Sambutan Presiden Joko Widodo Pada Pembukaan Kongres XXXVI Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Jumat, 14 September 2018, di The Forest Resort Bogor

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 14 September 2018
Kategori: Transkrip Pidato
Dibaca: 4.134 Kali
Logo-Pidato2Syalom,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om swastiastu,
Namo buddhaya,
Salam kebajikan.

Yang saya hormati Ketua Umum PP GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) beserta seluruh jajaran pengurus daerah dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Route,
Yang saya hormati Ketua Umum Panitia Kongres Bapak Andreas Anangguru beserta seluruh senior-senior GMKI yang pada pagi hari ini hadir,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Kerja, hadir di sini Pak Menteri Hukum dan HAM, Pak Menristekdikti,
Yang saya hormati Kelompok Cipayung Plus yang juga hadir semuanya pagi hari ini,
Saudara-saudara sekalian seluruh peserta Kongres ke-36 GMKI yang saya hormati,
Hadirin undangan yang berbahagia,

Telah 68 tahun GMKI mengabdi pada republik ini, Republik Indonesia. Dan perlu saya ingatkan pada kita semuanya yang sering kali kita lupa bahwa negara kita Indonesia ini adalah negara besar. Sebuah negara besar. Penduduk kita sudah 263 juta yang hidup di 17.000 pulau, 514 kabupaten/kota dan 34 provinsi. Ini negara yang sangat besar, sangat besar sekali. Kelihatan kalau Saudara-saudara pergi dari ujung barat sampai ujung timur, ujung utara sampai ujung selatan, baru terasa kalau betapa negara ini adalah sebuah negara besar. Tetapi juga dianugerahi oleh Tuhan dengan perbedaan-perbedaan yang sangat banyak. Berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda suku, berbeda agama, berbeda bahasa daerah.

Kita memiliki 714 suku, 714 suku. Singapura saya pernah bertanya ke Duta Besar kita di Singapura ada berapa suku di Singapura, 4 suku, Indonesia 714 suku. Saya dari Afghanistan saya juga sering ngomong, iseng itu tanya ke Presiden Afghanistan Dr. Ashraf Ghani, “ada berapa suku Pak Presiden Ghani di Afghanistan?” Ada 7 suku, Indonesia 714 suku. Bayangkan! Bandingkan! Singapura 4 suku, kita 714 suku, Afghanistan 7 suku, kita 714 suku. Betapa kita ini negara yang sangat besar sekali, sangat besar sekali. Dengan bahasa daerah lebih dari 1.100. Tidak ada negara yang sekompleks perbedaan keberagaman, perbedaan seperti negara kita Indonesia ini.

Kesadaran itu sering kita lupakan. Lupa, kita sering lupa sehingga saya mengingatkan ini. Kalau kita ini betul-betul sangat beragam, sangat beragam. Saya sering menyampaikan, di satu provinsi saja, di Sumut kalau sambutan kan pasti ‘horas!’, ya kan ‘horas’? Tapi begitu pindah ke Pakpak, ‘juah-juah!’, beda lagi. Saya dulu keliru. Pindah lagi sudah ke Karo, ‘mejuah-juah!’. Itu satu provinsi lho. Belum, tadi ada yang dari Nias kan, ‘ya’ahowu’, beda lagi. Itu baru satu provinsi, setiap kabupaten sudah berbeda-beda. Bayangkan 514 kabupaten/kota, 34 provinsi. Itu terasa kalau Saudara-saudara langsung berpindah-pindah dari titik barat sampai titik timur. Itu saya rasakan betul.

Saya pernah terbang dari Aceh, di Banda Aceh langsung ke Wamena, di Papua memakan waktu 9 jam 15 menit. 9 jam 15 menit naik pesawat, bukan jalan kaki. Bayangkan kalau jalan kaki berapa tahun. Itu kalau kita terbang dari London di Inggris ke timur itu sampai Istanbul di Turki, melewati 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 7 atau 8 negara. Artinya ini negara yang sangat besar Saudara-saudara. Jangan lupakan itu.

