Dialog dengan Pemimpin Redaksi Media Nasional, 17 Februari 2021, di Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta

Oleh Humas
Dipublikasikan pada 20 Februari 2021
Kategori: Dialog
Dibaca: 84 Kali

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera bagi kita semuanya,
Om Swastiastu,
Namo Buddhaya,
Salam Kebajikan.

Pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas kehadiran di siang hari ini. Mungkin yang pertama saya ingin berbicara masalah vaksin dulu.

Setelah pada tahapan pertama kita mendapatkan tiga juta vaksin yang kita peruntukkan untuk tenaga kesehatan, di tahapan kedua ini sudah masuk lagi untuk didistribusikan, yaitu tujuh juta vaksin yang mulai di pertengahan Februari ini akan kita fokuskan untuk pelayan-pelayan publik, tenaga-tenaga pekerja publik, dan juga di dalamnya termasuk TNI-Polri yang banyak berinteraksi dengan publik. Kemudian masuk juga wartawan masuk di sini, kemudian atlet juga masuk. Kemudian juga pekerja-pekerja di kantor juga yang sering berhubungan dengan publik, misalnya di industri jasa keuangan, misalnya. Kemudian juga para pedagang pasar yang sering berinteraksi dan memiliki mobilitas yang tinggi. Saya kira ini kita akan dahulukan untuk yang tujuh juta. Kemudian, pada bulan Maret ini akan keluar lagi, mungkin Maret awal akan keluar lagi, yaitu sebelas juta, vaksin yang sama akan kita teruskan untuk ini terlebih dahulu, plus juga yang menjadi prioritas adalah para lanjut usia. Meskipun sudah kita mulai minggu yang lalu, kita kerjakan.

Dan mungkin akhir Februari atau awal Maret akan keluar lagi dari AstraZeneca, itu 4,6 (juta dosis). Hanya ini masih dalam pembicaraan di Kementerian Kesehatan, apakah ini nanti dikhususkan di sebuah provinsi sendiri sehingga pengelolaan manajemennya akan lebih mudah, ini yang belum diputuskan. Misalnya, AstraZeneca khusus di provinsi tertentu, karena kalau campur-campur juga… karena ini dua kali (dosis suntikan) semuanya. Dan juga, saya mendapat informasi, kalau yang (vaksin) AstraZeneca ini juga (rentang antara) suntikan pertama dan kedua itu memakan waktu yang berbeda. Kalau Sinovac itu dua minggu, kalau AstraZeneca itu satu bulan sampai dua bulan, yang ini juga masih belum jelas yang satu bulan untuk siapa, yang dua bulan untuk siapa. Ini saya kira arahnya ke sana.

Dan kita berharap dengan kombinasi antara Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di skala mikro dan vaksinasi yang terus gencar kita lakukan. Vaksinasi pun tidak kita hanya bergantung kepada rumah sakit dan puskesmas tetapi sekarang kita mulai dalam bentuk massal-massal, seperti kemarin dicoba di Senayan, bagus. Tadi pagi dicoba lagi di Tanah Abang.

Dan di Jakarta ini kita harapkan 3,4 juta (penerima vaksin) terlebih dahulu yang akan dikejar dalam klaster-klaster yang sudah datanya kita miliki. Ini hasil dari pembahasan kita dengan Gubernur DKI, sehingga sudah kita putuskan 3,4 (juta). Kita harapkan nanti terjadi herd immunity dan akan menurunkan kita harapkan laju penularan dari COVID-19.

