Dialog dengan Para Petani Tebu di kebun tebu Temu Giring, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur, 4 November 2022

Oleh Humas     Dipublikasikan pada 7 November 2022
Kategori: Dialog
Dibaca: 265 Kali

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Assalamu’alaikum. 

Para Petani Tebu
Wa’alaikumsalam.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Terima kasih. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bapak Presiden yang kami hormati, kami nama Mardianto, petani wilayah kerja Pabriik Gula Gempolkrep, Mojokerto, Jawa Timur. Terima kasih kehadiran Bapak.

Perlu kami menyampaikan di lapangan, alhamdulillah untuk kurun waktu beberapa tahun ini, pabrik kita ini berjalan sangat lancar, biasanya ada rusak, ada ini. Ini tidak pernah terjadi. Sehingga tahun ini, tahun kemarin alhamdulillah harga gula nya cukup baik pembayarannya lancar. Yang sebelumnya itu sampai sekian bulan, sampai bulan Maret,

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saniki?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Alhamdulillah, sekarang sudah lancar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Lancarnya berapa hari?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Lima hari, 10 hari paling sudah keluar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rendemannya pinten?

 Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Rendemannya 8, 9.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Masa inggih sampai 8, 9?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya dengar tujuh koma dikit lah.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya dengarin kok.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Terima kasih, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi senang saya kalau betul-betul 9, senang juga.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, harapan kami seperti itu. Semua kalau bisa 9, 10, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nanti kalo mesinnya baru, itu saya yakin bisa menuju ke angka 9 atau bisa ke 10 dan lebih tinggi dari itu. Nggih, monggo.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Kemudian ini, Pak Presiden. Di sini sarananya alhamdulillah sudah lengkap, kan kemarin kami sering menyampaikan sama PTP bahwa kesulitan ada, terutama pada saat hujan, cuacanya tidak mendukung. Petani ini tidak bisa mengeluarkan tebunya. Alhamdulillah, Pak Presiden, sudah disediakan alat yang baru untuk menanggulangi kesulitan tebangan, tidak pakai tenaga manusia. Namanya saya ndak tahu, Pak, itu namanya untuk mengambil dari yang becek ke jalan yang keras.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Motongin?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Bukan, Pak, alat angkutnya.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pundi barangnya?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Itu, Pak. Itu bisa keluar dari lahan yang becek menuju ke jalan, karena truknya enggak bisa masuk, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oh, yang rodanya tank?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya. Itu kalau koperasinya punya semua, sudah luar biasa, bisa giling 12 juta kayak zaman dulu. Kalau dulu, Pak, 12 juta dalam satu tahun, satu periode, 12 juta kuintal. Ini memang alhamdulillah, Pak Presiden, kami laporkan lumbungnya tebu di sini, sehingga perlu kami tingkatkan bersama kawan-kawan. Kita masih bisa optimal dilengkapi dengan sarana yang ada, terutama musim hujan. Karena banyak petani yang tidak sanggup, tenaga tebangnya mahal dan tidak mau, karena enggak kuat sudah, banyak yang di sungai, lahan sulit, di pegunungan. Itu kalau dijawab dengan alat seperti itu, insyaallah, Pak, pabrik kita akan optimal.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Jadi butuh ini berapa banyak?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya minimal 100, Pak. Koperasinya di sini tuh 40 koperasi yang sudah eksis, MOU dengan, Pak, koperasi besar, rata-rata seribu hektar.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Harganya berapa itu satu, meniku?

Wakil Menteri BUMN (Pahala Mansury)
Sudah ada program Menteri BUMN, Pak. Sudah ada Program Makmur, nanti salah satunya adalah menyiapkan sarana mesin pertanian. Kredit, kredit gitu, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke tahan dulu, saya cek nanti.

Wakil Menteri BUMN (Pahala Mansury)
Nggih, Program Makmur.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Kemudian, Bapak Presiden, kami sampaikan pula ke depan selain untuk memperbanyak teka’an tebu sehingga pabrik kita ini tidak pernah tutup alhamdulillah lancar, tidak pernah rusak-rusak. Dulu kita sering marah petani, “Kok pabriknya rusak-rusak?”