Jangan sampai karena pemilihan bupati, pemilihan gubernur, atau pemilihan wali kota, atau pemilihan presiden yang setiap 5 tahun kita adakan kita menjadi kayak terpecah-pecah. Rugi besar bangsa ini, rugi besar. Sudahlah, kalau ada pilkada, pemilihan wali kota, bupati, gubernur, lihat yang paling baik, coblos. Nanti pilpres atau pileg yang paling baik, coblos. Sudah, begitu saja cukup, setelah itu rukun kembali. Jangan dibawa-bawa, sudah 3 tahun, 4 tahun, 5 tahun masih bawa-bawa urusan pilpres, urusan pilgub, urusan pilihan wali kota. Bisa terpecah-pecah kita nanti.

Ya itu memang pintarnya politikus di situ, mempengaruhi. Tapi jangan kita ini terpengaruh dalam waktu yang cukup lama. Sangat berbahaya sekali bagi negara ini. Karena aset terbesar bangsa ini adalah persatuan, persaudaraan, kerukunan, tidak ada yang lain. Karena, sekali lagi, perbedaan kita ini terlalu besar sekali. Sekali lagi, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda suku, berbeda bahasa daerah.

Itu kelihatan kalau pas saya mengundang di 17 Agustus, perayaan hari ulang tahun kemerdekaan. Saya undang ke Istana wajib memakai pakaian daerah, baru kelihatan betapa beratus-ratus perbedaan pakaian adat masing-masing yang sangat kontras, yang sangat berbeda sekali. Baru terasa warna-warni Indonesia, beda-bedanya adat dan tradisi kita. Ini akan menjadi sebuah kekuatan kalau kita bersatu, menjadi sebuah kekuatan, sebuah potensi kalau kita rukun.

Coba lihat saja pas Asian Games, begitu kita bersatu tidak ada itu yang main pencak silat agamanya apa, dari suku apa. Kan tidak pernah ada orang bertanya seperti itu. Yang main badminton tidak pernah ada yang bertanya agamanya apa, sukunya apa, bahasa daerahnya seperti apa, tidak pernah. Ya memang seharusnya seperti itu.

Pas pembukaan ramai. Pas pembukaan yang diramaikan bukan pembukaannya, tapi yang diramaikan oleh politisi-politisi itu stuntman-nya. Lha gimana coba, masa presiden suruh akrobat seperti itu. Ya pasti stuntman itu, pasti peran pengganti lah. Tidak usah ditanyakan kayak itu. Masa meloncat kayak gitu suruh saya sendiri. Kalau saya meloncat benar seperti itu saya, ya gila bro! Ini tontonan, ini hiburan, jangan dibawa kemana-kemana. Ya kita nikmati itu sebagai sebuah opening ceremony dari sebuah event besar Asian Games.

Kembali lagi Saudara-saudara sekalian, kita harus sadar bahwa sekarang ini telah terjadi perubahan-perubahan besar di dunia global. Perubahan dunia ini begitu sangat cepatnya. Kita harus tahu semuanya dan harus mengikuti semuanya terutama anak-anak muda, apalagi yang namanya mahasiswa. Kita harus tahu artificial intellegence, kita harus mengerti cryptocurrency, kita harus mengerti 3D printing, kita harus tahu internet of things, kita harus tahu virtual reality. Semuanya harus mengikuti, kalau tidak mengikuti ditinggal kita, ditinggal. Jangan kita hanya urusan kecil-kecil saja diurus, yang urusan masa depan menjadi lupa.

Coba sekarang 3D printing, membuat rumah hanya 24 jam. Dan sudah ada, sudah kejadian, bukan akan. Dunia ini berubah begitu sangat cepat. Dan Revolusi Industri 4.0, Mckinsey Global Institute mengatakan 3.000 kali lebih cepat perubahannya dibanding revolusi industri yang pertama, 3.000 kali lebih cepat. Sehingga ini segera akan terjadi perubahan-perubahan yang besar di dunia ini. Jadi apa yang harus kita siapkan, apa yang harus kita antisipasi, itulah pekerjaan besar kita. Pekerjaan besar kita ada di situ. Kita bisa melakukan lompatan, seperti tadi yang disampaikan oleh Pak Pendeta Andreas tadi, kita bisa melakukan lompatan kalau kita bisa merencanakan, mengantisipasi terhadap perubahan-perubahan yang ada, menyiapkan itu. Kalau tidak, betul-betul ditinggal kita.