Nanti juga kita tentukan memang yang diberikan prioritas adalah untuk daerah-daerah yang banyak (zona) merahnya, yang itu yang akan didahulukan. Kemudian juga kesiapan dari vaksinator. Karena ternyata meskipun kita memiliki 30 ribu vaksinator, tetapi persebarannya ternyata tidak merata. Sehingga ini juga menyebabkan proses vaksinasi ini antara provinsi satu dan provinsi yang lain kecepatannya berbeda. Dan, kita harapkan nanti dengan tim tambahan, 30 ribu dari Kementerian Kesehatan, kemudian tambahan dari TNI-Polri ada 9 ribu, saya kira ini akan sudah mencapai, katakanlah 40 ribu. Kalau satu orang vaksinator sehari bisa (memvaksinasi) 30 (orang), berarti sudah sehari 1,2 juta (orang). Hitungan kita sebetulnya hitungan gampangnya seperti itu. Tapi, praktik di lapangannya yang memang ini membutuhkan improvisasi yang baik, sehingga angka yang kita harapkan itu betul-betul tercapai.

Tapi memang problemnya, yang masih problem adalah jumlah vaksin yang ada. Yang tadi saya sampaikan, 3 juta, 7 juta, 11 juta. Dan itu akan mencapai titik yang angka yang paling baik itu pada semester kedua. Semester kedua itu mungkin sebulan bisa 40 juta-30 juta bisa. Tapi itu masih di bulan-bulan Juni-Juli baru menginjak pada angka-angka itu.

Mungkin itu yang berkaitan dengan COVID-19. Saya kira yang lain-lain, kalau nanti ada yang ingin ditanyakan saya persilakan. Terima kasih.

Pimpinan Redaksi Metro TV (Arief Suditomo)
Bapak Presiden yang kami hormati,
Salah satu hal yang sebenarnya kami ingin mengetahui Pak, adalah bagaimana sekarang mekanisme yang ditentukan oleh Pemerintah Pusat Pak, untuk menindaklanjuti vaksinasi ini Pak, yakni mekanisme yang bisa memberikan semacam scoring kepada masing-masing provinsi dalam hal penanganan pandemi COVID-19 ini, Pak. Karena salah satu hal yang saya pahami, Pemerintah kan sekarang lagi menggalakkan 3T; test, trace, dan treatment. Sementara kalau kita lihat, 10 provinsi dengan kontribusi positive rate terendah, Pak. Jadi 10 provinsi yang dengan kasus terendah Pak, itu test rate-nya angkanya tersembunyi Pak, misterius. Jadi 10 provinsi dengan angka terendah itu test rate-nya enggak pernah terbuka secara gamblang ke publik. Mereka bahkan salah satu daerah yang kami lihat fasilitas PCR-nya tidak ada di hanya ada satu di ibu kota provinsi saja. Dan itu yang pada dasarnya kami ingin mengetahui bagaimana pandangan Bapak, apakah Pemerintah Pusat akan mengeluarkan semacam pemeringkatan terhadap provinsi-provinsi yang dinyatakan melakukan penanganan pandemi ini yang terbaik, begitu Pak. Karena kalau yang terburuk pasti tidak akan menginspirasi, yang terbaik mungkin akan dikeluarkan scoring-nya atau pemeringkatannya?

Lalu yang kedua tentang APBD mereka masing-masing, Pak. Apakah Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Keuangan sudah ikut mencoba untuk meneliti bagaimana mereka mengelola APBD-nya masing-masing dalam proses kebersamaan menangani pandemi ini Pak. Karena ada beberapa indikasi di mana beberapa provinsi itu kok kebersamaannya kurang. Semuanya menunggu drop-dropan (Pemerintah) Pusat dan anggaran APBN.

Sehingga itu yang ingin kami dapatkan apakah hal ini sudah ada di rencana Bapak untuk bisa memberikan pemeringkatan atau menghukum mereka yang pada dasarnya tidak partisipatif dan tidak memiliki semangat kebersamaan?

Kurang lebih seperti itu Pak, terima kasih.

Pimpinan Redaksi Media
Pak, terima kasih Pak Presiden, Pak Mensesneg Bapak Pratikno, Bapak-bapak dan semuanya.