Ini sudah enggak pernah rusak, kapasitasnya tinggi, bahkan kekurangan tebu. Oleh karena itu, kita memperbanyak teka’an dengan sarana yang dilengkapi. Kemudian, Pak, apakah mungkin harga dasarnya ini ditingkatkan? Karena bensinnya naik, barangkali, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saniki pinten toh?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Sekarang itu harganya Rp11.500.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Rp11.500. Oke, nanti saya rapatkan sama menteri.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Nggih, Pak. Meniki kalau dihitung nanti supaya petani lebih jaya lagi, panennya kan satu tahun sekali, Pak. Kalau satu tahun sekali enggak optimal, uangnya kan sedikit. Tapi nanti kalau disetujui Bapak, mudah-mudahan gulanya bisa ditingkatkan bersamaan dengan naiknya spare part dan lain-lain.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Meniki setahun panen berapa kali?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Satu kali, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Terus waktu yang lain ditanami berapa?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, tebu ini umurnya satu tahun, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Hanya tebu saja?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, Pak. Satu tahun kalau nanti hasilnya..

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Saya pikir gantian sama padi atau sama kedelai.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Boten, Pak. Kita terus tebu, terus tebu. Makanya alhamdulillah Ini sarananya sudah dipenuhi dari PTP: bibitnya sudah, kemudian pupuknya sudah, walaupun pupuknya agak mahal, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pupuk seluruh negara sudah mahal, baru mahal semuanya pupuk, problemnya. Karena bahan baku pupuk itu dari Ukraina sama Rusia, lagi perang.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
ZA-nya sudah tidak ada masalah, tapi ini bisa dibantu dari pabrik lain untuk bantuan ke kita dan kawan-kawan, Pak Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Bapak-bapak udah nyoba yang (varietas) baru ini?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Belum, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Kalau melihat yang sudah ada yang 26 hari seperti itu pripun?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Kalau yang seperti ini bisa 2.000 (kuintal) 1 hektare, atau 200 ton.

 Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Biasanya berapa?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Ya enggak bisa kalau seperti ini, makanya dengan ini kita semuanya nyontoh ini.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Oke. Karena ini kan sudah dicoba di Brasil dan mereka berhasil, di Brasil dan berhasil. Di sini, tadi Dr. Plinio [pakar tebu dari Brasil] menyampaikan di sini tanahnya sangat subur banget, tidak perlu yang namanya pupuk nitrat sama pupuk potas. Enggak perlu, tadi dia ngomong gitu. Dan, ruas ke sininya nongolnya kalau di Brasil hanya dua, nah di sini bisa empat. Ini lebih baik, dia yakin ini jauh lebih baik asal semua mengikuti instruksi dia, katanya gitu. Moga-moga ada hasilnya dari sini, yang sebelumnya berapa ton?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Dari 1.500 (kuintal) bisa ke 2.000 (kuintal), Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nah, dari 1.500 (kuintal) bisa ke 2.000 (kuintal), lah itu gede banget.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, Pak. Kalau 2.000 [kuintal] kita bisa ke Bapak, ke Jakarta sana.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Iya dicoba, kita lihat, nanti kita lihat. Saya juga pengin lihat, benar hasilnya seperti yang tadi diomongkan oleh Dr. Plinio enggak. Tapi dia memang sudah sukses, nyoba di Brasil.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Alhamdullilah, Pak Presiden. Bapak bisa rawuh ke sini, luar biasa. Ketemonan Pak Presiden, ya Allah mudah-mudahan membawa barokah. Amin. Semuanya, saya dan kawan-kawan mendoakan Bapak, sehingga Gempolkrep  ini lebih jaya, bisa makmur, petaninya ini bisa maju semua. Alhamdulillah kita bersyukur sudah lancar, sudah aman alhamdulillahirobbil alamin. Saya kira itu, matur nuwun, Pak Presiden. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Nggih, matur nuwun. Ini petani itu sekarang satu orang bisa punya berapa hektare sih?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Rata-rata 10 [hektare], 25 [hektare], maksimal itu 100 [hektare]. Iya, Pak. Iya, kalau enggak banyak itu enggak cukup dimakan. Lah wong satu tahun panennya, Pak. Satu tahun ditunggu, baru panen. Kalau cuma satu hektare, ya enggak cukup. Itu ada yang namanya kepantasan menanam. Jadi, untuk ngramut anak sekolah itu harus sekian meter. Kalau cuma sedikit, enggak cukup karena satu tahun. Lebih baik menanam yang lain, sehingga harus kelayakan untuk luasan.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Tapi kalau dibandingkan menanam jagung, menanam padi, memang lebih bagus tebu untungnya?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Alhamdulillah, ini bervariasi melihat orangnya, Pak. Tebu itu kan begini, Pak, ya. Saking penaknya tebu, setelah ditanam pergi ke Kalimantan, pulang panen. Tapi kalau pagi kan harus ke sawah tiap hari.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Diopeni ya?

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Iya, jadi ada plus minusnya, Pak. Presiden.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Pintar banget, Pak.

Perwakilan Petani Tebu (Mardianto)
Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Matur nuwun, ini semuanya terima kasih.

Dialog Terbaru