Waseskab Optimistis Melalui Makanan, Indonesia Bisa Maksimalkan Peningkatan ‘Brand Power’

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 23 Oktober 2018
Kategori: Berita
Dibaca: 10.339 Kali
Wakil Seskab Ratih Nurdiati berfoto bersama pembicara dan panitia Seminar Gastronomi, di Lantai 4 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (23/10) pagi. (Foto: Rahmat/Humas)

Wakil Seskab Ratih Nurdiati berfoto bersama pembicara dan panitia Seminar Gastronomi, di Lantai 4 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (23/10) pagi. (Foto: Rahmat/Humas)

Meskipun saat ini brand power Indonesia belum kuat dibandingkan dengan negara tetangga, pemerintah optimistis bisa meningkatkan nation branding, utamanya melalui makanan.

“Karena pengakuan terhadap keunggulan makanan nusantara digaungkan oleh CNN tatkala mereka merilis World’s 50 Best Foods, yang menempatkan rendang sebagai makanan terenak versi hasil polling CNN yang dilakukan tahun 2017,” kata Wakil Sekretaris Kabinet (Waseskab) Ratih Nurdiati saat menyampaikan keynote speech pada Seminar Nasional Gastronomi Indonesia, yang diselenggarakan di Lantai 4 Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Selasa (23/10) pagi.

Menurut Waseskab, saat ini makanan memiliki potensi peran ganda, yaitu bagi kepentinganan diplomasi ke luar tetapi juga bagi upaya menumbuhkan semangat kebangsaan ke dalam. Ia mengambil contoh, acara perayaan makanan seperti tumpengan nasi kuning, minum teh bersama, dan sebagainya dapat mempersatukan warga masyarakat.

“Masyarakat akan hadir ke acara-acara tersebut dengan sejenak mengesampingkan partai dan kandidat pemimpin yang mereka dukung untuk merayakan kebersamaan dan identitas kultural yang dimiliki,” ujar Waseskab.

Sedangkan untuk peran ke luar, Waseskab menyebutkan makanan dianggap sebagai salah satu ciri kemajuan budaya suatu bangsa yang bertalian erat dengan kekayaan dan kebanggaan seni memasak yang dimiliki oleh bangsa tersebut. Ia menyebutkan, setiap festival makanan selama ini selalu ramai didatangi oleh pengunjung.

“Acara festival makanan terutama makanan tradisional perlu dikembangkan dengan lebih cantik, sehingga nantinya tidak hanya untuk memperkuat identitas kebangsaan tetapi juga menjadi daya tarik wisata yang sangat penting bagi diplomasi,” tutur Waseskab.

Namun Waseskab Ratih Nurdiati mengingatkan, ada beberapa tantangan terkait upaya mengangkat makanan sebagai alat diplomasi. Pertama, masih perlu ditingkatkannya sinergitas antara Kementerian/Lembaga dalam mengimplementasikan kebijakan terkait diplomasi melalui makanan.

Kedua, masyarakat masih kesulitan mengakses modal untuk membuka usaha rumah makan dengan menu nusantara di luar negeri. Selain akses permodalan, masyarakat kita masih kesulitan untuk mendapatkan bahan-bahan makanan yang dapat menjaga orisinalitas makanan khas Indonesia.

Ketiga, belum maksimalnya kita menyuguhkan makanan tradisional khas daerah untuk disajikan kepada tamu-tamu asing. Padahal Presiden Jokowi dalam beberapa kesempatan menerima kepala Negara/kepala pemerintahan Negara sahabat, tidak pernah absen menyajikan makanan tradisional dan kopi andalan kita.

Keempat, belum optimalnya pemasaran paket wisata berbasis gastronomi yang ditawarkan ke wisatawan mancanegara.

Waseskab berharap, Seminar Nasional Gastronomi yang mengambil tema Peran “Gastronomi Indonesia dalam Menumbuhkan Gastro Preneurship dan Memperkuat Diplomasi Indonesia” mampu

menyatukan pemahaman masalah tersebut.

“Apabila sudah sepakat maka perlu dirumuskan untuk mencari tahu bagaimanakah cara mempromosikan. Ini adalah salah satu output dari seminar kali ini adalah untuk menghasilkan kesepakatan,” tutur Waseskab.

Bukan Sekedar Resep

Sebelumnya Staf Ahli Seskab Bidang Hukum dan Hubungan Internasional Thanon Aria Dewangga dalam laporannya mengatakan, seminar yang diselenggarakan atas kerjasama Sekretariat Kabinet dengan Indonesian Gastronomy Association (IGA) itu dihadiri oleh utusan dari 34 pemerintah provinsi  dan 8 perwakilan kabupaten/kota, kementerian/lembaga terkait, asosiasi-asosiasi, para akademisi dan praktisi gastronomi yang sebagian besar merupakan anggota dari IGA.

Seminar tersebut menghadirkan pembicara Hotmangaradja Panjaitan (Dubes RI untuk Perancis), Cecep Herawan (Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri), Helmi Yahya (Dirut TVRI), Dedi Mulyadi (Bupati Purwakarta periode 2008-2018), Kanya Laksmhi Sidarta (Sekjen GAPKI), dan Uki Utama (CEO Righthand Indonesia).

Thanon berharap seminar ini dapat menyusun policy brief terkait dengan gastronomi yang akan disampaikan kepada Sekretaris Kabinet, dan diteruskan kepada Presiden RI.

“Semangat kami tumbuh karena melihat figur Bapak Presiden yang tidak pernah lepas dan selalu berenergi untuk membangun Indonesia dari segala aspek, termasuk meningkatkan makanan kita ke pentas internasional,” ucap Thanon. (DNA/RAH/ES)

 

Berita Terbaru