Kami apresiasi, Pak Presiden, ketika melihat dalam kurun waktu sebulan terakhir memang kasus aktif itu berkurang. Kami sempat takut sebetulnya jangan-jangan ini terus naik terus begitu. Tetapi ternyata ada penurunan  yang cukup signifikan meskipun kurva secara keseluruhan belum menurun, begitu. Dan kami juga mendengar ada rencana PPKM mikro ya Pak, sampai tingkat RT?

Hanya pertanyaan dari kami Pak, kami juga melihat efektivitas vaksin seperti  yang dikatakan Pak Presiden, itu luar biasa karena tenaga kesehatan terbukti penularannya menurun drastis, begitu. Artinya efektivitas vaksin ini luar biasa.

Kemudian ada rencana 3T, seperti yang dikatakan oleh Mas Arief. Tapi pertanyaan saya begini, Pak, ketika PPKM mikro ini kan sangat powerful ya Pak, karena dimonitor sampai tingkat RT, bahkan ketika RT-nya lima ada warna dan yang lain-lain. Pertanyaan saya itu bagaimana kami dari media bisa memonitor itu Pak, sehingga ada dasbor dari setiap RT. Sehingga itu akan mendorong setiap RT untuk bergerak/berlomba untuk mewujudkan RT-nya itu menjadi RT yang kuning atau hijau. Karena menurut catatan kami Pak, saya melihat pendekatan dari Pemerintah sudah tepat kali ini Pak karena bisa menurunkan. Hanya yang menjadi catatan tinggal kecepatannya, Pak, kecepatan. Karena kita berlomba dengan kecepatan virus menularkan itu. Jadi ketika pendekatan PPKM sudah efektif, tetapi bisa cepat, kelihatannya mungkin kita bisa menurunkan secara drastis terkait dengan infeksi COVID-19 ini.

Mungkin dari saya itu saja, Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Baiklah. Jadi  sebetulnya mekanisme, tadi disampaikan oleh Pak Arief, mekanisme provinsi, kabupaten maupun kota itu memang ada kategori-kategorinya, sudah ada. Hanya memang tidak detail seperti yang kita inginkan. Yang kita inginkan sebetulnya sampai RT/RW itu kalau ada datanya dari kabupaten/kota itu lebih memudahkan. Kita ini baru sampai kepada kecamatan. Ini yang kita arahkan, mungkin perkiraan kita dalam sebulan-dua bulan ini sudah ketemu sampai ke RT/RW.

Dan, dari scoring per provinsi itulah kemarin saya panggil 5-5. Ranking paling atas saya panggil duluan, “nih provinsimu ada kasus aktif seperti ini, angka kesembuhan seperti ini, angka kematian seperti ini, mestinya harus dilakukan ini, ini, ini, ini biar kita memiliki pandangan yang sama.” Jadi apa pemeringkatan itu ada. Saya sudah panggil gubernur yang pertama paling atas, dan gubernur yang kedua, ini nanti minggu ini gubernur yang ketiga.

Karena memang strategi vaksinasi ini berhubungan erat sekali dengan pemeringkatan ini. Mana yang akan kita kepung terlebih dahulu untuk mencapai herd immunity. Sehingga sekali lagi, pemeringkatan itu memang penting sekali buat kita untuk melakukan terutama yang berkaitan dengan testingTesting ini juga tidak, ya kita ngomong apa adanya, tidak bisa merata. Kayak DKI, DKI ini sudah 12 kali dari standar WHO. Yang lain, ya yang standar sudah banyak juga, tapi yang belum juga banyak juga.

Oleh sebab itu, kemarin kita sampaikan bahwa dalam APBD itu urusan pandemi itu harus ada lagi untuk 2021. 2020 itu realisasi untuk untuk COVID-19 itu kecil banget di APBD, kecil sekali. Sehingga kemarin Menteri Keuangan sudah menyampaikan agar di APBD juga ikut gotong-royong, baik nanti dalam bentuk bansosnya/mendukung bansosnya, atau mendukung dari sisi pembelian PCR, antigen, masker, dan lain-lain sehingga semuanya tidak tertumpu pada APBN Pusat.

