Dialog dengan Para Perwakilan, Penjual Ikan, dan Pedagang Pasar di Maluku Tengah, 25 Maret 2021, di Dermaga Huseka’a Hitu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 25 Maret 2021
Kategori: Dialog
Dibaca: 101 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya.

Terima kasih, Pak Bupati. Jadi, siang hari ini saya ingin mendengar situasi urusan yang berkaitan dengan perikanan, dengan nelayan di saat pandemi seperti ini. Apakah ada pengaruhnya atau tidak, dan ada kesulitan-kesulitan apa?

Nggih, saya rasa itu mungkin yang bisa saya sampaikan, silakan menyampaikan kalau ada. Kalau enggak ada, berarti enggak ada masalah.

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Terima kasih telah diberikan kesempatan kepada saya untuk menyampaikan apa yang akan saya sampaikan. Terima kasih untuk Bapak Presiden untuk datang, telah datang ke Maluku ini untuk melihat kita terkhususnya di Desa Hitu ini, untuk menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional di daerah Indonesia ini.

Yang ingin kita sampaikan, dalam pandemi ini memang tidak ada masalah untuk dalam pencarian kita ini. Kita sudah, dalam artinya, pencarian kita ini sudah mantap, Pak. Cuma kita masyarakat di sini lagi kekurangan, Pak. Dalam artinya, alat-alat penangkapan dan transportasinya yang masih kurang. Dalam artinya, rumpon masih kurang, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rumpon?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa itu?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Bagan, Pak. Bagan rumpon.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
(Rekaman tidak terdengar dengan jelas)

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Iya, itu saja, Pak. Terima kasih banyak, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi satu rumpon itu dipakai untuk berapa nelayan ya?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Satu rumpon dipakai untuk satu nelayan, Pak. Iya, Pak? Satu rumpon kira-kira 7-8, Pak, Rp8 juta. Iya, Pak. Terima kasih banyak, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ada lagi?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Ada lagi? Ada? Mumpung beliau ada.

Yusuf Uwen (Perwakilan Pedagang Pasar Maluku Tengah)
Assalamu’alaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh.

Terima kasih. Selaku warga Negeri Hitu, saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia yang berkenan untuk berkunjung ke negeri kami, yang kami cintai.

Nama saya Yusuf Uwen, pekerjaan saya sehari-hari adalah pedagang. Dengan adanya COVID-19 ini kita punya omzet turun drastis, disebabkan karena…ya?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Berdagang apa? Dagang apa?

Yusuf Uwen (Perwakilan Pedagang Pasar Maluku Tengah)
Sembako, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sembako, oke.

Yusuf Uwen (Perwakilan Pedagang Pasar Maluku Tengah)
Yang selama ini sebelum COVID-19 itu bagus, tapi setelah COVID-19 menurun disebabkan karena transportasi, yang pertama.

Yang kedua, saya minta dengan hormat, dengan sangat, dengan murah daripada Bapak, tolong lihat kitong punya jembatan sebagai sarana untuk transportasi dari SBB (Seram Bagian Barat), karena semua transportasi sebagian depan ini masuk di Hitu. Nah, makanya dengan adanya kekurangan transportasi, sehingga kami punya pendapatan pun juga turut menurun karena disebabkan ada COVID-19. Itu saja.

Wabillahi taufik wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi ta’ala wabarakatuh.

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Dermaga, Pak. Yang diminta dermaga laut supaya ada transportasi dari SBB, kapal-kapal. Jadi di samping ini ada pasar, Pak, pasar rakyat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini yang lain juga tadi apa? Masalah apa tadi?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Nelayan, nelayan, rumpon.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sama, ada masalah semua? Itu barang apa sih, rumpon itu apa? (Rekaman tidak terdengar dengan jelas)

Ini semua…semuanya punya rumpon, enggak? Punya? Ada grup rumpon? Kenapa enggak ada?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Biayanya belum kuat.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Punya rumpon, belum? Belum?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Ada juga yang punya, Pak, tapi karena faktor alam, kalau angin kencang putus, Pak. (Rekaman tidak terdengar dengan jelas)

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Jadi, Pak Presiden, mungkin saya jelaskan sedikit. Rumpon itu adalah satu tempat di tengah laut dimana pada malam harinya itu ada dipasang lampu, Pak. Lampu itu lalu perahu-perahunya ini bisa dua sampai empat perahu, bisa nangkap ikan di sana, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, itu yang ngumpul itu?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Iya, yang ngumpul iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Memang diberi lampu-lampu itu ikan datang?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Betul, Pak. Iya, Pak.

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Kalau disorot, otomatis ikan-ikan datang kalau ada lampu.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus, setelah itu dijaring?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Setelah itu dijaring, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Berapa jauh dari pantai ini? Berapa jauh kira-kira?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Sekitar 500 meter dari sini, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lima ratus meter?

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke.

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Jadi itu kalau tangkap ikan bisa berton-ton, Pak. Jadi (rumpon) bukan dipergunakan oleh satu orang, tapi banyak orang yang bisa jaring, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)

Oke, ini rumponnya dibeli ya, besok ya. Oke, semua sudah. Jadi berapa orang? 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8… ini yang nelayan siapa saja? Nelayan 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10, 11. Sebelas, berarti berapa?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Dikalikan Rp8  (juta), Rp88 (juta) ya.