Dua setengah tahun yang lalu saya masuk Silicon Valley di Amerika, masuk  markasnya Google, masuk markasnya Facebook, masuk markasnya Twitter, masuk markasnya Plug and Play. Saya masuk di markasnya Facebook, saya diajak sama Mark, CEO-nya Facebook. Saya disuruh pake ini oculus, kacamata gede gitu, diajak main pingpong. Diajak main pingpong hanya pakai kacamata tidak ada meja, tidak ada bola, tidak ada. Diajak main pingpong, tang tung tang tung tang tung, coba. Saya tidak tahu orang-orang melihat apa, tapi saya gini-gini kelihatan, gini-gini coba. Saya tanya kepada Mark, “Mark, apakah ini hanya untuk urusan pingpong?” “Oh ndak Presiden Jokowi, ini juga untuk hal-hal yang lain, termasuk sepakbola.” Iya sepakbola. Bayangkan kita nanti di dalam ruangan, tidak ada bola, tidak ada lapangan bisa main bola tendang-tendangan sendiri. Ini virtual reality yang sudah ada, bukan akan, sudah ada. Hanya kapan masuk ke masyarakat? Kapan masuk ke sebuah negara? Tinggal tunggu waktu.

Kecepatan-kecepatan seperti ini yang harus kita antisipasi. Sekali lagi, jangan sampai kita ditinggal oleh perubahan-perubahan yang ada. Dan ini yang bisa mengantisipasi siapa? Anak-anak muda, mahasiswa. Mohon maaf kalau yang tua-tua kayak saya seperti ini sudah ketinggalan banget. Saya setiap hari ingin belajar, belajar apa sih 3D printingvirtual reality, bitcoin, cryptocurrencyartificial intellegence. Saya ingin belajar terus. Kalau tidak begitu, tidak sambung kita nanti, enggak akan sambung.

Dunia kedepan ini miliknya anak-anak muda. Coba sekarang urusan yang berkaitan dengan bisnis-bisnis besar, yang pegang anak-anak muda. Ya seperti tadi, Mark Zuckerberg tadi. Di sini kita lihat ada William Tanuwijaya misalnya yang punya Tokopedia, Bukalapak ada Achmad Zaky, ada Gojek Nadiem Makarim. Umur berapa? Nadiem itu umur 34 tahun, Zaky itu umur 32 tahun, William itu umur 36 tahun. Anak-anak muda semuanya. Tapi karena bisa memegang, mempersiapkan perubahan mereka masuk dulu, sehingga menjadi triliuner hanya berapa tahun. Saya kerja ekspor sudah 23 tahun dari pagi sampai pagi, aset yang saya miliki paling hanya 30-40 milyar. Ini belum ada 5 tahun sudah 15 triliun, 12 triliun, coba. Ini anak muda semuanya.

Sebulan yang lalu saya undang Jess No Limit, ini gamer yang main Mobile Legend. Saya tanya, “Jess kamu sebulan dapat uang berapa dari pekerjaanmu? Coba, pekerjaan kok gamer?” Tapi saya tahu dia dapat ratusan juta setiap bulan dari pekerjaannya itu, dan meng-endorse produk-produk, barang-barang. Siapa yang membayangkan bahwa bermain games yang dulu kalau anak-anak saya main games pasti saya marahi. Ngapain itu main games! Sekarang menghasilkan ratusan juta, coba. Ya memang ini sangat berbeda sekali, sangat berbeda sekali dulu dan sekarang. Peluang-peluang sangat banyak sekali dengan perubahan-perubahan seperti ini.

Oleh sebab itu, sekali lagi saya mengajak kita semuanya untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi perubahan-perubahan itu. Oleh sebab itu, sekali lagi persatuan kita, kerukunan kita harus terus kita jaga supaya mereka semuanya menjadi satu. Ut omnes unum sint.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Dan dengan nama Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Pembukaan Kongres ke-36 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia saya nyatakan dibuka.

Transkrip Pidato Terbaru