Kemudian kalau kita lihat, kasus aktif karena PPKM skala mikro ini memang pada awal itu saya sempat marah. Ini PPKM ini enggak efektif ini, angkanya ini, saya tunjukkan. Yang turun baru dua provinsi, yang lain enggak ada yang turun sama sekali. Karena memang kita data dan ininya komplet banget, kenaikan kurvanya seperti apa saya tunjukkan semuanya. Sehingga kenapa saya ngomong di awal minggu itu PPKM tidak efektif ya karena memang kurvanya tidak ada yang melandai turun.

Tetapi yang kedua, kelihatan sekali sudah turun. Yang ketiga ini turun lagi. Kasus aktif juga kalau kita ingat, mungkin tiga minggu yang lalu, itu masih di angka-angka 14 ribu bahkan 15 ribu. Sekarang, minggu-minggu terakhir kemarin ini sudah di 8 ribu, 9 ribu, 8 ribu, 9 ribu, sudah selama seminggu. Hanya kemarin itu, ini (naik) lagi ke 10 ribu.

Tapi ini menunjukkan bahwa PPKM mikro ini kalau memang kita lakukan serius ini akan memberikan hasil. Karena ini kita juga bukan ini, kita kan tanya ke Menteri Kesehatan India. Saya perintahkan, karena di sana bisa terjunnya anu sekali, tajam. Apa kuncinya kok yang kita dengar di media-media bahwa mereka melakukan lockdownndak. Ternyata mereka melakukan lockdown mikro, micro lockdown. Yang dilakukan ya ini. Yang awal-awal sebetulnya juga saya sudah sampaikan PSBB skala mikro, ini. Karena enggak efektif. Wong yang (zona) merah itu satu RT kok yang di-lockdown satu kota, di PSBB-kan satu kota, ekonominya dong yang kena. Kalau yang kena satu kelurahan ya sudah satu kelurahan itu saja yang diisolasi, dikarantina tapi bukan satu kota dong. Itu yang dilakukan India. Meskipun awal-awal India itu lockdown total. Sehingga kok India sekarang ganti ini, tapi strateginya sama, PPKM skala mikro.

Jadi itu yang kita pakai untuk… Jadi kita itu kalau ada hal-hal yang di negara lain itu berhasil, kita juga… tapi yang enggak mungkin kita niru yang negara kecil yang gampang, kita ini negara gede.

Jadi kembali lagi ke kasus aktif memang kelihatan berkurang dan ini terus kita… Saya melihat kekuatan kita itu memiliki desa yang ada RT/RW-nya dan di situ ada yang namanya Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Ini yang semua perangkat itu yang kita pakai sekarang ini.

Dan, memang kalau nanti kita di dasbor kita sudah sampai ke level RT, itu memudahkan sekali, Pak. Satu RT itu berapa sih yang kena, katakanlah  dua, langsung dikurung sudah, dua minggu itu saja sembuh, ya sudah buka lagi sudah, sudah aman. Tapi ya itu, memang harus levelnya level mikro. Jangan sampai kita me-lockdown satu kota padahal yang terkena hanya misalnya lima RT, kan enggak lucu juga.

Dari angka-angka yang kita lihat di Jawa Tengah kemarin yang sudah disuntik vaksin itu kelihatan sekali dropnya, angka kematian untuk nakesnya drop sekali. Ini kita harapkan juga sama, yang nonnakes kalau sudah nanti kita suntik, ini akan menurunkan kasus aktif yang ada di sebuah daerah. Saya kira pendekatan kita itu.

Dan juga tadi saya sampaikan di awal bahwa memang vaksinasi ini pendekatan kita adalah pendekatan herd immunity, pendekatan klaster, pendekatan kelompok-kelompok yang memiliki mobilitas tinggi, interaksi tinggi, ini kita dahulukan. Bukan karena yang lain tidak penting, enggak. Karena memang kita ingin mendapatkan kekebalan komunal yang maksimal.

Kemudian mengenai distribusi vaksin. Saya kira kalau yang pertama dulu memang kita ratakan dari Sabang sampai Merauke, ini pun juga akan tetap kita ratakan dulu. Saya enggak tahu persentasenya nanti Menteri Kesehatan. Tetap semua provinsi diberi semuanya, tetapi yang kita berikan skala prioritas. Dan apakah kita nanti akan mendapatkan vaksin semuanya, iya. Karena hitungan kita terakhir kemarin 182 juta yang harus kita vaksin itu memerlukan vaksin kurang lebih 426 juta. Hitung yang rusak plus angka ada standarnya WHO, ketemu 426 (juta). 426 (juta) kita mendapatkan komitmen, tapi sekali ini baru komitmen yang terus akan kita kejar agar segera bisa kita ambil barangnya. Karena rebutan 215 negara juga bukan sesuatu yang gampang. Kadang saya harus telepon presidennya ya saya telepon, telepon pemegang otoritas untuk kesehatan. Tadi pagi saya mendapatkan kabar bahwa 4,6 juta dari AstraZeneca  akan datang di akhir bulan atau awal bulan depan ini.

Kemudian mengenai testingTesting itu kalau menurut standar WHO untuk Indonesia ini 38 ribu (sehari) cukup, 38 ribu. Sehingga kadang-kadang kita mencapai 70 ribu, 60 ribu, kadang juga 40 ribu, itu sebetulnya standarnya 38 ribu hitungan dari WHO. Jadi jangan didorong-dorong terus. Enggak apa-apa sebetulnya kita mengejar tinggi, enggak apa-apa, tetapi rata. Jangan sampai hanya di DKI saja. Mestinya semua provinsi itu standarnya standar WHO ketemu, sudah. Itu yang terus konsisten kita lakukan. Yang paling penting tepat sasaran. Lha ini kita ini testing-nya tidak seperti itu. Ada 1 orang yang dites misalnya sampai 10 kali karena sering harus ketemu saya, itu dites terus. Sebetulnya bukan itu. Tes itu yang kira-kira yang memang sasaran betul.

Kemudian yang di-tracingTracing kita ini juga di lapangan belum baik. Karena  tracer yang benar kita baru memiliki lima ribu. Padahal standar kita yang benar minimal itu 50 ribu. Ini yang kurang-kurang seperti ini yang ingin kita kejar terus. Sehingga kemarin kita sudah pelatihan untuk tracer dari Polri dan TNI untuk mempercepat saja. Kalau yang tracer yang ada sudah banyak, tetapi yang standar tracer betul itu angka yang tadi saya sampaikan. Ada mungkin lebih dari 100 ribu yang tracer itu mungkin juga sudah lebih dari itu. Tapi itu bukan… kadang-kadang kan yang di-tracing itu sebetulnyakan yang kontak minimal 15 sampai 30 (orang), yang dikejar itu. Tapi kadang-kadang kan kita tracing-nya itu kan nyegat di jalan. Nah itu sudah enggak pas betul. Ini hal seperti ini yang terus saya sampaikan bolak-balik bolak-balik, ini ada yang enggak benar yang perlu diluruskan.

Kemudian, di bulan puasa. Bulan puasa mungkin kita tetap akan vaksinasi, yaitu di malam hari. Akan kita lakukan vaksinasi, tetap, di malam hari. Kemudian yang kedua yang di siang hari yang daerah-daerah yang nonmuslim. Akan kita lakukan tetap di bulan puasa.

