Yudi Sebut Pemilihan Tiga Deputi Kepala UKP PIP Kombinasikan Kompetensi dan Presentasi

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 5 Juli 2017
Kategori: Berita
Dibaca: 18.112 Kali
Kepala UKP PIP Yudi Latief bersama para deputinya Dr Anas Saidi, Prof. Dr. Hariyono, M, dan Dr. Silverius Yoseph Soeharso, Spsi., S.E., M.M, berfoto bersama usai konperensi pers, di Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Rabu (5/7) siang. (Foto: JAY/Humas)

Kepala UKP PIP Yudi Latief bersama para deputinya Dr Anas Saidi, Prof. Dr. Hariyono, M, dan Dr. Silverius Yoseph Soeharso, Spsi., S.E., M.M, berfoto bersama usai konperensi pers, di Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Rabu (5/7) siang. (Foto: JAY/Humas)

Kepala Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) Yudi Latief mengemukakan, sejak awal memimpin unit kerja tersebut secara internal dirinya juga harus membudayakan nilai-nilai Pancasila. “Makanya cara saya memilih deputi-deputi ini mencerminkan keragaman Indonesia dan mengombinasikan antara kompetensi dan presentasi,” kata Yudi kepada wartawan di ruang rapat lantai II Gedung III Kemensetneg, Jakarta, Rabu (5/7) siang.

Yudi lantas memperkenalkan masing-masing deputi yang baru dilantiknya. Yang pertama, yaitu Dr Anas Saidi sebagai Deputi Bidang Pengkajian dan Materi.  Menurut Yudi, Anas Saidi punya latar belakang pendidikan yang komplit, mulai di studi Filsafat, studi Agama, studi Sosiologi, dan juga punya jam terbang panjang di dunia penelitian di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

“Beliau juga aktivis keislaman yang dengan jaringan yang sangat luas, punya banyak studi-studi tentang soal-soal sosiologi agama dan juga yang menyangkut masalah multikulturalisme, Pancasila, dan lain-lain. Jadi beliau punya networking yang luas, terutama dengan komunitas-komunitas muslim,” papar Yudi.

Kedua, Prof. Dr. Hariyono, M. Pd sebagai Deputi Bidang Advokasi. Sebelumnya, Prof. Hariyono adalah Wakil Rektor 1 di bidang akademik di Universitas Negeri Malang, dan memiliki background pendidikan sejarah,  terutama dalam konteks ini termasuk sejarah yang menyangkut sejarah kebangsaan, sejarah Pancasila, dan lain lain.

“Tapi seperti kita tahu, Universitas Negeri Malang ini dulu adalah IKIP Malan, itu juga salah satu center of excellent dalam studi-studi Pancasila di masa lalu. Dan beliau juga sebenarnya punya jaringan-jaringan luas dengan gerakan-gerakan mahasiswa nasionalis. Oleh karena itu, saya kira beliau punya kompetensi dan juga tadi selain kompetensi adalah relasi yang sangat luas dengan golongan-golongan kebangsaan,” kata Yudi.

Sedangkan yang ketiga itu adalah Dr. Silverius Yoseph Soeharso, Spsi., S.E., M.M. sebagai Deputi Pengendalian dan Evaluasi. Menurut Yudi, Yoseph berlatar belakang pendidikan sangat lengkap, ada psikologi, ada ekonomi, ada manajemen, juga  pernah mengikuti pendidikan di Lemhanas, Kepala Pusat Studi Pancasila Universitas Pancasila, punya pengalaman profesional untuk di berbagai dunia swasta, termasuk diperbankan. “Jadi sangat cocok untuk Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi,” ujarnya.

Kepala UKP PIP itu menjelaskan, ketika selain soal kompetensi, terpikir olehnya memilih  Yoseph itu karena kalau melihat Dewan Pengarah itu merepresentasikan  tokoh-tokoh keagamaan lintas agama. Tetapi karena keterbatasan, tidak semua representasi agama bisa diwakili, salah satunya misalnya unsur Katolik tidak terwakili di dalam Dewan Pengarah.

“Oleh karena itu, beliau selain seorang yang kompeten, profesional, beliau juga representasi Katolik karena sebagai pengikut penganut Katolik,” jelas Yudi.

Yudi meyakinkan, bahwa sejak awal mind set dirinya dalam menyusun deputi ini juga sudah mencerminkan titik temu antara kompetensi, integriti, dan representasi keragaman, sehingga nanti di bawah deputi-deputi itu juga begitu.

“Jadi di UKP-PIP ini akan menjadi proses tersendiri bagaimana orang bisa bekerja sama dengan segala perbedaan. Jadi secara sadar, sejak awal budaya Pancasila itu ditanam di dalam unit ini sebelum menanam keluar, di dalam internal unit ini sendiri harus mencerminkan kemampuan bekerja sama berbagai latar belakang orang, memadukan antara kompetensi, integriti, dan keragaman, kemajemukan Indonesia,” papar Yudi. (FID/DNA/JAY/ES)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru