Dialog dengan Para Petani, di Desa Buluagung, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur, 30 November 2021

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 30 November 2021
Kategori: Dialog
Dibaca: 443 Kali

Petani I
Jadi di desa sini ini, mohon maaf dan terima kasih kepada Bapak Presiden, di Desa Buluagung ini sudah ada 75 hektare yang siap tanam, betul. Sedangkan padi yang ditanam, yang sudah disiapkan benihnya ini Mekongga sama Inpari 32.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mekongga?

Petani I
Iya, sejenis Ciherang Pak. Jadi di Desa Buluagung ada tiga kali panen, yang dua itu padi, yang terakhir palawija. Dengan harapan, Bapak, nanti setelah adanya Bendungan Tugu ini, kita bisa empat kali panen.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Empat kali?

Petani I
Insyaallah bisa, Pak. Jadi tiga (kali) padi, satu kali palawija. Satu tahun, satu tahun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Satu tahun empat kali? Sebentar, tiga kali padi, satu kali jagung?

Petani I
Iya. Jadi usia padi itu antara tiga bulan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tiga bulan, tiga bulan kali tiga.

Petani I
Ya, sembilan bulan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Sembilan bulan, masih tiga bulan lagi. Oh iya, benar.

Petani I
Namun, saat ini masih tiga kali, permasalahannya di terakhir tahun musim tanam itu hanya pakai disel, pakai pompa, pompa air.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau nanti ada dari Bendungan Tugu, ya berarti tanpa pakai pompa. Ngaten ngaten ngaten, nggih sae. Kita lihat nanti setelah Bendungan Tugu airnya sudah sampai ke sini, kira-kira akan muncul empat kali panen, benar ndak. Kalau benar, ya sangat bagus sekali.

Kalau yang jagung tadi, bisa harganya mahal banget ya?

Petani I
Betul Pak, karena biasanya ya juga ada Rp4.800 atau Rp5.000 ya. Tapi dengan adanya banyak gagal panen, sehingga itu berkurang penghasilan kita, pendapatan kita berkurang.

Yang perlu saya sampaikan kembali, Pak. Ini di sini karena di Kabupaten Trenggalek itu pupuknya sedikit ada kekurangan, artinya ya kadang sulit, kadang mudah. Harapan kami untuk diperlancar, untuk pemasukannya pupuk.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini barangnya atau harganya?

Petani I
Kalau harga saya kira enggak masalah, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, enggak masalah. Barangnya ada?

Petani I
Barangnya mungkin ada, tapi ke petani atau ke kelompok itu kadang-kadang terlambat untuk mendistribusikannya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Itu yang apa? Pupuk urea atau pupuk apa itu?

Petani I
Yang mudah itu hanya (pupuk) organik. Kalau (pupuk) organik itu mudah, tapi (pupuk) urea sama (pupuk) NPK itu agak kesulitan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Yang organik mudah, yang NPK (dan) urea yang agak sulit, oke.

Petani I
Ya, tapi alhamdulillah di Desa Buluagung itu bisa kita sambung, bisa kita sambung pakai pupuk organik buatan, buatan sendiri.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Berarti kan malah tidak mahal, tidak bayar kan malah.

Wonten malih menopo? Ada lagi?

Petani I
Gini, Bapak, ya. Karena di Desa Buluagung itu, mohon maaf, kalau kita panen selalu mendatangkan alat panen dari luar kabupaten, dari Tulungagung, dari Ngawi. Harapan kami karena alat sudah ada di sini, mbok satu (mesin) combine itu ditinggal di sini.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jangan dibawa pulang?

Petani I
Iya, betul.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pak Mentan, bisa? Sudah ditinggal, mpun.

Petani I
Siap, alhamdulillah.
Mungkin teman yang lain, monggo.

Petani II
Nuwun sewu, Pak Jokowi.
Niki ngapunten saderenge basane campur-campur niki mengke.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Mboten nopo-nopo. Kula ngertos kok, sing mboten ngertos iki Pak Mentan.

Petani II
Nggih. Mohon maaf, Pak Yasin.

Niki ngeten, nambahin seketik dari rencang kawula bahwasanya pupuk menika sejadosnipun lancar, mboten wonten kendala. Tapi kawula piyambak mewakili petani nggih, matur sembah nuwun sanget pupuk menika sampun terdistribusi secara lancar, walaupun kadang nggih enten sendatanipun. Namun, menawi kepareng nggih, kepareng nyuwun panjenengan dateng mriki kageng membantu petani nggih, menawi saged menawi kepareng, subsidi menika nggih pun tambah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pupuk subsidinya ditambah?

Petani II
(Pupuk) subsidinya yang ditambah, nek saged regine lagi dikurangi malih. Soale ngeten, Bapak Presiden, petani niku memang nggih dengan harga pupuk sawontene meniku memang sudah untung, gedhi lagi. Tapi kan betahe petani niku nggih puatah, lare-lare sekolah, nopo malih saiki jamane pandemi ngeten iki, pripun malih nggih. Tapi kalau paring, nyuwun kaleh panjenengan niki, harga pupuk menawi saged nggih dipun turunake.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya enggak janji, tapi saya catat dulu. Hitung-hitungannya rumit gitu. Oke, tapi enggak apa-apa, saya kira masukan bagus.

Petani II
Niki nambahi sakedik, mewakili petani kula matur sembah nuwun sanget panjenengan utaminipun pemerintah, baik pemerintah pusat, provinsi sampai daerah sudah mewujudkan Bendungan Tugu. Mudah-mudahan napa kang dodos cita-cita panjenengan sami meniko saged terlaksana, petani saged tambah sejahtera. Matur sembah nuwun sanget.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi, Bendungan Tugu itu bisa menampung air kurang lebih 12 juta meter kubik. Selain nanti airnya untuk petani, mengairi sawah-sawah lewat irigasi, juga untuk menjaga agar yang namanya Trenggalek tidak kebanjiran kalau pas musim hujannya deras. Dan itu terbukti, kemarin Pak Bupati menyampaikan, “Pak, niki nek mboten wonten Bendungan Tugu wingi pun Trenggalek banjir kados biasane.”

Artinya bendungan itu selain untuk banjir, untuk irigasi, juga nantinya bisa dipakai untuk air baku masyarakat kalau memang diperlukan. Kalau sumurnya sudah sulit, saya kira jangka panjang. Tapi bendungan ini habis Rp1,6 triliun, artinya sewu nem atus miliar. Jadi kalau tidak ada manfaatnya ya… Insyallah ada manfaatnya, seperti tadi saya sampaikan.

Petani II
Mudah-mudahan dengan dibangunnya Bendungan Tugu, insyaallah untuk sumur-sumur warga nanti tidak ada kekeringan Pak, karena sumur pompa nanti sudah terkurangi.

Matur sembah nuwun.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya kira gitu, kalau enggak ada yang lain.

Petani III
Saya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Monggo, terakhir.

Petani III
Terakhiran untuk perempuan, Pak. Dengan adanya pandemi ini, Pak, penghasilan kita kan berkurang. Biasanya kalau di samping ibu-ibu itu bercocok tanam, terus untuk sampingan di rumah menunggu hasil panen kan, Pak, kan punya sampingan buat kue atau jajan camil-camilan itu. Sekarang kan dengan adanya (pandemi) itu kan penghasilan kita berkurang.

Seandainya itu apa ya… Minta keikhlasan hati Bapak Presiden, saya mohon minta tambahan dana untuk usaha kami ya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Apa? Usaha rumah tangga apa sih? Buat apa sih?

Petani III
Buat kue, Pak, di rumah.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kue modalnya pinten? Sepuluh ewu?

Petani III
Ya agak kurang dikit, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggih, enggih.

Petani III
Ya tambahan modal dari Bapak, tapi yang bukan mengembalikan ya Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Enggih, enggih. Ngertos, ngertos. Sampun nangkep, nangkep.

Petani III
Sementara ini kan kita pinjam. Terima kasih, Pak, sebelumnya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, sami-sami.

Saya kira itu. Terima kasih Bapak-Ibu semuanya.

Petani I
Maaf, Pak, sekali lagi. Satu tambah sedikit, Pak, tadi kelupaan. Mohon pasaran harga pasaran panen padi bisa ditingkatkan dengan Bulog bisa membuka. Bulog-nya bisa mengambil atau membeli dari petani.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Inggih ini kan, tahun ini kan kita tidak ada impor beras sama sekali. Nyatanya Indonesia bisa, kita bisa, inggih kan? Ya tapi ini juga, Bulog itu juga stoknya juga masih penuh.

Nah, kadang-kadang kayak gitu loh, buangnya juga masih kesulitan. Sehingga hal-hal seperti itu yang juga… Tapi ini nanti saya pulang akan saya rembug, nanti carikan solusinya.

Petani I
Kami mengerti, Bapak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Karena kalau nanti memang Bulog itu menyerapnya banyak, otomatis harga akan terkerek naik. Mesti gitu, karena demand dan supply itu memang saling berhubungan dengan harga. Saya rasa itu. Matur nuwun. Terima kasih.

Saya tutup.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dialog Terbaru