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Butuh sarana prasarana untuk tangkap ikan? Semua sudah punya ya? Armada? Sampaikan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus yang lain apa tadi? Pedagang, pedagang, pedagang. Yang dagang berapa orang ya? Tiga? Yang dagang tiga. Sudah, sekalian yang dagang tiga. Oh, ada penjual ikan, empat. Berarti 12 sudah, 12 kali delapan (juta rupiah).

Terus kalau ini jualan ikan sulit enggak ada? Kalau dapat ikan, jualnya sulit? Ada?  Ada yang nampung semua? Oke. Di sini atau harus ke Ambon?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Ada yang di sini, ada yang harus ke Ambon.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke.
Pak Menteri, ada yang mau disampaikan? Sudah kenal belum, ini Pak Menteri siapa?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Cuma lihat di TV saja, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini yang paling kanan Pak Menteri BUMN, siapa itu yang kanan?

Perwakilan Nelayan Maluku Tengah
Pak Erick Thohir.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau Pak Menteri Perhubungan, tahu siapa?

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Pak Budi Karya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, karena suka main bola, tahu Pak Erick. Oke, oke.

Bupati Maluku Tengah (Tuasikal Abua)
Kalau di sini banyak pemain bola, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh…tahu ndak? Pak Erick ini pemilih kesebelasan apa, tahu?

Perwakilan Nelayan, Penjual Ikan, dan Pedagang Pasar Maluku Tengah
Inter Milan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, tahu juga. Kalau di Indonesia, pemilik (kesebelasan) apa?

Perwakilan Nelayan, Penjual Ikan, dan Pedagang Pasar Maluku Tengah
Bandung.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Tahunya yang Bandung, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang Persis, yang baru saja beli Persis juga di Solo, semua dibeli.

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Pak Presiden, mohon izin.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jadi mungkin saya mungkin mewakili para nelayan, penjual ikan dan para penjual pasar, sembako. Jadi mohon izin, begini Pak.

Pertama, menyangkut pelabuhan kita, jadi kalau pelabuhan ini itu pelabuhan transit. Jadi sewaktu-waktu kalau musim ombak, itu kapal-kapal yang dari Namlea itu dia tidak bisa lewat Tanjung Alang, karena ombaknya itu sangat besar. Jadi pada akhirnya itu jadi kadang sewaktu-waktu ketika musim ombak itu alternatif, itu pertama.

Yang kedua, jangkauan kita ke SBB ketimbang kalau mereka itu dari kalau dari Ibu Kota SBB, Piru, kalau dia mau ke kota itu dengan feri kurang lebih sampai lima-enam jam baru dia sampai kota. Tapi katakanlah kalau hari ini kapal cepat masuk sini, itu kurang lebih akses dari sana ke sini, cuma kurang lebih mungkin satu jam. Dan dari sini ke bandara itu kurang lebih cuma 45 menit, ke kota juga kurang lebih sama. Jadi aksesnya lebih cepat ketimbang mereka harus mutar, daripada mereka putar mendingan di sini.

(Rekaman tidak terdengar dengan jelas)

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Dan saya yakin kalau seperti apa yang disampaikan oleh salah satu pedagang, kalau akses transportasi ini dibuka itu pasti berdampak kepada perekonomian mereka.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Dan dari pulau-pulau lain juga…

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Pulau-pulau lain itu ya, pasti dia pesan dari sini.

(Rekaman tidak terdengar dengan jelas)

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini nanti juga tidak hanya ini, untuk anu saja…nanti diaspal saja.

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Iya, siap. Dan ini kebetulan ada Pak Menteri BUMN. Pak Menteri, ini ada salah satu aset BUMN di sini, itu Perikani, Cuma kurang lebih, Perikani dia…

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Perikani?

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Iya kantor, kalau di sini biasanya disebut apa? Apa Perikani ini kalau satu paket?

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Perinus atau Perindo ya?

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Perindo, iya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Iya, Perindo.

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Jadi ada aset di depan rumah Raja situ, itu kurang lebih hampir 30 tahun lebih itu enggak difungsikan. Artinya, kalau mohon berkenan, artinya kalau tidak difungsikan, mungkin kita dari Negeri bisa pakai buat fasilitas Negeri.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Baik.

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Siap.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kecil atau gede? Besar?

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Ya, si pas depan. Ya mungkin kurang lebih sekitar lebarnya 20 (meter), panjangnya kurang lebih 30-an (meter) ya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Enam ratus meter (luasnya).

Fasilitas yang diperlukan mungkin pendinginan ya?

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Enggak, itu dulu bekas kantor, cuma sudah kurang lebih 30 tahun lebih itu enggak dipakai.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (Erick Thohir)
Kantor saja, ya?

Raja Negeri Hitu Lama (Salhana Pelu)
Iya. Jadi mungkin aset tanah dan itu, katakan kalau tidak dipakai oleh negara dalam arti di BUMN, mungkin bisa ke Negeri buat kita jadi aset Negeri, Pak. Mungkin kita bisa buat sarana perkantoran itu di situ.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya, saya titip tadi ya yang mau dibeli rumpon tadi ya. Nanti segera besok dibeli, nanti kapan pedagang juga. Saya nanti cek, sudah dibelikan belum, sudah itu saja ya.

Ini nelayan, sini nelayan silakan diambil. Ini pedagangnya, Pak, empat orang ambil untuk tambah dagangan sudah, modal. Jangan dibelikan handphone, awas nanti kalau ada yang beli handphone dari sini saya ikuti.

Oke saya rasa itu. Selamat bekerja dan enggak ada yang COVID-19 kan? Sehat semuanya? Sehat?

Ya, saya tutup.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dialog Terbaru