatnya yang padat karya dan menjadi ‘Jaring Pengaman Sosial’ yang mendukung pendapatan penduduk. Di lapangan, industri pakaian menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan Tenaga kerja,” kata Muhdori.

Saat ini industri TPT menempati peringkat 3 (tiga) ekspor nasional dan menyerap tenaga kerja hingga 2,79 juta orang dengan hasil produksi yang mampu memenuhi 70% kebutuhan sandang dalam negeri. Muhdori melanjutkan, sepanjang tahun 2015, sektor TPT telah memberikan kontribusi  1,22% terhadap PDB Nasional dan surplus eskspor sebesar 4,31 miliar dollar AS.

Nilai ekspor TPT sendiri, lanjut Muhdori, mencapai 12,28 miliar dollar AS, atau berkontribusi sebesar 8,17% dari total nilai ekspor nasional. Industri TPT juga memiliki andil besar dalam menyumbang devisa negara.

Total investasi di sektor tersebut pada 2015 mencapai Rp573 triliun, naik 16,9% dari 2014. Tercatat sektor TPT menyumbang 5,05% investasi PMA dan 3,07% investasi PMDN.

Meski kinerja industri tekstil sempat menurun 4,79% pada tahun 2015 akibat krisis ekonomi global, peluang pertumbuhan tahun ini masih sangat besar. Ini dikarenakan Indonesia dapat merespons krisis global secara tepat dan sudah mulai menunjukan perbaikan di sisi ekonomi nasional.

Terlebih lagi, kelas menengah yang menjadi lokomotif konsumsi nasional menyumbang cukup banyak pertumbuhan ekonomi. Dengan kata lain, ketika pasar dunia tengah melemah, pasar domestik masih menjadi potensi besar.

Acara Forum Bakohumas ini diikuti oleh insan kehumasan dari seluruh K/L. Saat pembukaan acara dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian, Direktur Kemitraan Komunikasi Kementerian Kominfo, dan juga Wakil Wali Kota Surakarta. (EN/ES)

 

Berita Terbaru