Dan mengenai mudik ini masih dibicarakan dengan antarmenko, apakah seperti tahun lalu. Tetapi dari empat kali kita memiliki libur panjang, long weekend dan libur panjang kemarin semuanya (kasus positif) naiknya lebih dari 40 persen. Ini yang terakhir ini yang belum kelihatan, tapi yang dulu Tahun Baru dan sebelumnya itu lebih dari 40 persen. Ini enggak akan, saya sudah ngomong jangan diulangi lagi, sudah. Jangan diulang lagi, sudah. Kita sudah empat kali mengalami, kalau kita ulang lagi ya kebangetan kita. Hanya modelnya seperti apa itu yang belum bisa kita sampaikan mengenai mudik.

Yang berkaitan tadi dengan sosialisasi. Ya betul memang. Ini memang vaksin ini sosialisasi kita memang hanya menjelaskan kalau vaksin itu aman, vaksin itu halal. Ternyata dari yang kita lakukan ke pedagang pasar, sepuluh pedagang yang kita tanya yang mau divaksin hanya tiga, yang tujuh enggak mau. Tapi saya lihat tadi waktu di Tanah Abang semuanya berbondong-bondong. Karena begitu yang satu berani, yang dua berani, yang tiga berani, yang lain mengikuti. Ini yang bagus di situ. Tadi saya lihat dan waktu saya masuk juga bersorak-sorak karena senang divaksin dan karena senang mungkin apa ya… Enggak, bukan ketemu Presiden, ngapain. Mungkin psikologisnya dari yang dulu enggak… Ini memang kurang sosialisasi. Jadi yang dulunya dia enggak mau menjadi mau, sehingga saya enggak tahu terbawa duduk di kursi yang sudah disediakan, karena kita melakukannya di tempat, di lokasi. Itu pengaruh sekali, saya kira suntikan di lokasi itu penting. Karena kita kemarin, apakah ini dibawa lagi ke GBK ataukah, oke kita cari cara-cara yang berbeda-beda. Sehingga tadi kalau saya lihat setelah yang 1-2 disuntik, kemudian melewati temannya, “gimana?” “enggak apa-apa”. Mungkin itu, pada senang, senang, ya karena memang enggak apa-apa.

Saya kira nanti dari ini, saya kira kampanye dari mulut ke mulut akan muncul, menurut saya. Karena kita njelasin itu kan juga kita jelasin di medsos mereka enggak buka medsos, kita jelasin di TV ya mereka pas enggak lihat TV, kan juga sulit kadang-kadang.Tapi memang betul, sosialisasi itu memang kurang, benar.

Yang paling penting memang kesadaran. Dan memang tidak ingin sanksi ini kita tonjol-tonjolkan, itu namanya kan orang disuruh vaksin tapi ditakut-takuti, kan itu saya kira ndak seperti itu yang kita inginkan. Kesadaran yang baik saya kira yang diperlukan.

Pimpinan Redaksi Media
Pak, kalau vaksin Merah Putih gimana, Pak?

Presiden Republik Indonesia (Joko Widodo)
Ini kita terus dorong terus agar… Kita juga enggak bisa neken atau mendorong terlalu kenceng ya karena prosesnya ini tahapan-tahapannya ada ketemu vaksinnya, platformnya berbeda, kemudian diberikan ke Bio Farma lagi ada tahapan uji klinis. Urut-urutannya enggak bisa dikejar-kejar. Dan ini pengalaman pertama Indonesia membuat vaksin full seratus persen dari nol sendiri, vaksin Merah Putih. Kalau yang lain-lain join, itu lebih mudah. Ini full kita sendiri seratus persen, vaksin Merah Putih.

Pimpinan Redaksi Media
Pak, hal lain Pak. Reshuffle memang akan ada lagi Pak, Maret Pak?

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo
Wah ndak, ndak, ndak. Ndak ada, ndak ada, ndak ada. Kita ngurus pandemi ini, reshuffle lagi itu siapa lagi itu, referensinya siapa. Ndak, saya jawab tegas, ndak ada.

Dialog Terbaru