Urbanisasi Tinggi, Emisi Gas Rumah Kaca di Kota-Kota Indonesia Sangat besar

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 15 April 2016
Kategori: Nusantara
Dibaca: 18.921 Kali
Walikota Bogor Bima Arya saat tampil dalam Indonesia Climate Change Education Forum and Expo, di Jakarta Convention Center, Kamis (14/4)

Walikota Bogor Bima Arya saat tampil dalam Indonesia Climate Change Education Forum and Expo, di Jakarta Convention Center, Kamis (14/4)

Sebagai tindak lanjut Kesepakatan Paris yang merupakan hasil perundingan global perubahan iklim Conference of Parties ke-21 (COP21) di Paris, Perancis tahun 2015 kemarin, sejumlah kalangan terkait pembangunan perkotaan di Indonesia menghadiri seminar untuk membahas tentang dampak perubahan iklim bagi perkotaan dan solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari kegiatan perkotaan.

Seminar yang berjudul “Membangun Kota Rendah Emisi Karbon, Berketahanan Iklim, dan Komunitas Berkelanjutan” itu diselenggarakan oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim (UKP-PPI) yang termasuk dalam rangkaian acara Indonesia Climate Change Education Forum and Expo, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis hingga Minggu (14-17 April 2016).

Seminar tersebut dihadiri oleh peserta dari kalangan pemerintah daerah dan kota seluruh Indonesia, pelaku usaha baik BUMN maupun swasta nasional, akademisi, peneliti perkotaan, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan komunitas pemuda.

Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar, dalam keynote speech seminar tersebut mengatakan, bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan kota-kota di Indonesia itu sangat besar, terutama berasal dari aktivitas transportasi, pemakaian energi di gedung dan rumah, serta sampah. “Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama, karena tingkat urbanisasi di Indonesia dan jumlah penduduk yang tinggal di kota juga tinggi,” ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut Rachmat, pembangunan perkotaan di Indonesia harus berubah menuju kota yang rendah emisi karbon. Selain itu, pembangunan kota juga harus mengantisipasi dampak perubahan iklim, sehingga masyarakat kota dapat hidup dengan nyaman. Ia mengingatkan, hal ini harus menjadi pekerjaan rumah (PR) kita semua dan bukan hanya tugas pemerintah semata.

Kota Bogor
Wali Kota Bogor, Bima Arya, yang merupakan salah satu pembicara dalam acara tersebut menyampaikan tentang upaya Kota Bogor untuk menjadi kota yang hijau, yang merupakan misi suci masyarakat Bogor.

“Kami ingin agar Kota Bogor bisa kembali dikenal seperti dulu yang merupakan kota paling hijau di dunia bagian timur. Kami belajar bahwa sebenarnya yang paling penting dan paling menantang adalah membangun kultur masyarakat,” kata Bima Arya.

Menurut Wali Kota Bogor itu, meskipun sudah dibangun pedestrian dan sistem transportasi umum yang bagus tapi kalau warganya tidak mau jalan ya tidak akan berhasil. Untungnya, lanjut Wali Kota, komunitas yang peduli lingkungan di Bogor sangat banyak dan mereka sangat membantu pemerintah Kota Bogor untuk mengubah kultur masyarakat.

“Kami ingin agar pembangunan kota yang rendah emisi karbon bisa dilakukan dimulai dari masyarakat dengan model bottom-up,” tegas Bima Arya.

Seminar ini juga mengangkat pentingnya perencanaan yang matang dan koordinasi di tingkat pusat agar pembangunan perkotaan dapat berjalan dengan emisi karbon yang rendah. Terdapat juga pembicara dari perwakilan swasta yang memaparkan aksi maupun solusi yang dapat dilaksanakan untuk tingkat pengembang dan perkotaan. (UKP-PPI/ES)

Nusantara Terbaru